Bidadari Penghapus Luka

Bidadari Penghapus Luka
Bab 51


__ADS_3

Pak Mamat memperhatikan sekeliling rumah yang kini di tempati oleh cucu almarhum majikannya itu. Rumah ini lebih besar dari pada rumah almarhum Kakek Rusdi.


Pak Mamat mengamati bangunan rumah utama. Rumah berlantai dua dengan pilar-pilarnya yang kokoh. Dan halaman rumah yang begitu luas dengan beberapa jenis pepohonan yang rindang. Serta tanaman bunga yang menambah kesan asri rumah itu.


Untung saja ia sempat mengabarkan kepada Hasna jika dirinya akan segera sampai. Jadi ia tak perlu menunggu di luar pagar terlalu lama.


Tak lama kemudian sebuah mobil sport hitam memasuki pekarangan rumah. Siapa yang datang?Pak Mamat hafal betul mobil hasna, mobil khas perempuan di negeri ini. Lalu mobil siapakah gerangan?


Hasna keluar dari dalam mobil dan hendak membantu Rama untuk turun. Pak Mamat segera menghampiri keduanya.


"Biar saya saja, Mbak." Pak Mamat membantu Rama untuk turun dari mobil.


"Makasih, Pak." Ucap Rama.


"Iya sama-sama, Mas, tuan, eh Pak." Pak Mamat jadi bingung mau memanggil Rama dengan sebutan apa.


"Maaf, saya bingung, mau panggil apa." Laki-laki bertubuh sedikit gempal itu tersenyum kikuk.


"Senyamannya Pak Mamat saja." Jawab Rama.


"Kalau gitu, saya panggil Mas saja ya? Kan saya manggil istrinya, Mbak. Jadi pas." Rama tersenyum mendengarnya.


"Iya, nggak apa-apa, Pak." Jawab Rama ramah.


"Maaf, itu tangannya kenapa ya?" Tunjuk Pak Mamat pada tangan kanan Rama yang masih disangga Arm Sling.


"Ada insiden kecil sepulang kantor, Pak." Ucap Rama.


"Innalilahi, tapi tidak apa-apa kan?" Tanya pak Mamat khawatir.


"Alhamdulillah, sudah lebih baik." Rama menoleh sekilas pada Hasna.


"Maaf, nama Masnya siapa ya, saya kok lupa." Cengir Pak Mamat.


"Pantesan dari tadi manggilnya, Masnya, Masnya. Eehh... Nggak taunya..." Kekeh Hasna.


"Maaf loh, Mas e." Pak Mamat menggaruk kepala yang sesungguhnya tidak gatal itu.


"Saya Rama, dan ini istri saya, Hasna. Barangkali bapak lupa." Goda Rama.


Hasna semakin tergelak mendengarnya. Ia tak kuasa menyembunyikan tawanya dibelakang bahu Rama.


"Maaf loh, Mas e."


Rama mengajak Pak Mamat untuk masuk ke dalam rumah. Untuk membicarakan tentang apa yang akan dikerjakan oleh Pak Mamat nantinya.


"Hasna sudah bilang, apa saja yang akan bapak kerjakan?" Tanya Rama setelah mereka berdua duduk di ruang tamu.


"Sudah, Mas. Mbak Hasna juga bilang kalau saya dapat libur setiap hari minggunya. Dan saya diizinkan untuk pulang." Jawab Pak Mamat dengan logat jawanya.


Hasna datang dengan membawa dua cangkir minuman. Minuman herbal untuk Rama dan kopi untuk Pak Mamat.


"Mbak Hasna ini loh, kok ya pakek repot-repot begini. Udah kayak tamu saja." Pak Mamat merasa sedikit sungkan.


"Diminum dulu, Pak." Ucap Hasna mempersilahnkan.


Ragu Pak Mamat mengambil secangkir kopi yang Hasna suguhkan. Diseruputnya sedikit. Sungguh nikmat.


"Kopi bikinan Mbak Hasna rasanya tetap muwantul loh, Mbak." Puji Pak Mamat.

__ADS_1


Kopi buatan Hasna memang memiliki ciri khas tersendiri. Dari dulu hingga sekarang rasanya tidak pernah berubah.


"Masnya perlu nyobain ini." Pak Mamat kembali menyeruput kopinya.


Rama mengangkat cangkirnya dan menyesap sedikit isinya.


"Ini apa?" Tanyanya pada Hasna yang duduk di sebelahnya. Pasalnya, minuman itu terasa asing di lidahnya.


"Itu rebusan sereh sama jahe. Aku campur madu sama daun mint juga. Kenapa, nggak enak ya?" Tanya Hasna.


"Not bad."


Rama kembali menyesap minuman di tangannya, yang kini membuatnya sedikit merasa rileks.


"Mas Rama kapan-kapan perlu nyobain kopi bikinan Mbak Hasna. Rasane muwantul tenan e."


Hasna menggeleng pelan dan tersenyum. Pak Mamat terlalu melebih-lebihkan.


"Saya tidak bisa mencobanya, karena Hasna tidak pernah membuatkan saya kopi." Ucap Rama, melirik pada Hasna disela sesapannya.


"Howalah...padahal kopinya uwenak loh Mas nya. Kapan-kapan minta dibikinin Mbak Hasna. Pasti nagih, saya jamin itu." Sungut Pak Mamat.


"Lain kali, kalau Pak Mamat dibikinin kopi lagi sama istri saya, tolong saya dikasih nyicip dikit yah. Biar tau saya, gimana rasa kopi buatan istri." Timpal Rama melirik pada Hasna.


"Walah, siaplah kalau itu. Pasti bikin ketagihan. Apalagi mbak Hasna bikinnya pakek cinta. Iya kan, Mbak?" Tanya pak Mamat.


"Enggak, bikinnya pakai bismillah." Kekeh Hasna.


Jawaban Hasna membuat Rama tersenyum menyembunyikan tawanya.


Pak Mamat memanglah sosok yang humoris. Jadi mudah saja baginya untuk berbaur dengan orang baru.


Setelah mereka mengobrol sejenak, Hasna mengantarkan Pak Mamat dimana dia akan tinggal selama bekerja di rumah mereka.


Dan kini, kesempatan itu datang lagi, saat Hasna memintanya bekerja di rumah suaminya. Pak Mamat sangat bersyukur bisa kenal dengan orang-orang seperti mereka.


***


"Banyak sekali masaknya?" Rama duduk di kursi meja makan, memperhatikan Hasna yang tengah menyiapkan makan malam. Menatanya diatas meja.


"Iya, kan ada Pak Mamat, jadi sekalian masaknya. Biar bisa makan sekalian juga." Hasna meletakkan semangkuk rawon di atas meja makan. Dan aromanya sungguh membuat perut ingin segera minta diisi.


Hasna mengambil nampan yang berisikan sepiring nasi dan pelengkapnya, serta semangkuk rawon yang masih mengepul.


"Aku antarkan ke Pak Mamat dulu ya." Pamitnya, Rama hanya mengangguk.


Setelah mengantarkan makanan untuk Pak Mamat, Hasna segera melayani Rama seperti biasanya.


"Gimana, enak?" Tanya Hasna setelah menyuapkan sesendok nasi pada Rama.


Rama tengah menikmati makanan yang ada di mulutnya. Mengunyah perlahan, merasai rasa masakan itu Masakan istrinya itu memang tidak pernah gagal. Selalu enak.


"Enak." Jawabnya singkat.


Hasna tersenyum mendengarnya. Perempuan itu kembali menyuapkan beberapa kali, tapi tidak menyuap untuk dirinya sendiri. Membuat Rama mengerutkan keningnya.


"Kamu tidak makan?" Rama menolak suapan Hasna karena sedari tadi tak mendapati istrinya makan bersamanya.


"Tidak, Mas Rama makanlah dulu, aku nanti saja." Tolaknya. Hasna kembali akan menyuapkan nasi pada suaminya. Namun Rama memiringkan kepalanya menolak suapan istrinya.

__ADS_1


"Kenapa?"


Tidak biasanya. Biasanya Hasna akan menyuapkan untuk dirinya setelah menyuapkan kepada Rama. Seketika Rama teringat perkataan Nayla saat makan malam di rumah ibunya kemarin. Tentang dirinya yang tidak pernah mau berbagi makanan dengan orang lain dalam satu piring. Mungkin itu penyebabnya.


"Apa karena ucapan Nayla saat makan malam kemarin?" Todong Rama.


Hasna meletakkan kembali sendok yang sempat terangkat. Hasna terdiam dengan perkataan Rama.


"Ya...itu semua memang benar. Saya memang tidak suka berbagi makanan di piring yang sama dengan orang lain. Tapi itu dulu."


Hasna mendengar ucapan Rama. Tapi dirinya sibuk memotong empal goreng yang sebenarnya sudah ia potong sebelumnya.


"Dulu, sebelum saya menerima seseorang yang mau menerima saya dengan segala kekurangan yang saya miliki." Rama tersenyum saat mengatakannya.


Hasna menghentikan gerakannya. Kedua telinganya masih setia mendengarkan perkataan suaminya.


Benarkah demikian? Apakah benar apa yang dikatakan Rama barusan? Apa Rama benar-benar sudah menerimanya? Dan kini pipinya mulai menghangat.


"Masa iya, saya tidak mau berbagi sama kamu? Kita saja sudah berbagi ranjang, masa berbagi makanan saya tidak mau?"


Hasna tersipu mendengarnya. Rama meraih tangan Hasna, menatap lembut wajah cantik istrinya.


"Makanlah, kalau kamu tidak mau makan, saya juga tidak." Rama pura-pura mengancam.


Hasna menarik kembali tangannya yang Rama genggam.


"Apaan, Mas Rama udah ngabisin setengah piring juga." Protes Hasna membuat laki-laki itu terkekeh.


Alasan macam apa itu. Dia sudah hampir menghabiskan nasi di piringnya, tapi mengatakan jika dirinya ingin mogok makan.


"Sudah, makanlah. Jangan sampai kamu sakit. Nanti siapa yang akan membantu saya memakai celana panjang lagi?"


Hasna pikir, Rama akan membujuknya, tapi ternyata justru meledeknya. Ucapan Rama membuat Hasna reflek mencubit pinggang laki-laki itu. Masih sempat sekali membahas hal-hal seperti itu. Sungguh menyebalkan.


"Aww...kamu kecil-kecil kalau nyubit sakit sekali." Rama mengusap pinggangnya yang terasa sedikit panas bekas cubitan Hasna.


"A_."


Hasna mengurungkan perkataannya, dan menutup mulutnya rapat-rapat.


"Apa?" Sungguh menyebalkan sekali lelaki di sampingnya ini.


"Astaghfirullahal'adzim, untung inget dosa." Gumamnya sambil mengurut dada.


"Kamu ngomong apa?"


Ternyata Rama mendengarnya. Lihatlah makin menyebalkan sekali mukanya.


"Dosa nggak sih kalau seandainya aku ngomong, Mas Rama aja yang sudah tua, malah ngeledekin kalau aku kecil?" Ucap Hasna tanpa merasa bersalah.


Rama melebarkan matanya saat mendengar ucapan istrinya barusan. Hasna yang menyadari perubahan ekspresi wajah suaminya mendadak keki.


"Kamu ngeledekin saya?" Rupanya lelaki itu kesal.


"Aku nggak ngeledekin. Aku kan cuma nanya. Dosa nggak sih kalau seandainya aku ngomong_."


"Udah, nggak usah diperjelas lagi." Potongnya. Membuat Hasna mengatupkan bibirnya kembali.


Kenapa mendadak ia menjadi kesal, padahal niatnya ia ingin menggoda sang istri. Tapi kenapa ujungnya seperti ini?.

__ADS_1


***


Mon maaf, tadi udah mau kirim. Eh...filenya tidak sengaja terhapus, jadi ngulang dari awal. Semoga kalian terhibur.


__ADS_2