Bidadari Penghapus Luka

Bidadari Penghapus Luka
Bab 162


__ADS_3

Rupanya Rama sengaja menghindari Hasna dengan kembali ke ruang kerjanya. Bahkan ia pun mandi di kamar mereka yang bersebelahan dengan ruang kerja. Hingga pukul empat sore, Rama masih betah di lantai dua, walau tidak ada yang ia lakukan sama sekali.


Rama akhirnya memutuskan untuk mengecek kondisi sang istri. Bagaimanapun juga Hasna dan calon anak mereka adalah prioritas Rama sekarang.


Cklek


Rama membuka pintu kamar tamu yang mereka tempati, dan mendapati sang istri tengah duduk di sofa kecil di dekat jendela kamar. Istrinya tengah membaca kitab suci dengan mengusap lembut perutnya yang besar. Rama pun mendekat, dan berjongkok tepat dihadapan Hasna.


"Assalamu'alaikum, anak ayah." Ucap Rama sembari mengusap lembut perut Hasna.


Hasna hanya diam dan memperhatikan tingkah Rama. Ia merasakan tendangan dari dalam perutnya. Rupanya bayi dalam kandungannya merespon ucapan ayahnya.


"Anak ayah lagi apa?" Rama kembali mengajak berbicara calon anak dalam kandungan istrinya. Kembali mengusap-usap saat tendangan ia rasa di telapak tangannya.


"Mas?" Rama sedikit mendongakkan kepalanya menatap Hasna.


"Aku mau ngomong sebentar."


"Sebaiknya kita tidak perlu membahas masalah itu." Ucap Rama. Laki-laki itu tahu apa yang akan Hasna bicarakan. Dan lebih baik ia mencegahnya daripada nantinya akan membuat mereka bertengkar.


"Ini penting, Mas." Desak Hasna.


"Aku rasa, tidak ada hal penting yang akan kita bahas." Rama bersiap akan berdiri, namun Hasna menahan lengannya.


"Ini penting bagi aku."


Rama membuang nafasnya dengan kasar. Apa memang sudah saatnya, Hasna mengetahui hal ini? Tapi Hasna butuh pikiran yang rileks menjelang persalinan. Dan Rama tidak ingin Hasna memikirkan hal ini.


"Lain kali saja, ya." Rama mengusap lembut puncak kepala Hasna dan memberikan senyuman hangat.


"Mas_"


"Hasna, saya mohon." Potong Rama. Bahkan laki-laki itu sudah berubah dalam mode serius.


"Sebenarnya apa yang terjadi? Apa Mbak Marissa ditahan?" Rupanya Hasna tidak mendengarkan ucapan Rama.


Rama tetap bungkam, tak berniat menjawab ataupun menanggapi ucapan hasna.

__ADS_1


"Apa Mbak marissa ditahan karena kecelakaan itu?" Rama tetap diam, bahkan tidak melihat sang istri sama sekali.


"Apa Mas Rama yang membuat Mbak Marissa ditahan?"


"Jawab, Mas." Hasna menggoyangkan tangan Rama, karena lelaki itu tetap membisu.


Rama pun segera berbalik, dan akan beranjak, berusaha menghindari pembicaraan dengan Hasna.


"Kalau memang benar, semua kerena Mas Rama, aku benar-benar kecewa."


Sepenggal kalimat yang begitu lancar Hasna ucapkan, mampu membuat Rama benar-benar menghentikan langkahnya.


"Kecewa? Apa maksud kamu?" Tanya Rama.


"Aku kecewa dengan tindakan Mas Rama yang terkesan arogan." Ucap Hasna.


"Di bagian mana saya terlihat arogan?" Rama seolah tidak terima akan tuduhan Hasna.


"Kenapa Mas Rama memasukkan Mbak Marissa ke dalam penjara? Kenapa Mas Rama setega itu?" Rama menautkan kedua alisnya dengan tajam.


"Kamu jangan terlalu naif jadi orang. Jangan sampai kebaikan kamu nantinya di salah artikan." Sahut Rama.


"Aku mengatakan ini bukan karena aku terlalu baik, bahkan terlalu bodoh sebagai seseorang yang pernah menjadi korban kejahatan. Tapi aku mengatakan ini karena aku memikirkan nasib dari bayi yang baru saja Mbak Marissa lahirkan."


"Bagaimana anak sekecil itu bisa tidur nyenyak tanpa dekapan hangat seorang ibu? Bagaimana ia bisa tumbuh baik tanpa hadirnya sosok ibu di sampingnya. Apalagi ia masih bayi dan masih memerlukan ASI ibunya." Kini mata indah itu telah digenangi air mata.


"Andaikan aku yang berada di posisi itu, lalu bagaimana nasib bayiku?" Suara Hasna mulai bergetar. Ia berusaha memposisikan dirinya menjadi Marissa yang dipisahkan paksa dari bayinya.


Inilah salah satu kelemahan Rama, ia tidak akan sanggup melihat air mata di wajah istrinya. Tapi, ia pun tidak bisa melepaskan Marissa begitu saja. Rama berusaha mengokohkan hatinya agar tidak tepancing permintaan konyol istrinya. Laki-laki itu membuang pandangan ke sembarang arah. Berusaha menghindari kontak mata dengan Hasna.


"Kamu sungguh tega, Mas." Lirih Hasna.


"Kamu bilang saya tega? Lalu perbuatan dia ke kamu apa? Dia bahkan tanpa berpikiran panjang mencelakakan kamu, dan hampir membuat kamu kehilangan nyawa." Akhirnya emosi Rama pun kembali tersulut ulah ucapan Hasna. Bahkan nada bicaranya mulai sedikit meninggi.


"Saya hanya memperjuangkan hak kamu memperoleh keadilan. Dan itu menurut kamu salah? Coba katakan, dimana letak kesalahan saya?" Rama menunjuk dadanya di hadapan Hasna dengan nafas yang tidak beraturan.


"Setidaknya kita bisa memaafkan kesalahan Mbak Marissa kan, Mas. Coba lihatlah bayi yang tidak berdosa itu." Suara Hasna terdengar melunak. Rama menggeleng dengan senyuman yang sangat dipaksakan.

__ADS_1


"Memaafkan?" Rama kembali menggeleng dengan tawanya yang sumbang.


"Maafkan saya, Hasna. Saya bukan kamu yang berhati lembut. Hingga saya dengan mudah bisa memaafkan seseorang yang telah mengganggu ketenangan orang-orang yang saya sayangi. Saya tidak sebaik itu." Ucap Rama dengan ekspresi datar yang susah ditebak.


Hasna terdiam. Ia merasa Dejavu dengan situasi mereka saat ini. Hasna merasa jika situasi ini mengingatkannya dengan sikap Rama di awal pernikahan mereka. Dingin, kaku, dan datar.


Hasna tersadar dari lamunannya saat terdengar suara pintu yang di tutup. Rupanya Rama telah meninggalkannya seorang diri di kamar.


***


Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, dan Rama tak kunjung kembali ke kamar mereka di kamar tamu, sejak perdebatan mereka sore tadi. Hasna pun tidak berniat menyusul Rama di atas. Sepertinya ia juga butuh memikirkan masalah ini dengan pikiran jernih.


Mungkin apa yang Rama lakukan tidaklah salah, tapi Hasna pun memikirkan nasib bayi tak berdosa itu. Kesalahan Marissa memang sulit dimaafkan. Tapi bukan berarti ia bisa abai dengan masa depan bayi Marissa.


"Astaghfirullah...maafkan hamba Ya Allah. Tunjukkanlah mana yang harus hamba pilih. Hamba tidak mau jika pilihan hamba nantinya membuat hamba menyesal seumur hidup." Lirihnya.


Rama masih tetap berdiam di dalam ruang kerjanya. Tak berniat melakukan sesuatu. Pikirannya benar-benar kacau. Di satu sisi, ia memperjuangkan keadilan untuk istrinya. Namun di lain sisi, ucapan Hasna membuatnya sedikit goyah.


"Kenapa kamu tidak bisa memahami ku, Hasna? Aku melakukan semua ini demi kamu, demi anak kita. Tapi justru kamu memikirkan nasib perempuan yang bahkan akan melenyapkan nyawa kalian berdua." Lirih Rama.


Sejenak, Rama memejamkan mata. Mengingat saat-saat dirinya hampir kehilangan istri tercintanya. Mengingat bagaimana Hasna bersimbah darah di tempat kejadian. Berjuang melewati masa kritis, hingga ia harus melapangkan dadanya saat Hasna di vonis mengalami koma dalam keadaan hamil buah cinta mereka.


"Maafkan aku, Hasna. Aku tidak akan bisa melepaskan Marissa begitu saja." Tekad Rama sudah bulat. Ia akan tetap melanjutkan perkara ini hingga tuntas.


***


Rama membuka pintu perlahan, berusaha agar tidak menimbulkan suara yang akan membuat Hasna terbangun dari tidurnya. Lampu kamar telah padam, hanya menyisakan lampu tidur sebagai penerang. Hasna pastilah sudah tidur, terlebih ini hampir lewat tengah malam.


Rama menutup pintu kamar dengan hati-hati, agar tidak membangunkan Hasna nantinya. Saat ia berbalik, betapa terkejutnya saat mendapati sang istri masih berada di sofa di dekat jendela. Rupanya istrinya belum tidur.


Rama berjalan mendekat pada Hasna. Perempuan itu tengah menatap langit dari jendela kamarnya. Entah apa yang ia lamunkan, hingga tak menyadari kehadiran Rama di kamar.


"Kenapa belum tidur? Sudah hampir pagi." Ucap Rama.


Hasna menoleh dan mendapati Rama tengah berdiri di belakangnya.


***

__ADS_1


__ADS_2