Bidadari Penghapus Luka

Bidadari Penghapus Luka
Bab 127


__ADS_3

"Sudah cukup, Ma." Rama menolak suapan sang ibu.


"Masih belum setengahnya, Nak." Bu Diana masih berusaha memaksa agar Rama membuka kembali mulutnya. Baru saja beberapa suap.


Cklek


"Selamat pagi, Kak." Sapa Nayla dengan gaya cerianya. Gadis itu memperhatikan apa yang tengah ibu dan Kakaknya lakukan.


"Satu suap lagi." Bujuk Mama.


"Sudah, Ma. Rama sudah kenyang." Rama memalingkan wajahnya menghindari suapan dari ibunya.


"Aduh...bayi gede, lagi rewel ya, makannya? Sini adek suapin." Celetuk Nayla. Mama menggeleng pelan, mengisyaratkan jika ini bukanlah waktu yang tepat untuk bercanda.


Nayla menghembuskan nafas cepat, lalu meletakkannya sekantong camilan yang baru saja ia beli di atas meja. Gadis itu mengambil posisi duduk di samping Rama. Perlahan Nayla menyandarkan kepalanya di pundak saudara laki-lakinya. Mendekap erat lengan kokoh itu.


"Kak, Kakak ingat nggak saat kita masih kecil? Kakak selalu minta Mama suapin kalau Nay lagi makan? Kakak bilang, kalau Mama nggak pernah mau suapin kakak semenjak ada Nay." Rama hanya menggerakkan sedikit kepalanya, melirik sekilas pada adik perempuan satu-satunya.


"Sejak saat itu, kan, Kakak tidak mau berbagi makanan di piring yang sama?" Rama masih menyimak perkataan gadis itu.


"Dan, setelah Kakak menikah, Kakak mau berbagi makanan dengan Mbak Hasna." Tak terasa kedua mata Nayla mengembun saat menyebut nama Hasna.


"Kakak sudah terbiasa makan satu piring dengan Mbak Hasna, bahkan selalu minta di suapi, iya kan? Itu tandanya, Kakak sudah cinta banget sama Mbak Hasna. Hebat banget, ya, padahal baru kenal beberapa bulan." Mama sedikit menundukkan pandangannya, jangan sampai ia terlihat sedih di depan Rama. Laki-laki itu butuh dukungan keluarga untuk menguatkan.


"Kami hanya tidak mau jika kakak sampai sakit. Jangan sampai saat nanti Mbak Hasna sadar, Kakak tidak bisa menemaninya karena kondisi kakak yang tidak sehat." Suara Nayla sudah terdengar sedikit serak. Segera gadis itu menghirup nafas dalam-dalam untuk mengurangi rasa sesak di dadanya.


"Apa kakak pikir, dengan kakak tidak makan, Mbak Hasna bakalan suka? Apa kakak pikir, Mbak Hasna tidak akan sedih melihat Kakak seperti ini?"


"Pastinya Mbak Hasna berharap Kakak selalu sehat, dan akan membantu merawat Mbak Hasna sampai sembuh. Apa Kakak mau, Mbak Hasna hanya di rawat oleh Dokter dan perawat? Lalu sebagai suami, apa Kakak tidak ingin merawat istri Kakak sampai sembuh?" Nayla mengusap sudut matanya yang basah.


Rama membuang nafasnya dengan kasar. Kenapa dirinya menjadi serapuh ini? Bukankah istri juga calon anak mereka membutuhkan sosok tangguh yang bisa dijadikan sandaran? Kenapa justru dirinya menjadi rapuh begini?


"Kakak makan, ya. Walaupun bukan buat kakak, setidaknya makanlah untuk istri dan calon anak kakak." Rama mengusap lembut puncak kepala Nayla, sepertinya laki-laki itu berhasil di rayu.


Nayla mengangkat kembali kepalanya dari pundak Rama. Mengusap sudut matanya, menghilangkan jejak basah di sana.


"Mau Nay suapin?" Senyuman mengembang di wajah gadis itu.


"Tidak perlu, aku mau Mama yang suapin. Kalau kamu, nanti makanan habis kamu makan sendiri." Tolak Rama.


"Ckkk...tau gitu tadi Nay makan duluan. Biar pas Mbak Hasna bangun, nggak ngenalin suaminya yang menyebalkan gara-gara kena busung lapar." Ucap Nayla seolah menyesal.


Bu Diana tersenyum dan menggeleng pelan melihat tingkah kedua anaknya yang sama-sama telah dewasa, namun terkadang tingkah mereka tak ubahnya seperti bocah.


Nayla menghindar manakala Rama sudah mengambil ancang-ancang untuk mendaratkan sentilan mautnya di kening Nayla.


"Untung aja nggak kena. Yang kemarin saja sampek malem masih nyut-nyutan." Protes Nayla. Bibir gadis itu terlihat mengerucut ke depan dengan kedua tangan yang menutupi keningnya.


"Ponakannya Tante Nay, hati-hati, kamu punya bapak yang galaknya nggak ada ampun. Salah dikit, sentil, lama-lama bolong tu jidat di sentil mulu." Ucap Nayla seolah tengah memberikan pengumuman pada calon keponakan yang bahkan belum genap berusia dua bulan dalam kandungan itu.


"Nay, sudah ah." Ucap Mama. Wanita paruh baya itu kembali menyuapkan makanan pada Rama tanpa penolakan.


Tok, tok, tok


"Pasti Dokter, jadwalnya visit." Ucap Rama yang sudah bersiap berdiri membukakan pintu.


Benar dugaannya, dua tenaga medis sudah berdiri di depan pintu kamar rawat Hasna.

__ADS_1


"Selamat pagi, Pak." Sapa Dokter.


"Pagi, Dok." Ucap Rama dengan senyum simpulnya.


Rama mempersilahkan Dokter dan perawat itu masuk untuk menjalankan tugasnya. Rama dengan setia berdiri di samping istrinya yang tengah menjalani pemeriksaan. Rama melihat Dokter beberapa kali menarik nafas panjang, sepertinya ada sesuatu yang tidak menyenangkan telah terjadi.


Dokter kembali mengarahkan cahaya senter di kedua mata Hasna secara bergantian. Lalu memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan Hasna. Dokter sedikit memberikan tekanan pada tangan Hasna untuk mengetahui respon perempuan itu.


"Bu Hasna? Bu Hasna bisa dengar saya?" Ucap dokter dengan terus memberikan tekanan di beberapa titik di tubuh Hasna.


"Ada apa dokter?" Tanya Rama yang mulai nampak panik.


Bu Diana serta Nayla ikut berdiri di samping Rama yang terlihat panik.


"Bu Hasna? Ibu mendengar saya?" Ulang Dokter.


"Dokter tolong katakan, ada apa sebenarnya.?" Desak Rama.


"Ini hanya dugaan awal, semoga saja tidak benar. Bu Hasna...ada kemungkinan mengalami koma."


"Apa?" Lirih Rama, Bu Diana, juga Nayla hampir bersamaan.


Rama menggeleng pelan seolah menolak penjelasan dokter, terlihat lelaki itu mundur beberapa langkah dari tempatnya semula. Sedangkan Bu Diana dan Nayla saling memeluk satu sama lain.


"Dokter pasti salah mendiagnosa. Istri saya hanya belum siuman." Ucap Rama dengan bibir yang bergetar.


"Saya harap, saya memang salah menduga. Tapi lebih baik, Bu Hasna segera melakukan beberapa pemeriksaan untuk memastikan kondisinya." Ucap Dokter.


"Tidak, istri saya pasti akan bangun sebentar lagi." Ucap Rama dengan netra yang mulai mengembun. Rama kembali menghampiri sang istri.


"Hasna, Sayang, bangunlah. Katakan pada Dokter kalau kamu hanya ingin beristirahat. Katakan pada mereka kalau kamu baik-baik saja." Ucap Rama dengan mengusap lembut pipi Hasna.


"Tolong." Mohon wanita paruh baya itu.


Dokter mengangguk, dan tersenyum simpul pada Bu Diana.


"Pasti, kami akan melakukan yang terbaik semampu kami untuk pasien." Ucap Dokter, lalu menoleh sekilas pada perawat di sampingnya. Perawat pun segera menekan tombol yang berada di dekat ranjang Hasna.


Tak berselang lama, dua orang perawat laki-laki datang ke ruangan Hasna.


"Tolong pindahkan pasien, kita akan melakukan CT scan dan beberapa pemeriksaan lainnya." Ucap Dokter.


"Baik, Dok."


Dengan begitu cekatan dua orang laki-laki berseragam itu menjalankan tugasnya. Tak lama ranjang Hasna sudah di dorong keluar mengikuti langkah Dokter menuju lift.


"Ma..." Lirih Rama. Raganya serasa tak bertulang, laki-laki itu terduduk di lantai dingin rumah sakit.


"Semuanya akan baik-baik saja, Nak. Percayalah, kalau Allah akan selalu menolong hambanya yang berpasrah." Ucap Mama berusaha menguatkan Rama.


***


Dua orang pria berseragam masuk ke dalam sebuah kamar rawat. Nampak seorang perempuan yang tengah duduk bersandar di ranjang pasien.


"Selamat pagi. Dengan saudari Marissa Anindita?" Marissa menoleh ke arah sumber suara. Perempuan itu terkejut saat mendapati dua orang pria berseragam polisi di ruang rawatnya.


"Sa... I...iya, saya sendiri." Ucap Marissa terbata. Perasaannya mendadak tidak enak dengan kedatangan dua tamunya pagi ini.

__ADS_1


"Kedatangan kami kemari, untuk menjemput saudari Marissa agar ikut kamu ke kantor polisi."


"Ta...tapi kenapa saya harus ikut ke sana?"


"Anda di tetapkan sebagai tersangka atas kecelakaan yang menimpa saudari Hasna Ayudia." Ucap salah seorang pria itu, yang membuat Marissa merasa sulit untuk bernafas.


"A...apa? Tidak, saya tidak bersalah. Semuanya murni kecelakaan." Sangkal Marissa.


"Nanti anda bisa menjelaskannya di kantor." Marissa menggelangkan kepalanya. Menjelaskan di kantor? Apa itu artinya ia akan di tahan?


Cklek


Suara pintu yang di buka dari luar membuat atensi ketiganya teralihkan. Tomi, laki-laki itu baru saja kembali dari kantin rumah sakit.


"Maaf, ada apa, ya?" Tomi merasa aneh dan bingung dengan keberadaan dua orang pria berseragam polisi di ruangan Marissa sepagi ini.


"Maaf, apa anda memiliki hubungan dengan saudari Marissa?" Tanya salah seorang laki-laki itu.


Tomi menoleh ke arah Marissa yang menampakkan raut kekhawatiran.


"Ya, saya...suami dari saudari Marissa." Ucap Tomi yang kembali fokus pada kedua pria berseragam polisi itu.


"Kemarin, kami telah menerima laporan atas kecelakaan yang terjadi pada hari rabu sekitar pukul lima lewat lima belas petang, yang mengakibatkan korban atas nama Hasna Ayudia dalam keadaan kritis." Jelas pria berseragam itu.


Deg


Jantung Tomi serasa dipaksa untuk berpacu lebih kencang. Inilah yang semalam ia pikirkan. Kecelakaan istri dari Rama Suryanata, mustahil jika tidak di perkarakan. Apalagi Rama sendiri ada di tempat kejadian.


"Kami akan membawa saudari Marissa ke kantor untuk di mintai keterangan." Salah seorang pria itu menyerahkan sepucuk amplop kepada Tomi, yang sudah dapat ditebak apa isinya.


"Maaf, Pak. Bukannya saya menghalangi proses hukum, tapi kondisi istri saya sedang tidak memungkinkan jika harus meninggalkan rumah sakit. Dokter meminta agar istri saya tetap berada di rumah sakit ini untuk menjalani perawatan intensif pasca pendarahan yang dialaminya." Jelas Tomi.


Laki-laki itu berharap agar polisi tidak membawa Marissa. Setidaknya hingga perempuan itu pulih. Tomi hanya tidak ingin membahayakan kandungan istrinya itu.


"Baiklah, kami akan menemui Dokter yang menangani saudari Marissa untuk mengetahui kondisinya." Pungkas pria itu.


"Kalau begitu, kami permisi, selamat pagi."


"Pagi, Pak." Tomi mengangguk pelan dan memperhatikan dua orang berseragam polisi itu hingga menghilang di balik pintu.


"Tomi, gue nggak mau dipenjara." Ucap Marissa penuh penekanan dengan bibir yang bergetar.


"Gue juga nggak mau, kalau sampai anak gue lahir dalam bui. Tapi lo udah milih jalan ini, Sa." Ucap Tomi.


"Tapi gue nggak mau." Ucap Marissa setengah berteriak.


"Apa lo pernah mikir, kalau tindakan lo bisa merugikan orang lain, juga diri lo sendiri? Apa yang udah lo lakuin kemarin, benar-benar udah kelewatan. Perempuan itu bahkan menjadi korban di sini, dia kritis. Dan lo..." Tomi menunjuk lurus ke arah Marissa yang sudah berlinangan air mata.


"Lo hampir saja membuat anak gue tidak terselamatkan. Dan sekarang lo masih mikirin diri lo sendiri? Lo udah ngelakuin ini semua, dan lo harus mempertanggung jawabkan semua perbuatan lo ini." Ucap Tomi.


"Tomi plis tolongin gue. Bantu gue untuk keluar dari masalah ini, plis." Ucap Marissa mengiba dengan kedua tangannya yang tertangkup di depan dada.


"Maaf, Sa, gue nggak bisa bantu. Negara kita negara hukum. Biarlah mereka yang berwenang menjalankan tugasnya. Dan seharusnya lo sadar dengan adanya kejadian ini. Lo jangan pernah bertindak semau lo, demi memuaskan ambisi lo itu. Pikirkan semuanya, sebelum pada akhirnya hanya penyesalan yang akan lo terima." Ucap Tomi, lantas laki-laki itu kembali keluar meninggalkan Marissa seorang diri di dalam ruangan.


***


Maaf, tolong koreksi jika ada kesalahan di bab ini. Tentang prosedur-prosedur yang sedikit terulas di atas.

__ADS_1


Kritik dan saran kalian akan sangat membantu penulisan saya ke depannya. Terima kasih.


❤️❤️❤️


__ADS_2