Bidadari Penghapus Luka

Bidadari Penghapus Luka
Bab 178


__ADS_3

Baru sempat membuka kado yang mereka terima untuk kelahiran sang putra, lebih dari sebulan setelah acara aqiqah dan pemberian nama. Dan hal itu membuat Rama teringat atas kado yang sempat Kevin singgung waktu itu.


"Sayang, lihat ada kado kecil bungkusnya warna biru, nggak?" Tanya Rama pada Hasna yang baru membuka tujuh kado.


"Pitanya merah kalau nggak salah." Lanjutnya.


Hasna mencari kado yang Rama maksudkan diantara tumpukan kado lainnya.


"Yang ini, bukan?" Hasna mengangkat kado berwarna biru tua berbentuk kotak dengan pita merah di atasnya.


"Iya, itu kayaknya." Hasna menyerahkan benda di tangannya kepada Rama.


"Dari siapa?" Tanya Hasna penasaran, seolah kado itu paling istimewa walaupun bentuknya paling kecil.


"Kevin."


"Kevin?"


"Iya, kemarin itu pas aku telepon buat nolak mobil yang di kirimkan kemari, dia nyinggung kado ini." Hasna mengerutkan keningnya, tanda tidak paham. Sedangkan Rama menjawabnya dengan tangan yang masih berusaha membuka bungkus kado.


"Oh iya, udah sempat nanyain mobil kemarin sama Kevin? Gimana jawaban dia?" Rama lupa menanyakan hal itu karena dirinya di sibukkan urusannya dengan Pak Darma perihal pembebasan Marissa.


"Udah, nih." Hasna menyerahkan ponselnya pada Rama, yang sebelumnya ia sudah membuka room chatnya dengan Kevin.


"Dia bersikeras sekali biar kita tidak menolaknya." Komentar pertama yang keluar saat membaca pesan dari Kevin.


"Jadi, dia mau menetap kembali ke Singapur?" Rama menatap Hasna seolah perempuan itu tahu jawaban pastinya.


"Sepertinya begitu." Sahut Hasna.


"Ya, kita do'akan saja yang terbaik. Semoga usahanya di sana berhasil." Hasna hanya mengaminkan dengan lirih ucapan Rama barusan.


"Ckkk... Kenapa harus kasih nama gini sih?" Decak Rama kesal.


Hasna mengerutkan keningnya. Nama apa yang Rama maksudkan?


"Kenapa harus kasih nama Mas Kevin, Mas Hamzah, Mas Anton, ckkk... Nggak ada nama lain gitu?" Hasna semakin bingung dengan arah pembicaraan suaminya.


"Nama apa sih, Mas?"


"Ya nama kontak di hape kamu lah." Sewotnya.


Rama menyerahkan kembali ponsel istrinya, setelah tak sengaja melihat siapa saja yang baru-baru ini istrinya hubungi saat menutup room chat milik Kevin. Hasna memeriksa apa yang Rama maksudkan, dan ternyata...


"Terus mau dikasih nama apa? Mbak-mbak gitu?" Kekeh Hasna.


"Ya langsung nama aja kan bisa. Lagian nggak akan tau juga orangnya." Hasna jadi heran, sebenarnya Rama kenapa sih, perkara nama kontak yang dia simpan saja sampai sewot begitu.


"Ya kan ngasih nama di kontak itu tergantung panggilan kita ke orang itu, Mas. Biar gampang juga nyarinya." Hasna memberikan sebuah alasan yang masuk akal pada suaminya.

__ADS_1


"Trus, kamu kasih nama aku di kontak kamu apa?" Tanya Rama masih memasang wajah masamnya.


"Ya...Mas Rama, lah. Kan aku panggilnya gitu."


"Terus, beda aku sama mereka apa?" Aduh, ini kenapa lagi, makin sewot gini suami.


"Ya beda lah, Mas. Kan mereka teman dan pegawai aku. Sedangkan Mas Rama suami aku."


"Nggak ada bedanya, orang kamu panggilnya Mas semua." Oh...Hasna baru menyadari sesuatu. Ternyata suaminya sedang cemburu. Mungkin.


"Mas Rama cemburu?" Tanya Hasna dengan menahan tawanya.


"Enggak." Sewot bener, sudah seperti perempuan yang PMS saja.


Yang benar saja menanyakan kecemburuan secara langsung. Jelas Rama semakin sewot. Hanya membayangkan jika namanya di kontak istrinya berada di barisan paling akhir saja sudah membuatnya sekesal ini.


"Emmm... Jadi, harusnya tidak ada masalah kan, ya?" Hasna meletakkan kembali ponsel miliknya di atas karpet bulu alasnya duduk. Lalu melanjutkan membuka kado-kado milik putranya.


"Ckk...menyebalkan." Rama meletakkan kado yang belum selesai ia buka dengan asal, kemudian beranjak dari duduknya.


Baru beberapa langkah, laki-laki berdiri mematung di tempatnya.


"Mas Rama kalau mau protes sama aku, harusnya langsung to the point. Mas Rama kan tau kalau aku bukan tipe perempuan yang peka sama kode-kode rahasia para lelaki." Ucap Hasna di balik punggung Rama. Perempuan itu memeluk sang suami begitu erat dari belakang.


Rama menghembuskan nafasnya begitu pelan. Ia lupa akan hal itu. Hasna bukan tipikal perempuan yang mudah memahami masalah seperti itu.


"Mas Rama maunya aku gimana? Apa aku hapus aja semua nomor mereka?" Tanya Hasna begitu lembut.


"Nggak perlu, jika nantinya akan membuat kamu merasa kesulitan."


"Lalu?"


"Cukup ganti saja nama aku di kontak kamu." Oh... Jadi begitu?


"Mau di ganti apa? Suami tercinta? Pacar pertama? Atau, ayahnya Reyn? Atau Mas Rama ada ide?" Hasna memberikan saran.


"Terserah kamu, setidaknya aku merasa istimewa dari mereka." Ucap Rama dengan begitu lembut.


Tangan itu mengusap lembut pipi istrinya yang selalu merona. Lalu mengusap bibir ceri yang terlihat begitu menggoda di matanya itu. Satu kecupan ia berikan tepat di atas bibir yang selalu nampak merekah itu.


"Mas Rama mesum." Hasna memukul pelan dada Rama.


"Jangan kasih nama itu, ya. Awas aja." Rama kembali sewot yang membuat Hasna terkekeh geli.


"Siapa juga yang mau kasih nama kayak gitu. Mas Rama ih... Suka bikin kesel diri sendiri."


"Habisnya kamu."


Hasna melingkarkan kedua tangannya di leher kokoh suaminya, sedikit berjinjit untuk mencapai bibir Rama. Namun dengan cepat, Rama sedikit mendongakkan wajahnya, hingga tubuh mungil Hasna tidak bisa menjangkau wajahnya.

__ADS_1


Dengan kesal, Hasna mendorong pelan bahu Rama. Sudah di balikin, malah jadi ngeselin.


"Mau kemana?" Rama mencekal pergelangan tangan istrinya yang akan beranjak pergi.


"Mau tidur di kamar Nayla." Sewot perempuan itu.


"Nggak, nggak, nggak. Apa apaan kamu."


"Daripada semalaman aku kesel, mending cari hiburan sama Nayla." Hasna sudah bersiap melangkahkan kakinya. Tapi Rama dengan cepat pula menahan pergerakan istrinya.


Mencari hiburan bersama Nayla? Pasti tidak akan beres. Dan itu tidak akan baik buat perempuan setipe Hasna.


Rama kembali mencium bibir ceri itu. Sedikit memberikan lum*atan kecil di sana.


"Biar nggak kesel." Ucapnya tanpa rasa berdosa.


"Sini, biar nggak ngambek lagi." Rama menarik lembut pergelangan tangan Hasna dan mengajak perempuan itu duduk di atas karpet bulu yang mereka tempati tadi.


Rama menarik Hasna agar duduk di hadapannya. Rama memeluk perut perempuan yang telah melahirkan penerusnya itu dari belakang.


"Jangan ngambek, nanti akunya bingung, mana anak, mana bundanya." Cicit Rama di balik punggung Hasna.


"Pura-pura lupa kalau tadi ngambek duluan." Ledek Hasna dengan suara yang lirih.


"Siapa yang ngambek?" Ucap Rama berlagak lupa.


"Hmmm... Mas Hamzah, Mas Kevin, Mas Anton, Mas Rio, trus siapa lagi, ya? Mas-mas kasir indomei, Mas-mas _"


"Emmm..."


Hasna tak bisa lagi melanjutkan ucapannya, karena Rama lebih cepat sepersekian detik menyambar bibir ceri itu agar diam. Melum*atnya dalam-dalam menyalurkan rasa cemburu juga rindunya pada perempuan yang berada di dekapannya kini.


"Nggak usah diterusin, nanti Reyn punya adik sembilan bulan lagi loh." Ucap Rama datar.


Hasna menelan salivanya saat mendengar ucapan Rama yang lebih mirip sebuah ancaman. Memiliki bayi lagi disaat putra pertamanya belum elum genap dua bulan? Yang benar saja.


"Mas, buka kado lagi yuk." Ajak Hasna, tangannya sudah meraih kado yang belum sempat selesai Rama buka tadi.


Rama tetap bergeming di tempatnya, hanya melihat aktivitas yang Hasna lakukan.


"Mobil-mobilan?" Hasna mengangkat isi hadiah yang membuat Rama penasaran. Sebuah mobil mainan hot whe*ls berwarna merah.


"Eh, ada kartu ucapannya." Hasna mengambil sebuah kartu ucapan yang terselip di sana.


"Hai jagoan... Alhamdulillah, akhirnya nya kamu lahir juga. Maafin Om ya, hanya bisa bawain kamu kado yang kecil. Tapi tenang saja, nanti bakalan Om kasih yang besar, sama seperti mainan ini. Di tunggu, ya. Nanti bilang sama Papa, suruh ganti seri terbaru saat kamu sudah bisa memakainya sendiri saat dewasa. Tumbuh sehat ya jagoan. Om Kevin." Hasna membaca kartu ucapan yang Kevin tulis sendiri dengan tangannya.


Rama menggaruk pelipisnya dengan jari telunjuk.. Jadi kado yang Kevin bawa waktu itu, seolah menjadi sebuah petunjuk untuk kado yang sesungguhnya.


Rama meraih mobil mainan dari tangan istrinya, dan benar saja, warna juga modelnya hampir mirip dengan mobil yang Kevin kirimkan minggu lalu. Sungguh seperti menebak petunjuk untuk mencari harta Karun saja.

__ADS_1


***


__ADS_2