
Pagar rumah terbuka saat mereka sampai. Sepertinya ada yang datang. Mobil Hasna memasuki pekarangan dan berhenti tepat disebelah mobil hitam yang terparkir di sana.
"Ivan?" Gumam Rama saat mengetahui siapa pemilik mobil yang tengah terparkir di halaman rumah mereka.
"Sepertinya ada Pak Ivan." Ucap Hasna yang melihat asisten Rama itu tengah duduk di kursi teras rumah mereka.
Mau apa asistennya itu kemari? Kenapa tidak memberitahukan kedatangannya terlebih dahulu? Apa ada hal penting yang asistennya itu akan sampaikan? Apa justru laki-laki itu sengaja datang untuk menemui Hasna?
Ah...sial sekali, dia bahkan melupakan jika Ivan adalah salah satu pengagum istrinya.
Hasna membantu Rama membuka seatbelt nya. Setelah itu bersiap untuk turun.
"Kamu langsung masuklah ke dalam, ada yang perlu saya bicarakan dengan Ivan." Ucap Rama sebelum Hasna membuka pintu mobil. Perempuan itu mengangguk.
"Satu lagi, tidak usah membuatkan minuman atau menyuguhkan sesuatu, karena Ivan tidak akan lama." Hasna mengernyitkan keningnya.
Permintaan macam apa itu, tapi Hasna tak mengajukan protes. Ia hanya menyanggupi dengan menganggukkan kepala. Hasna pun membuka pintu dan membantu Rama keluar.
"Saya bisa sendiri, masuklah." Tolaknya halus. Rama hanya ingin istrinya segera masuk ke dalam rumah.
Hasna menurunkan bawaannya dari mobil dan segera masuk seperti permintaan suaminya.
"Ivan?" Laki-laki itu berdiri menghampiri Rama, dan tersenyum ke arah Hasna yang berada di belakang Rama.
Rama menatap asistennya tak suka. Dia yang memanggil kenapa justru Ivan tersenyum pada istrinya.
Hasna hanya tersenyum sekilas, lalu masuk sesuai perintah Rama. Rupanya pandangan Ivan tak lepas dari pergerakan Hasna. Bahkan hingga perempuan itu masuk ke dalam rumah.
"Ehemm."
Suara Rama membuat Ivan kembali tersadar. Kemudian laki-laki itu mengalihkan pandangannya pada Rama.
"Ada apa?" Tanya Rama datar.
"Maaf Pak, saya membawakan beberapa berkas yang perlu Pak Rama tanda tangani. Karena berkas ini akan saya antarkan sebelum besok pagi pada klien." Jawab Ivan.
Rama memposisikan untuk duduk di kursi teras, membuat Ivan mengernyit heran. Kenapa Bosnya itu tidak menawarkan untuk duduk di dalam. Menyuguhkan minuman misalnya. Akhirnya ia pun ikut duduk di kursi yang berseberangan dengan Rama.
Ivan menyerahkan beberapa berkas yang sudah ia siapkan. Rama membacanya beberapa saat dan membubuhkan tanda tangannya.
"Ivan, tolong bantu saya." Ia benar-benar kesulitan, dan terpaksa meminta bantuan Ivan.
Ivan membantu memegangkan berkas di dekat tangan kanan Rama. Laki-laki itu pun menandatangani tangani berkas-berkas yang dibawakan asistennya.
Ivan segera membereskan kembali berkas penting para klien perusahaan mereka. Dan Rama sudah bersiap untuk meninggalkan Ivan ke dalam.
Dahi Rama mengernyit saat Ivan tak kunjung beranjak.
"Apa ada yang mau kamu sampaikan lagi?"
"Eh? Tidak, Pak." Ivan menggeleng dan tersenyum canggung.
Rama masih mengawasi pergerakan asistennya. Hal itu membuat Ivan merasa kikuk sendiri. Asistennya itu jadi salah tingkah.
"Emm...kalau begitu, saya permisi, Pak." Pamitnya.
"Hmmm."
Sikap dingin Rama membuat Ivan susah menelan salivanya sendiri. Segera ia meninggalkan rumah atasannya itu, sebelum ada kejadian buruk menimpanya.
***
"Pak Ivan sudah pulang?" Tanya Hasna saat mendapati suaminya memasuki rumah.
Rama menatap istrinya tajam, ia tak suka jika Hasna menanyakan asisten yang sudah jelas mengagumi istrinya.
Wajah polos itu menunggu jawaban dari sang suami. Tapi sepertinya laki-laki itu enggan memberikan jawaban. Baiklah, sepertinya suaminya itu tak akan menjawab pertanyaannya.
"Emmm... Mas Rama mau makan dulu apa sholat dulu?" Hasna mencoba mengalihkan pembicaraan. Sepertinya mood suaminya sedang buruk.
__ADS_1
"Saya mau sholat dulu." Jawabnya datar.
Benar dugaannya. Terlihat Rama segera menaiki anak tangga menuju kamarnya di lantai dua.
"Tolong bantu saya." Ucapnya setengah berteriak karena sudah berada diujung tangga atas.
Hasna segera menghentikan kegiatannya menyiapkan makan siang, dan segera menghampiri Rama.
Perempuan itu mengekori suaminya masuk ke dalam kamar. Dan membantu Rama bersiap untuk melaksanakan kewajibannya.
Jantungnya kembali dipaksa untuk berdetak lebih cepat karena membantu Rama melepaskan celana panjangnya. Mungkin benda ini sumber masalah untuk jantungnya sedari pagi.
Tangannya bergetar terulur untuk membuka gesper ikat pinggang suaminya. Rasanya nafas seakan terhenti saat melakukan hal yang baru pertama kali ia lakukan ini.
Fokusnya mulai hilang saat tubuh kekar itu semakin mendekat ke arahnya. Keringat dingin sudah mulai menjalari tubuhnya. Secara tidak sadar, Hasna melangkah mundur mengikuti gerakan Rama yang semakin maju mendekat padanya.
Kedua tangannya menyentuh dada bidang laki-laki yang sudah tak memakai pakaian bagian atasnya itu. Matanya tetap fokus pada manik pekat yang tengah menatapnya tajam.
Kesadarannya mulai kembali saat punggungnya menyentuh tembok.
"Tunggulah sampai saya selesai sholat. Nanti kita turun bersama." Bisiknya tepat di dekat telinga Hasna. Hasna mengangguk sebagai jawaban.
Suara yang mirip seperti hembusan angin itu membuat bulu-bulu halus Hasna meremang.
Rama masuk ke dalam kamar mandi dan bersiap untuk sholat.
"Setelah ini tolong bantu saya melepaskan celana ini." Laki-laki itu pun menghilang di balik pintu kamar mandi.
Huft
Hasna menghembuskan nafas dengan lega, seolah dirinya telah terlepas dari bahaya besar.
***
"Mulai nanti malam, tidurlah di kamar saya." Kata Rama di sela suapan Hasna.
Hasna menatap heran pada Rama, apakah suaminya itu sungguh-sungguh? Hasna kembali menyuapkan makanan pada Rama.
Hasna tersenyum kikuk dan menggeleng pelan. Ia kembali akan menyuapkan makanan pada Rama, namun laki-laki itu menolaknya.
"Makanlah, jangan selalu mendahulukan saya dan mengabaikan diri sendiri." Rama mendorong pelan tangan istrinya. Hasna menurunkan kembali sendok yang telah terisi makanan.
"Mas Rama suamiku, jadi sudah sepatutnya aku memprioritaskan Mas Rama." Perempuan itu tersenyum pada suaminya.
"Lalu, apa tugas utama seorang istri?" Tanya Rama, menatap dalam manik istrinya.
"Patuh pada suami, selagi itu tidak melanggar syari'at." Jawab Hasna. Kini Rama yang tersenyum pada istrinya.
"Saya meminta kamu untuk makan, untuk menjaga kesehatan kamu. Apakah itu melanggar syari'at?" Hasna menggeleng.
"Maka patuhilah." Pintanya lembut.
Hasna merasa dirinya istimewa kali ini. Selama pernikahan mereka, suaminya selalu acuh dengan keberadaannya, apa yang tengah ia lakukan dan bahkan dengan perasaannya. Tapi hari ini, dia merasa jika laki-laki yang berstatus sebagai suaminya itu memberikan perhatian yang tak pernah ia dapatkan sebelumnya.
Setetes cairan bening menerobos mata teduhnya. Lalu ia menundukkan pandangannya. Baru kali ini Rama berbicara selembut itu kepadanya.
"Hei, kenapa menangis?" Rama mengangkat dagu istrinya dengan telunjuk kiri. Mata indah itu telah basah.
"Ada apa? Apa saya salah berucap?" Tak menjawab, justru isakan mulai terdengar.
Rama bangkit dari duduknya dan membawa istrinya dalam pelukan. Mungkin Hasna butuh waktu untuk membuat dirinya tenang.
Pelukan pertama diantara mereka, justru membuat Hasna menangis sesenggukan. Entah kesalahannya dimana, Rama pun tak tau.
Rama mengusap lembut kepala Hasna yang sejajar dengan perutnya. Perlahan, istrinya mulai tenang. Rama mengurai pelukan dan kembali duduk dihadapan istrinya.
Untuk sesaat mereka terdiam. Hasna yang mencoba mengatur emosinya kembali dan Rama yang masih menunggu hingga istrinya itu bersuara.
"Terima kasih." Lirih Hasna.
__ADS_1
Rama mengusap lembut pipi istrinya yang basah. Membuat Hasna memejamkan mata menikmati sentuhan lembut suaminya.
"Terima kasih." Ulangnya.
"Kenapa berterima kasih?" Rama menatap lurus manik teduh istrinya.
"Terima kasih, karena Mas Rama sudah menerima Hasna sebagai istri. Hasna tau kalau Mas Rama masih belajar untuk menerima. Tapi perlakuan Mas Rama kali ini, membuat Hasna merasa menjadi istri yang istimewa."
Ucapan Hasna berhasil mengoyak hatinya yang membatu. Selama ini ia begitu acuh dengan keberadaan istrinya. Tak mempedulikan apapun yang dilakukan perempuan itu. Bahkan tak pernah menghargai perasaannya.
Tapi setelah ia berusaha membuka hatinya, perlahan ia menyadari satu hal. Bahwa apapun yang Hasna lakukan untuk dirinya adalah sebuah bentuk pengabdian seorang istri pada suaminya. Termasuk kebohongan yang ia lakukan kepada keluarganya.
Istrinya dengan begitu baik menjalankan perannya sebagai seorang perempuan yang bahagia dengan kehidupan rumah tangganya. Selalu memberikan senyuman walau ia tau sebenarnya perempuan itu teramat kesal kepadanya. Bahkan beberapa kali bentakan yang keluar dari mulutnya, istrinya itu masih memberikan senyuman setelahnya.
Tak ada istilah merajuk untuk menunjukkan sisi egoisnya sebagai perempuan ketika marah. Justru istrinya selalu melayaninya dengan baik.
"Maafkan saya." Lirih Rama.
"Saya bukanlah laki-laki yang baik untuk perempuan sebaik kamu. Bahkan diluar sana masih banyak laki-laki yang jauh lebih baik dari saya, yang mengharapkan kamu untuk menjadi pasangannya." Air mata itu kembali menetes membasahi kedua pipi Hasna.
"Saya sadar jika pernikahan kita hanyalah jalan untuk menyembuhkan luka masa lalu saya. Tapi kamu dengan baik menjalankan semua kewajiban kamu sebagai seorang istri. Saya yang egois disini. Saya yang menuntut agar kamu memahami saya, tapi saya sendiri abai jika kamu butuh untuk dipahami juga." Ungkap Rama.
"Kamu benar, saat saya mengucapkan sumpah pernikahan, saat itu juga tanggung jawab kamu beralih di pundak saya. Seharusnya bahu saya lah yang menjadi sandaran kamu, tapi justru saya menghindar dan larut dalam bayang masa lalu."
"Bantu saya Hasna, bantu saya. Bantu saya untuk keluar dari semua itu. Bantu saya menjalankan peran saya sebagai seorang suami. Bantu saya meyakinkan hati saya, bahwa pernikahan ini memang yang terbaik untuk kita." Rama mengatakannya dengan suara yang bergetar. Lelaki itu tulus saat mengucapkannya.
Hasna kembali terisak setelah mendengarkan penuturan sang suami. Kembali, ia merasakan pelukan hangat laki-laki yang kini menerimanya sebagai seorang istri. Rama kembali membawa Hasna dalam dekapannya. Dapat Hasna rasakan jika suaminya kini tengah mengecup lembut puncak kepalanya.
"Allah, aku tak meminta apapun kepada Engkau, selain ridho Mu. Ridhoi rumah tangga kami, limpahkan kasih sayang diantara kami. Bimbinglah kami untuk menjalankan tugas kami sebagai suami istri."
***
Sesuai permintaan Rama, mulai malam ini Hasna akan tidur di kamar suaminya. Bahkan Rama mengajaknya naik lebih awal.
Kini keduanya terbaring di peraduan. Walau masih ada jarak, namun posisi mereka lebih dekat dari sebelumnya.
"Maaf, jika selama kamu tinggal di sini kamu merasa tidak nyaman." Rama membuka suara setelah keheningan terjadi diantara mereka.
Rama baru tersadar saat kemarin tidur di kamar Hasna. Kamar istrinya itu lebih kecil dari kamar yang ditempatinya. Bahkan tak ada perabot mewah disana. Tapi tak ada protes ataupun tuntutan dari istrinya itu.
"Kenapa Mas Rama ngomongnya gitu?" Hasna sedikit heran, kenapa suaminya bisa menyimpulkan jika dirinya tidak nyaman tinggal di sini.
"Karena kamu menempati kamar yang tak layak kamu tempati. Bahkan kamar kamu tak seluas tempat penyimpanan pakaian saya." Ucapnya penuh sesal. Jadi itu permasalahannya.
"Dimanapun aku tidur, itu tidaklah penting. Aku merasa nyaman jika masih tinggal satu atap bersama kamu, Mas." Rama melihat wajah istrinya itu tersenyum.
"Duniaku adalah kamu. Selama kamu masih mengizinkan aku untuk tetap dekat sama kamu, aku pasti merasa nyaman." Rama ikut tersenyum mendengarnya.
"Mendekatlah." Pinta Rama.
Hasna menggeser tubuhnya, sedikit lebih dekat dengan suaminya.
"Lebih dekat lagi." Pinta suaminya lagi.
Lagi-lagi Hasna menurutinya. Kini jarak keduanya terkikis sudah. Rama membawa istrinya kedalam pelukan.
Dapat hasna dengar dengan jelas degup jantung laki-laki yang tengah mendekapnya itu. Mungkin degupan yang sama juga terdengar darinya. Ragu-ragu Hasna memeluk tubuh suaminya. Nyaman. Itu yang ia rasakan.
Beberapa saat keduanya terdiam. Menikmati momen kedekatan mereka untuk yang pertama kali.
"Boleh, saya menanyakan sesuatu sama kamu?"
Hasna mendongakkan sedikit kepalanya untuk melihat wajah sang suami.
"Sudah lama saya sangat penasaran, makanya saya ingin menanyakan hal ini sama kamu." Rama menatap mata teduh perempuan dalam dekapannya itu.
"Apa?" Lirih Hasna.
Tatapan Rama semakin intens. Seulas senyuman tercetak jelas di wajah tampannya. Ada debaran yang membuat dirinya merasa sangat bahagia, hingga ingin berteriak untuk mengungkapkannya.
__ADS_1
***