Bidadari Penghapus Luka

Bidadari Penghapus Luka
Bab 164


__ADS_3

Sepulang dari pengadilan, Hasna tak mengucapkan sepatah kata pun. Pikirannya nampak tidak fokus, dan lebih banyak melamun.


"Kita mampir makan siang dulu." Ucap Rama.


"Baik, Pak." Ucap Ivan, kebetulan mereka berada dalam satu mobil.


"Sayang, kamu mau makan siang dimana?" Tanya Rama.


Satu detik, dua detik, bahkan sampai lima detik lamanya, Hasna tak kunjung merespon pertanyaan Rama.


"Sayang?" Hasna baru menoleh ke arah Rama saat laki-laki itu memegang telapak tangannya.


"Iya, Mas?"


Rama membuang nafasnya perlahan. Pasti Hasna masih memikirkan pertemuannya dengan Marissa tadi.


"Kita mau mampir makan siang dulu. Kamu mau makan di mana? Atau ada sesuatu yang kamu inginkan?" Hasna hanya menggeleng sebagai jawaban.


"Sudah waktunya makan siang, Sayang."


"Tapi aku nggak lapar, Mas." Tolak Hasna.


"Kamu. Lalu anak kita?"


Hasna hanya menunduk, tidak menatap mata sang suami seperti biasa.


"Ivan, langsung ke rumah Mama. Kita makan siang di sana." Putus Rama tanpa meminta persetujuan dari Hasna.


"Baik, Pak." Ivan segera melajukan mobil menuju kediaman Suryanata.


Ivan memperhatikan gerak-gerik Hasna dari center mirror. Perempuan itu nampak berbeda dari saat sebelum bertemu dengan Marissa. Sepertinya apa yang Rama khawatirkan, benar-benar terjadi. Hasna nampak lebih banyak melamun, padahal biasanya perempuan itu selalu mengajak berbicara. Hanya sekedar obrolan ringan untuk memecah keheningan. Tapi kali ini, perempuan itu diam seribu bahasa. Bahkan ia hanya menggeleng saat Rama menanyakan atau menawarkan sesuatu kepadanya.


***


Rama menggandeng tangan Hasna memasuki rumah keluarga Suryanata. Ivan tetap setia berjalan di belakang sepasang suami istri itu.


"Assalamu'alaikum." Ucap Rama.


"Wa'alaikumussalam. Den Rama, Non Hasna?" Ucap salah satu ART yang menyambut kedatangan mereka.


"Mama ada?" Tanya Rama.


"Ada, Den di dalam. Lagi makan sama Non Nayla." Jawab ART itu.


Ketiganya langsung masuk ke dalam menuju ruang makan. Hanya ada Bu Diana juga Nayla di sana. Pak Andi pastilah masih di kantor.


"Assalamu'alaikum." Ucap Rama.


""Wa'alaikumussalam."


"Mbak Hasna...!!!" Ucap Nayla dengan hebohnya. Gadis itu selalu seheboh itu jika bertemu kakak ipar perempuan kesayangannya.


"Iiihhh...kebiasaan deh." Nayla menepiskan tangan Ivan yang berada tepat di keningnya.


"Jangan bertingkah bar-bar seperti itu, Nay. Ingat, Bu Hasna sedang hamil." Peringat Ivan. Laki-laki itu hanya memastikan jika Hasna aman dari tingkah petakilan Nayla.


"Nggak usah dikasih tahu juga, aku udah tahu kalau Mbak Hasna lagi hamil. Orang perutnya juga segede itu." Sewot Nayla.


"Mbak Hasna...Nay kangen." Ucap Nayla pada Hasna.

__ADS_1


Gadis itu mendekat dan memeluk Hasna, namun ternyata tidak semudah itu. Perut Hasna yang semakin besar, membuat Nayla kesulitan jika ingin memeluk Hasna.


"Sulit kali, mau peluk doang." Gerutu Nayla.


Hasna tersenyum, lantas memeluk Nayla. Hasna merasakan usapan di punggungnya. Nampak Bu Diana tersenyum ke arahnya.


"Mama."


"Anak, Mama." Bu Diana memeluk Hasna penuh sayang.


"Gimana kabar kamu?" Tanya Bu Diana saat pelukan mereka terurai.


"Alhamdulillah, Mama sehat?"


"Seperti yang kamu lihat, Mama sehat." Lantas Bu Diana tersenyum hangat.


"Eh, ayo. Kita makan siang bareng. Kalian ke sini kenapa tidak memberikan kabar dulu?" Tanya Bu Diana.


"Sekalian jalan, Ma." Rama meraih tangan Bu Diana untuk di ciumnya. Begitu juga dengan Ivan.


"Ayo, makan dulu." Ucap Bu Diana.


"Mbak, tolong di siapkan piringnya, ya?" Ucap Bu Diana pada ARTnya.


"Baik, Bu."


"Eh, ayo, duduk dulu. Ivan, kamu ikut makan sekalian." Pinta Bu Diana pada ketiganya.


Rama memilih pilihan yang tepat dengan membawa Hasna ke rumah ibunya. Baru saja mereka sampai, Hasna sudah terlihat ceria seperti sedia kala. Apalagi Nayla begitu heboh menyambutnya seperti biasa.


***


Malam ini, mereka menginap di rumah orang tua Rama. Dan sementara, mereka akan menempati kamar tamu di lantai satu. Karena Hasna tidak mungkin untuk naik turun tangga jika mereka menempati kamar Rama.


"Anak Mbak Marissa sekarang ada dimana ya, Mas? Kasihan sekali, dia belum sempat melihat anaknya loh." Ucap Hasna saat keduanya tengah berbaring di atas ranjang.


Rama hanya diam, tak ingin berkomentar.


"Apa suaminya tidak mengizinkan Mbak Marissa untuk bertemu anaknya? Kasihan banget."


"Itu bukan urusan kita, Sayang. Sebaiknya kita tidur." Ucap Rama seraya ******* bibir ceri istrinya. Setidaknya Hasna akan diam untuk beberapa saat.


Malam ini, ia akan membuat Hasna melupakan kejadian tadi pagi, dengan menghabiskan malam panjang bersama.


"Mas Rama mau apa?" Tanya Hasna saat tangan Rama sudah tidak terkondisi.


"Nggak mau apa-apa." Jawab Rama sekenanya. Tapi tangannya sudah menjalar kemana-mana.


"Mas Ramaaa..." Kini malah suara Hasna yang sudah tak terkondisi. Dan hal itu justru membuat suasana semakin tidak kondusif.


"Hmmm." Rama memberikan kecupan-kecupan basah di sekitar wajah dan leher istrinya.


"Geliii..."


"Aku hanya mengikuti saran dokter, Sayang. Ini bagus menjelang persalinan. Dokter bilang kan sering-sering." Ucap Rama.


Kalau ada maunya saja, bilangnya saran dokter. Tapi memang dokter kemarin mengatakan demikian.


***

__ADS_1


"Terima kasih, Sayang." Rama memberikan kecupan di kening Hasna yang masih dibanjiri keringat, kemudian merapatkan selimut di seluruh tubuh sang istri.


Sejenak Rama memperhatikan wajah damai Hasna yang telah terbuai mimpi.


"Entah bagaimana ayah dan ibu mendidik kamu. Kamu benar-benar memiliki hati yang begitu lembut, Hasna. Dengan begitu mudahnya kamu memaafkan orang-orang yang pernah menyakitimu. Termasuk aku. Bahkan tak pernah kamu memandang seseorang yang membencimu dengan tatapan tidak suka. Dan bibir ini..." Rama mengusap lembut bibir Hasna yang terkatup rapat.


"Bibir ini dengan begitu mudahnya mendoakan kebaikan, bahkan untuk orang yang membencimu."


Rama mengingat perlakuan dan perkataan Hasna pada Marissa. Bagaimana istrinya itu memberikan doa yang baik untuk kehidupan Marissa setelah ia menjalankan hukumannya. Bahkan tatapan matanya pun penuh dengan rasa iba, bukan rasa benci, apalagi merasa puas seperti orang-orang di luaran sana saat berhasil memenjarakan orang yang telah membahayakan nyawanya.


Rama segera mengenakan kembali pakaiannya dan keluar dari kamar. Ini masih terlalu sore untuk tidur. Bahkan baru jam delapan lewat.


"Rama?" Rama menoleh pada Bu Diana yang memanggilnya.


"Iya, Ma."


"Hasna mana?" Tanya Bu Diana.


"Hasna sudah tidur." Jawabnya singkat, lalu ikut bergabung dengan anggota keluarga yang lain di ruang tengah. Kebetulan kamar tamu yang mereka tempati berada tepat di depan ruang tengah.


"Tidur?" Bu Diana memastikan dan melihat jam dinding yang masih menunjukkan pukul delapan lewat lima belas menit.


"Hasna kecapek'an, Ma."


"Pasti kamu yang udah buat Hasna capek."


"Ckk... Selalu saja suudzon dengan anak sendiri."


"Mama nggak suudzon, ya. Buktinya itu pakaian kamu terbalik." Rama reflek melihat kaos yang ia kenakan, dan benar saja, ia terbalik saat memakainya. Kenapa ia tidak memperhatikannya tadi? Ah, memalukan.


Pak Andi dan Nayla yang sedari tadi hanya menyimak obrolan ibu dan anak itu pun tak kuasa menahan tawanya.


"Kamu itu kurang profesional kalau menjalankan aksi. Bisa-bisanya sampai kepergok petugas kayak gini." Kekeh Pak Andi.


"Tau nih, Kak Rama. Pantas saja waktu itu kena razia." Ledek Nayla dengan tawanya yang menggelikan.


"Ini tuh, Rama baru saja ganti baju. Habis sholat, pakai koko tadi." Elak Rama. Tidak lucu jika ia mengaku di hadapan kedua orang tuanya, bukan? Apalagi ada Nayla disana.


"Awas saja kalau kamu buat Hasna capek." Peringat Bu Diana.


"Emang kenapa sih, Ma? Orang dokter aja nyaraninnya sering-sering kok, biar lahirannya lancar." Sewot Rama, bahkan wajahnya berubah masam.


"Iya memang, tapi kalau capek, jangan maksa kamu."


"Enggaklah, Ma. Rama bukan tipe-tipe pemaksa kok." Belanya masih tidak terima.


"Oh iya, sepertinya Rama akan tinggal di sini sampai Hasna melahirkan."


"Bagus itu, biar ada yang nemenin istri kamu kalau kamu tinggal kerja." Sahut Pak Andi.


"Mama setuju. Biar Mama juga bisa jagain Hasna." Bu Diana sangat senang dengan rencana Rama.


"Yes, asik. Makin rame dong rumah." Sahut Nayla dengan girangnya.


Rama sudah mengambil keputusan, ia akan mengajak Hasna untuk tinggal sementara di rumah keluarga Suryanata sampai istrinya melahirkan nanti. Setidaknya, pikiran Hasna akan sedikit teralihkan jika ia banyak yang menemani. Istrinya butuh ketenangan menjelang persalinan.


***


Maafkan daku, kemarin nggak up. mata dan bodi nggak bisa di ajakin kompromi.😪🙏🏻

__ADS_1


__ADS_2