
Seharian menemani Hasna fitting gaun pernikahan membuat Rama benar-benar merasa pusing. Sebenarnya bukan Hasna maupun gaun yang akan dipakai yang menjadi pemicunya, tapi lebih pada permintaan anehnya.
Dimana-mana calon mempelai pasti menginginkan jika calon istrinya akan terlihat cantik di hari spesial mereka. Tapi berbeda dengan Rama, laki-laki itu justru tak menginginkan jika istrinya terlihat cantik.
Hasna perempuan yang cantik, bahkan selalu cantik tanpa make up yang menghiasi wajahnya. Dengan wajah polosnya saja sudah dapat memikat dua lelaki sekaligus, Ivan juga cowok tengil itu, Bian.
Dengan melihat kejadian itu, mana mungkin Rama membiarkan istrinya cantik di mata lelaki lain.
"Bagaimana, masih tidak cocok?" Tanya pemilik butik.
"Gaunnya sudah sangat simpel, masih nggak cocok juga?" Tanya Mama sedikit kesal.
Rama mendengus saat melihat tubuh bagian atas istrinya. Gaun itu memang simpel seperti keinginannya tapi sangat pas menempel di tubuh Hasna. Bahkan lekuk tubuh Hasna tercetak jelas.
"Kenapa bagian atasnya terlalu terbuka begitu?" Protesnya.
"Tenang ganteng, nanti kita kasih cape buat nutupin harta Mbak cantik." Pemilik butik mengerlingkan matanya nakal saat mengucapkan kata "harta".
Rama terdiam seketika. Bulu kuduknya meremang saat melihat laki-laki jadi-jadian itu.
"Dua minggu lagi bisa fitting ulang, kalau cucok langsung cus bungkus." Lanjutnya.
Sepertinya Rama tidak bisa berkutik saat menghadapi makhluk yang serupa dengan dirinya tapi memiliki aura seorang penari jaipong, gemulai. Rama hanya mengangguk setuju. Jangan sampai dirinya di colek seperti sabun. Apalagi jemari lentiknya sudah dekat dengan dagu Rama, membuatnya harus ekstra waspada.
Semua yang berada di ruangan itu bisa bernafas lega, terutama Hasna. Perempuan itu tidak perlu mencoba gaun lagi setelah ini. Sungguh lelah rasanya.
"Oke, nanti tinggal di rombak sedikit, pasti sudah cucok. Apalagi Mbaknya sangat cantik." Puji pemilik butik. Jemari lentiknya hampir saja mencolek dagu Hasna, tapi bisa di tepis oleh Rama dengan cepat.
"Singkirkan tanganmu." Peringatnya.
"Mas." Ucap Hasna membolakan matanya.
"Aww...jangan KDRT ganteng." Laki-laki jadi-jadian itu mengusap tangannya yang di pukul Rama.
"Rama." Tatapan Mama seolah memberi peringatan.
"Maaf loh Sonia, Rama sukanya gitu." Ucap Mama merasa tidak enak.
"Iya nggak apa-apa, Tante. Rama suka kebiasaan emang. Untung buka aku mempelainya." Ucap Sonia, si pemilik butik. Sekali lagi Rama bergidik ngeri.
"Oke, langsung sama asisten saya seperti biasa ya." Sonia hendak beranjak, namun di cegah oleh Rama.
"Tunggu." Ucap Rama.
"Ada apa lagi sih ganteng?" Sonia memutar bola matanya malas.
"Gaun ini masih membuat Hasna terlihat cantik." Cicit Rama.
Kini semua yang berada di ruangan sama-sama membolakan mata mereka dengan sempurna.
"Rama."
"Maaasss." Rasanya Hasna sudah tak bertenaga untuk mencoba gaun lagi.
"Terus maunya gimana?" Tanya Sonia malas.
"Apa ada yang bisa membuat wajah Hasna tidak terlihat cantik nantinya.?"
"Ya, ntar Mbak Hasna aku pakein masker sekalian cadarnya, biar makin rapat tu muka." Jawab Sonia kesal.
"Lagian, heran deh. Semua klien yang fitting gaun di sini selalu bilang, tolong tunjukin gaun yang bisa bikin calon istri saya terlihat cantik di hari spesial kami. Lah ini minta istrinya jangan sampai terlihat cantik. Aneh." Cibir Sonia dengan bibir lemesnya.
"Tau nih, ntar yang ada dikiranya kita nggak mampu membuat Hasna terlihat cantik seperti pengantin. Emang kamu mau, istri kamu jadi bahan olokan para tamu nantinya?" Ucap Mama.
Benar juga, tapi.... Ah, sudahlah.
Akhirnya Rama menyetujuinya, dan akan fitting ulang dua minggu lagi.
***
Rama terdiam di ruang kerjanya. Gara-gara menemani Hasna, ia sampai lupa akan rencananya tadi siang.
__ADS_1
"Saya butuh bantuan kamu." Ucap Rama pada seseorang melalui sambungan telepon.
"Apa yang bisa saya bantu?" Tanya seseorang dari seberang sana.
"Tolong bantu saya menyelidiki..." Rama menceritakan detail kejadian yang menimpanya kemarin siang. Waktu, dan tempat juga ia sebutkan untuk mempermudah penyelidikan.
"Saya hanya ingin tau, siapa dalang di balik semua ini. Karena saya merasa ada yang janggal. Dan saya yakin sekali ini adalah sekenario dari seseorang." Ucap Rama yakin.
"Baik, akan saya usahakan sebelum dua kali dua puluh empat jam."
"Bagus, akan saya tunggu kabar baiknya." Rama mematikan sambungan telepon.
Rama sangat berharap, tidak akan ada kesalahan yang fatal dari kejadian kemarin. Jangan sampai ia merusak masa depan Marissa.
***
Tok, tok, tok.
"Masuk."
Ivan masuk ke dalam ruangan Rama. Rupanya laki-laki itu tengah sibuk memeriksa laporan di meja kerjanya.
"Maaf, Pak, hanya mengingatkan jika hari ini ada pertemuan dengan Pak Dirga. Beliau mengundang Bapak untuk makan siang." Ucap Rama.
"Pak Dirga?" Tanya Rama memastikan. Kedua alisnya bertaut tajam.
"Iya, Pak."
"Bukannya undangan itu dua hari yang lalu?" Ivan nampak berpikir. Sepertinya dia tidak salah memberikan informasi.
"Tidak, Pak. Beliau memang mengundang dari seminggu yang lalu, dan sekretaris beliau baru saja mengingatkan jika hari ini pertemuannya." Ucap Ivan yakin.
Seperti ada kejanggalan atas kejadian yang ia dan Marissa alami dua hari yang lalu. Lebih baik ia menghadiri undangan rekan bisnisnya itu, siapa tau akan menemukan titik terang.
"Baiklah."
Tidak masalah, setidaknya ia akan mengumpulkan bukti, jika apa yang mereka alami di hotel kemarin hanyalah sebuah sekenario dari seseorang.
***
Pertemuan mereka kali ini berada di sebuah restoran Jepang, bukan restoran di sebuah hotel mewah seperti kemarin itu.
Pak Dirga sudah terlebih dulu sampai di temani oleh sekretarisnya. Laki-laki paruh baya itu berdiri menyambut kedatangan Rama.
"Selamat siang, Pak Rama." Pak Dirga mengulurkan tangan untuk saling berjabat dengan Rama.
"Selamat siang, Pak Dirga. Apa kabar?" Tanya Rama.
"Baik, Pak. Silahkan." Ucap Pak Dirga, mempersilahkan Rama duduk.
Setelah basa basi menanyakan kabar, akhirnya mereka membahas kerjasama yang di lakukan oleh perusahaan mereka. Pembicaraan terhenti saat pelayan mengantarkan pesanan.
Mereka membahas pekerjaan dengan serius sembari menikmati makan siang. Hingga pada akhirnya Rama menanyakan poin terpenting pertemuannya kali ini dengan Pak Dirga.
"Pak Dirga, maaf. Boleh saya bertanya sesuatu?" Tanya Rama.
Pembahasan pekerjaan mereka telah usai, Rama pikir tidak akan menjadi masalah saat menanyakan hal yang sifatnya di luar pekerjaan.
"Silahkan, Pak Rama. Kita bisa berbincang santai." Jawab Pak Dirga.
"Maaf, apa sebelum pertemuan kita hari ini, Pak Dirga membuat janji melalui sekretaris saya?" Pak Dirga terlihat mengerutkan keningnya.
"Tidak, kenapa, Pak Rama? Apa ada sesuatu?" Tanya pak Dirga.
"Tidak, Pak. Saya hanya memastikan saja jika saya tidak melewatkan temu janji dengan Bapak. Karena dua hari belakangan ini saya tidak berada di kantor. Saya hanya merasa tidak enak jika pertemuan sebelumnya di reschedule." Rama tersenyum tipis. Sedikit beralasan untuk mencari kebenaran sah-sah saja, bukan.
"Selama tiga hari, kami ada urusan di luar kota, Pak Rama. Makanya pertemuan baru bisa kita lakukan hari ini." Jawab Pak Dirga.
Pak Dirga kembali menikmati makananan di hadapannya. Tapi Rama belum puas dengan jawaban yang diperolehnya. Ia mencoba mencari pertanyaan yang tidak akan membuat kedua orang di hadapannya ini merasa curiga.
"Bu Mala, bisa saya minta tolong. Maaf jika merepotkan." Ucap Rama dengan seulas senyuman.
__ADS_1
Bu Mala, sekretaris Pak Dirga adalah seorang wanita yang usianya jauh lebih tua dari Rama. Beliau sangat profesional dengan pekerjaannya, makanya Pak Dirga sangat cocok berpartner dengan wanita itu. Sikap beliau yang ramah selalu membuat siapapun merasa nyaman.
"Silahkan, Pak Rama. Apa yang bisa saya bantu?" Jawab beliau ramah.
"Emm...sebenarnya saya tidak enak mengatakannya, karena akan merepotkan ibu nantinya, dan terkesan tidak profesional dalam bekerja." Rama benar-benar merasa tidak enak kali ini.
"Tidak apa-apa, Pak Rama. Anda tidak perlu sungkan. Jika saya bisa membantu, dengan senang hati saya akan bantu Pak Rama." Ucap wanita itu lagi.
"Maaf, apakah nanti saya bisa minta salinan file pembahasan poin kerjasama yang kita bahas hari ini? Maksud saya, ada beberapa poin yang belum sempat saya masukkan ke dalam list. Biasanya saya selalu mengajak asisten atau sekretaris saya, tapi untuk kali ini keduanya sedang berhalangan. Jadi, saya sedikit kerepotan. Saya mohon bantuannya. Agar kedepannya tidak terjadi kesalahan." Ucap Rama.
"Ah, baik, Pak Rama. Anda tidak perlu mengkhawatirkannya, saya sangat paham akan hal itu. Memang akan sangat repot jika tidak membawa asisten atau sekretaris saat ada pertemuan penting seperti sekarang. Nanti akan segera saya kirimkan via email." Jawab Bu Mala.
"Terima kasih banyak, Bu Mala. Saya sekali lagi mohon maaf, karena untuk pertemuan kali ini saya sedikit terlambat hingga membuat Pak Dirga dan Bu Mala menunggu saya." Sekali lagi Rama tersenyum sungkan saat mengucapkannya.
"Ah, Pak Rama, tidak perlu sesungkan itu kepada kami. Kami mengundang Pak Rama juga jauh-jauh hari dan baru mengingatkan kembali dua jam yang lalu. Kami bisa memahami jika jadwal Pak Rama sangatlah padat. Terlebih posisi Pak Rama sebagai seorang pemimpin yang pastinya sangat sibuk." Ucap Pak Dirga.
"Bapak, bisa saja." Kekeh Rama.
"Maaf, karena tadi kabar saya dapatkan dari Ivan, karena kebetulan Marissa tengah cuti, jadi mungkin dia baru mengatakannya pada Ivan beberapa saat sebelum saya kemari. Terlebih tempat pertemuan yang berubah." Ucap Rama sedikit berkilah.
Bu Mala mengerutkan kedua alisnya, kemudian saling pandang dengan Pak Dirga.
"Maaf, Pak. Saya memang mengundang Pak Rama melalui Pak Ivan. Jadi saya rasa kami yang terlalu mendadak saat mengingatkan kembali pertemuan ini. Jadi maafkan kami. Dan untuk tempat, saya rasa, kami tidak merubahnya." Ucap Bu Mala.
"Jadi bukan pada Marissa? Maaf, saya pikir Bu Mala menghubungi Marissa yang tengah cuti. Jadi kemungkinan, Marissa sedikit terlambat menyampaikan pesan ini melalui Ivan."
"Tidak, Pak. Saya tidak pernah menghubungi sekretaris Pak Rama. Karena saya selalu menghubungi Pak Ivan secara langsung jika ada pesan dari Pak Dirga."
"Sekali lagi saya mohon maaf, mungkin saya juga salah dengar saat Ivan mengatakan tempat pertemuan yang saya pikir berbeda. Mungkin saya yang tidak fokus saat Ivan menyampaikannya." Rama tersenyum pada keduanya.
"Tidak apa-apa, Pak Rama. Santai saja. Kita bekerjasama bukan hanya sekali ini saja, bukan. Jadi saya sangat paham kesibukan Pak Rama." Ucap pak Dirga.
Rama menghirup nafasnya dalam. Mendengar penuturan dari sekretaris Pak Dirga, ia sudah bisa menyimpulkan jika memang pertemuan mereka memang di adakan hari ini, bukan dua hari yang lalu. Dan mengenai tempat, Rama yakin hotel hanyalah rekayasa.
Ini adalah bukti pertama yang Rama kantongi. Masih ada bukti lain yang belum sampai ke tangannya. Ia harus bisa menunggu, setidaknya sampai besok. Semoga saja akan ada kabar baik nantinya.
***
Beberapa notifkasi masuk ke ponsel Rama. Sejenak ia tepikan mobil untuk melihat dari siapakah pesan beruntun itu ia dapatkan. Ada dua nomor pengirim. Satu dari orang yang ia mintai bantuan untuk menyelidiki kejadian di hotel kemarin, dan satu lagi dari istrinya.
Pesan pertama yang ia buka, pesan dari Hasna. Perempuan itu selalu mengalihkan fokusnya.
~Assalamu'alaikum, Mas Rama. Maaf sepertinya aku pulang sedikit terlambat, karena jalanan yang macet parah.~ Hasna.
Ya, tadi pagi istrinya itu meminta izin untuk menemani Mama, mencari sovenir dan menentukan undangan pernikahan mereka.
~Tidak apa, asalkan langsung pulang tanpa mampir lagi. Aku tunggu di rumah.~ Rama.
Pesan kedua, ini yang Rama tunggu. Ia buka pesan itu dengan dada yang berdebar. Semoga saja bukan hal buruk yang ia terima.
Rama menarik nafas panjang, sebelum akhirnya, ibu jarinya menyentuh untuk membuka pesan itu.
Ada beberapa pesan sekaligus yang dikirimkan. Juga beberapa file foto juga video.
~Sesuai permintaan Pak Rama, saya sudah mengumpulkan bukti yang Bapak minta.~ Mr. X
~Silahkan Bapak periksa, mungkin ada petunjuk yang bisa bapak dapatkan.~ Mr. X
~Tapi mohon maaf sebelumnya, karena saya tidak mendapatkan bukti CCTV yang berada di lorong kamar di mana anda berada saat itu. Menejer hotel mengatakan jika CCTV dalam perbaikan.~ Mr. X
Rama memejamkan matanya sejenak. Jika CCTV yang bisa menjadi kunci dari kejadian ini tidak bisa di akses lalu bagaimana ia akan mendapatkan buktinya?
~Jika Bapak butuh bantuan lagi, saya siap menerima tugas dari Pak Rama.~ Mr. X
Rama tak membalas satu pun pesan yang dikirimkan oleh orang suruhannya. Ia lebih tertarik dengan beberapa file yang dikirimkan kepadanya. Di kliknya satu persatu file itu agar bisa ia ketahui isinya. Dan isinya ternyata...
Rama memejamkan matanya dan menggelengkan kepalanya perlahan.
"Tidak, ini tidaklah mungkin. Hasna..." Lirihnya.
"Hasna, maafkan aku." Lirihnya.
__ADS_1
***