
Dengan dada yang berdebar hebat, Rama mengumandangkan adzan di telinga kanan putranya, lalu iqomah di telinga kirinya. Air mata pun tak mampu lagi ia bendung. Rasa bahagia yang membuncah di dada, juga rasa haru karena putranya lahir dengan sehat dan selamat, membuatnya meneteskan air mata bahagia.
"Sus, bisa bantu saya untuk mengambilnya? Saya ingin menggendong putra saya." Ucap Rama pada perawat setelah mengadzankan putranya.
Perawat membantu Rama mengambil bayi yang baru Hasna lahirkan dari dalam boks. Dengan sangat berhati-hati Rama menerima makhluk mungil itu dan membawa ke dalam dekapannya.
"Tahan seperti ini ya, Pak. Jaga agar kepala bayi tetap tersangga dengan baik." Ucap perawat yang memberikan arahan pada Rama.
"Baik, terima kasih."
"Kalau Bapak butuh bantuan, saya ada di ruang paling ujung."
"Sekali lagi, terima kasih, suster." Lantas perawat itu pun meninggalkan Rama di ruangan Hasna.
Rama memandang wajah putra pertamanya. Sungguh tampan. Hidungnya terlihat mancung. Serta bibir merah diantara kedua pipi yang nampak bulat. Sangat menggemaskan.
"Assalamu'alaikum, anak ayah." Rama mencoba berkomunikasi dengan bayi mungil itu, meskipun belum bisa merespon ucapannya.
Rama menimang-nimang bayi yang baru lahir itu dengan penuh kehati-hatian, meskipun ia sendiri begitu kaku mendekap makhluk mungil itu. Bahkan hampir satu jam ia menggendongnya.
Hasna menggeliat saat mendengar samar-samar suara orang yang tengah bersenandung. Perempuan itu memindai sekeliling, senyumannya terukir saat mendapati Rama yang tengah menimang bayi mereka.
"Mas." Rama menoleh dan mendekat pada istrinya.
"Sudah bangun?" Tanya Rama.
Hasna tersenyum ke arah Rama, lantas mencoba untuk bangun.
"Tidak perlu, istirahatlah." Cegah Rama. Hasna pun mengurungkan niatannya, dan kembali berbaring. Rama mendekat dan duduk di ranjang yang Hasna tempati.
"Apa masih lelah?" Pertanyaan yang mampu membuat Hasna tersenyum.
"Sedikit."
"Terima kasih, Sayang. Kamu telah berjuang melahirkan putraku ke dunia. Aku rasa, terima kasih saja tidaklah cukup untuk membalas apa yang sudah kamu lakukan." Ucap Rama. Ia mengingat beberapa jam yang lalu, bagaimana Hasna mempertaruhkan nyawanya demi melahirkan penerusnya ke dunia. Bahkan istrinya hampir saja menyerah.
"Aku juga sangat berterima kasih pada Mas Rama. Karena Mas Rama selalu ada dan mendampingiku berjuang selama hamil hingga melahirkan. Bahkan Mas Rama yang merasakan sakitnya kontraksi." Ucap Hasna, lantas perempuan itu tersenyum.
"Mungkin apa yang aku rasakan tidaklah sebanding dengan apa yang kamu rasakan. Bahkan aku melihat sendiri dengan begitu jelas, hingga berakhir pingsan." Lemas sekali rasanya saat ia mengingat bagaimana kondisi Hasna pasca melahirkan dan masih dalam penanganan dokter.
"Maaf, selama ini mungkin masih banyak sikapku yang kurang baik saat memperlakukan kamu sebagai seorang istri. Padahal kamu selalu menjalankan tugas kamu dengan sangat baik. Dan terima kasih, karena kamu tetap bertahan di sisiku bagaimanapun keadaanku." Hasna tersenyum simpul mendengar ucapan Rama.
Laki-laki itu sudah berubah lebih dewasa dari sebelumnya. Dewasa sesuai usianya. Bukan lagi laki-laki egois yang hanya mementingkan egonya.
"Mama sama Papa sudah pulang?"
"Ada di depan." Jawab Rama tanpa mengalihkan pandangannya dari sang putra yang sedang memainkan lidahnya.
"Mas Rama tidak sholat dulu?"
__ADS_1
"Iya, tunggu adzan selesai."
"Mas Rama sudah siapin nama, belum?" Lanjut Hasna.
"Emmm... Belum." Rama menunjukkan cengirannya pada Hasna.
"Sini, biar si adek sama aku." Pinta hasna.
"Gimana ini?" Tanya rama bingung, bagaimana cara ia memindahkan sang putra ke tangan istrinya.
Hasna perlahan duduk dan mengambil sang putra dengan perlahan dari tangan suaminya. Sesaat Hasna mengamati wajah bayi mungil yang terlelap di pelukannya itu. Sungguh tampan, perpaduan antara wajahnya dan Rama.
"Tidak usah memandangnya seperti itu. Cukup pandangi aku sepuas yang kamu mau. Karena wajah anak kita adalah hasil dari wajah tampan ayahnya." Seloroh Rama.
Hasna melihat Rama sekilas, lalu kembali menatap wajah bayi mungil dalam dekapannya.
"Ya, aku percaya, kalau wajah ayahnya sangatlah tampan." Ucapan Hasna langsung membuat Rama menarik kedua sudut bibirnya dengan sempurna.
"Makanya anaknya jauh lebih tampan dari ayahnya." Sebaris kalimat yang mampu membuat Rama berdecak kesal. Sepertinya posisi lelaki tertampan di hati Hasna akan tergantikan dengan sang putra yang baru lahir beberapa jam yang lalu.
***
"Sarapan dulu, Bu Hasna, sebelum pulang." Perawat meletakkan sepiring nasi lengkap dengan lauk dan sayurannya, juga segelas air putih.
"Banyakin minum air putih, biar cepet kering jahitannya." Seketika Rama menoleh pada dua perempuan itu. Tiba-tiba saja, bulu-bulu halusnya meremang mendengar kata jahitan. Rupanya Rama masih saja terbayang-bayang.
"Mari saya bantu ke kamar mandi, biar Bu Hasna bersih-bersih dulu."
"Oh, baik, Pak." Perawat mengambil alih bayi dalam gendongan Rama.
"Pelan-pelan saja dulu. Belajar berdiri, kalau sekiranya tidak pusing, bisa dipakai jalan. Tapi pelan-pelan ya." Ucap perawat.
Rama membantu Hasna untuk turun dari ranjang dan memegang bahunya agar tetap seimbang.
"Pelan-pelan, Sayang." Hasna berdiri untuk beberapa saat, merasakan apakah ia merasa pusing atau tidak.
"Gimana?" Tanya Rama, Hasna menggeleng pelan.
"Kita coba jalan pelan-pelan." Ucap Rama saat Hasna mulai melangkah.
"Sshhh..."
"Kenapa?" Tanya Rama khawatir saat melihat wajah Hasna yang seperti sedang menahan rasa sakit.
"Rasanya sedikit nyeri." Lirih Hasna.
"Pelan-pelan." Rama mengikuti langkah Hasna yang sangat berhati-hati saat melangkahkan kakinya.
"Jadi inget pas kamu bantuin aku ke kamar mandi saat cidera dulu." Ucap Rama di ambang pintu kamar mandi.
__ADS_1
"Iya, tapi aku nggak modus kayak Mas Rama dulu. Mentang-mentang aku masih polos." Ucap Hasna.
"Sekarang udah nggak polos lagi?"
"Udah enggak. Sekarang udah kayak batik, banyak coraknya." Rama tergelak mendengar jawaban sang istri.
"Itu seni namanya. Kalau nggak banyak coraknya, nggak mungkin lahir si adek." Celetuk Rama.
"Aaaww..." Hasna menghadiahkan cubitan di pinggang Rama. Laki-laki itu kalau sudah bicara topik khusus seperti ini, pasti menjurus kemana-mana.
"Sakit, Sayang." Protesnya.
"Lagian, Mas Rama terlalu liar kalau berimajinasi."
"Ya kan kamu yang mulai. Kamu bilang kalau kamu tidak sepolos dulu, sekarang udah kayak batik. Lah kan aku yang buat coraknya."
"Eits...Jangan cubit-cubit lagi, ini area terlarang." Rama menahan pergerakan Hasna yang akan kembali mencubit pinggangnya.
"Udah, ah. Jadi bantuin, tidak? Kalau tidak, biar suster aja."
"Jadi, dong. Kamu duduk sini dulu." Rama mendudukkan Hasna di atas closet.
"Bentar, aku ambil peralatan kamu dulu." Lantas Rama beranjak keluar.
"Jangan lupa pembaluutnya." Rama terhenti di ambang pintu, dan menoleh pada Hasna.
"Pembaluut?" Hasna mengangguk.
"Tapi..."
"Kenapa?"
"Aku malu."
"Tenang aja, nanti yang pakek aku, kok." Rama membolakan netranya lebar-lebar mendengar ucapan istrinya.
"Nggak gitu juga kali, Yang. Maksud aku, aku malu sama suster kalau ambil pembaluut kamu."
"Nggak usah malu, Mas. Lagian suster pasti paham kok. Namanya juga suami bantuin istrinya." Rama nampak berpikir sejenak.
"Pak Rama? Bu Hasna?"
"Dokter Yunita?"
"Bu Hasna mau mandi? Ada yang bisa saya bantu?" Tawar Dokter Yunita.
"Tidak, Dok. Terima kasih." Ucap Hasna.
Rama segera keluar dan mengambil barang Hasna, agar istrinya bisa segera menyelesaikan ritual mandinya.
__ADS_1
***