Bidadari Penghapus Luka

Bidadari Penghapus Luka
Bab 122


__ADS_3

Tomi mengangkat pandangannya. Kedua matanya terlihat mengembun. Wajah tampannya nampak kusut. Laki-laki itu sedang tidak baik-baik saja.


Perlahan cairan bening itu menerobos paksa di kedua sudut matanya. Selama mengenal Tomi, tak pernah Siska melihat Tomi serapuh ini. Bisa Siska lihat betapa kacaunya laki-laki itu. Tomi benar-benar rapuh.


"Tomi?" Lirih Siska.


Tomi mengusap sudut matanya yang basah. Menghirup nafas dalam-dalam. Dadanya merasakan sesak luar biasa.


"Kandungan Marissa kemungkinan besar tidak bisa di selamatkan. Dokter mengatakan jika pendarahan yang Marissa alami cukup parah. Juga benturan yang cukup keras, yang membuat..." Tomi terdiam, tak sanggup melanjutkan ucapannya. Punggungnya nampak bergetar.


Siska menurunkan kedua tangannya dari sisi wajah Tomi. Perlahan bulir bening itu pun luruh dari sudut mata perempuan itu.


"Setelah tim dokter melakukan pemeriksaan, dokter mengatakan jika denyut jantung anak gue sudah tidak terdeteksi lagi." Tomi memejamkan matanya. Sungguh perih rasanya, saat mengatakan kondisi bayi yang bahkan belum sempat ia timang itu.


***


Makan malam sudah siap, Bu Diana dan Pak Andi sudah berada di ruang makan dan mulai menikmati makanan mereka. Hanya tinggal menunggu Nayla yang tak kunjung keluar dari kamarnya.


"Bi, tolong panggilin Nayla, ya. Bilang udah di tunggu Bapak sama ibu untuk makan malam." Ucap Bu Diana pada salah satu ART nya.


"Baik, Bu."


Belum sempat asisten rumah tangga itu melangkah, Nayla sudah terlebih dahulu menuruni anak tangga. Gadis itu terlihat tergesa hingga berlarian.


"Mama!!!" Bahkan gadis itu berteriak kencang.


"Astaghfirullah, Nayla. Kalau bicara yang sopan. Teriak-teriak dalam rumah." Tegur Bu Diana.


"Mama..." Nayla memegang dadanya yang berdebar kencang, juga nafasnya yang terdengar memburu.


"Kamu kenapa sih, Nay? Kalau mau ngomong, duduk dulu. Nggak usah lari-lari, apalagi teriak-teriak seperti ini." Kini Pak Andi yang menegur putri bungsunya.


"Kak Rama barusan nelpon."


"Memang kenapa kalau kakak kamu nelpon?" Tanya Bu Diana.


"Kak Rama bilang..." Nayla menatap ke dua orang tuanya bergantian. Rasanya sulit sekali saat akan mengatakan kabar yang baru saja ia terima dari Rama.


"Rama bilang apa?"


"Kak Rama bilang, Mbak Hasna kecelakaan. Dan sekarang keadaannya kritis." Ucap Nayla.


Bagaikan mendengar petir yang menggelegar kencang, baik Pak Andi maupun Bu Diana benar-benar kaget luar biasa mendengar kabar anak menantu mereka mengalami kecelakaan. Terlebih keadaannya yang kritis.


"Astaghfirullahal'adzim, innalilahi..., Hasna." Lirih Pak Andi.


Bu Diana menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Mendengar kabar yang Nayla membuat wanita paruh baya itu tak bisa berkata-kata.


"Kak Rama bilang, kalau Mbak Hasna butuh transfusi darah, karena darah di rumah sakit stoknya hanya sedikit." Lanjut Nayla.


"Apa golongan darahnya?" Tanya Pak Andi.

__ADS_1


"O."


"Golongan darah Papa, O. Kita segera kesana." Ucap Pak Andi yang mengakhiri makan malamnya.


"Nay, bilang Pak Yanto buat anterin kita ke rumah sakit sekarang." Lanjut beliau.


"Baik, Pa."


***


Rama mondar mandir di depan ruang operasi Hasna. Tidak ada yang bisa ia lakukan saat ini, selain berdo'a meminta pertolongan pada Sang pemilik kehidupan. Memohon keselamatan untuk istri tercintanya.


Hampir satu jam istrinya berjuang di meja operasi, memperjuangkan kehidupannya. Tim medis silih berganti keluar masuk ruangan itu. Dan yang terakhir Rama lihat, seorang dokter perempuan berlarian masuk ke dalam sana. Melihat hal itu, pikiran Rama semakin kacau.


Tak lama seorang perawat keluar dari ruang operasi dan menghampiri Rama.


"Bagaimana, Pak? Apa pendonornya sudah ada? Kita sangat butuh darah itu sekarang. Stok tersisa satu kantong." Ucap perawat yang mengenakan baju khusus berwarna hijau itu.


Rama meraup kasar wajahnya. Di saat seperti ini ia tidak bisa menjadi suami yang berguna untuk istrinya. Bahkan ia tidak diberikan kesempatan untuk menjadi pendonor darah untuk Hasna. Golongan darahnya dan Hasna berbeda. Hasna bergolongan darah O, sedangkan dirinya, A.


"Saya sudah menghubungi kerabat dekat saya, Sus. Mereka akan segera datang." Ucap Rama.


"Baiklah, semoga segera ada kabar baik." Rama mengangguk cepat, berharap ucapan perawat itu menjadi kenyataan.


Pintu kembali di tutup, menyisakan Rama seorang diri di depan ruang operasi.


"Hasna, berjuanglah. Aku akan selalu menantikanmu." Lirihnya.


"Dengan suami pasien?" Tanya dokter itu.


"Iya, Dok, saya suaminya." Rama harap-harap cemas menantikan ucapan dokter selanjutnya.


"Entah ini kabar baik atau sebaliknya. Tapi anda harus tau, jika istri anda tengah hamil dan sekarang keadaanya sedang kritis." Ucap dokter perempuan itu.


"Ha, hamil?" Rama harap, ia tidak salah mendengar ucapan Dokter. Istrinya hamil? Itu artinya sebentar lagi ia akan menjadi seorang ayah.


"Iya, kami perkirakan jika usia kandungannya baru saja menginjak minggu ke tujuh, usia yang sangat beresiko sekali. Apalagi dengan kondisi istri anda saat ini. Semoga saja istri anda bisa melewati masa kritisnya, jika tidak..."


"Jika tidak, kenapa dokter?" Tuntut Rama.


"Jika tidak, anda harus mengikhlaskan janin dalam kandungan istri anda."


Rama mundur beberapa langkah hingga punggungnya membentur dinding. Rasanya sulit sekali ia bernafas kali ini. Istrinya hamil, bukankah itu kabar yang sangat menggembirakan? Tapi kondisi Hasna saat ini, membuat janin dalam kandungannya dipertaruhkan. Bukan hanya calon anak dalam kandungan Hasna, tapi nyawa perempuan itu juga.


Menyelamatkan Hasna atau calon buah hati yang selama ini ia impikan hadir dalam pernikahannya? Tidak semudah itu ia bisa memilih.


"Pak, berdoalah, semoga istri Bapak bisa segera melawati masa kritisnya, apalagi kandungannya tergolong cukup kuat. Semoga istri dan calon anak Bapak selamat keduanya." Ucap dokter, yang berusaha menguatkan Rama.


Rama tidak menjawab. Lidahnya terasa kaku. Bahkan rasanya sulit sekali untuk sekedar membuka mulutnya.


***

__ADS_1


Pak Andi dan Bu Diana segera turun dari mobil saat tiba di rumah sakit. Sepasang suami istri itu bergandengan menuju meja resepsionis di lobi rumah sakit.


"Ma, hape Nay ketinggalan, sebentar, ya."


Nayla berlarian kembali ke parkiran untuk mengambil ponselnya yang tertinggal di mobil.


Brukkk


Tubuh gadis itu sedikit terhuyung ke belakang saat tak sengaja menabrak seseorang yang berjalan berlawanan arah dengannya.


"Sori, sori, nggak sengaja." Nayla menatap sekilas pemuda yang berdiri di hadapannya. Lalu segera ke mobil yang terparkir beberapa meter di depannya.


Pemuda itu menggeleng pelan, menatap kepergian gadis itu yang berlarian menuju kendaraan miliknya.


***


"Nayla, mana sih, Pa? Lama sekali." Bu Diana celingukan mencari keberadaan putrinya. Sudah lebih dari sepuluh menit, tapi gadis itu tak kunjung kembali.


"Kita langsung ke lantai tiga, nanti biar Nayla menyusul ke sana." Ucap Pak Andi.


"Ya udah, ayok." Ucap Bu Diana.


"Tante? Om?"


Bu Diana dan Pak Andi berbalik saat sebuah suara memanggil keduanya.


"Nak Kevin? Nak Kevin disini?" Ucap Bu Diana.


"Iya, Tante. Kebetulan mengantar Papa menjenguk rekan bisnisnya." Jawab Kevin.


"Tante sendiri? Siapa yang sakit?" Tanya Kevin.


"Hasna kecelakaan, sekarang kondisinya sedang kritis." Ucap Bu Diana. Sorot mata tua itu memancarkan kekhawatiran yang luar biasa.


Jantung Kevin serasa dipaksa untuk berhenti berdetak saat mendengarkan kabar dari perempuan yang pernah menempati posisi istimewa di hatinya. Sungguh menyakitkan sekali.


"Kritis?" Lirih Kevin.


"Iya. Maaf, Nak Kevin, kami terburu-buru." Ucap Bu Diana, lantas berlalu pergi meninggalkan Kevin yang mematung di tempatnya.


Kevin berbalik, menuju meja resepsionis yang tak jauh dari tempatnya berdiri.


"Permisi, pasien atas nama Hasna Ayudia, korban kecelakaan hari ini, di rawat di ruangan mana, ya, Sus?" Tanya Kevin dengan tidak sabar.


"Mohon tunggu sebentar, akan saya cek dulu." Ucap perempuan dari balik meja resepsionis.


"Pasien atas nama Hasana Ayudia masih berada di ruang operasi di lantai tiga." Ucap perawat itu.


"Terima kasih."


Kevin langsung berjalan cepat menuju lift setelah mendapatkan informasi di mana Hasna berada. Ia ingin segera memastikan kondisi Hasna saat ini.

__ADS_1


***


__ADS_2