Bidadari Penghapus Luka

Bidadari Penghapus Luka
Bab 49


__ADS_3

Sifat keduanya berbanding terbalik. Saat Rama merasa memiliki kendali penuh pada perusahaannya, tapi tidak dengan Hasna. Perempuan itu memposisikan dirinya hanya sebagai pemilik modal usaha. Bukan pemilik kekuasaan penuh atas usaha yang dijalankannya.


Apa yang telah dicapai saat ini, Hasna mengatas namakan sebagai kerja keras timnya, bukan karena kepiawaian dirinya sebagai leader.


Seberapa banyak lagi penghasilan istrinya itu, bahkan mungkin lebih besar penghasilan Hasna ketimbang dirinya.


Rasanya sulit dipercaya. Perempuan sepolos dan sesederhana Hasna, ternyata seorang pebisnis handal.


"Saya merasa insecure kalau begini." Sesal Rama.


"Kenapa mesti insecure?"


"Karena uang yang pernah saya kasih sama kamu, tidak ada apa-apanya." Ungkap Rama.


Hasna meraih tangan kiri suaminya. Tak lupa memberikan senyuman yang membuat Rama merasa nyaman.


"Mas, nafkah itu bukan soalan besar atau kecilnya. Tapi, lebih pada keberkahan yang ada di dalamnya. Sebesar dan sebanyak apapun nafkah yang kamu berikan, jika tidak berkah, maka aku akan selalu merasa kurang. Dan itu yang membuat nominal menjadi tolak ukur dalam nafkah."


Rama menatap lekat wajah teduh istrinya. Perempuan itu benar-benar.... Aahhh...bahkan ia tak sanggup mendeskripsikan bagaimana pribadi istrinya itu.


Selama mereka menikah, tak sekalipun Rama mendengar istrinya mengeluh ataupun marah kepadanya. Mengeluh dan marah atas sikapnya, perlakuannya, juga ucapannya yang sering kali kasar. Apalagi tidak ada tempat untuk istrinya berkeluh kesah, tapi tak sekalipun Hasna melampiaskan kekesalannya.


Hasna hidup sebatang kara setelah resmi menjadi istrinya. Seluruh keluarganya menerima istrinya dengan baik, selain dirinya, yang berstatus sebagai suami.


"Sudah malam, ayo kita istirahat." Ucap Rama.


***


Seperti biasanya, Rama tak mendapati Hasna disisinya saat ia terbangun dari tidur. Hasna selalu bangun lebih awal dari sang suami.


Hasna sudah terbiasa bangun jam tiga pagi. Melaksanakan sholat sunnah dan membaca beberapa lembar kitab suci hingga adzan shubuh menjelang.


Seperti sekarang, perempuan itu tengah membaca ayat demi ayat Kalam Allah. Suaranya lembut nan merdu. Karena itu membuat Rama terjaga.


Perlahan laki-laki itu bangkit dari tidurnya. Memposisikan duduk diatas ranjang. Menikmati suara merdu istrinya. Seketika hatinya menjadi damai.


Hasna, perempuan asing yang ia jadikan teman hidupnya. Perempuan yang dengan sabar menemaninya selama dua bulan. Perempuan yang menerima segala masa lalunya. Perempuan yang merawatnya penuh sayang.


"Tuhan, kenapa aku sampai menyia-nyiakan perempuan sebaik Hasna. Perempuan yang Engkau kirimkan untuk menemani perjalanan hidupku. Perempuan yang Engkau pilihkan untuk menyempurnakan separuh agamaku. Aku telah dibutakan kebencian masa lalu, hingga tak melihat batapa tulus ia membersamaiku."


"Aku bukanlah lelaki yang baik, namun Engkau pilihkan perempuan sebaik dia. Aku lelaki egois, tapi engkau berikan perempuan selembut dia. Jika kami ditakdirkan berjodoh, jagakanlah hatinya hanya untukku, ya Allah."


Ya, Hasna adalah perempuan yang mampu membuat hatinya kembali bergetar. Membuat hatinya kembali merasakan getaran cinta. Rama kembali merasakan jatuh cinta. Jatuh cinta kepada perempuan yang telah dinikahinya.


Mungkin terlalu cepat rasa itu datang. Tapi memang itulah yang Rama rasakan. Ia mulai mencintai Hasna.


Kini perempuan itu beralih menatapnya. Entah sejak kapan Hasna menyelesaikan kegiatannya. Adzan shubuh tinggal beberap menit lagi.


Hasna berjalan menghampiri Rama yang masih betah dengan posisinya. Perempuan itu tersenyum lembut ke arahnya.


"Maaf, jika mas Rama terbangun karena aku." Rama menarik sedikit sudut bibirnya.


"Tidak, ini sudah saatnya saya bangun. Sebentar lagi shubuh." Ucap Rama.


"Mau aku bantu?"


"Tentu saja, karena saya tidak mau ada yang membantu saya kecuali kamu." Rama menatap lekat wajah istrinya yang bersemu merah.


"Duduklah, temani saya sebentar saja." Pinta Rama.


Hasna mengikuti permintaan Rama dan duduk di samping laki-laki itu. Kedua manik mereka bertemu.


Rama memindai setiap jengkal wajah sang istri. Sungguh cantik alami. Perempuan itu benar-benar cantik. Tak hanya parasnya, namun juga hatinya.


"Kenapa Mas Rama lihatnya begitu? Mata Hasna ada kotorannya, ya?" Hasna membersihkan sudut matanya, barangkali ada kotoran yang menempel disana.


"Tidak." Rama masih menatapnya intens.


"Lalu kenapa lihatnya begitu?" Tatapan Rama benar-benar membuatnya salah tingkah.


"Apa salah, saya melihat istri saya sendiri?" Tanya Rama. Pandangannya tak lepas dari Hasna.


"Tidak." Hasna menggeleng dan membuang muka.

__ADS_1


"Kenapa berpaling?"


"A...aku..."


"Menghadaplah kemari." Pinta Rama.


Hasna semakin salah tingkah saat jarak keduanya semakin terkikis. Hasna meremas pelan jari jemarinya yang bertaut dipangkuan.


"Kenapa membuang muka? Saya jelek ya kalau bangun tidur?" Ucap Rama setengah berbisik ditelinga kirinya.


"Ti...tidak." Hasna menggeleng pelan. Rama tersenyum dibuatnya.


"Lalu?"


Hasna memejamkan matanya, dan menoleh perlahan pada Rama. Bukan karena penampilan suaminya saat bangun tidur yang menjadi masalah, tapi tatapan Rama lah yang membuat ia malu juga risih jika ditatap seperti itu.


Rama tetap pada posisinya, menunggu reaksi sang istri. Perempuan itu memulai pergerakannya. Degup jantung keduanya berpacu, manakala kedua ujung hidung mereka bersentuhan.


Hasna tak sanggup membuka matanya. Ia akan semakin tak bisa mengendalikan debaran di dadanya. Rama ikut larut dalam suasana, dan memejamkan mata lebih mendekat pada istrinya.


Sedikit lagi, hanya tinggal lima senti lagi. Bahkan hangat nafas keduanya sama-sama menyapu permukaan kulit wajah.


"Sudah adzan." Hasna sedikit memundurkan tubuhnya.


Rama memejamkan matanya sedikit merasakan kekesalan. Kini keduanya menjadi salah tingkah.


***


Setelah sarapan, Rama mengajak istrinya untuk kembali ke rumah mereka. Karena Rama ada janji bertemu dengan pengacaranya. Hari ini rencananya, Rama akan mengurus dokumen pernikahannya melalui pengacara.


Keduanya sedikit canggung karena kejadian subuh tadi. Hasna fokus menyetir, sedang Rama fokus pada jalanan di depan.


"Ehemm... Hari ini Pak Darmawan akan ke rumah, beliau yang akan membantu kita mengurus dokumen pernikahan. Nanti tolong kamu bantu melengkapi berkas punya kamu." Ucap Rama.


"Iya."


Hanya kata itu yang Hasna ucapkan. Setelahnya tak ada percakapan diantara keduanya, hingga sampai di depan rumah. Hasna turun dan membuka gerbang. Kemudian kembali melajukan mobil memasuki halaman.


"Saya akan mencari security setelah ini." Kata Rama.


"Iya." Rama menoleh pada Hasna, sepertinya ada yang akan istrinya sampaikan.


"Ada apa?" Tanya Rama.


"Emm... Apa boleh, aku mempekerjakan Pak Mamat? Beliau, sekuriti di rumah almarhum Kakek dulu." Ucap Hasna penuh harap.


Rama nampak berpikir sejenak, hingga mengangguk pada akhirnya.


"Ya, boleh. Kamu hubungi saja Pak Mamat itu. Suruh kesini, dia sudah bisa bekerja mulai hari ini."


"Mas Rama serius?" Hasna menatap tak percaya.


"Iya, kamu atur saja."


"Baiklah, makasih." Hasna nampak bahagia sekali, saat Rama mengizinkan Pak Mamat bekerja di rumah mereka.


Keduanya memasuki rumah agar bisa segera menyiapkan berkas yang dibutuhkan untuk mengurus dokumen pernikahan mereka.


"Sudah, semuanya sudah aku masukkan ke dalam map ini." Hasna menyerahkan sebuah map kepada Rama.


"Nanti biar dicek dulu sama pak Darmawan." Rama menyimpannya di atas ranjang kamar Hasna.


"Duduklah, ada yang ingin saya sampaikan sama kamu."


Hasna duduk di sebelah Rama diatas ranjang. Sepertinya ada hal serius.


"Saya berencana akan mengadakan resepsi pernikahan setelah kondisi saya pulih. Kemarin malam, Mama sempat menyinggung lagi masalah itu." Rama sedikit menggeser posisinya agar bisa berhadapan dengan Hasna.


"Menurut kamu, bagaimana?" Hasna menoleh kepada Rama.


"Aku ikut aja apa mau Mas Rama." Jawabnya.


Rama sedikit mengernyit mendengar jawaban yang diberikan Hasna. Kenapa istrinya itu nampak biasa saja, tidak seantusias perempuan lainnya jika menyangkut masalah resepsi yang akan dilakukan sekali seumur hidup.

__ADS_1


"Apa kamu ada konsep, atau pernikahan impian?" Tanya Rama. Ia ingin tau apa yang di inginkan istrinya.


Hasna menundukkan pandangannya. Menghirup nafas perlahan. Pernikahan impian? Pasti ia memilikinya. Dan sangat berharap jika bisa mewujudkannya.


"Tidak." Lirihnya disertai gelengan kecil.


Rama membuang nafas kasar. Apa Hasna memang tidak ingin jika pernikahan mereka dipublikasikan? Apa dia nyaman dengan status pernikahannya sekarang?


"Kenapa? Apa kamu tidak ingin pernikahan ini diketahui banyak orang?" Sergah Rama.


Seketika Hasna menoleh pada suaminya. Kenapa Rama mengatakan hal seperti itu?


"Apa maksud Mas Rama mengatakan itu?"


"Di mana-mana semua perempuan memiliki pernikahan impian, kenapa kamu tidak? Apa kamu nyaman dengan hubungan kita yang seperti ini? Hubungan yang tidak diketahui banyak orang?" Selidik Rama.


"Astaghfirullahal 'adzim." Lirih Hasna. Kenapa laki-laki itu menuduhnya demikian


"Bukan begitu maksudku, Mas. Hanya saja, aku pikir kita tidak perlu mengadakan resepsi seperti yang Mama katakan."


Mama mertua memang menginginkan pernikahan mewah untuk putra pertama mereka. Tidak salah memang, apalagi baik Pak Andi maupun Rama memiliki banyak kolega.


"Kenapa?" Sergah Rama.


"Kamu menyesal menikah dengan saya?" Sarkasnya.


"Astaghfirullah, Mas, istighfar. Tuduhan kamu itu tidak beralasan." Sahut Hasna.


"Saya tidak menuduh, semua sudah jelas. Semua perempuan ternyata sama saja."


"Astaghfirullahal'adzim, jadi kamu menyamakan aku dengan perempuan di masa lalu kamu? Hanya karena aku tidak mengatakan tentang impian pernikahan aku?" Hasna sedikit tersulut emosi dengan perkataan Rama.


"Baik, akan aku katakan pernikahan seperti apa yang aku impikan selama ini. Tolong kamu dengarkan baik-baik. Supaya kamu bisa mewujudkannya."


Hasna sejenak menarik nafas dalam, berusaha meredam gemuruh di dadanya.


"Dari dulu aku memimpikan pernikahan yang sempurna, pernikahan yang indah. Pernikahan dengan seorang laki-laki yang tulus mencintai aku. Dan aku dinikahkan langsung oleh waliku, ayah kandungku. Ayah dan ibu yang dengan bahagianya mengantarkan aku sampai pelaminan, menyerahkan aku kepada laki-laki yang menjadi suamiku. Apa kamu bisa mewujudkannya?" Suara Hasna terdengar bergetar diujung kalimatnya.


Genangan di matanya sudah bersiap menerobos untuk keluar. Bibirnya bergetar menahan isakan yang sudah siap terdengar.


Rama merutuki kebodohannya kali ini. Hubungan mereka mulai membaik tapi sekarang ia membuatnya kacau. Tak seharusnya ia mengatakan hal yang membuat istrinya sakit hati.


Bodoh, dia begitu bodoh. Ia hanya takut jika Hasna akan berpaling. Apalagi perempuan itu memiliki segalanya.


Terlebih saat mengingat bahwa teman kuliah Nayla secara terang-terangan mengungkapkan perasaannya. Ia begitu takut Hasna akan meninggalkannya. Sehingga membuat ia lepas kendali. Dan menyamakan Hasna dengan perempuan yang pernah mengkhianatinya di masa lalu.


"Astaghfirullah, kenapa jadi seperti ini? Seharusnya kami bisa membicarakannya baik-baik. Hanya karena aku takut jika Hasna akan berpaling. Kenapa aku bisa sampai lepas kendali?"


"Maaf, maafkan saya." Sesal Rama.


"Maaf, karena saya lepas kendali. Saya hanya tidak mau kamu berpaling dan meninggalkan saya. Maaf."


Bulir bening itu menerobos paksa. Kedua pipi itu telah basah. Bahu perempuan itu naik turun menahan isakan yang mulai terdengar.


"Maafkan saya Hasna. Saya begitu takut akan kecewa lagi."


"Seharusnya kamu memahami satu hal. Dengan atau tanpa pesta pernikahan, aku tetap istri kamu. Dengan atau tanpa pengakuan mereka di luar sana, tapi Allah dan seluruh malaikat menyaksikan pernikahan kita. Apa yang kamu takutkan, Mas?"


"Kamu takut aku meninggalkan kamu? Kamu takut aku menghianati kamu? Apalagi yang kamu takutkan?"


Rama terdiam, membiarkan Hasna menumpahkan rasa kecewanya.


"Aku tidak akan meninggalkan kamu, kecuali kamu yang memintaku pergi. Aku tidak akan menghianati kamu, karena aku masih memiliki moral. Aku dibesarkan dengan didikan agama. Aku takut jika Tuhanku murka."


Rama merengkuh Hasna ke dalam dekapan. Sungguh ia sangat menyesali semua tuduhannya yang tak mendasar. Terlebih pagi tadi Hasna terkesan menghindarinya, hingga membuatnya lepas kendali. Dan kini istrinya itu merasa sakit ulah ucapannya.


"Sudah cukup, jangan diteruskan. Maafkan saya. Maafkan saya."


Mungkin ini adalah ujian pernikahan mereka. Hanya masalah kepercayaan. Karena sebuah hubungan jika tidak dilandasi dengan kepercayaan maka akan hancur dengan mudah.


***


Sedikit konflik ya...

__ADS_1


Semoga terhibur...


__ADS_2