
Hasna mulai menggeliat saat dirasa ada sesuatu yang basah mengenai permukaan pipinya. Dingin, itu yang di rasakannya.
"Mas Rama?" Hasna akhirnya terbangun. Tangan basah Rama berhasil membuatnya terjaga.
Suara serak khas bangun tidur, nampaknya membuat Rama sedikit berpikiran liar. Apalagi saat Hasna menggeliat, meregangkan otot tubuhnya. Gerakan Hasna nampak begitu seksi di mata laki-laki itu.
"Sholat dulu. Sudah hampir jam lima." Ucap Rama tanpa mengalihkan tatapannya dari sang istri.
"Jam lima?" Hasna terperanjat, dan membolakan matanya dengan sempurna. Karena baru kali ini ia bangun kesiangan.
"Kenapa tidak di bangunkan jam tiga tadi?" Terdengar protes dari sang istri.
"Aku sudah bangunin kamu berkali-kali loh. Dan ini sudah yang ke delapan kalinya." Lagi-lagi Hasna membolakan netranya, seakan tak percaya dengan ucapan sang suami.
"Masa sih?" Hasna masih tidak percaya.
"Iya, Sayang. Apalagi kamu kemarin baru tidur lewat tengah malam, kan?" Rama mengusap pipi Hasna dan tersenyum hangat.
Bukan Rama tidak tahu jika semalam Hasna nampak tidak nyenyak saat tidur. Berulang kali perempuan itu merubah posisinya, seolah mencari posisi yang nyaman, namun nampaknya tak kunjung ia dapat memejamkan mata. Dengan perut yang semakin besar, Hasna semakin tidak nyaman jika tidur. Dan akhirnya, Rama membawa perempuan itu ke dalam pelukan. Mengusap lembut punggungnya, hingga tertidur.
"Mau Mas bantu?" Tawar Rama.
Hasna nampak mengangguk. Dengan perlahan Rama membantu Hasna untuk duduk. Lalu mengantarkan perempuan itu sampai di depan kamar mandi.
"Mas? Kenapa masih di sini?" Tanya Hasna, karena Rama masih menunggunya di depan pintu kamar mandi, saat ia selesai melakukan aktivitas di dalam sana.
"Takut jika istriku membutuhkan bantuanku."
"Mas, aku udah wudhu, ya." Hasna menghindar saat Rama akan menyentuh pipinya.
"Maaf, lupa." Kekeh Rama.
Hasna langsung menuju tempat dimana biasa mereka melakukan sholat berjamaah dengan diikuti Rama di belakangnya.
"Nggak perlu repot seperti ini, Mas." Rupanya laki-laki itu telah menyiapkan mukena dan alat sholat untuk Hasna.
"Tidak, siapa yang repot? Cepatlah sholat, keburu matahari terbit."
***
Rama masih enggan beranjak dari posisi nyamannya. Tidur di pangkuan sang istri, menghadap ke arah perut yang sudah membukit besar. Mendengarkan lantunan ayat demi ayat yang Hasna baca. Sesekali memberikan usapan lembut di perut istrinya saat ia merasakan tendangan-tendangan dari dalam sana.
Hasna menutup mushafnya, dan menyimpannya di meja kecil di dekat tempatnya sholat. Tangannya mengusap lembut surai hitam sang suami yang berbaring di pangkuannya.
"Berapa lama lagi aku bisa menimangnya?" Rama sedikit mendongakkan kepalanya, menatap wajah sang istri yang semakin cantik saat hamil seperti ini.
"Emmm...kurang lebih dua bulan lagi." Ucap Hasna.
__ADS_1
"Lama sekali." Gumam Rama.
"Semua ada waktunya, Mas. Masa kehamilan kan memang segitu, sembilan bulan sepuluh hari. Atau kira-kira empat puluh minggu." Jelas Hasna, dan Rama pahambakan hal itu. Tapi ia benar-benar tidak sabar menantikan kehadiran buah hatinya ke dunia.
Rama terdiam, tidak menanggapi ucapan sang istri. Laki-laki itu nampak asik bercengkerama dengan sang bayi yang masih berada dalam kandungan Hasna.
"Mas?"
"Hmmm."
"Aku boleh tanya sesuatu nggak?"
"Apa?"
"Tapi, Mas Rama janji jangan marah, ya?" Rama menautkan kedua alisnya. Kenapa harus marah? Memangnya apa yang akan Hasna tanyakan kepadanya? Apakah sesuatu yang akan menyinggungnya?
"Apa?" Rama jadi penasaran sekarang.
"Janji dulu."
"Iya."
"Iya, apa?"
"Iya, Mas janji."
"Iya, Mas janji nggak akan marah." Rama mencubit gemas hidung sang istri.
"Beneran ya?"
"Apa semua wanita hamil sikapnya begini? Semakin bertambah besar anak dalam kandungannya, semakin seperti bocah ibunya." Cicit Rama.
Perubahan mood Hasna yang mudah Rama sadari. Tiba-tiba ceria bagaikan matahari terbit. Juga kadang ngambek dan lebih memilih diam. Hanya sebentar memang, dan tidak pernah lama.
"Ckkk..." Hasna mengerucutkan bibirnya.
"Tuh kan, sekarang malah ngambek." Rama mencolek ujung hidung Hasna dengan gemas.
"Dek, lihat tuh, Bundanya marah. Eh, Bunda apa Mama, ya? Atau Mami? Mommy? Ibu? Umi? Emak mungkin?" Ucap Rama asal.
"Awww..." Rama mengerang saat cubitan kepiting mendarat sempurna di pinggangnya.
"Dek, sekarang malah marah." Ucap Rama pada perut Hasna, sembari mengusap bekas cubitan Hasna yang menyisakan rasa panas. Rama mengadu pada calon anaknya dalam kandungan Hasna, seolah memang bisa menggapai apa yang ia keluhkan.
Hasna tidak menanggapi Rama yang menggodanya. Hingga laki-laki itu kembali menatap wajah perempuan yang berada di atasnya.
"Kok malah diam? Tadi katanya mau tanya? Apa tidak jadi?" Hasna membuang nafasnya cepat.
__ADS_1
"Aku kan cuma bercanda, Sayang. Mana mungkin aku akan marah pada bidadariku ini." Rama mengusap lembut pipi Hasna dengan ibu jarinya.
Hasna melirik laki-laki yang tengah berbaring di pangkuannya sekilas. Dan akhirnya, ia kembali membuka suara.
"Gimana kabarnya Mbak Marissa?" Satu kalimat yang sukses membuat senyuman yang tadi menghias wajah tampan Rama, hilang dalam sekejap.
Rama menarik kembali tangan yang terulur menyentuh wajah sang istri, dan mengalihkan pandangannya.
"Bagaimana kandungannya?" Satu lagi pertanyaan yang tidak ingin Rama dengar.
"Saat kejadian itu, kalau tidak salah, Mbak Marissa hamil tujuh bulan. Harusnya dia sudah melahirkan." Ucap Hasna. Perempuan itu sedikit merasa bersalah atas tindakannya, menarik Marissa cukup kuat waktu itu. Ia hanya khawatir dengan janin dalam kandungan Marissa.
Hasna menunduk dan mengamati air muka yang Rama tunjukkan. Terlihat dingin dan terkesan, kaku. Hampir sama saat di awal pernikahan mereka. Wajah yang sangat tidak bersahabat.
"Mas Rama marah?" Rama bergeming tetap pada posisinya. Bahkan tak berniat menoleh pada Hasna.
"Tadi kan Mas Rama sudah janji, nggak bakalan marah."
Bungkam. Itulah yang dipilih Rama saat ini.
"Mas? Aku hanya khawatir dengan bayi dalam kandungan Mbak Marissa. Waktu itu aku menarik tangannya cukup kuat. Dan aku masih sempat mendengar teriakan kesakitan, sebelum pada akhirnya semua terlihat menggelap. Aku_"
Rama bangkit dari posisinya dan beranjak dari hadapan Hasna, membuat perempuan itu merasa sedikit bingung.
"Mas?" Hasna meraih tangan Rama, sebelum laki-laki itu melangkah.
"Aku tidak ingin membahas hal ini." Ucapan Rama terdengar begitu dingin di telinga Hasna.
"Kenapa? Aku hanya bertanya."
"Haruskah aku menjawabnya?" Rama menatap tajam manik sang istri yang masih setia di posisinya.
"Haruskah aku memberikan alasan dari pertanyaan, kenapa, yang kamu ajukan?" Rama memberi penekanan di setiap ucapannya.
"Harusnya kamu berpikir, dengan adanya kejadian itu, kamu harus bisa menentukan sikap. Jangan hanya perasaan bersalah yang kamu tunjukkan pada seseorang yang tidak memiliki hati. Tapi pikirkan juga diri kamu." Hasna melonggarkan genggamannya dan melepaskan tangan itu. Ucapan Rama benar-benar membuatnya merasakan sakit. Seolah menanyakan sesuatu yang membuatnya melakukan dosa besar.
"Maaf, aku hanya bertanya. Jika mas Rama tidak berkenan menjawab juga, tidak apa-apa." Lirih Hasna. Hasna merasa jika respon yang Rama berikan terkesan berlebihan. Padahal, apa yang ia tanyakan sesuatu yang wajar.
Dapat Rama lihat, wajah itu nampak sendu. Inilah yang tidak Rama sukai. Ia terlalu lemah jika berhadapan dengan Hasna. Terlalu sering ia menyakiti perempuan itu, sehingga membuatnya berjanji pada dirinya sendiri tidak akan menyakiti istrinya lagi. Hasna terlalu sabar menghadapinya selama ini.
Rama membuang nafasnya dengan kasar, dan menyugar surai hitamnya secara asal. Laki-laki itu kembali duduk berhadapan dengan sang istri.
"Maaf, aku tidak bermaksud berkata kasar sama kamu. Hanya saja, aku tidak mau kamu membicarakan perempuan itu. Dia sudah mendapatkan ganjaran yang seharusnya ia dapatkan." Hasna menoleh, dan menatap lekat manik pekat itu. Ganjaran? Ganjaran yang bagaimana yang Rama maksudkan? Apa bayinya...? Tidak. Bahkan akan mengucapkan kemungkinan yang Marissa dan bayinya alami saja, Hasna tidak sanggup.
"Aku mohon, jangan bertanya lagi." Ucap Rama sebelum Hasna membuka suara dan mengajukan pertanyaan kembali.
"Seandainya kamu tahu, jika Marissa mendekam di penjara karena aku. Aku yakin, kamu pasti marah dan kecewa kepadaku, Hasna. Apalagi saat kamu tau bagaimana dengan kondisi Marissa. Hatimu terlalu lembut memahami orang lain. Tapi kamu tidak peka atas sikap yang orang lain tunjukkan kepadamu. Biarlah semua berjalan dengan semestinya. Aku hanya ingin menjaga kamu dan anak kita. Dan aku pastikan, kalian akan selalu aman."
__ADS_1