
Hati yang berbunga dipaksa menerima sabetan belati agar tak ada lagi bunga yang bermekaran. Kevin, pemuda itu harus menelan kekecewaan yang teramat sangat.
Perempuan yang ia harapkan untuk menemani dan menyempurnakan separuh hidupnya, kini telah dimiliki orang. Rasa yang telah mengakar dihatinya dicabut secara paksa. Sakit. Rasa itu yang kini tertinggal.
"Aku turut bahagia, jika kamu bahagia bersama dia." Kevin memaksakan senyuman di kedua sudut bibirnya. Hasna tersenyum mendengarnya.
Hasna tau jika Kevin tengah merasakan kekecewaan terhadap statusnya saat ini. Tapi Hasna tidak ingin mencampuri urusan pribadi orang lain, terlebih jika menyangkut perasaan laki-laki. Hasna cukup mengatakan apa yang perlu ia katakan. Dan menutup rapat-rapat lisannya jika ia merasa tidak perlu angkat suara.
"Jika Mas Kevin tidak keberatan, sebentar lagi suamiku akan menjemputku. Mas Kevin bisa bertemu dengannya." Ucap Hasna.
Tidak. Kevin tidak sebodoh itu. Hatinya terluka. Tidak mungkin ia akan menaburinya dengan segenggam garam. Akan terasa sangat sakit dan meninggalkan perih.
Sungguh tak sanggup jika dirinya bertemu dengan laki-laki yang telah memenangkan hati perempuan di hadapannya. Perempuan yang berusaha ia perjuangkan.
Drrrtt...drrrtt...
Ponsel milik Kevin berbunyi, ada panggilan masuk. Ini kesempatan bagus yang akan ia gunakan untuk menutup luka di hatinya.
"Maaf, sepertinya aku harus segera kembali. Mama menelepon, dan aku diminta untuk segera pulang sekarang." Ucap Kevin saat sambungan teleponnya ia putus.
Laki-laki itu mengulas senyuman di wajah tampannya. Setidaknya itu bisa mengurangi rasa canggungnya terhadap Hasna.
"Hasna, apa boleh kita tetap berteman? Setelah kejadian hari ini, aku harap hubungan kita tetap seperti sebelum adanya hari ini. Dan aku harap kamu juga tidak membenciku." Ucap Kevin. Ia hanya tidak mau jika Hasna menjauhinya saat perempuan itu mengetahui perasaannya.
"Mas Kevin jangan terlalu jauh berpikiran jika aku sampai memiliki rasa benci. Aku sudah menganggap Mas Kevin seperti saudara, jadi jangan berpikiran jika akan ada kebencian setelah ini. Anggap saja hari ini tidak pernah terjadi." Kevin tersenyum mendengar ucapan Hasna. Setidaknya perempuan itu tidak membencinya.
"Kita masih bisa berhubungan baik seperti sebelumnya." Lanjut perempuan itu.
"Jika seandainya suami kamu tau, aku melamar istrinya, bisa habis aku di hajar. Bahkan mungkin wajahku tidak akan bisa dikenali lagi." Kekeh Kevin.
Ya, sepertinya itu memang benar. Mengingat bagaimana arogannya Rama saat menunjukkan status mereka pada Bian waktu itu. Bisa jadi apa yang Kevin katakan menjadi kenyataan.
Hasna tertawa kecil mendengar candaan Kevin. Pemuda itu selalu bisa mencairkan suasana yang sempat canggung diantara mereka.
"Baiklah, aku pamit. Sampai jumpa." Kevin beranjak dari tempat duduknya.
"Ah, iya. Mau aku bawakan apa dari Singapura nanti?" Ucap Kevin berbasa-basi.
"Bisa bawakan aku patung Merlion, nanti?" Canda Hasna. Lantas keduanya tertawa.
"Cukup Mas Kevin baik-baik di sana dan bisa pulang dengan sehat. Dan semoga Mas Kevin menemukan perempuan yang lebih baik dari aku nantinya." Ucap Hasna tulus. Kevin memaksakan seulas senyuman di wajahnya.
"Tidak ada perempuan sebaik dan secantik kamu di mataku. Kamu perempuan istimewa, Hasna."
"Baiklah, aku permisi. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Hasna hanya memperhatikan Kevin dari jauh, hingga laki-laki itu menghilang di balik pintu mobil. Kejadian hari ini sungguh membuat emosinya bercampur aduk. Semoga tidak ada lagi laki-laki yang mengharapkan dirinya setelah ini, selain Rama, suaminya.
***
Mobil hitam itu baru saja keluar meninggalkan basement kantor. Sepertinya sia-sia Marissa mengikuti Rama. Perempuan itu sengaja membuat ban mobilnya kempes agar bisa diantar oleh Rama. Tapi sial sekali, sebelum pekerjaannya selesai, justru Rama telah pergi terlebih dahulu. Dan sekarang Marissa terlihat geram karena disamping rencananya yang gagal, kini dia terancam tidak bisa pulang gara-gara ban mobilnya kempes.
"Ahhh...sial. kenapa bisa seperti ini?" Umpatnya.
Marissa tidak bisa mengulur waktu lebih lama lagi. Perutnya akan semakin membesar nantinya. Dan ia harus bergerak cepat untuk mendapatkan Rama.
***
Rama datang ke restoran milik Hasna sedikit terlambat. Jalanan lumayan macet, karena bertepatan dengan jam pulang kantor.
Laki-laki itu langsung masuk ke restoran dan memi Ndak setiap sudutnya. Restoran Hasna cukup besar, desainnya pun cukup berkelas. Selera istrinya sangat baik rupanya.
"Maaf, apa Hasna masih ada di sini?" Tanya Rama pada salah seorang pelayan.
Perempuan berseragam itu mengamati penampilan Rama mulai dari ujung kepala hingga ke ujung kaki. Rama mengikuti arah pandangan perempuan itu, yang memindai penampilannya. Sepertinya tidak ada yang salah dengan penampilannya.
"Ehemm." Perempuan itu sedikit berjingkat mendengar deheman Rama.
"Eee... Silahkan tunggu, akan saya panggilkan." Lantas perempuan itu pun pergi.
__ADS_1
Rama masih mengamati suasana restoran yang mulai ramai. Kebanyakan mereka datang bersama rombongan. Sepertinya konsep restoran istrinya ini restoran keluarga. Jika dilihat dari jumlah kursi di setiap mejanya yang berjumlahkan enam hingga sepuluh kursi dengan meja besar.
"Siapa?" Tanya salah seorang pegawai restoran pada temannya yang tadi sempat berbincang dengan Rama.
"Nggak tau, nyariin Mbak Hasna." Jawab temannya.
"Duh, Mbak Hasna yang nyariin cowok cakep semua. Cowok yang barusan tadi juga ganteng banget." Sepertinya mereka sedang membicarakan Kevin yang baru saja pergi dari restoran.
"Beruntung banget emang."
Netra Rama tak sengaja melihat ke arah perempuan berseragam yang ia tanya barusan. Rupanya perempuan itu masih berada di tempat yang sama, dan sekarang sedang berbincang dengan rekannya, melihat ke arah dirinya.
"Eh...cowok itu kamari." Ucap mereka.
"Aduuuh...kenapa aku lupa, tadi kan mau panggilin Mbak Hasna." Perempuan tadi menepuk pelan keningnya. Apalagi saat mata Rama menatap tajam ke arah keduanya.
" Kenapa masih ada di sini?" Sepertinya Rama sudah mulai kesal.
"I...iya, saya panggilkan, tunggu." Ucap perempuan itu salah tingkah.
"Tidak perlu, cukup kamu tunjukkan di mana Hasna." Ucap Rama dingin. Jangan lupakan tatapannya yang mampu membuat lawan bicaranya salah tingkah.
"Mbak Hasna ada di ruang kerjanya, di lantai atas. Mari ikuti saya. Saya antarkan ke sana." Sahut temannya.
Rama mendengus kesal. Ia mengikuti teman dari perempuan tadi naik ke lantai dua menuju ruangan Hasna. Rama dibuat takjub oleh tempat usaha istrinya itu.
"Berapa lama kamu bekerja di sini?" Tanya Rama.
"Semenjak restoran ini resmi di buka, Pak." Jawab perempuan itu dengan sedikit menoleh pada Rama.
"Berapa lama?"
"Sekitar lima bulanan."
Lima bulan, itu berarti dua bulan sebelum pernikahannya dengan Hasna. Dan selama lima bulan, Hasna sudah ada rencana untuk membuat restoran lagi di luar kota. Benar-benar jiwa bisnis perempuan itu tidak bisa dianggap remeh.
"Silahkan, ini ruangan Mbak Hasna." Pegawai itu menunjuk pintu yang tertutup di hadapan mereka.
"Terima kasih." Ucap Rama.
Rama mengetuk pintu ruangan Hasna, dan langsung ada sahutan dari dalam sana. Perlahan ia putar gagang pintu dan menyembulkan dirinya ke dalam. Rupanya istrinya itu tengah fokus dengan layar lipat dihadapannya. Dan sepertinya tidak menyadari kedatangannya.
Rama menutup pintu perlahan dan memutar kunci. Ia lakukan sangat pelan hingga tidak menimbulkan suara. Rama pun berjalan mendekat pada Hasna.
"Ehemmm." Suara itu membuat atensi Hasna berpindah dari layar laptop di hadapannya.
Senyuman manis itu tercetak sempurna di bibirnya. Lantas perempuan itu berdiri.
"Mas Rama?" Hasna meraih tangan Rama untuk di ciumnya.
Perlakuan-perlakuan kecil seperti ini selalu membuat Rama merasa sangat dihormati sebagai seorang suami.
"Kenapa nggak nelfon? Aku kan bisa tunggu kamu di bawah." Ucap Hasna.
Rama tak menjawab, justru menarik Hasna ke dalam pelukannya.
"Aku merindukanmu." Lirih Rama. Bahkan mereka baru saja berpisah kurang dari enam jam lamanya.
"Mas Rama sudah makan? Tanya Hasna.
"Aku mengatakan jika aku rindu, bukan lapar." Ucap Rama.
"Iya, aku juga merindukan Mas Rama." Ucap Hasna dengan rona merah jambu di kedua pipinya. Beruntungnya ia berada dalam dekapan laki-laki itu, jadi Rama tidak bisa melihatnya. Jika tidak, pasti akan diledek nantinya.
"Mas Rama sudah lama?"
"Lumayan, hampir setengah hari aku menunggu kamu."
Hasna mengurai pelukan dan menatap suaminya dengan kedua alis yang saling bertaut.
"Setengah hari?"
__ADS_1
"Ya, aku menunggu setengah hari untuk bisa bertemu istriku lagi." Hasna menggelengkan kepalanya mendengar jawaban Rama.
"Aku merindukanmu, Hasna." Rama kembali merengkuh tubuh istrinya. Keduanya bertahan di posisi nyaman itu.
"Mas Rama mau makan di sini apa di rumah?" Tanya Hasna setelah keduanya duduk di sofa panjang di dekat pintu.
"Aku ingin makan di sini. Aku ingin tau apakah makanan di sini enak-enak apa tidak." Hasna tersenyum mendengarnya.
"Baiklah, aku pesankan dulu ya."
Hasna segera beranjak untuk mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja kerjanya, tapi gerakannya kalah cepat dengan Rama yang menarik pergelangan tangannya. Dan seperti biasa, Hasna terjatuh dalam pelukan Rama dengan posisi duduk di pangkuan.
Rama menghirup dalam-dalam aroma parfum favorit istrinya yang selalu membuatnya merindukan perempuan itu. Kalau sudah begini malah membuat Hasna siaga.
"Mas, Mas Rama jadi makan, kan?" Tanya Hasna. Rasanya ngeri-ngeri sedap kalau begini.
"Hmmm." Hanya gumaman yang keluar dari mulut laki-laki itu.
Rama masih bertahan di posisinya, dan berhasil mendaratkan kecupan lembut di pipi Hasna. Membuat perempuan itu mengerjap kaget.
Di tengah kegugupan Hasna, Rama berhasil menyatukan kedua bibir mereka. Memberikan ******* kecil pada bibir bak ceri itu. Menikmati rasa manis bersama istrinya. Entah mengapa hal itu membuat Rama lebih tenang.
"Ayo kita turun, aku ingin kamu yang memasak untukku." Rama mengusap lembut bibir Hasna yang sedikit bengkak itu. Tidak terlalu kentara namun jika diperhatikan akan terlihat.
Keduanya berjalan beriringan menuruni anak tangga. Hasna meminta Rama untuk menunggu di meja yang berada di dekat taman. Lebih privat karena hanya tersedia dua meja dengan empat bangku yang mengelilingi di masing-masing meja. Dan letaknya juga berjauhan.
Hasna gegas menuju dapur restoran untuk membuatkan Rama makan. Para pekerja di bagian dapur seketika menoleh ke arah Hasna.
"Ada masalah, Mbak Hasna?" Tanya salah satu dari mereka.
"Tidak, saya hanya mau memasak." Jawab Hasna.
Mereka yang berada disana saling pandang, merasa heran. Kenapa Hasna memasak sendiri? Biasanya dia meminta seseorang mengantarkan makanan di ruang kerjanya.
Hasna mencuci bersih semua bahan yang akan ia suguhkan pada suaminya nanti. Hasna membersihkan ikan juga sayuran lainnya. Juga meracik bumbunya. Semua yang berada di sana bertanya-tanya, Hasna masak untuk siapa sebanyak itu. Sebab biasanya perempuan itu hanya meminta satu menit saja.
"Mbak Hasna mau saya bantu?" Ucap salah satu dari mereka. Hasna menoleh dang menggeleng.
"Tidak perlu, terima kasih. Kalian lanjutkan saja pekerjaan kalian." Tolaknya halus.
"Buat laki-laki tadi ya, Mbak?" Tanya yang lain.
"Iya." Hasna mengangguk.
"Emang siapanya Mbak Hasna? Perasaan yang nyari Mbak Hasna good looking semuanya. Tapi yang ini tadi baru kayaknya." Hasna hanya tersenyum mendengarnya.
"Siapa sih, Mbak?" Sahut yang lainnya.
"Cowoknya Mbak Hasna ya?"
"Hush...Mbak Hasna nggak pernah pacaran. Selama kerja dengan Mbak Hasna nggak ada tuh." Bela salah seorang dari mereka.
"Siapa sih, Mbak? Bikin penasaran aja." Desak yang lain.
Hasna menghembuskan nafas pendek. Sepertinya keberadaan Kevin tidak membuat pegawai perempuannya seheboh saat Rama berada di sini.
"Mbak Hasna malah senyum-senyum."
"Tau Mbak Hasna, yang lain pada penasaran, yang di interogasi malah senyum-senyum sendiri."
"Pasti someone spesial nih, buktinya dimasakin sendiri, biasanya kalau Mas yang satunya pasti kita-kita yang nyiapin."
"Ayo dong, Mbak. Siapa sih?"
Hasna merasa lucu dengan tingkah mereka. Memang bagi pegawai yang berasal dari tempat katering, pasti tau jika Hasna tidak pernah memiliki hubungan spesial dengan laki-laki. Dan jika saat ini ada laki-laki yang merasa di istimewakan perempuan cantik itu, jelas membuat mereka penasaran.
"Dia...suami saya." Jawab Hasna.
"Suami?" Ucap mereka bersamaan, bak sedang koor tujuh belasan.
Jawaban Hasna membuat semua yang berada disana merasa diberikan surprise luar biasa. Tiada angin, tiada hujan seorang laki-laki mendatangi restoran dan mencari Hasna. Dan sekarang perempuan bermata teduh itu mengatakan jika laki-laki itu suaminya.
__ADS_1
Tak ada kabar semengejutkan ini sebelumnya.