Bidadari Penghapus Luka

Bidadari Penghapus Luka
Bab 36


__ADS_3

Setelah melaksanakan kewajibannya dan mencarikan Rama makan malam, segera ia kembali ke ruang rawat suaminya. Ternyata Rama sedang diperiksa dokter visit.


Hasna hanya berdiri menyimak apa yang disampaikan oleh dokter muda yang memeriksa suaminya. Ternyata untuk satu bulan kedepan, lengan Rama akan tetap dipasang gips agar cederanya tidak parah. Sedangkan hasil pemeriksaan di kepala suaminya tidak ada masalah. Syukurlah, Hasna bisa bernafas lega.


Sepeninggal dokter, Hasna kembali mendekat disisi ranjang suaminya.


"Mas Rama mau makan dulu atau sholat dulu?" Tawarnya.


Pandangan laki-laki itu beralih pada istrinya.


"Saya ingin ke kamar mandi."


Hasna sedikit terkejut dengan keinginan suaminya. Tidak ada yang salah memang, mengingat laki-laki itu memang sekarang bergantung karena kondisinya.


Hasna berusaha menguasai ketegangan yang menyelimuti sekujur tubuhnya. Perempuan itu pun melangkah lebih dekat ke sisi ranjang untuk membantu suaminya turun.


Diulurkan tangan kanannya, agar Rama bisa berpegangan padanya. Untuk beberapa detik lelaki itu bergeming menatap tangan Hasna yang terjulur dihadapannya. Tapi dia juga butuh ke kamar mandi. Akhirnya diulurkan pula tangan kirinya.


Hasna membantunya turun perlahan. Mengambil infus yang telah dimatikan alirannya. Hasna mengimbangi gerakan Rama secara perlahan. Baru beberapa langkah Rama merasakan kepalanya sedikit merasa pusing, hingga membuat langkahnya terhenti.


"Mas Rama baik-baik saja? Apa ada yang sakit?" Dari nada bicaranya, perempuan itu sangat khawatir pada suaminya.


Rama hanya menggeleng dan melanjutkan langkahnya perlahan. Sampai didepan pintu kamar mandi, Hasna yang terlihat mulai gelisah. Tak mungkin juga ia mengikuti Rama hingga masuk ke dalam. Hingga ia menghentikan langkahnya.


Rama menoleh ke arah Hasna yang tiba-tiba berhenti dengan penuh tanda tanya.


"Ada apa?"


"Emmm...apa aku harus ikut masuk juga?" Pertanyaan polos itu keluar dari bobir seorang istri pada suaminya.


"Tolong letakkan kantong infusnya ditempat yang agak tinggi." Hasna menuruti permintaan suaminya, kemudian membantu Rama masuk ke dalam kamar mandi. Setelahnya ia kelar lagi dan menunggu didepan pintu kamar mandi.


Gerakan Rama benar-benar terbatas, tak seleluasa saat sebelum kecelakaan. Sepertinya laki-laki itu kesulitan untuk sekedar melepaskan celananya dan buang air kecil. Sepuluh menit berlalu, tetap saja belum berhasil melepasnya, karena untuk sekedar menunduk saja kepalanya masih pusing dan bahunya merasakan nyeri luar biasa.


Cklek


Wajah Rama menyembul dibalik pintu. Seketika Hasna menoleh ke arahnya.


"Sudah selesai?" Perempuan itu mendekat, hendak membantu Rama keluar kamar mandi.


Rama hanya menggeleng, membuat Hasna menautkan kedua alisnya. Jika belum selesai kenapa harus keluar, pikir perempuan itu.


"Lalu?"


"Saya butuh bantuan." Lirih lelaki itu, sungguh ia malu mengatakannya.


Sekarang Hasna kikuk sendiri. Apa harus dia yang membantu Rama melakukan kegiatannya di kamar mandi? Memikirkan hal itu membuatnya salah tingkah.


"Tolong panggilkan perawat laki-laki." Pinta Rama, membuat Hasna sedikit lega mendengarnya.


Hasna segera keluar dari kamar rawat, meminta bantuan perawat laki-laki untuk membantu Rama. Lima menit kemudian dia kembali bersama seorang perawat yang kira-kira seusia Rama.


Perawat pun membantu Rama menuntaskan hajatnya di kamar mandi. Setelah itu membantunya kembali di atas ranjang.

__ADS_1


"Terima kasih banyak." Ucapnya.


"Sama-sama. Mas ini aneh, kok nggak mau dibantuin sama istri sendiri? Kalau saya jadi Mas, malah senang saya bisa manja-manjaan sama istri. Istilahnya sambil menyelam minum air. Apalagi kamar mandi juga sempit." Ucap perawat itu sambil terkekeh geli, melihat suami istri itu.


Keduanya merona mendengar ucapan perawat itu. Aneh memang, biasanya lebih nyaman jika dibantu suami atau istri dari pada tenaga medis jika ke kamar mandi. Lebih leluasa saja, karena pasangan yang lebih tau luar dalamnya kita.


"Pasti pengantin baru ya?" Tebak laki-laki berseragam hijau muda itu.


Perawat itu paham saat melihat dari ekspresi yang ditunjukkan keduanya, masih terkesan malu-malu.


"Namanya pernikahan itu pasti ada ujiannya, mungkin ujian kalian di awal-awal pernikahan. Semoga setelah ini kalian mendapatkan kebahagiaan." Ucap perawat itu lagi.


Hasna mengaminkan ucapan perawat dihadapannya itu. Semoga saja ujian pernikahan mereka ada di awal, dan setelahnya hanya kebahagiaan yang dirasakan.


" Kalau begitu saya permisi dulu. Semangat sembuh, Mas. Kasihan kalau istri secantik ini dianggurin lama." Goda perawat itu, lalu keluar dari kamar Rama.


Setelahnya Hasna membantu suaminya untuk bertayammum dan melaksanakan kewajibannya. Setelah itu menyuapi Rama dan memberikan obat agar suaminya segera dapat beristirahat.


"Kamu sudah makan?" Tanya Rama setelah dibantu untuk berbaring.


Hasna menggeleng.


"Nanti saja." Jawabnya pelan.


"Makanlah, jangan sampai kamu sakit juga. Bisa-bisa saya yang kena omel Mama." Terdengar ketus memang, tapi setidaknya membuat Hasna merasa diperhatikan.


***


Hasna membuka laptop yang ia ambil dari mobil untuk mengusir rasa bosannya. Membuka-buka akun sosial media gerai usahanya. Sesekali menyuapkan makanan yang sempat ia beli tadi.


"Assalamu'alaikum, Nay."


"Wa'alaikumussalam, Mbak. Gimana kondisi Kak Rama?" Gadis itu terlihat mengkhawatirkan kakak lelakinya.


"Alhamdulillah, Mas Rama lagi istirahat setelah minum obat tadi." Hasna mengarahkan kamera ponselnya ke arah Rama yang tengah beristirahat.


Ternyata bukan hanya Nayla, ada mertuanya juga di video panggilan itu. Mereka begitu mengkhawatirkan kondisi suaminya. Hasna menjelaskan hasil pemeriksaan yang ia dengar dari dokter visit tadi.


"Jadi, kapan bisa pulang?" Tanya Mama mertua.


"Masih belum tau, Ma. Masih akan dilakukan observasi lagi pada cidera bahunya. Doakan semuanya baik-baik saja ya, Ma."


"Pasti sayang. Mama, Papa, juga adik kamu akan mendoakan kesembuhan Rama."


"Kamu sudah makan, nak?" Kini ganti suara papa mertua yang terdengar.


"Sudah, Pa. Ini lagi makan." Hasna menunjukkan kotak nasi diatas meja yang tinggal setengah.


"Jaga kesehatan kamu juga, jangan sampai kamu menjaga Rama, sampai lalai menjaga kesehatan kamu sendiri." Pesan Pak Andi.


"Maafkan Papa yang belum bisa ke sana, tidak seharusnya juga kamu yang perempuan menjaga di rumah sakit. Tapi Papa baru saja tiba di rumah, dan diberi Mama kabar kalau Rama kecelakaan." Memang terlihat jika mertuanua itu masih mengenakan setelan kerja lengkap.


"Iya, tidak apa-apa, Pa. Cukup do'akan kesembuhan buat Mas Rama."

__ADS_1


"Pasti, nak. Sebaiknya kamu istirahat, ini sudah malam. Papa tutup dulu ya, assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Hasna menyelesaikan makan malam yang tertunda, kemudian bersih-bersih di kamar mandi. Setelahnya mengunci pintu kamar dan membaringkan diri di atas sofa yang terletak di dalam ruang rawat Rama.


***


Hasna terganggu dalam tidurnya, saat mendengar pintu yang terbuka. Ternyata Rama, sepertinya dari kamar mandi, terlihat dari celananya yang basah dari batas lutut hingga ke bawah.


Hasna segera bangkit dan menghampiri suaminya. Membantunya berjalan kembali menuju ranjang pasien.


"Kenapa Mas Rama tidak membangunkan Hasna?" Tanya Hasna setelah membantu Rama kembali membaringkan tubuhnya.


"Ini sudah dini hari, tak mungkin ada perawat yang lewat kan?" jawabnya datar.


Hasna terdiam mendengar perkataan suaminya. Ya, Rama hanya mau dibantu perawat, karena dia sendiri juga pastinya akan canggung saat membantu suaminya.


"Celana Mas Rama basah, Hasna bantu ganti ya." Tawarnya.


Tanpa persetujuan dari Rama, Hasna segera mengambil baju ganti pasien yang berada di dalam lemari kecil disudut ruangan. Jika tidak segera diganti, suaminya itu bisa-bisa demam, karena masuk angin.


Perempuan itu menutup bagian kaki hingga sebatas dada suaminya dengan selimut. Dengan tangan yang bergetar, ia berusaha melepas celana suaminya yang basah. Tak hanya Hasna, Rama pun merasakan jantungnya berdegup berkali-kali lebih kencang saat celana itu ditarik perlahan oleh Hasna.


Hasna memasangkan kembali dengan celana yang baru. Saat tangan lembut Hasna menyentuh kulit kakinya, membuat Rama seketika menahan nafasnya.


"Aneh, ini sungguh aneh. Kenapa aku merasa gugup luar biasa? Bahkan Hasna tak melihat apa yang ada dibalik selimut ini. Tapi perlakuannya, sungguh membuatku.... aaahhh"


Rama mengeram dalam hati. Menghirup nafas dalam, berusaha mengontrol degup jantung yang berirama tak karuan. Jangan sampai suara degup jantungnya terdengar sampai ditelinga Hasna. Itu sangat memalukan.


Laki-laki itu memperhatikan wajah cantik alami istrinya. Bahkan masih terlihat cantik saat bangun tidur. Sepertinya perempuan itu juga merasakan kegelisahan yang sama dengannya.


"Maaf, Mas. Bisa bantu angkat panggulnya sedikit?"


"Hah?"


Rama tidak sadar jika celana yang dipakaikan Hasna sudah hampir sampai atas. Malu rasanya, tapi apa boleh buat. Tak mungkin juga ia tidur dengan celana yang basah setengahnya.


Perlahan ia menggerakkan panggulnya dengan bertopang tangan kirinya. Lagi-lagi nafasnya serasa terhenti saat Hasna berada beberapa senti lebih dekat dengan wajahnya. Bahkan aroma parfum perempuan itu memenuhi indera penciumannya.


"Aromanya begitu menenangkan, seperti orangnya yang selalu membuat hati tenang."


Rama merutuki perkataannya dalam hati, bisa-bisanya dia membatin seperti itu dalam keadaan tidak sadar.


Hasna memungut celana Rama yang basah dibawah tempat tidur. Dan akan ke kamar mandi setelahnya.


"Terima kasih." Ucap Rama.


Hasna menghentikan langkah dan tersenyum ke arah Rama, lalu mengangguk kecil.


Beberapa menit Hasna berada di kamar mandi, perempuan itu terlihat lebih segar dengan buliran air yang menghiasi wajahnya.


Hasna mulai menggelar sajadahnya, dan menunaikan sholat malamnya. Setelahnya mengaji beberapa lembar mushaf sambil menunggu waktu shubuh.

__ADS_1


***


__ADS_2