Bidadari Penghapus Luka

Bidadari Penghapus Luka
Bab 94


__ADS_3

Setelah beberapa saat melakukan sesi foto setelah akad. Kini keduanya telah berada di atas pelaminan. Para tamu di persilahkan menikmati jamuan yang telah di sediakan. Ada juga hiburan live musik untuk menghibur para undangan, bahkan beberapa pegawai Hasna menyumbangkan suara mereka. Tak pernah Hasna sangka, ternyata suara Hamzah begitu merdu saat membawakan sebuah lagu tadi.


Rama mengajak Hasna untuk membaur dengan para tamu. Rupanya laki-laki itu ingin menemui beberapa kolega bisnisnya. Tangan Hasna tak pernah terlepas dari genggamannya, seolah tak memberikan istrinya kesempatan untuk menjauh dari sisinya.


"Selamat, Pak Rama. Saya sungguh tidak menyangka jika Pak Rama sudah menikah. Kita menjadi partner bisnis sudah lama. Tapi hal sebesar ini bahkan saya tidak mengetahuinya." Ucap Pak Dirga dengan menjabat tangan Rama. Rama hanya tersenyum mendengarnya.


"Benar Pak Dirga. Saya juga tau saat Pak Andi menyampaikan sambutannya sebelum acara akad tadi." Sahut Pak Irfan.


"Wah, kalau begitu ini namanya pengantin apa, ya?" Tanya Pak Aryo.


"Pengantin hangat-hangat kuku." Celetuk Pak Dirga, yang membuat beberapa rekannya tertawa.


"Pak Dirga bisa saja." Ucap Rama.


"Ngomong-ngomong, bertemu istri pertama kali di mana?" Tanya Pak Irfan.


"Kami bertemu pertama kali saat akad nikah kami yang pertama, di rumah sakit." Jawaban Rama membuat ketiga pria itu terkesiap.


"Gimana ceritanya, Pak Rama? Apa kalian jatuh cinta pada pandangan pertama atau bahkan di jodohkan?" Sahut Pak Aryo.


Rama menoleh pada Hasna yang berada di sisinya.


"Kami menikah karena kami di jodohkan." Jawab Rama tanpa mengalihkan pandangannya dari Hasna. Laki-laki itu tersenyum hangat pada istrinya.


"Wah, sungguh tidak di sangka sama sekali. Sekali lagi selamat Pak Rama." Ucap Pak Dirga dan menjabat tangan Rama bergantian dengan Pak Irfan juga Pak Aryo.


"Terima kasih. Silahkan dinikmati jamuan kami. Kami permisi." Ucap Rama yang kemudian membawa Hasna menjauh dari beberapa rekanannya.


"Rama." Suara Mama menghentikan keduanya.


"Iya, Ma?"


"Sebaiknya kalian istirahat dulu di ruangan khusus mempelai di sebelah sana. Kalian makanlah dulu sebelum nanti kalian kembali ke atas pelaminan." Ucap Mama.


"Baiklah, kami akan ke sana dulu." Ucap Rama.


Rama langsung mengajak Hasna ke ruangan yang tadi di pakai Hasna menunggu sebelum acara di mulai. Ia baru ingat jika nanti akan membutuhkan tenaga ekstra saat berdiri di atas pelaminan berjam-jam lamanya saat para undangan memberikan selamat nantinya.


***


"Assalamu'alaikum, Tante." Bu Diana menoleh ke arah sumber suara.


"Wa, wa'alaikumussalam." Bu Diana begitu terkejut saat mengetahui siapa yang telah menegurnya.

__ADS_1


"Masih ingat dengan saya?" Ucapnya ramah dengan seulas senyuman.


"Nak Kevin?" Kevin mengangguk dengan senyuman yang tak pernah hilang dari kedua sudut bibirnya.


"Bisa saya minta sedikit waktu Tante? Saya ingin membicarakan hal penting dengan Tante." Pinta Kevin dengan sopan.


Bu Diana sedikit menarik sudut bibirnya, meskipun terkesan dipaksakan.


"Baiklah, kita ke sana." Bu Diana mengajak Kevin ke meja kosong di dekat stand dessert.


Bu Diana meminta salah satu penjaga stand dessert untuk menghidangkan kudapan manis itu di meja yang mereka tempati.


Keduanya terdiam tanpa ada yang memulai pembicaraan, hingga beberapa hidangan penutup itu tersaji di atas meja yang mereka tempati.


"Tante, bagaimana kabarnya?" Kevin terlebih dahulu membuka suara untuk sekedar berbasa-basi.


"Alhamdulillah, Nak kevin sendiri?" Kevin menarik sudut bibirnya membentuk lengkungan yang terkesan di paksakan.


"Bagaimana bisa saya menjawab baik-baik saja, karena pada kenyataannya saya sedang patah hati, Tante. Patah hati karena perempuan yang saya cintai telah di miliki putra Tante."


"Alhamdulillah, saya juga baik." Berat sekali pemuda itu menyebutkan kata baik untuk menggambarkan keadaannya saat ini.


Bu Diana terlihat memakan sedikit cheese cake yang berada di piringnya. Karena sejujurnya wanita paruh baya itu bingung untuk memulai obrolan dengan Kevin, laki-laki yang pernah melamar Hasna kepadanya. Karena Bu Diana sendiri masih merasa bersalah pada Kevin, karena tak jujur sedari awal tentang status Hasna. Hingga membuat pemuda itu menaruh harapan besar pada hubungannya dengan Hasna.


"Tante..." Tiba-tiba saja rasanya kata-kata yang sedari tadi di susunnya tercekat di tenggorokan.


"Saya mau minta maaf sama Tante." Akhirnya kalimat itu begitu lancar terucap.


Bu Diana masih menatap pemuda di hadapannya. Pemuda itu benar-benar memiliki keberanian yang luar biasa. Dulu melamar Hasna padanya, sekarang meminta maaf. Bisa di tebak jika maaf Kevin minta saat ini untuk masalah lamaran itu.


"Saya mau minta maaf...soal lamaran itu." Kevin menarik nafasnya panjang.


"Saya benar-benar tidak tau jika Hasna bukan putri Tante, melainkan...menantu Tante." Hatinya terasa nyeri saat mengatakan akhir kalimatnya barusan.


Bu Diana tersenyum ke arah laki-laki yang lebih muda usianya dari Rama itu. Wanita itu terlihat mengangguk kecil.


"Tante juga mau minta maaf sama kamu." Kevin mengangkat wajahnya menatap lurus pada wanita seusia ibunya itu.


"Tante minta maaf, karena tidak jujur dari awal tentang siapa Hasna sebenarnya. Tante hanya merasa tidak memiliki hak ikut campur pada masalah kalian. Tapi justru karena Tante, kamu..."


"Tidak apa-apa, Tante. Saya juga salah, tidak bertanya dulu pada Hasna mengenai statusnya. Saya hanya berpikir Hasna seorang perempuan lajang, karena saya tidak melihat jika Hasna memakai cincin semacam pengikat hubungan." Ungkap Kevin.


Bu Diana menarik nafas sepenuh dada. Ternyata akar dari masalah yang selama ini menimpa Hasna juga Rama, tak jauh dari cincin, dokumen, juga hal-hal yang berbau tentang pengikat pernikahan. Bukan tak menyadari akan hal itu. Sedari awal beliau juga sang suami telah memperingatkan putranya untuk mengurus segala hal tentang pernikahan mereka. Tapi Rama menganggapnya enteng, hingga sedikit demi sedikit masalah timbul karenanya.

__ADS_1


Bu Diana akhirnya mengangguk.


"Ngomong-ngomong, kamu sama siapa kesini?" Bu Diana hanya ingin tau, apakah Kevin mendapatkan undangan langsung dari Hasna atau tidak.


"Saya bersama kedua orang tua saya. Kebetulan Papa saya salah satu kolega bisnis suami Tante, Pak Andi Suryanata." Bu Diana mengangguk paham, tidak mungkin juga Hasna yang mengundang laki-laki yang pernah melamarnya. Bagaimanapun Hasna pasti tidak setega itu pada Kevin. Sengaja mengundang Kevin untuk menyaksikan pernikahannya secara langsung dengan putranya.


"Meja kami ada di sebelah sana." Kevin menunjuk salah satu meja yang ada di barisan tengah.


"Boleh saya menyapa ayah dan ibu kamu?" Kevin sedikit terkejut dengan permintaan mertua dari Hasna itu.


"Ya, tentu saja, Tante." Keduanya pun beranjak menuju meja yang di tempati keluarga Kevin.


Bu Diana dan Kevin nampak berbicara akrab. Sepertinya kecanggungan sudah hilang diantara mereka.


"Ma, Pa." Keduanya orang tuanya mengalihkan fokus pada putranya.


Bu Diana tersenyum hangat pada kedua tamu yang ada dihadapannya kini.


"Perkenalkan, ini Tante..." Kevin menoleh pada Bu Diana.


"Diana." Sahut beliau cepat. Kevin tersenyum saat wanita itu paham akan maksudnya.


"Ini Tante Diana, mertua Hasna." Sepasang suami istri itu saling menatap satu sama lain.


Sepertinya Bu Diana paham akan arti dari kode tatapan mereka.


"Kesalah pahaman diantara kami sudah selesai. Jadi jangan pernah mengungkit masalah ini lagi." Bu Diana tersenyum hangat kepada mereka semua.


"Boleh gabung?" Tanya Bu Diana.


"Ya, tentu saja. Silahkan. Maaf." Ucap Bu Rosita.


"Saya Rosita, dan ini suami saya, Agung."


"Senang berkenalan dengan kalian." Bu Diana menjabat tangan mereka satu persatu.


Obrolan mengalir begitu saja diantara mereka. Pribadi Bu Diana hampir sama dengan Bu Rosita, mudah membuat dengan orang baru. Hingga membuat kedua wanita yang hampir seumuran itu merasa nyaman saat mengobrol.


"Jujur saja, saya sangat malu dengan apa yang telah Kevin lakukan." Ucap Bu Rosita.


"Jangan bicara seperti itu, justru saya begitu bangga dengan putra Bu Rosita, karena memiliki keberanian yang luar biasa. Melamar perempuan pada ibu mertuanya." Ucapan Bu Diana membuat semua tertawa. Hanya Kevin yang terlihat salah tingkah. Laki-laki itu bahkan mengusap tengkuknya demi mengurangi kecanggungan.


"Beneran, saya begitu bangga pada Nak Kevin. Tidak semua laki-laki memiliki nyali sebesar dia. Bahkan putra saya belum tentu bisa." Bu Diana tersenyum hangat pada Kevin yang duduk di sebelah kanannya.

__ADS_1


Kevin tersenyum mendengar pujian wanita yang duduk di sisi kirinya itu. Baru dua kali bertemu, tapi Kevin seperti sudah lama mengenal Bu Diana. Itu karena Bu Diana begitu ramah pada dirinya juga keluarganya.


"Saya harap, pertemuan kita tidak hanya sampai di sini. Semoga akan ada pertemuan-pertemuan selanjutnya." Ucap Bu Diana. Setelahnya beliau pamit untuk menemui tamu yang lainnya.


__ADS_2