
"Ayo dong, Mbak. Siapa sih?"
Hasna merasa lucu dengan tingkah mereka. Memang bagi pegawai yang berasal dari tempat katering, pasti tau jika Hasna tidak pernah memiliki hubungan spesial dengan laki-laki. Dan jika saat ini ada laki-laki yang merasa di istimewakan perempuan cantik itu, jelas membuat mereka penasaran.
"Dia...suami saya." Jawab Hasna.
"Suami?" Ucap mereka bersamaan, bak sedang koor tujuh belasan.
Jawaban Hasna membuat semua yang berada disana merasa diberikan surprise luar biasa. Tiada angin, tiada hujan seorang laki-laki mendatangi restoran dan mencari Hasna. Dan sekarang perempuan bermata teduh itu mengatakan jika laki-laki itu suaminya.
Tak ada kabar semengejutkan ini sebelumnya.
"Mbak Hasna serius?" Tanya salah satu dari mereka. Hasna mengangguk yakin.
Salah satu pegawai perempuannya itu tak sengaja melihat cincin yang melingkari jari manisnya.
"Mbak Hasna beneran udah nikah?" Mata pegawai perempuan itu tak bisa lepas dari jari manis tangan kanan Hasna, membuat yang lain mengikuti pandangannya.
Dan benar saja mereka juga sama terkejutnya dengan teman sejawatnya itu.
"Kenapa kita nggak nyadar ya?"
"Sejak kapan Mbak Hasna nikah?"
"Udah hampir tiga bulanan." Jawab Hasna sambil meneruskan pekerjaannya. Tangannya begitu cekatan mencampurkan bumbu juga bahan utamanya.
"Seriusan, Mbak?" Tak ada yang bisa menyembunyikan rasa keterkejutannya mengetahui Hasna telah menikah. Lantas perempuan bermata teduh itu menganggukkan kepala dan tersenyum kepada mereka semuanya.
"Kok kita nggak ada yang diundang?" Terdengar protes dari mereka.
"Tau nih Mbak Hasna, nggak inget kita-kita."
"Eh, kalau tiga bulanan, berarti setelah Kakek Mbak Hasna meninggal dong?" Hasna menoleh sekilas sambil melanjutkan pekerjaannya.
"Kami menikah sesaat sebelum Kakek meninggal."
"Oooohh..." Terdengar suara koor kedua kalinya dari dalam dapur.
Suara derap langkah mengalihkan atensi semua yang berada di dalam dapur. Semua mata tertuju pada laki-laki yang tengah melangkah tegap dengan pandangan fokus pada perempuan yang tengah memasak. Bahkan beberapa pasang mata yang melihat ke arahnya tidak dihiraukan sama sekali.
"Apa sudah selesai? Aku sudah terlalu lapar." Ucap Rama. Semua yang berada di sana tetap menyimak dengan baik interaksi keduanya.
"Tunggulah sebentar, masakan ini akan selesai lima belas menit lagi." Ucap Hasna yang masih mengoreksi rasa masakannya.
Hasna masih membalikkan ikan yang tengah ia bakar di atas pemanggang, dan mengolesinya kembali dengan bumbu. Namun gerakannya terhenti saat tangan kekar itu melingkari perutnya dengan sempurna.
Beberapa pegawai yang bertugas di dapur seketika membeliakkan kedua mata dan membuka mulut mereka dengan sempurna.
"Mas." Pekik Hasna dengan suara kecil. Rama selalu membuat dirinya kaget.
"Hmmm." Gumamnya. Rama mencium kepala Hasna yang berbalut kerudung.
"Mas, masih ada orang lain di sini. Bukan hanya kita berdua." Lirih Hasna.
Rama sedikit menegakkan tubuhnya, sedikit menolehkan wajahnya. Rama bisa melihat beberapa pegawai Hasna menatap ke arah mereka dengan ekor matanya. Semenjak memasuki dapur, fokus Rama hanyalah Hasna, jadi ia tidak begitu memperhatikan sekeliling. Bahkan tidak menyadari jika ada beberapa orang juga di dapur.
"Baiklah, aku akan kembali ke meja dan menunggu makananku siap." Ucap Rama sedikit mengeraskan suaranya. Lantas ia mengecup lembut pipi istrinya dan berlalu dari dapur.
Sepeninggal Rama, semua yang ada di dapur riuh dengan celoteh mereka masing-masing. Kebanyakan pegawai Hasna, mereka yang baru saja lulus sekolah atau mahasiswi. Mereka kerja paruh waktu disini. Kejadian semacam ini membuat mereka ikut salah tingkah. Apalagi Hasna yang terkenal alim dan pendiam yang menjadi aktrisnya.
"Ya ampun Mbak Hasna, ikutan tahan nafas aku lihatnya." Pekik salah satu dari mereka.
"OMG, sweet banget suaminya Mbak Hasna." Sahut yang lainnya.
"Astaga, aku ikutan deg-degan."
"Suaminya Mbak Hasna bucin parah, sampai nggak lihat kita-kita yang ada di sini."
"Peluk ciumnya nggak kira-kira, kita kan masih di bawah umur semua."
"Ikutan melting jadinya. Aaahhh...Mbak Hasna."
Untung saja masakan Hasna sudah siap, jadi ia perlu untuk segera membawanya ke depan. Berlama-lama di dapur bisa-bisa dirinya menjadi sasaran empuk ledekan anak buahnya.
"Aku permisi dulu, ya." Hasna pun berlalu dengan membawa troli makanan.
"Mbak kenalin kita dong sama temen suami mbak Hasna, pasti cakep-cakep." Masih terdengar sahutan dari mereka.
Gegas Hasna mendorong troli meninggalkan dapur, tanpa ingin menjawab satu pun ucapan dari mereka. Karena sejujurnya Hasna menahan malu karena ulah suaminya.
"Dasar Mas Rama, suka nggak lihat situasi." Gumamnya pelan.
***
Hasna meletakkan semangkuk besar nasi, ikan bakar, cumi asam manis dan semangkuk sup iga kesukaan Rama.
"Silahkan. Mas Rama mau makan apa?" Tanya Hasna. Rama melihat semua hidangan di atas meja, membuat perutnya keroncongan segera minta diisi.
__ADS_1
"Semuanya." Jawab Rama tanpa mengalihkan pandangannya dari hidangan di atas meja.
Hasna menggeleng pelan diiringi dengan senyuman melihat tingkah Rama. Ia mengambilkan sepiring nasi serta cumi asam manis. Kemudian mengambil mangkuk kecil dan diisi dengan sup iga supaya hangat saat di nikmati nanti.
Hasna mengerutkan keningnya saat Rama tak kunjung menyuap makanannya.
"Kenapa?"
"Aku ingin mencoba ikan bakarnya dulu." Ucap Rama.
"Oke."
Hasna mengambil sepotong daging ikan dengan tangannya. Dan menyimpannya di atas piring Rama. Namun laki-laki itu tetap tak kunjung mengangkat sendoknya.
"Ada apa lagi? Mau sekalian di campur dengan sup?" Tawarnya. Rama menggeleng.
"Lalu?"
"Apa kamu melupakan sesuatu?"
Hasna memindai meja yang penuh dengan makanan. Perempuan itu menepuk pelan keningnya saat tak mendapati minuman di atas sana.
"Aduh, maaf, minumannya lupa." Cengir Hasna.
Hasna melambaikan tangannya pada pegawai yang kebetulan ada di dekat tempatnya dan memintanya untuk membawa dua gelas air putih dan dua gelas jus jeruk.
"Sebentar lagi minuman akan sampai, Mas Rama makan saja dulu." Ucap Hasna. Justru Rama menghembuskan nafas cepat.
"Kenapa lagi?" Heran Hasna. Kenapa mood Rama tiba-tiba menjadi buruk.
"Ckk... Kamu masih melupakan sesuatu." Dengusnya pelan.
Hasna masih mengingat apa lagi yang ia lupakan. Tapi tidak ada lagi yang ia lewatkan. Ia hanya melupakan minuman saja. Apa jangan-jangan...
Rama mendorong pelan piringnya di hadapan Hasna. Benar saja, rupanya Rama ingin dia menyuapinya seperti biasa. Tapi apa harus di tempat umum juga.
"Ini tempat umum, Mas Rama." Hasna mencoba menolaknya dengan halus.
"Ini private area." Ucapnya dengan dingin. Sepertinya Rama tidak ingin di bantah.
"Ta_."
Hasna mengurungkan kalimat yang akan ia ucapkan saat mendapati wajah Rama sudah berubah masam. Bahkan kedua tangannya sudah bersedekap di depan dada. Oke, sepertinya ia harus mengalah.
Hasna menyingkirkan garpu dan sendok yang berada di atas piring. Kemudian menyuapkan nasi beserta ikan bakar dengan tangannya pada Rama.
"Bismillahirrahmanirrahim." Ucapnya pelan saat menyodorkan suapannya dihadapan Rama.
Baru akan tiga suapan, minuman yang Hasna minta telah datang.
"Silahkan, Mbak." Ucap pelayan saat menyimpan minuman di atas meja.
"Makasih." Ucap Hasna ramah.
Rama mengambil segelas air putih dan meminumnya sedikit, kemudian menerima suapan lagi dari Hasna.
"Kamu juga harus makan." Peringat Rama, karena Hasna hanya fokus menyuapi dirinya saja.
Dan seperti biasa, Hasna menyuapkan makanan untuknya setelah menyuapkan untuk Rama. Mereka menikmati makan malam mereka l bih awal dari biasanya.
Dari sudut lain, ada dua pasang mata yang tengah mengamati aktivitas keduanya. Mereka menatap dengan heran kegiatan yang dilakukan oleh Hasna dan laki-laki asing di area privat itu.
"Itu cowoknya Mbak Hasna?" Tanya pegawai perempuan yang baru saja mengantarkan makanan.
"Mbak Hasna itu nggak pernah pacaran ya." Jawab temannya.
"Lalu?" Pegawai perempuan itu menoleh heran pada temannya tadi.
"Eh, iya, ya. Tapi setahu aku, emang Mbak Hasna nggak pernah mau pacaran sih." Sepertinya ia salah satu pegawai dari tempat katering atau toko kue Hasna.
"Kalian ngapain di sini? Masih jam kerja malah bergosip." Tegur temannya yang kebetulan lewat.
"Nggak, cuma lihat..." Pegawai itu mengisyaratkan dengan ekor matanya ke arah Hasna. Dan diikuti oleh teman yang bertanya.
"Oh...itu suaminya Mbak Hasna. Kata teman-teman yang ada di dapur sih gitu. Pada heboh semua di dalam."
"Oh... suaminya ya, tapi kita kok nggak pernah dengar kapan nikahnya."
"Udah, mendingan kita lanjut kerja. Nggak usah kepo dengan urusan orang lain."
***
Jam sudah menunjukkan pukul tujuh lewat, tapi kursi yang biasanya Kevin tempati masih kosong. Padahal makan malam sudah di mulai sejak tadi.
"Bi." Panggil Bu Rosita pada asisten rumah tangganya.
"Iya, Bu."
__ADS_1
"Tolong panggilkan Mas Kevin, ya. Bilang sudah ditunggu Bapak di meja makan." Ucap Bu Rosita.
"Baik, Bu."
ART itu segera beranjak menuju kamar Kevin. Di ketuknya perlahan pintu anak majikannya itu. Tak lama, pintu pun terbuka.
"Ada apa, Bi?" Tanya Kevin.
Bibi memperhatikan majikannya itu dengan tatapan aneh. Penampilannya kusut dan masih mengenakan setelan kantor. Bukankah Kevin tadi pulang lebih awal. Tapi kenapa masih seberantakan ini. Biasanya laki-laki itu selalu terlihat segar, tampan dan bersemangat. Apalagi lampu kamar masih padam.
"Sudah di tunggu Bapak di meja makan, Mas." Ucap Bibi.
Kevin enggan untuk turun. Ia benar-benar butuh waktu untuk sendiri.
"Bilang sama Papa, saya di tinggal saja." Jawabnya lesu.
"Baik, Mas."
Bibi turun dengan tangan hampa. Anak majikannya itu tidak ikut serta turun ke meja makan.
"Gimana, Bi?" Tanya Bu Rosita.
"Maaf, Bu. Mas Kevin bilang, suruh ninggal saja." Bibi menyampaikan pesan Kevin pada Bu Rosita.
Tumben sekali Kevin melewatkan makan malamnya. Terlebih dia pulang lebih awal tadi. Jelas tidaklah mungkin jika putranya itu sudah makan lebih dahulu.
"Apa Kevin sedang mengerjakan sesuatu?" Tanya Bu Rosita.
"Tidak, Bu. Mas Kevin malah belum sempat berganti baju, dan lampu kamar belum sempat dinyalakan." Bu Rosita mengerutkan keningnya. Bahkan sudah lebih dari dua jam yang lalu Kevin sampai rumah.
"Ya sudah, makasih ya, Bi."
Bibi kembali ke belakang. Bu Rosita merasa ada yang tidak beres dengan putra kesayangannya itu. Kevin akan segera bersih-bersih sesaat setelah sampai dari kantor. Tapi sekarang?
"Pa, Mama tinggal ke atas dulu ya?" Suaminya hanya menganggukkan kepalanya. Laki-laki paruh baya itu pun merasa aneh dengan tingkah putra bungsunya.
Bu Rosita mengetuk pintu kamar Kevin yang tertutup rapat. Tidak ada sorot cahaya dari celah pintu. Berarti ruangan masih gelap.
Cklek
"Kevin?"
"Mama?"
Bu Rosita memperhatikan penampilan putranya yang masih mengenakan pakaian yang sama seperti pagi tadi, terlihat kusut dan berantakan. Wajah putranya terlihat redup, tak bersemangat. Ditambah lagi lampu kamar yang tidak dinyalakan. Apa putranya itu sedang sakit? Tapi wajahnya tidak pucat.
Tangan Bu Rosita terulur untuk memegang kening sang putra. Suhunya normal, berarti putranya dalam keadaan sehat. Lantas kenapa seperti seseorang yang sedang tidak baik-baik saja.
"Kevin? Kamu kenapa?" Tanya Bu Rosita
"Tidak apa, Ma." Jawabnya lesu.
"Kamu tidak makan malam?"
"Nanti saja. Kevin ingin beristirahat dulu." Tolak Kevin.
Bu Rosita hanya bisa mengangguk pasrah. Sepertinya memang telah terjadi sesuatu kepada putranya. Tapi apa?
Wanita paruh baya itu kembali turun ke meja makan. Lebih baik memberi waktu untuk putranya sendiri. Nanti jika keadaan lebih baik, akan coba beliau tanyakan lagi.
"Ada apa, Ma?" Tanya suami Bu Rosita setelah wanita itu duduk di tempatnya semula. Wanita itu menggeleng.
"Sepertinya Kevin tengah ada masalah. Mama perhatikan penampilannya yang begitu berantakan. Padahal ia sampai di rumah lebih dari dua jam yang lalu. Nanti akan coba Mama tanyakan setelah makan malam, sekalian mengantarkan makanan ke kamarnya."
Semoga saja setelah ini putranya mau bercerita tentang masalahnya.
***
Kevin baru saja berganti pakaian selepas mandi. Masih jam delapan, tapi ia sudah sangat malas melakukan apapun. Bahkan ia melewatkan makan malamnya.
Kevin meraih benda pipih yang tergeletak di atas tempat tidur. Di usapnya layar itu, dan muncullah foto perempuan bermata teduh di layar dekstop ponsel.
"Hasna, ternyata kita tidak berjodoh." Lirihnya. Ibu jarinya mengusap lembut gambar perempuan yang telah menawan hatinya itu.
Kevin mengingat jelas awal pertemuan mereka yang tidak di sengaja. Hingga benih-benih cinta tumbuh di hatinya. Entah kapan, ia juga tidak menyadarinya. Rasa itu mengakar begitu kuat.
Pertemuannya dengan Hasna tadi siang masih terekam jelas, bagaimana saat perempuan itu memberikan jawaban atas lamarannya. Hasna tidak memberi penolakan secara terang-terangan yang membuat Kevin tersinggung. Justru perempuan itu meminta maaf dan mengatakan jika ia seorang perempuan bersuami. Penolakan perempuan itu sangatlah halus, seperti berbicara dari hati ke hati.
Entah bagaimana nantinya ia akan melupakan Hasna, tapi rasa cintanya begitu besar pada perempuan itu. Kevin tidak bisa mengendalikan rasa cintanya. Juga tidak bisa memaksakan rasa cinta itu pada perempuan yang ia cintai. Karena rasa itu anugerah terindah dari Yang Maha Kuasa.
Kevin bukanlah tipikal laki-laki yang suka mengganggu hubungan orang. Lebih baik dia mundur dengan membawa cintanya, daripada merusak rumah tangga perempuan yang dicintainya. Belum tentu juga jika ia bersama Hasna, perempuan itu akan bahagia. Cukup melihat Hasna berbahagia, daripada membuat perempuan itu terluka.
"Berbahagialah Hasna, dengan laki-laki yang kau pilih sebagai teman hidupmu. Aku akan bahagia jika melihatmu bahagia. Tapi maafkan aku jika rasa ini tidak bisa memudar untukmu. Akan ku simpan rapat-rapat rasa ini hanya untuk satu wanita, yaitu kamu. Dan kamu tetaplah perempuan istimewa yang berhasil menempati tahta tertinggi di hati ini."
***
mohon maaf jika agak bingung dengan orang-orang yang berdialog dengan Hasna, karena saya tidak mau banyak menyebutkan nama (pegawai Hasna terlalu banyak) saya suka lupa soalnya, hehehe
__ADS_1
jangan lupa dukungannya ya manteman, makasih...
semoga terhibur