
Rama memejamkan matanya dan menggelengkan kepalanya perlahan.
"Tidak, ini tidaklah mungkin. Hasna..." Lirihnya.
Bibir itu menyebut nama istrinya. Apa yang dilihatnya kali ini membuat ia merasa bersalah pada Hasna.
"Hasna, maafkan aku." Lirihnya.
Setelah melihat semua file bukti yang dikirimkan orang suruhannya, kini tujuan Rama hanya satu. Hasna. Hanya perempuan itu yang bisa membuat tenang hatinya.
Segera ia pacu mobil membelah jalanan yang semakin memadat. Ia ingin segera sampai di rumah dan memeluk erat tubuh istrinya.
***
Rama telah sampai di rumah, dan telah mendapati mobil istrinya di dalam garasi. Berarti perempuan itu sudah pulang.
Gegas ia langkahkan kakinya lebar-lebar menuju ke dalam rumah untuk mencari keberadaan Hasna. Tujuan utamanya adalah kamar di lantai dua. Ia membuka pintu dengan tidak sabaran. Lampu kamar masih padam.
"Hasna?" Panggilnya.
"Hasna? Tetap tidak ada sahutan.
Netranya memindai seisi kamar, kosong. Ia langsung membuka pintu kamar mandi tanpa mengetuknya terlebih dahulu, dan ternyata sama, kosong. Dimana istrinya itu?
"Kamar tamu." Gumamnya.
Rama segera berlari menuruni anak tangga menuju kamar tamu, kamar Hasna sebelumnya. Namun tetap kosong, sama seperti kamarnya. Kamar mandi pun kosong. Dapur juga kosong.
Rama menyugar rambutnya dengan kasar karena tidak menemukan Hasna di dalam rumah.
Segera ia keluar rumah, menuju pos satpam di depan. Terlihat Pak Mamat tengah menyeruput kopinya.
"Pak Mamat?"
"Iya, Mas?" Sekuriti itu meletakkan kembali cangkir di tangannya..x
"Hasna sudah pulang?" Tanya Rama dengan nafas sedikit terengah.
"Belum, Mas."
"Lalu mobilnya?" Rama menoleha ke arah garasi.
"Oh...tadi Mbak Hasna dijemput, Mas." Ucap Pak Mamat.
"Dijemput siapa?" Pak Mamat mengerutkan keningnya.
"Dijemput sama ibu mertuanya toh, Mas. Ibunya Mas Rama toh?" Rama memijit pangkal hidungnya. Kenapa bisa ia sampai melupakan itu, padahal Hasna sudah meminta izin terlebih dulu padanya.
"Ya udah, makasih ya, Pak."
Rama kembali masuk ke dalam rumah. Hanya karena beberapa foto juga video yang ia terima dari orang suruhannya, sudah membuat Rama hilang kendali.
"Lebih baik aku mandi. Kepalaku rasanya mau pecah." Gumamnya.
***
"Mama tidak mampir dulu?" Tanya Hasna saat hendak turun dari mobil.
"Kapan-kapan saja, Sayang. Udah malem, Papa pasti nungguin." Tolak Mama.
Hasna meraih tangan Mama dan menciumnya.
"Hasna masuk dulu ya, Ma. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Hasna segera masuk ke dalam rumah setelah memastikan mobil Mama keluar dari gerbang rumah. Lampu rumah sudah menyala, berarti Rama sudah pulang. Gegas ia naik ke kamar atas, pasti suaminya itu ada di sana.
"Assalamu'alaikum." Ucap Hasna saat memasuki kamar.
Kosong. Dimana Rama? Tidak mungkin di kamar mandi, karena tidak terdengar gemericik air dari dalam sana. Mungkin ada di ruang kerjanya.
__ADS_1
"Sebaiknya aku mandi dulu."
Hasna segera membersihkan dirinya. Seharian berada di luar rumah membuat tubuhnya terasa lengket karena keringat. Setelah hampir tiga puluh menit, Hasna keluar dari kamar mandi. Tubuhnya terasa lebih segar.
Hasna turun ke bawah untuk membuatkan minuman untuk Rama. Kebetulan sebelum pulang tadi ia sempat membawakan Rama makanan yang di belinya di luar bersama Mama, jadi ia tidak perlu repot untuk memasak makan malam. Cukup menghangatkannya saja nanti.
Hasna membuka pintu ruang kerja Rama yang tertutup rapat. Rama yang tengah fokus dengan ponselnya seketika mengalihkan pandangannya.
Senyuman terukir manakala mendapati istrinya di ambang pintu. Rama segera meletakkan ponselnya di sembarang tempat dan menghampiri Hasna. Memeluk erat tubuh perempuan yang seharian ini tidak di lihatnya. Entah mengapa rasanya rindu sekali.
"Mas?" Lirih Hasna. Ia benar-benar terkejut dengan ulah suaminya. Bahkan minuman di tangannya hampir saja tumpah.
"Biarkan seperti ini." Lirih Rama.
Hasna terdiam untuk beberapa saat dalam pelukan Rama. Lelaki itu tak melepas pelukannya. Merasai nyaman mendekap tubuh perempuan yang membuat rasa gelisahnya berkurang.
"Ada apa?" Tanya Hasna setelah pelukan terurai.
"Tidak." Rama memaksakan senyumnya.
"Bisa temani aku bekerja?" Tanya Rama.
"Mas Rama tidak makan dulu?" Tawar Hasna.
"Nanti saja, nanggung tinggal sedikit lagi." Tolak Rama. Hasna mengangguk.
Rama menggamit tangan Hasna menuju meja kerjanya. Rama menepuk pelan pahanya, mengisyaratkan agar Hasna duduk di pangkuannya. Hasna tersenyum tertahan, ia pun duduk di pangkuan suaminya.
Kini Rama kembali fokus pada pekerjaan dan melupakan apa yang telah ia lihat di ponselnya beberapa saat yang lalu.
"Hasna, jangan banyak bergerak." Ucap Rama.
Bagaimana ia tidak banyak bergerak saat tangan kiri Rama melingkari perutnya. Posisi seperti ini membuat Hasna tidak nyaman. Membuatnya bergerak gelisah.
Untuk beberapa saat Hasna bisa tenang, karena Rama tengah mengetik. Fokus Rama tertuju pada keyboard juga layar laptop.
Hasna memperhatikan wajah Rama saat bekerja. Nampak begitu serius. Sesekali laki-laki itu terlihat mengerutkan keningnya, seolah tengah berpikir. Sesekali menganggukkan kepalanya, seolah mendapatkan solusi. Terkadang juga tersenyum tipis. Hasna ikut tersenyum di buatnya.
Satu kecupan mendarat di pipi perempuan itu. Hasna seketika tersadar dari lamunannya.
"Serius sekali lihatinnya. Kenapa, aku ganteng, ya?" Goda Rama. Hasna mengalihkan pandangannya ke sembarang arah. Malu sekali rasanya saat kepergok tengah mengagumi wajah tampan suami.
"Kok malah lihatnya ke sana?" Rama mencolek dagu Hasna.
"Apaan sih?" Hasna memukul pelan lengan Rama. Rama terkekeh melihat Hasna yang salah tingkah.
Rama mengakhiri pekerjaannya dan tiba-tiba mengangkat tubuh sang istri.
"Aaaa..." Hasna terpekik kaget, tiba-tiba saja tubuhnya serasa melayang.
"Mas Rama turunin, aku berat. Bahu kamu ntar sakit lagi." Peringat Hasna. Perempuan itu melingkarkan kedua tangannya di leher sang suami.
Rama tak menghiraukan ucapan Hasna dan membawa perempuan itu menuju sofa panjang yang berada di dekat pintu. Dibaringkannya perlahan tubuh istrinya.
"Jika hanya mengangkat tubuhmu, aku masih sanggup, Hasna. Sebentar lagi aku juga bakalan latihan push up." Ucap Rama.
Manik pekat itu menatap lurus mata teduh Hasna. Perlahan Rama mencondongkan tubuh dengan bertumpu pada kedua lengannya. Terasa sedikit nyeri tapi berangsur hilang.
"Bahuku sudah tidak terasa sakit." Senyuman tipis terbit di bibir Rama. Posisi seperti ini membuat dada Hasna berdebar.
Rama semakin mendekatkan posisinya pada Hasna. Kedua kelopak mata mereka terpejam saat bibir keduanya saling menyapa. Dengan lembut Rama menikmati bibir ceri yang selalu membuatnya terlena. Di cecapnya perlahan, merasai manis di sana.
Hasna mulai bisa mengimbangi permainan Rama, walau terkesan kaku. Perempuan itu mulai menikmati decapan lembut suaminya. Kedua tangannya meremas lembut kaos yang Rama kenakan.
Kecupan itu turun menyusuri dagu, kemudian leher istrinya. Hasna semakin erat mencengkeram pakaian Rama. Sentuhan itu membuat Hasna semakin gelisah. Sentuhan yang baru pertama ia rasakan.
Rama mengangkat kembali wajahnya. Wajahnya terlihat memerah, nafasnya masih tidak beraturan. Namun senyuman terukir di kedua sudut bibirnya.
"Jika aku menginginkan, apa aku mendapatkannya?" Ucap Rama. Manik pekatnya masih setia menatap mata teduh istrinya.
Jantung yang sedari tadi berdetak tak karuan, kini semakin berdetak kencang. Bukan Hasna tidak memahami apa yang suaminya katakan. Tapi, ia juga merasa gugup jika membahas hal yang begitu intim seperti ini.
__ADS_1
"Hasna?" Lirih Rama. Panggilan seolah tengah menuntut sesuatu.
Hasna menatap lurus manik pekat itu. Tatapan Rama mengisyaratkan sebuah keinginan. Perlahan, Hasna menganggukkan kepalanya, membuat Rama tersenyum lebar.
Kembali, ia memberikan cumbuan pada istrinya. Perempuan itu begitu cantik di bawah kungkungannya. Kedua pipinya yang bersemu merah, juga tatapan matanya yang begitu sayu, menambah kecantikan Hasna.
Lenguhan kecil keluar dari bibir Hasna, saat Rama menyapu lehernya dengan kecupan basah.
Krucukkk...
Konsentrasi keduanya buyar manakala sebuah suara terdengar nyaring dari perut Rama. Keduanya tergelak bersamaan.
"Mas Rama lapar?" Tanya Hasna di tengah tawanya.
"Aaahhh...merusak suasana." Rama mendengus, dan kembali tertawa.
Sungguh alarm tidak tau waktu. Di saat momen romantis seperti ini, ada saja gangguan dari suara-suara ghaib. Merusak kesenangan saja.
***
Selepas sholat isya', Rama kembali ke ruang kerjanya. Pekerjaannya tinggal sedikit lagi. Sedangkan Hasna lebih memilih beristirahat di kamar. Perempuan itu benar-benar merasa capek seharian berada di luar rumah selain bekerja.
Lampu kamar terlihat temaram, saat Rama kembali. Istrinya itu sudah terlelap rupanya. Tapi Rama belum juga merasa mengantuk, padahal sekarang sudah hampir tengah malam.
Rama menatap siluet istrinya di bawah temaram cahaya lampu. Entah mengapa istrinya terlihat...menggoda. Laki-laki itu bergerak mendekat pada Hasna, dan membawa perempuan itu ke dalam pelukannya.
Gerakan dan lenguhan kecil yang Hasna timbulkan, membuat Rama merasa gelisah. Hasna kembali bergerak dalam dekapan Rama, mungkin ia merasa tidak nyaman, terlebih udara yang terasa panas. Perempuan itu tidur membelakangi suaminya, dan gerakannya semakin membuat Rama gelisah. Gerakan Hasna membuatnya mengeram tertahan.
"Hasna..." Lirihnya.
Rama mengubah posisinya. Kini Hasna berada di bawah kungkungannya kembali. Namun perempuan itu masih nyaman terbuai mimpi.
Diusapnya perlahan pipi yang selalu menampakkan rona merah jambu itu. Dan bibir ceri itu, mengapa seolah menyapa Rama untuk menikmatinya.
Rama merasakan ada dorongan dari dalam dirinya. Rasa yang sangat ingin ia rasakan dan selalu membuatnya penasaran semenjak merasakan cinta kembali untuk istrinya.
Satu kecupan ia berikan di bibir Hasna. Perempuan itu menggeliat, seolah ada yang mengusik rasa nyamannya. Lagi, Rama memberikannya sekali lagi, namun terdiam di sana beberapa detik.
Bola mata itu terasa bergerak di balik kelopak yang terpejam. Hasna membuka kedua matanya perlahan. Sedikit terkejut saat mendapati Rama berada tepat di atasnya.
"Mas Rama?" Lirih Hasna dengan suara khas bangun tidur.
Suara itu semakin memberikan dorongan terhadap Rama untuk melakukan hal yang lebih jauh. Kembali ia berikan kecupan di bibir istrinya. Kecupan itu beralih pada leher juga bagian lainnya.
Deru nafas keduanya semakin tak beraturan. Debaran di dada keduanya semakin tak karuan. Sapuan hangat itu menjalar di seluruh tubuh.
"Maafkan aku." Lirih Rama.
Hasna mengernyitkan keningnya. Kedua tangannya mencengkram kuat bahu suaminya. Digigitnya bibir bagian bawah untuk menahan suara yang hampir tak terkontrol.
Sejenak Rama memperhatikan raut di wajah istrinya. Ada rasa tidak nyaman juga rasa yang menyakitkan yang Hasna tahan. Setitik bulir bening menerobos di kedua sudut mata teduh itu.
"Apa terasa sakit?" Tanya Rama dengan lembut.
Hasna mengangguk perlahan. Rama kembali merasai bibir manis bak ceri itu. Memberikan rasa nyaman pada istrinya, sebelum ia membawa Hasna menyelami nikmat dunia.
Perlahan tapi pasti, Rama melakukan tugasnya sebagai seorang suami dengan sangat lembut. Bahkan ia pun merasakan rasa sakit saat memulai membuka jalan kenikmatan untuk mereka rasakan bersama.
Tubuh keduanya menegang, manakala gelombang kenikmatan itu menerjang keduanya dengan begitu dahsyat. Hasna merasakan hangat memenuhi rahimnya.
"Terima kasih, Sayang. Aku mencintaimu." Lirih Rama. Kecupan ia hadiahkan di kening istrinya yang penuh dengan peluh.
Senyuman manis itu ia berikan, juga ia dapatkan dari istrinya. Kembali Rama membawa Hasna dalam pelukan. Di kecupnya berkali-kali puncak kepala istrinya. Perempuan yang telah menyandang gelar sebagai wanita. Wanita yang telah memberikan hal yang paling berharga pada dirinya sebagai seorang suami.
"Maafkan aku hasna. Aku melakukan ini karena aku merasa telah melakukan kesalahan. Aku bukan mencari pelarian. Aku hanya ingin menghilangkan jejak perempuan itu dari tubuh ini. Hanya kamu. Hanya kamu pemilik raga ini, Hasna. Hanya kamu yang berhak menyentuhnya, bukan perempuan itu. Hanya kamu. Hanya kamu Hasna."
Rama semakin mempererat pelukannya. Mencari kenyamanan hingga akhirnya terlelap bersama sang istri.
***
Jangan minta yang iya juga mantap. Karena saya juga nggak begitu paham, wkwkwk. Yang penting ya itu intinya. Dari pada ntar kena prit lagi seperti Marissa & Tomi waktu ituš¤
__ADS_1
Semoga terhibur.