Bidadari Penghapus Luka

Bidadari Penghapus Luka
Bab 153


__ADS_3

Rama berjalan menghampiri sang istri yang tengah menyalami para tamu yang akan meninggalkan kediaman mereka. Tidak nampak Ibunya di sana, mungkin masih menjamu tamu-tamu yang masih ada di dalam.


"Kenapa lama sih, Mas?" Tanya Hasna saat Rama sudah berada di sampingnya.


"Maaf, Sayang, Kerjaannya baru selesai." Rama mengecup pipi Hasna sekilas.


"Mas, ada Pak Ivan. Tamu-tamu juga masih banyak." Protes Hasna, karena laki-laki itu selalu tidak tahu tempat jika sedang mencari kesempatan.


"Ehemm... Ivan, kamu boleh meninggalkan kami. Nikmatilah hidangannya di dalam." Ucap Rama.


"Baik, Pak." Ivan segera berlalu ke dalam sesuai permintaan Rama.


Rama dengan setia mendampingi sang istri menyalami para tamu yang hendak berpamitan. Senyuman tak pernah luntur di wajah keduanya.


Hanya tinggal beberapa tamu yang masih betah di rumah mereka, termasuk Ivan dan kedua orang tuanya. Juga Tania beserta suami dan anaknya. Mereka semua berkumpul di ruang tengah dan nampak akrab satu sama lain.


Rama membawa Hasna ke ruang tengah dan bergabung dengan mereka yang ada di sana.


"Sebaiknya kamu bawa istri kamu ke dalam. Biarkan dia beristirahat." Ucap Bu Diana.


"Nggak papa, Ma. Hasna mau di sini saja. Lagian bosen kalau di suruh istirahat terus." Tolak Hasna secara halus.


Bu Diana tidak bisa memaksa. Bagaimanapun juga, kenyamanan Hasna yang paling utama. Menantunya itu seringkali mengeluh jika diminta sang putra untuk banyak beristirahat. Alasannya selalu sama, ia hanya hamil, bukan sakit parah yang harus banyak istirahat. Karena Dokter juga menyarankan jika ia banyak bergerak, asalkan bukan aktivitas fisik yang melelahkan.


"Mas, ini masih banyak orang loh." Hasna melayangkan protesnya dengan sangat lirih, saat Rama tiba-tiba mengangkat kakinya untuk dipijit.


"Aku nggak mau sampai kamu kecapek'an, Sayang." Rama menahan kaki Hasna agar tetap berada di pangkuannya.


"Tapi_"


"Nak Rama sepertinya melupakan jika di sini masih ada yang jomblo." Ucap Bu Risma, ibu Ivan.


Seketika pandangan mereka tertuju pada Ivan yang masih asik dengan piring makanan di hadapannya. Ivan menyadari jika dirinya tengah menjadi pusat perhatian, dan menoleh pada mereka semua.


"Ada apa? Kenapa semua melihat kemari?" Tanya laki-laki itu dengan polosnya.


"Bibi memintamu segera menikah, Ivan." Sahut Rama. Ivan menautkan kedua alisnya. Kenapa tiba-tiba?


"Tante Risma ingin segera memiliki menantu." Tania menimpali.


"Do'akan saja, semoga aku segera mendapatkan calon istri sebaik Bu Hasna." Seloroh Ivan dengan santainya. Tapi ucapan itu sukses membuat Rama membolakan kedua netranya.


"Maksudnya bagaimana?" Ucapan Rama terdengar dingin.


"Tidak ada maksud, Pak. Saya hanya minta di do'akan agar segera mendapatkan calon istri sebaik Bu Hasna. Bukan memperistri Bu Hasna." Jelas Ivan dengan entengnya.

__ADS_1


"Mohon dimaklumi, menantu kami banyak yang menginginkan untuk menjadi pasangannya. Tapi alhamdulilah, Hasna memilih putra kami yang galak ini sebagai pendampingnya. Bukan begitu, Nak?" Ucap Pak Andi.


"Iya, Pa." Hasna tersenyum hangat pada Papa mertua.


"Hmmm...gini nih kak Rama yang terlalu posesif sama Mbak Hasna. Bawaannya salah paham melulu." Celetuk Nayla.


Mereka yang ada di sana tersenyum mendengar celoteh gadis itu. Dapat mereka lihat bagaimana cara Rama memperlakukan istrinya. Dan memang benar, Rama terlihat posesif dengan Hasna.


"Tapi, alhamdulilah sekali. Sekarang Nak Rama terlihat begitu bahagia." Ucap Bu Risma. Wanita paruh baya itu juga tahu bagaimana kehidupan Rama setelah ditinggalkan perempuan yang akan dijadikannya pendamping waktu itu.


"Bukan hanya bahagia, Bi. Tapi sangat-sangat bahagia. Memiliki istri secantik dan sebaik Hasna. Apalagi sebentar lagi kami akan menjadi orang tua." Rama menekan setiap kata yang diucapkannya. Seolah menunjukkan kepada semuanya apa yang tengah ia rasakan. Apalagi tatapan itu terlihat penuh cinta saat menatap perempuan di sampingnya.


"Nak Hasna rupanya sudah menjadi pawang handal. Mampu menaklukkan Nak Rama yang dinginnya mengalahkan kutub utara." Kekeh Pak Danu yang disambut tawa oleh semua orang.


"Semua ada masanya, Paman." Ucap Rama lalu menatap sang istri penuh cinta.


***


Perlahan mata itu terbuka dan mengerjap. Langit-langit berwarna putih yang pertama ia lihat. Kosong, tak mendapati seorang pun di sekelilingnya. Perlahan mulai bangkit untuk duduk, tapi rasa sakit, perih, juga ngilu mulai ia rasakan di sekitar perut bagian bawahnya.


"Ssshhh...aaww..." Marissa menyerah, tidak ingin memaksakan banyak bergerak.


Cklek


Atensi perempuan itu teralihkan ke arah pintu. Seorang perawat masuk dengan membawa troli kecil.


"Sore."


"Nyenyak, Bu istirahatnya?" Tanya perawat itu.


Setelah menjalani operasi caesar, Marissa kembali tertidur karena pengaruh obat bius. Cukup lama memang, karena saat ia terbangun, hari sudah sore.


"Permisi ya, Bu." Ucap perawat yang akan memeriksa tekanan darah marissa.


"Bu Marissa mau saya bantu menyeka tubuh?" Tanya perawat. Marissa terdiam, tidak langsung menjawabnya.


"Hari ini, Bu Marissa masih belum diperbolehkan untuk ke kamar mandi dulu, ya. Jadi untuk membersihkan tubuh, mandinya bisa di ganti dengan menyekanya saja." Ucap perawat itu.


"Maaf, Sus. Apa Suster melihat keluarga saya di sini?" Tanya Marissa tanpa menjawab pertanyaan perawat tadi.


"Belum, Bu. Tadi, suami Bu Marissa ke sini untuk mengadzankan bayi ibu. Setelahnya, beliau pergi." Sudut hati Marissa terasa nyeri mendengar penuturan perawat itu.


"Anak saya, laki-laki apa perempuan? Apa boleh saya melihatnya?"


"Anak ibu laki-laki. Kebetulan, tadi sudah di bawa pulang sama suami ibu." Marissa menautkan kedua alisnya.

__ADS_1


"Pulang?"


"Iya, Bu. Kebetulan bayi ibu dalam kondisi baik, tanpa adanya masalah kesehatan yang mengkhawatirkan. Jadi kami mengizinkan untuk di bawa pulang."


Cukup lama Marissa terdiam, hingga suara perawat itu kembali mengagetkannya.


"Ibu mau saya bantu apa menunggu suami?" Tawar perawat itu sekali lagi.


"Iya, boleh, Sus." Ucapnya kemudian.


"Maaf ya, Bu." Perawat membantu Marissa untuk membersihkan dirinya, dan setelahnya menggantikan dengan pakaian yang bersih.


"Besok, saya akan bantu ganti plester lukanya dengan yang anti air. Besok, ibu sudah mulai latihan ke kamar mandi ya. Tapi, jangan di paksakan jika masih merasa pusing." Ucap perawat yang merapikan pakaian kotor Marissa.


"Iya, Sus. Terima kasih."


Perawat itu segera meninggalkan kamar Marissa setelah menyelesaikan tugasnya.


***


Usia kandungan Hasna mulai memasuki bulan ke enam. Perempuan itu nampak semakin cantik dengan perut yang semakin membesar. Rama sudah membatasi kegiatan perempuan itu di luar. Dan sesuai kesepakatan dengan Rama, Hasna mempercayakan segala tanggung jawab pekerjaannya kepada orang-orang yang Hasna percaya di setiap gerai usaha miliknya. Perempuan itu hanya akan mengontrol pekerjaan mereka dari rumah. Dan setiap satu bulan sekali akan diadakan zoom meeting dengan mereka.


Hari ini, Rama akan ke kantor setelah makan siang. Kebetulan hari ini adalah jadwal kontrol kandungan. Dan ia tidak ingin melewatkannya. Laki-laki itu akan ke kantor setelah menemani Hasna ke rumah sakit.


Setelah sarapan, keduanya berada di ruang tengah. Saling bercengkrama dan membicarakan hal-hal yang ringan. Hal semacam inilah yang membuat mereka semakin nyaman bersama pasangan.


"Sebentar, ya." Ucap Rama, saat ada panggilan masuk di ponselnya.


"Iya, Ivan?" Hasna sedikit mengerutkan keningnya, saat Rama beranjak dan sedikit menjauh darinya. Tapi perempuan itu hanya berpikiran jika ada masalah di kantor. Karena Hasna paham betul, jika Rama tidak akan membahas masalah kantor saat bersamanya.


"Marissa sudah di tangkap, Pak. Kemarin malam di kontrakan suaminya." Lapor Ivan.


Rama membuang nafasnya penuh kelegaan, karena Marissa sudah bisa menjalankan hukumannya. Semoga saja perempuan itu bisa berpikir jernih dan menyadari kesalahannya.


"Bagus, berarti laki-laki itu menepati ucapannya." Ucap Rama.


"Laki-laki? Suaminya maksud Bapak?"


"Iya."


"Maaf, Pak. Saat penangkapan kemarin, Marissa hanya seorang diri di kontrakan. Tidak terlihat ada seorang laki-laki di sana. Bahkan, kami tidak mendengar suara tangisan bayi dari dalam. Hanya saja, sore hari ada seorang perempuan yang bertamu di rumahnya." Papar Ivan. Kebetulan laki-laki itu, menyaksikan sendiri bagaimana mantan rekan kerjanya itu di gelandang oleh polisi. Perempuan itu nampak pasrah, tanpa melakukan perlawanan.


"Menurut warga sekitar, suami Marissa sudah lama tidak berada di rumah lebih dari satu bulan lamanya." Lanjut asisten itu.


"Bagus, tetap ikuti perkembangannya. Jika ada apa-apa segera laporkan kepada saya." Ucap Rama, lalu menutup panggilannya.

__ADS_1


***


__ADS_2