
Dering telepon memecah hening ruang kerja Hasna. Satu nama tertera di ID pemanggil. Kevin. Bahkan sudah lama mereka tidak bertemu semenjak pertemuan terakhir mereka di area food court sebuah pusat perbelanjaan.
Hasna menggeser tombol hijau di ponselnya.
"Assalamu'alaikum, Mas Kevin." Ucap Hasna saat panggilan tersambung.
"Wa'alaikumussalam, Hasna." Terdengar suara yang ceria di seberang sana.
Hening beberapa saat.
"Hasna, apa kita bisa bertemu?" Tanya Kevin.
"Bertemu?" Hasna memastikan.
"Ya, apa bisa?" Tanya Kevin penuh harap.
"E...apa ada hal penting?" Tanya Hasna. Perempuan itu tidak bisa sembarang menerima ajakan laki-laki. Karena dia seorang perempuan bersuami.
"Iya, ada hal yang sangat penting yang ingin aku bicarakan sama kamu. Tapi maaf, aku tidak bisa membicarakannya lewat sambungan telepon."
Hasna tidak memberikan jawaban, ia bingung harus bagaimana menolak agar Kevin tidak merasa tersinggung.
"Hasna? Apa kamu masih di sana?" Kevin memastikan jika sambungan teleponnya masih tersambung.
"I...iya, Mas."
"Bisa?" Kevin masih saja mendesak. Membuat Hasna tak kuasa untuk menolak. Tapi siapa tahu juga ada kabar baik, karena mereka juga partner bisnis.
"Baiklah, Mas Kevin langsung ke restoran. Kebetulan aku sampai sore di sini." Akhirnya terpaksa Hasna menerima ajakan Kevin untuk bertemu.
"Baiklah, aku akan segera sampai." Ucap Kevin dengan semangat.
***
Setelah lebih dari tiga minggu lamanya, akhirnya Kevin mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan Hasna. Laki-laki itu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu. Karena beberapa hari lagi ia akan ke Singapura untuk perjalanan bisnis selama dua minggu kedepan.
Gegas ia meninggalkan ruang kerjanya. Berjalan dengan sedikit terburu menuju lift. Ia tidak ingin membuang waktu barang sedetikpun.
Sampainya di basement, Kevin mengumpat kesal. Saking terburunya ia sampai melupakan kunci mobilnya.
"Sial."
Kevin kembali naik ke lantai lima dimana ruangannya berada. Nafasnya terdengar memburu. Bagaimana tidak, ia berlari di sepanjang lorong kantor.
Setelah mendapatkan kunci mobil, segera ia kembali menuju basement.
"Pak Kevin, anda mau kemana? Setengah jam lagi ada rapat dengan divisi pemasaran." Suara Prita, sekretarisnya menghentikan langkah seribu Kevin.
Laki-laki itu memejamkan mata dan membuang nafasnya kasar. Kenapa disaat seperti ini ada saja gangguannya.
"Apa bisa di reschedule?" Tanya Kevin.
"Tapi, Pak, sebagian sudah berada di ruang meeting." Jawab Prita.
Sial, sungguh sial sekali. Kalau sudah begini, Kevin tidak bisa berkutik lagi. Dia harus bisa bertanggung jawab atas pekerjaannya.
"Baiklah, segera informasikan bahwa meeting di ajukan dua puluh menit lebih awal. Saya tunggu di ruang meeting." Kevin kemudian berlalu masuk kembali ke ruangannya untuk mengambil beberapa dokumen penting untuk bahan meeting siang ini.
Prita menghirup nafas panjang, sungguh atasannya itu membuatnya benar-benar bingung. Tadi pagi Kevin meminta pertemuan diadakan setelah makan siang. Tapi sekarang, ia meminta untuk memajukan waktunya. Semoga saja yang masih makan siang di luar bisa segera hadir.
***
Di sepanjang pertemuan yang hampir di lupakannya, Kevin tidak bisa berkonsentrasi secara penuh. Fokusnya terpecah. Segera ia meraih ponsel yang tergeletak di atas meja ruang rapat, dan mencari nomor Hasna. Ia tidak mau sampai perempuan itu menunggunya lama.
~Hasna maafkan aku, mungkin aku akan terlambat datang ke restoran nanti.~ Kevin.
Satu menit, dua menit, hingga sepuluh menit berlalu, pesannya belum juga terbalas. Bahkan belum sempat terbaca oleh Hasna. Dan itu membuat Kevin benar-benar gusar.
Semua materi yang disampaikan oleh satu persatu peserta meeting hanya seperti angin lalu. Kevin benar-benar tidak bisa fokus.
"Bagaimana menurut Pak Kevin?" Tanya salah satu dari mereka.
Semua menunggu jawaban dari atasannya itu. Tapi laki-laki itu tak kunjung membuka suara, padahal semua yang berada di ruangan tengah fokus pada dirinya.
__ADS_1
"Pak?" Seseorang berkemeja biru menepuk pelan lengan Kevin.
"Iya, Pak Hari?" Ucap Kevin. Sepertinya laki-laki itu baru saja tersadar dari lamunannya.
"Maaf, Pak, kami semua menunggu tanggapan dari Bapak." Jawab Pak Hari.
Sungguh, ia sendiri tidak tau apa yang akan disampaikan pada orang-orang yang berada di dalam ruangan ini. Kevin memijit pelan pelipisnya. Laki-laki itu berusaha tenang.
Tring
Satu notifikasi dari ponselnya mengalihkan atensi Kevin. Senyumnya merekah, saat melihat nama yang tertera di sana. Hasna.
~Iya, Mas kevin, tidak apa-apa.~ Hasna.
Kevin bernafas lega, setidaknya Hasna mengetahui kabar darinya.
"Bagaimana, Pak?" Ulang Pak Hari.
Baiklah, untuk segera menyelesaikan tugasnya memimpin rapat hari ini, Kevin harus bersikap profesional. Dan untuk itu, ia meminta sekali lagi mereka menyampaikan materi yang sudah mereka sampaikan sebelumnya.
Kevin dengan seksama mendengarkan, dan dengan lancarnya ia menanggapi dan memberikan saran serta pengarahan pada mereka.
Kevin bisa bernafas lega saat meeting akhirnya usai. Laki-laki itu melirik jam di pergelangan tangannya hampir dua jam, semoga Hasna masih ada di restoran.
Kevin mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Untung saja belum waktunya jam pulang kantor, jadi jalanan tidak terlalu macet.
Kurang dari tiga puluh menit, Kevin telah sampai di restoran milik Hasna. Rasanya nafasnya masih tidak beraturan. Berlarian dari lobi hingga ke basement kantor, juga mengemudikan dengan kecepatan tinggi, membuatnya harus mengatur nafasnya terlebih dahulu sebelum turun dari mobil.
Kevin menghembuskan nafas berulang, berusaha mengatur kembali degup jantungnya. Hari ini ia akan menagih jawaban dari Hasna. Jawaban atas lamarannya melalui ibu perempuan itu.
Kevin mengedarkan pandangannya di sekeliling restoran, tapi tidak juga menemukan sosok yang ia cari. Restoran memang cukup luas, tapi untuk menemukan seseorang yang selalu memenuhi pikiran, tidaklah sulit.
"Mas Kevin?" Kevin menoleh ke arah sumber suara, perempuan itu berdiri tepat dibelakangnya.
"Hasna." Ingin sekali ia memeluk perempuan itu untuk menyalurkan rasa rindunya. Namun apalah daya, ia bahkan tidak berani menyentuh Hasna.
"Sudah lama?" Tanya Hasna.
"Kalau begitu kita ke sana saja." Hasna menunjuk meja di dekat arah toilet, di sana lumayan sepi.
Kevin mengekori Hasna yang berjalan di depannya. Hasna memintanya untuk duduk terlebih dahulu. Sedangkan Hasna meminta dua minuman untuk dibawa ke meja yang mereka tempati.
"Mas Kevin mau bicara apa?" Tanya Hasna langsung pada intinya.
Kenapa suara Hasna selalu terdengar lembut menyapa pendengarannya. Dan itu malah membuatnya semakin dilanda gugup luar biasa. Keringat dingin mulai menghiasi pelipisnya.
Tiba-tiba saja detak jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Hasna menunggu Kevin menyampaikan apa yang mau laki-laki itu katakan.
"Aku pernah meminta pendapatmu tentang bagaimana mengungkapkan rasa seorang laki-laki pada perempuan yang di sukainya. Dan aku telah melakukan saran yang pernah kamu berikan waktu itu."
"Sebagai seorang laki-laki yang memiliki niatan yang baik, aku utarakan sama Mama kamu. Aku memintamu pada perempuan yang telah melahirkan kamu."
Hasna sudah tidak bisa mengendalikan emosinya lagi, tapi sekuat tenaga harus bisa tetap terlihat tenang.
"Aku memintamu secara baik-baik pada orang tuamu waktu itu. Aku mengatakan pada beliau, jika aku ingin menjadikanmu sebagai istriku." Kalimat Kevin begitu lancar saat diucapkan. Tapi hati Hasna terasa mencelos dari tempatnya.
"Aku mengatakan pada beliau, jika tak perlu memberikan jawaban secepatnya. Tapi ini sudah terlalu lama. Hampir sebulan. Dan aku yakin jika kamu sudah bisa memberikan jawabannya sekarang." Kevin menatap wajah cantik di hadapannya. Wajah yang selalu membuatnya merasa betah saat memandang.
"Hasna, aku butuh kepastian. Karena setelah ini aku akan pergi ke Singapura selama dua minggu. Aku ingin mendengar jawaban dari kamu sekarang." Kedua manik coklat itu menatap lekat perempuan yang tengah menundukkan pandangannya.
"Jadi, bagaimana? Apakah lamaranku diterima?" Tanya Kevin dengan penuh harapan besar.
Hasna berusaha terlihat tenang, jangan sampai ada perkataan yang akan menyakiti laki-laki sebaik Kevin. Selama ia mengenal laki-laki itu, tak sekalipun Hasna mendapati keburukan darinya.
"Sebelum aku menjawab, apa boleh aku menyampaikan suatu hal pada Mas Kevin?" Tanya Hasna.
Kevin menautkan kedua alisnya, tapi laki-laki itu menganggukkan kepalanya.
"Sebenarnya, aku yatim piatu sejak kecil." Ucap Hasna.
Sebaris kalimat yang mampu membuat Kevin tersentak kaget. Tapi ia masih berpikir positif, bisa jadi wanita yang Hasna panggil dengan sebutan Mama waktu itu adalah ibu angkatnya.
"Kedua orang orang tuaku meninggal dunia saat aku masih berusia sepuluh tahun. Dan aku dibesarkan oleh Kakek seorang diri." Hasna tersenyum di akhir kalimatnya.
__ADS_1
Perempuan itu kembali menghirup nafas panjang, sebelum melanjutkan ucapannya.
"Dan Kakek, beliau satu-satunya keluarga yang aku miliki. Tapi beliaupun sudah meninggal sekitar dua bulan yang lalu." Lanjutnya.
"Maaf jika apa yang aku sampaikan nantinya akan membuat Mas Kevin kecewa. Tapi, aku tidak ingin ada kesalah pahaman diantara kita nantinya."
"Aku, perempuan yang sudah menikah. Aku perempuan bersuami." Ucap Hasna.
Rasanya jantung Kevin di paksa untuk berhenti berdetak saat Hasna mengucapkan itu. Perasaan yang membuncah untuk perempuan yang dicintai sejak awal pertemuan mereka, di paksa untuk mati.
"Kami menikah dua bulan yang lalu, sesaat sebelum Kakek wafat." Hasna tidak berani menatap ke arah Kevin. Ia yakin jika laki-laki itu sedang terluka hatinya.
"Dan wanita yang aku panggil Mama... Beliau adalah ibu mertuaku. Ibu kandung dari suamiku." Kevin memejamkan kedua matanya mendengar pernyataan terakhir Hasna tentang siapa wanita yang ia panggil Mama.
Lengkap sudah, apa yang barusan Kevin dengar, berhasil membuat laki-laki itu merasakan malu yang sangat luar biasa. Ia melamar perempuan bersuami pada ibu mertuanya? Sungguh, satu kebodohan yang tidak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya.
Hening menyelimuti keduanya. Baik Hasna maupun Kevin, keduanya bingung harus memulai pembicaraan dari mana untuk mengurai kecanggungan.
"Maafkan aku Hasna, aku sungguh tidak tau jika kamu perempuan bersuami. Aku dan juga Mama menganggap kamu adalah perempuan bebas. Apalagi kami tidak menemukan cincin pernikahan di jari manis kamu."
Jadi permasalahan tetap berpusat masalah cincin pernikahan. Hal serupa sudah pernah terjadi dengan Bian, dan kini terulang kepada Kevin.
"Kami menikah bukan di waktu yang telah di tentukan oleh keluarga kami. Tapi karena kondisi kakek yang tengah kritis waktu itu. Beliau waliku. Dan beliau meminta agar pernikahan kami dilaksanakan saat itu juga. Dan masalah cincin, kami memang b Lum sempat menyiapkannya. Tapi sekarang, semoga tidak ada lagi laki-laki yang salah sangka terhadap statusku sebagai perempuan bersuami, karena aku sudah mengenakan cincin." Ucap Hasna.
Kevin reflek melihat ke arah jari manis Hasna yang berada di atas meja. Dan benar saja, cincin itu tersemat indah di jari manisnya.
"Sekali lagi aku minta maaf sama Mas Kevin. Tidak pernah ada niatan untuk menyakiti hati Mas Kevin, terlebih mengutarakan niatan baik Mas Kevin." Ucap Hasna tulus.
"Tidak apa-apa." Lirih Kevin. Laki-laki itu bingung apa yang akan ia katakan pada Hasna setelah kejadian hari ini. Bagaimana ia bersikap pada perempuan itu. Dan bagaimana pula sikap ibu mertuanya? Dirinya telah membuat kesalahan besar yang akan membuat hubungan Hasna dengan mertuanya tidak baik-baik saja.
"Aku juga minta maaf, mungkin karena hal ini, hubungan kamu dengan ibu mertuamu tidak baik. Maaf." Ucap Kevin dengan nada penuh penyesalan.
"Hubungan kami baik-baik saja. Bahkan aku baru tahu masalah ini dari Mas Kevin langsung." Ucap Hasna.
"Jadi?"
Hasna mengangguk, membenarkan ucapannya barusan. Dan suasana kembali hening dengan sendirinya.
"Apa kamu mencintai suami kamu?" Tanya Kevin. Hasna menoleh ke arah laki-laki itu.
"Maaf." Lirihnya. Lantas Hasna tersenyum.
"Dia suamiku, maka aku pun berkewajiban untuk mencintai dia." Jawab Hasna.
"Apa kamu bahagia?" Sekali lagi Hasna tersenyum mendengar pertanyaan lelaki di hadapannya.
"Ya, kami bahagia." Angguk Hasna.
"Aku turut bahagia, jika kamu bahagia bersama dia." Kevin memaksakan senyuman di kedua sudut bibirnya.
"Jika Mas Kevin tidak keberatan, sebentar lagi suamiku akan menjemputku. Mas Kevin bisa bertemu dengannya." Ucap Hasna.
Tidak. Kevin tidak sebodoh itu. Hatinya terluka. Tidak mungkin ia akan menaburinya dengan segenggam garam. Akan terasa sangat sakit.
Sungguh tak sanggup jika dirinya bertemu dengan laki-laki yang telah memenangkan hati perempuan dihadapannya.
Drrrtt...drrrtt...
Ponsel milik Kevin berbunyi, ada panggilan masuk. Ini kesempatan bagus yang akan ia gunakan untuk menutup luka di hatinya.
***
selamat berakhir pekan teman-teman.
semoga kalian terhibur ya...
selalu dukung Rama dan Hasna ya...
doakan juga biar Kevin menemukan jodohnya.
jangan lupa like, komen, gift juga votenya.
makasih.
__ADS_1