Bidadari Penghapus Luka

Bidadari Penghapus Luka
Bab 20


__ADS_3

Perempuan itu meremas kasar rambutnya. Disaat seperti ini, dia dituntut untuk profesional dalam pekerjaan.


Dia begitu membenci situasi ini. Disaat ia membutuhkan ketenangan, malah ia diingatkan akan profesionalitas pekerjaan.


"Aaaa.....sial!!" Umpatnya kesal. Kedua tangannya memukul kasur empuknya dengan keras. Seolah tengah meluapkan emosinya.


Ingatannya kembali berputar pada kejadian tadi malam sebelum kesadarannya benar-benar hilang.


Marissa sungguh menyesali kebodohan yang telah diperbuatnya semalam. Dia begitu menyesal telah menuruti naf-su binatang laki-laki yang sialnya pernah sangat ia cintai.


"B******k kamu, Tomi. Dasar b******n!!" Ucapnya penuh emosi.


Andaikan malam itu ia tidak minum minuman lak-nat itu. Andai malam itu ia tidak hilang kesadaran. Andai malam itu ia tidak diantar Tomi untuk pulang. Andai, andai, dan andai.


Tiba-tiba ucapan Tomi malam itu terngiang dengan jelas.


"Sa, lo jangan coba buat minum ini, Lo nggak terbiasa. Ntar yang ada Lo malah hangover"


Apa itu artinya memang Tomi tak berniat untuk merusak dirinya? Apa tadi malam ia memang tengah berhalusinasi tentang Rama? Apa itu artinya memang dia yang memulai?.


Marissa menggeleng kuat menyingkirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan membuatnya semakin merasa bodoh dan merusak harga dirinya.


Tidak, dia tidak bisa seperti ini. Dia korban. Dia kehilangan kesadaran, dan Tomi mengambil kesempatan itu.


Marissa tak ingin berlarut dalam rasa yang bergejolak dalam dadanya. Rasa kesal, benci, juga penyesalan yang tak akan pernah berujung.


Ia singkapkan selimut yang menutupi tubuh polosnya. Ia ingin segera menghapus jejak binatang yang Tomi tinggalkan ditubuhnya.


Nyeri, ngilu, sakit, semua bercampur dan bersarang di inti tubuhnya. Perlahan ia menapaki lantai. Sekilas dilihatnya noda merah diatas sprei yang agak memudar, karena telah bercampur dengan sesuatu yang basah.


Hatinya semakin sakit. Harusnya ini ia lakukan bersama Rama, bukan lelaki b******k itu. Bukan Tomi yang dia cinta, tapi Rama.


Dengan langkah tertatih, gegas ia masuk ke kamar mandi. Berdiri di bawah shower yang telah menyala.


Di gosoknya kuat tubuh mulusnya, berusaha menghilangkan jejak merah yang tertinggal di beberapa bagian tubuhnya. Ia benar-benar jijik dengan dirinya. Ia berharap bisa segera melupakan peristiwa yang menjijikkan itu.


***


Peluh membanjiri seluruh tubuh laki-laki yang tengah melakukan pendinginan setelah berolahraga. Hembusan nafas kasar menandakan selesainya rutinitas fisik itu.

__ADS_1


Segera ia menyambar sebotol air mineral untuk membasahi kerongkongan yang terasa kering.


Lelaki itu membaringkan tubuhnya diatas matras. Perlahan mengatur nafas agar kembali normal. Perlahan memejamkan mata untuk menikmati sisa-sisa rasa pegal yang menjalar ditubuhnya.


Sekelebat bayangan perempuan cantik menghiasi pelupuk mata yang tengah terpejam. Senyuman yang begitu lembut terlihat begitu jelas. Suara merdu itu, seolah tengah berbisik dikedua telinganya.


"Hasna." Desisnya.


Hanya satu kata yang terucap, namun sanggup memporak porandakan hati dan pikirannya secara bersamaan.


Perlahan ia membuka mata, menarik kedua sudut bibirnya ke atas. Rona merah terlihat dikedua pipinya. Ia merasa seperti seorang remaja yang tengah merasakan jatuh cinta.


Tunggu, jatuh cinta?


Bahkan ia tak memikirkan kata itu. Tapi hatinya mengatakan jika ia terjebak dalam rasa yang begitu indah, rasa cinta.


Semenjak mengenal gadis itu, dunianya seolah lebih berwarna. Bukan, ini bukanlah cinta pertama yang ia rasakan. Tapi entah mengapa, rasa ini terlalu manis dari cinta pertamanya dulu.


Sekali lagi ia tersenyum, hanya karena satu nama. Hasna.


Ya, Kevin mulai memiliki rasa lebih pada gadis bermata teduh itu. Rasa yang semakin ia tahan, semakin bergejolak memenuhi hatinya.


***


"Oh iya, Pa. Apa Papa sudah mengingatkan Rama perihal pengajuan berkas pernikahan? Mengingat mereka masih menikah secara siri. Secara agama memang pernikahan mereka sah, tapi secara hukum?"


Bu Diana tak mau jika seandainya ada apa-apa dengan pernikahan putranya. Apalagi beliau sangat menyayangi menantunya itu. Beliau ingin menjamin masa depan Hasna bersama sang putra.


"Astaghfirullah... Papa benar-benar lupa. Nanti deh Papa akan bicarakan sepulang mereka dari bulan madu." Pak Andi menepuk keningnya perlahan. Beliau benar-benar hampir melupakan hal sepenting itu.


"Mama sangat berharap, jika Rama bisa membuka hati untuk Hasna. Terlepas pernikahan mereka hanya karena perjodohan. Mama sungguh sangat berharap jika pernikahan mereka akan langgeng."


Nampak sekali jika ucapan itu terdengar sangat tulus. Doa seorang ibu untuk kebahagiaan anak-anaknya.


"Aamiin..." Sahut Pak Andi dan Nayla bersamaan.


"Nay sayang banget tau sama mbak Hasna. Meski usia kita hampir seumuran, tapi mbak Hasna bisa mengimbangi manjanya Nay. Seolah Nay menemukan sosok kakak pada diri mbak Hasna." Ucap Nayla.


Gadis itu benar-benar menyayangi kakak iparnya seperti saudari kandungnya sendiri. Apalagi Hasna menjadi sosok yang dewasa buat dia yang begitu manja. Sosok yang seperti itu yang Nayla rindukan pada diri Rama.

__ADS_1


"Emm...Pa, Ma, sebenarnya kemarin sebelum kak Rama dan mbak Hasna pindah, Nay sempat bercerita tentang masa lalu kak Rama." Ucap Nayla


"Nay sangat berharap, jika mbak Hasna bisa membuat kak Rama menjadi sosok yang seperti dulu. Nay yakin kalau mbak Hasna bisa." Lanjutnya.


"Kenapa kamu seyakin itu?" Tanya Pak Andi. Beliau ingin tau, bagaimana penilaian putri bungsunya itu pada Hasna.


"Mbak Hasna baik, baik benget malah. Kalau Nay perhatiin selama mereka tinggal di sini, mbak Hasna sangat sabar dengan sifat cuek kak Rama."


"Makanya Nay bilang sama mbak Hasna, mungkin akan sedikit susah mendapatkan hati kak Rama. Mengingat masa lalu kak Rama yang_."


Nayla tak melanjutkan perkataannya. Sebab, dikatakan atau tidak kedua orang tuanya pun sudah paham akan hal itu.


"Ya, semoga saja seperti itu." Tukas Pak Andi.


"Oh iya, Pa. Kapan mereka pulang dari Jepang?" Tanya Nayla.


"Kalau sesuai rencana, harusnya rabu mereka sudah tiba. Tapi ya... tergantung sama mereka." Jawab pak Andi.


"Nay, pengen banget nginep di rumah kak Rama. Nay, kangen sama mbak Hasna." Ucap Nayla.


"Kalau mau menginap, bilang kakak kamu dulu. Tapi sebaiknya jangan deh." Ucap Bu Diana.


"Emang kenapa?" Nayla sedikit sewot mendengar ucapan sang Mama.


"Mama itu pengen cepet punya cucu. Kalau kamu main nginep, bisa gangguin nantinya." Bu Diana ikut sewot jadinya.


"Ih, Mama, apaan sih. Nay di sana nginepnya di kamar tamu ya, bukan kamar pribadinya kak Rama sama mbak Hasna." Ucapnya dengan bibir yang mengerucut sempurna.


"Udah, sementara jangan dulu. Main saja tanpa menginap. Berikan ruang untuk mereka agar lebih dekat." Sela Pak Andi.


Pak Andi rasa itu keputusan yang tepat ditengah perdebatan istri dan putrinya. Memberikan ruang pada putra dan menantunya untuk lebih dekat. Menumbuhkan ikatan diantara keduanya.


***


Assalamu'alaikum teman-teman semuanya.


Semoga kalian terhibur ya. Jangan lupa tinggalkan jejak, dengan cara like, komen, vote, dan gift.


saran dan masukannya juga aku tunggu.

__ADS_1


Terima kasih


__ADS_2