Bidadari Penghapus Luka

Bidadari Penghapus Luka
Bab 149


__ADS_3

Seorang Dokter tengah memeriksa kehamilan Marissa dengan alat USG. Usia kandungannya sudah memasuki bulan kesembilan, itu artinya ia akan segera melahirkan dalam waktu dekat ini.


"Kondisinya bagus, bayinya juga sehat. Air ketuban masih cukup. Posisinya juga sudah mulai masuk ke panggul." Ucap dokter itu sesekali melirik Marissa yang berbaring di ranjang dan layar monitor di hadapannya bergantian.


"Saat kandungan sudah menginjak trimester ketiga, sangat dianjurkan untuk sesering mungkin melakukan hubungan suami istri." Dokter itu kembali fokus pada Marissa juga Tomi yang duduk berhadapan dengannya. Tomi sengaja meluangkan waktunya untuk menemani Marissa kontrol bulanan.


"Anda berdua tidak perlu khawatir, sebab hal tersebut bisa mempermudah proses lahiran Bu Marissa nantinya." Dokter menangkap ekspresi seperti yang sedang salah tingkah diantara mereka berdua.


"Ee...maaf, Dok. Apa tidak bisa kalau ambil tindakan operasi saja?" Tanya Tomi.


"Kehamilan Bu Marissa tidak bermasalah, kenapa harus memilih tindakan C-section?" Tanya Dokter.


"Maaf, Dok. Sebelumnya istri saya sempat mengalami pendarahan saat tidak sengaja terjatuh. Saya hanya khawatir jika itu dapat membahayakan bayi kami." Marissa menatap lekat Tomi dari samping. Kenapa ia rasa ada yang tidak melegakan di hatinya saat mendengar pernyataan Tomi perihal kekhawatirannya?


"Kondisi kandungan Bu Marissa baik-baik saja, Pak. Dan masih bisa melakukan persalinan secara normal." Ucap Dokter seraya tersenyum hangat.


"Saya hanya tidak ingin menyakiti mereka, Dok." Ucap Tomi.


Marissa bisa merasakan jika pernyataan Tomi barusan adalah sebuah bentuk penolakan terhadap dirinya. Apa yang laki-laki itu katakan lebih tepatnya sebagai tindakan untuk menghindarinya. Bahkan selama pernikahan mereka, tak sekalipun laki-laki itu menyentuhnya. Tomi hanya menjalankan kewajibannya untuk memenuhi kebutuhan materi Marissa, tapi tidak untuk kebutuhan batinnya. Pernikahan mereka terjadi hanya karena bentuk tanggung jawab laki-laki itu terhadap bayi yang ada dalam kandungan Marissa. Apalagi hampir dua bulan ini, Tomi terkesan menjaga jarak darinya.


"Manis sekali. Sebegitu cintanya pada istri, sampai-sampai tidak mau menyakiti." Celetuk Dokter.


Tomi memaksakan untuk menarik sudut bibirnya membentuk lengkungan. Lebih baik demikian.


***


Di tempat yang berbeda, Hasna pun sedang melakukan kontrol kandungan. Netranya berkaca-kaca, menatap penuh takjub layar monitor yang menampakkan gambar hitam putih calon anak mereka.


"Detak jantungnya sudah bisa di dengarkan ya, Bu." Tak hanya Hasna, Rama pun menitikkan air mata saat Dokter memperdengarkan suara detak jantung calon bayi mereka.


Rama mencium kening Hasna dengan penuh haru. Perempuan itu mengandung calon penerusnya.


"Ehemm...adegannya bisa di skip ya, Pak. Suami saya sedang tugas ke luar kota soalnya." Rama segera menarik dirinya saat mendengar kalimat sindiran dari Dokter berjilbab biru itu.


"Maaf, Dok." Ucap Rama sedikit canggung.

__ADS_1


Sungguh kebiasaan yang sudah mengakar kuat. Sampai-sampai tidak perlu melihat tempat.


"Jadi bagaimana, Dok, apakah calon bayi kami tumbuh dengan sehat?" Tanya Hasna saat sudah kembali duduk berhadapan di meja Dokter. Jemari mereka saling bertaut, juga tatapan hangat yang sesekali Rama berikan pada perempuan yang duduk di sampingnya.


"Alhamdulillah, berat dan panjang sesuai dengan usia kandungan. Bu Hasna pun tidak memiliki keluhan dan masalah selama kehamilan. Jadi tidak perlu ada yang dikhawatirkan." Ucap Dokter.


"Ini, sudah saya resepkan vitamin untuk Bu Hasna. Semoga Bu Hasna selalu bisa menikmati masa-masa kehamilan dengan bahagia. Selalu diingat, jangan stress, jangan sampai lelah, harus menjaga perasaan agar selalu bahagia. Agar janin bisa tumbuh dengan sehat dan bahagia juga di dalam sana."


Rama mengusap lembut perut Hasna yang sudah membukit. Tak pernah ia bayangkan sama sekali jika ia akan menjadi seorang ayah secepat ini. Bahkan dari perempuan, yang dulunya tidak pernah ia anggap sebagai seorang istri.


"Terima kasih, Sayang. Tidak masalah jika aku yang sering merasakan mual dan uring-uringan, yang terpenting, kamu dan calon anak kita sehat dan bahagia." Ucap Rama di sela usapan lembutnya di atas perut Hasna.


"Oh, jadi Pak Rama yang mengalami mual dan mood swing? Wah, bisa jadi nanti saat melahirkan Pak Rama juga ikut merasakan perjuangan Bu Hasna." Celetuk Dokter.


Rama menoleh pada Hasna lalu fokus pada dokter di hadapan mereka.


"Maksudnya gimana, Dokter?"


"Dalam kasus Bu Hasna, biasanya disebut dengan kehamilan simpatik. Dimana calon ayah ikut merasakan tanda-tanda kehamilan, seperti morning sickness, perubahan nafsu makan, mood swing, bahkan mengidam. Juga hal-hal yang lumrah terjadi saat masa kehamilan berlangsung." Jelas Dokter.


"Tidak, bahkan itu adalah salah satu bentuk jika suami memiliki ikatan yang luar biasa terhadap pasangannya."


"Tapi saya sudah tidak merasakannya lagi sekarang, Dok." Ucap Rama.


"Memang biasanya kehamilan simpatik terjadi pada trimester pertama, dan akan berangsur menghilang saat memasuki trimester kedua." Jelas Dokter.


"Alhamdulillah, rasanya sungguh menyiksa." Ucap Rama dengan raut kelegaan yang tergambar jelas di wajah tampannya. Bagaimana tidak, saat bangun tidur tiba-tiba saja perutnya serasa diaduk-aduk, belum lagi saat di kantor sering uring-uringan tidak jelas. Dan bisa dipastikan jika korbannya adalah Ivan, asisten pribadinya.


"Tapi, akan muncul kembali jika kandungan istri masuk trimester ketiga." Lanjut Dokter.


"Apa, Dok? Jadi belum hilang?" Rasanya lemas sekali saat mendengar jika ia akan merasakan hal-hal aneh itu lagi.


"Jika trimester pertama bapak mengalami mual, muntah, mood swing, sakit pinggang dan yang lainnya. Nanti di trimester ketiga bisa jadi bapak ikut merasakan sakitnya saat pembukaan sebelum proses kelahiran."


"Kalau itu, bagaimana rasanya, Dok?" Sebenarnya penasaran juga bagaimana perempuan saat melahirkan.

__ADS_1


"Ya, mulai dari merasakan kram dan kontraksi ringan." Rama sejenak menahan nafasnya. Kram dan kontraksi ringan. Bagaimana rasanya? Kenapa tiba-tiba ia merasa gelisah seperti ini? Hanya kerena membayangkan kata kram dan kontraksi akan ia alami sebentar lagi.


"Kontraksi akan lebih sering muncul dan rasanya pun akan bertambah sesuai dengan pembukaan yang dialami." Lanjut Dokter.


"Memangnya berapa lama, Dok?"


"Bisa delapan sampai tiga belas jam. Bahkan bisa juga berhari-hari. Bahkan kontraksi menjelang persalinan diibaratkan seperti 20 tulang yang dipatahkan secara bersamaan. Luar biasa sekali bukan, perjuangan seorang ibu?"


Lemas. Itulah yang Rama rasakan sekarang. Rasanya tulang-tulangnya terlepas seketika mendengar penuturan Dokter. Sudah tidak bisa di bayangkan lagi bagaimana rasa sakitnya 20 tulang yang dipatahkan secara bersamaan. Kemarin saja ia mengalami keretakan pada bahunya, rasanya sungguh luar biasa. Bahkan apa-apa masih membutuhkan bantuan. Tapi jika dua puluh?


***


Langkah laki-laki itu terlihat gontai menyusuri koridor rumah sakit. Berbeda saat kedatangannya kemari. Dengan senyuman yang mengembang dan langkah yang begitu gagahnya.


"Mas Rama kenapa?" Tanya Hasna saat keduanya duduk di bangku menunggu antrian di ruang farmasi rumah sakit.


"Nggak papa." Jawabnya lemah.


"Aku perhatiin, sejak keluar dari ruangan Dokter, Mas Rama terlihat tidak bersemangat. Kenapa?" Hasna menyadari perubahan itu setelah mereka selesai melakukan konsultasi dengan dokter kandungan.


"Entahlah, aku hanya merasa jika aku tidak pernah bisa melakukan hal yang akan membuatmu merasa bahagia." Hasna mengerutkan keningnya.


"Aku pikir kamu akan selalu merasakan kebahagiaan setelah kamu hamil anak aku. Tapi ternyata justru ini adalah awal penderitaan kamu. Membayangkannya saja aku sudah tidak sanggup, apalagi kamu yang akan menjalaninya. Dua puluh tulang yang dipatahkan secara bersamaan." Rama bergidik ngeri.


Hasna menggenggam tangan Rama yang sejak tadi menggenggam erat jemarinya. Perempuan itu memberikan senyuman termanis yang ia miliki pada laki-laki itu.


"Apa Mas Rama tau, jika wanita yang tengah mengandung mendapatkan banyak keistimewaan dari Allah?" Rama menatap lekat manik istrinya.


"Setiap hari, para malaikat memohonkan ampunan untuknya, dan Allah menghapuskan seribu keburukan, yang nantinya akan digantikan dengan seribu kebaikan. Wanita hamil itu sama seperti sedang melakukan jihad, jika nantinya ia gugur saat melahirkan buah hatinya, maka surga yang akan menjadi jaminannya. Lalu apa yang Mas Rama khawatirkan?"


Rama mengusap lembut pipi Hasna yang semakin terlihat bulat.


"Aku takut jika harus kehilangan kamu." Lirihnya. Hasna kembali memberikan senyumannya kepada Rama.


"Tidak perlu ada yang ditakutkan. Serahkan semuanya pada Allah. Sama seperti aku menitipkan rasa cintaku sama kamu padaNya." Hatinya selalu menghangat mendengarkan ucapan Hasna. Perempuan itu selalu memiliki cara agar dirinya merasakan ketenangan disaat dilanda kecemasan seperti sekarang.

__ADS_1


***


__ADS_2