
Membicarakan hal-hal ringan bisa membuat hubungan pasangan semakin dekat. Seperti halnya Rama dan Hasna, keduanya berbincang saat waktu mereka senggang. Hasna dengan lembut mengusap surai hitam Rama yang tidur di pangkuannya.
"Apa aku terlihat tua?" Tanya Rama dengan mata yang masih terpejam. Hasna mengernyit. Pertanyaan macam apa itu.
"Kenapa nanya gitu?" Hasna menghentikan usapannya.
"Dua kali kamu bilang kalau aku tua, juga laki-laki berengsek itu." Rama masih sangat ingat saat Bian menghinanya. Bila mengingat wajahnya yang menyebalkan saat itu, sungguh membuat Rama ingin memukulnya.
"Bukan tua, hanya matang saja." Jawab Hasna, tangannya kembali mengusap lembut surai hitam sang suami.
"Sama saja. Mangga tua juga di sebut matang." Dengusnya sebal.
"Beda lah, Mas." Kekeh Hasna. Apa-apaan menyamakan dirinya dengan mangga.
"Bedanya?"
"Kalau tua, ya...nggak perlu dijelasin lah ya, kamu pasti tau sendiri. Tapi kalau matang itu lebih ke dewasa dan lebih berkharisma." Rama menegakkan tubuhnya kembali.
"Jadi menurut kamu seperti itu?" Hasna mengangguk perlahan. Seolah tidak yakin dengan jawabannya.
"Menurut kamu, apa aku tampan?" Hasna menoleh terkejut, terlalu to the point sekali pertanyaannya.
"Semua laki-laki itu tampan, Mas Rama." Jawabnya gemas.
"Termasuk laki-laki itu?" Sewotnya. Rama akui, jika pemuda yang menyukai Hasna cukup tampan.
"Laki-laki mana?"
""Itu penggemar kamu, temannya Nayla." Jawab Rama malas.
Hasna membulatkan mulutnya menandakan ia paham arah pembicaraan suaminya.
Hasna menangkup wajah Rama dengan kedua tangannya. Hal yang baru pertama ia lakukan pada suaminya itu. Rama menatap wajah teduh nan cantik istrinya.
"Setampan apapun laki-laki di luaran sana, bagi aku cuma Mas Rama yang tampan." Seketika hatinya menghangat mendengar ucapan Hasna.
"Bohong jika aku mengatakan Bian bukanlah pemuda yang tampan." Seketika pandangan Rama berubah tajam. Sangat terlihat jika ia tidak menyukai istrinya memuji laki-laki lain.
"Tapi, setampan apapun Bian, akan menjadikan dosa jika aku menyukainya. Jangankan menyukai, memujinya saja sudah menjadikan dosa." Lanjutnya.
"Kalau sama aku, tampan mana?" Apalagi ini, pertanyaan yang unfaedah.
"Harus ya aku jawab?"
"Harus lah, aku butuh memastikan jika kamu tidak menyukainya." Sewotnya.
Sepertinya kadar kecemburuan Rama sudah mendekati akut.
"Kok nggak di jawab?" Ternyata masih menunggu jawaban.
"Udah ah, nggak penting." Hasna mencoba untuk menyudahi. Hasna meminta Rama untuk kembali tidur di pangkuannya.
"Jawab dulu." Hasna menghembuskan nafas kasar. Rupanya Rama masih bersikeras.
"Emmmm.... baiklah, sebelum aku jawab, aku mau tanya sama Mas rama. Kalau aku sama, maaf, mantan Mas Rama, cantik mana?" Tanya Hasna hati-hati.
Sungguh pertanyaan Hasna membuat moodnya menjadi buruk seketika.
"Nggak usah bahas dia." Sentak Rama. Hasna sedikit berjingkat dan mengangguk pelan. Oke, sepertinya Rama marah.
"Oke, jadi Mas Rama tidak usah menanyakan hal yang serupa padaku. Karena Mas Rama sendiri tidak bisa menjawabnya kan? Malahan jadi kesel. Dan aku rasa pertanyaan seperti itu tidaklah penting." Hasna hanya ingin, Rama tidak membahas hal yang nantinya akan menimbulkan pertengkaran diantara mereka.
Wajah Rama masih terlihat masam. Bukannya Hasna menjawab tapi justru menanyakan hal yang membuatnya kesal.
Resty dan Hasna dua perempuan yang ada di kehidupan Rama. Resty adalah perempuan di masa lalu Rama. Sedangkan Hasna, perempuan yang ada di hidupnya saat ini, dan Rama harap untuk selamanya, mendampingi dirinya hingga akhir hayatnya.
Resty, perempuan yang menorehkan banyak luka baginya. Sedangkan Hasna, perempuan itu yang menghapus semua luka masa lalunya.
Resty perempuan yang cantik. Perempuan itu selalu berpenampilan sempurna di matanya. Berbeda dengan Hasna, Hasna perempuan yang sangat sederhana, namun memiliki sejuta pesona. Bukan hanya pesona wajahnya yang membuat Rama bertekuk lutut. Namun juga kepribadian, sikap juga tutur bahasanya, dan masih banyak lagi yang membuat Rama sulit mengungkapkan rasa kagum pada istrinya itu.
"Tau nggak, kalau Mas Rama itu laki-laki pertama yang aku sebut tampan saat aku dewasa." Ucap Hasna, menatap wajah Rama dari samping
"Kenapa begitu?" Rama hanya melirik tanpa berniat menoleh pada istrinya. Laki-laki itu masih terlihat kesal rupanya.
"Ya karena, satu-satunya laki-laki yang bisa aku pandang dengan puas, aku nikmati kerupawanannya. Tanpa aku takut melakukan dosa. Karena memandang Mas Rama, apalagi dengan tatapan penuh cinta, akan menjadikan ladang pahala buat aku." Menyampaikan kebenaran yang disertai rayuan, sah-sah saja bukan. Apalagi suaminya itu tengah merajuk.
"Itu artinya kamu jatuh cinta pertama kali sama aku?" Hasna nampak berpikir, membuat Rama sedikit kesal. Apa susahnya bilang iya.
"Kalau sama Mas Rama, aku rasa udah yang ketiga kalinya." Jawab Hasna polos. Sedangkan wajah Rama semakin masam.
__ADS_1
"Oh...pernah pacaran juga? Dulu bilangnya nggak pernah." Sinis Rama.
"Emmmm....gimana ya?" Hasna menggigit kecil bibir nya, seolah sedang berpikir.
"Kalau pacaran sih nggak pernah, malahan langsung di suruh nikah. Tapi laki-laki pertama yang terlihat tampan Dimata aku itu, ayah, kedua, kakek. Baru ketiganya, Mas Rama." Rama menoleh pada hasna yang tersenyum manis kepadanya.
Hasna meraih jemari Rama dan menggenggamnya hangat.
"Bagi seorang anak perempuan, laki-laki tertampan itu ayahnya. Cinta pertama mereka juga untuk ayahnya. Barulah saat dewasa, laki-laki tertampan bagi perempuan itu adalah pasangannya, suaminya." Perempuan itu tersenyum hangat, membuat hati Rama luluh.
"Tanpa Mas Rama tanyakan, harusnya Mas Rama tau. Jika laki-laki tertampan di mata aku itu kamu." Rama sedikit menarik sudut bibirnya.
Katakanlah dia kekanakan. Dan memang benar adanya. Ia hanya ingin memastikan adakah laki-laki yang berhasil menarik hati istrinya. Baru melihat pemuda sekelas Bian saja sudah membuatnya ketar-ketir, apalagi mereka hampir seumuran. Sedangkan dirinya dan Hasna terpaut hampir tujuh tahun. Bahkan Hasna seusia Nayla, hanya berjarak beberapa bulan saja.
"Baiklah kalau itu menurut kamu. Berarti sebentar lagi aku akan mendapatkan predikat laki-laki tertampan pertama dalam hidup seorang perempuan." Hasna mengerutkan keningnya, tidak faham maksud pembicaraan suaminya.
"Anak kita. Jika dia perempuan, maka ayahnya lah yang akan jadi laki-laki tertampan pertama dalam hidupnya." Lanjutnya, membuat kedua pipi Hasna bersemu merah.
"Tidak masalah jika aku menjadi cinta ketiga di kehidupan ibunya, yang terpenting aku akan jadi laki-laki pertama yang dicintai dalam hidup putri kita nantinya." Lantas laki-laki itu tersenyum pada istrinya.
Jangan tanyakan lagi bagaimana ekspresi yang Hasna tunjukkan. Kedua pipinya bersemu merah. Bahkan tak berani mengangkat wajahnya di hadapan Rama.
Oh oke Rama, kamu sudah membuat target tak bisa berkata-kata.
***
Hari ini Nayla pergi ke kampus untuk merevisi sedikit skripsinya. Sungguh kepala sudah hampir pecah, tapi masih perlu perbaikan lagi.
Dengan langkah gontai, Nayla keluar dari ruangan dosen pembimbing. Wajahnya terlihat kusut. Sepertinya dia harus begadang dalam beberapa hari kedepan.
Seorang gadis seusianya menghampiri dirinya yang duduk di kursi panjang di bawah pohon. Gadis berkuncir kuda itu adalah sahabat Nayla semenjak menjadi mahasiswa baru di kampus ini. Silvi namanya.
"Kusut amat?" Ucap gadis itu, Nayla menoleh sekilas dan menyandarkan kepalanya di bahu gadis itu.
"Capek gue, lemes rasanya." Ucap Nayla tak bersemangat.
"Napa lagi? Suruh revisi?" Tebak Silvi. Nayla mengangguk.
"Ckk...gue kirain kenapa." Decak Selvi.
"Pusing gue, mana kena semprot segala. Keknya lagi PMS tuh Dosen." Dengusnya kesal.
"Ckk...minggir nggak lo." Nayla menggoyangkan sedikit bahunya.
"Bentaran doang." Ucap lelaki itu.
"Lo juga, udah tau ciwi-ciwi lagi curhat, main nimbrung aja." Timpal Silvi.
"Gue juga mau curhat." Lemes sekali bicaranya. Seperti belum diberi sarapan saja.
"Sejak kapan lo curhat sama kita orang. Lo kan punya komunitas sendiri." Sepertinya Silvi sudah mewakili apa yang mau Nayla katakan.
Bian menegakkan tubuhnya, dan memaksa Nayla untuk duduk tegak juga.
"Apa sih, Bian. Gue lagi males ribut ya." Nayla kembali akan menyandarkan kepala di bahu Silvi, tapi belum juga sampai, Bian sudah menariknya kembali.
"Ckk...Bian, mau lo apa sih?" Kesal Nayla.
"Pusing gue, Nay." Ucapnya lesu.
"Napa, di suruh revisi juga? Atau skripsi lo di tolak?" Sahut Silvi.
"Gue nggak bakalan sepusing ini kalau masalah skripsi doang. Ini lebih parah dari sekedar penolakan skripsi." Sungutnya.
"Jangan bilang lo di DO? Astaga Bian, ancur reputasi lo kalau lo beneran di DO." Heboh Silvi.
"Punya mulut blong amat, nggak ada remnya." Bian meraup mulut Silvi gemas, membuat Nayla terkikik geli.
"Bian, tangan lo bau?" Protes Silvi.
"Iya, bau mulut lo." Nayla makin tergelak. Disaat dirinya pusing memikirkan revisi untuk skripsinya, ada hiburan gratis yang membuat pikirannya sedikit teralihkan.
"Udah, udah, nggak usah berantem. Lo mau curhat apa? Buruan sebelum gue pulang." Ucap Nayla.
"Hati gue hancur, Nay." Sedihnya. Nayla sudah bisa menebak arah pembicaraan Bian.
"Alhamdulillah, berarti cewek-cewek pada sadar udah di kibulin buaya cap kadal modelan kayak lo. Akhirnya mereka dapat hidayah juga." Sahut Silvi.
"Beberapa waktu lalu, gue nggak sengaja ketemu sama Hasna. Dia sama cowok yang udah berumur." Ucap Bian tanpa menghiraukan perkataan Silvi barusan.
__ADS_1
Cowok berumur? Siapa yang di maksud Bian? Tidak mungkin kan Hasna jalan sama laki-laki lain? Atau jangan-jangan Hasna jalan bareng Kakaknya.
Nayla merogoh tas dan mengambil hape miliknya. Di bukanya galeri mencari foto saudara laki-lakinya.
"Cowok ini bukan?" Nayla menyodorkan hape pada Bian. Bian mengamatinya kemudian mengangguk.
"Sialan lo, ini Kakak gue. Pake ngatain cowok berumur segala." Nayla menyambar ponsel miliknya dari Bian, dan menghadiahkan pukulan maut andalannya.
"Nggak usah KDRT Napa Nay, sakit tau." Bian mengusap-usap lengannya yang terasa panas karena tabokan Nayla.
"Sini lihat." Selvi mengambil ponsel milik Nayla dan melihat foto siapa yang tengah mereka bicarakan.
"OMG, Nay. Ini seriusan Kakak, lo?" Heboh Selvi. Matanya berbinar seperti baru dapat arisan.
"Iya, itu Kakak gue." Sahut Nayla.
"Dasar buaya, mata udah burem. Cowok setampan ini di bilang berumur. Ini namanya cowok berkharisma. Nggak kayak elu, cowok abal-abal." Ucap Selvi, dan Nayla setuju itu. Enak saja kalau ngomong.
"Serah lo dah, serah..." Sewot Bian.
"Udah, jadi cerita nggak?" Sergah Nayla. Baginya lebih cepat Bian cerita, akan lebih cepat pula ia bisa pulang dan beristirahat.
Bian menceritakan semuanya pada Nayla saat dirinya tak sengaja bertemu dengan Hasna. Hingga pada akhirnya di bagian yang membuatnya merasa patah hati.
"Tiba-tiba aja tuh cowok main sosor. Mana nggak tau tempat, kesel gua." Sungutnya kesal. Nayla tergelak mendengarnya.
"Bian, Bian, lagian udah gue bilangin dari awal kan kalau Mbak Hasna itu udah nikah, dan nikahnya sama Kakak gue. Lo nya aja yang ngeyel. Kalau udah kejadian, baru lo bilang, patah hati gue." Nayla menirukan ucapan Bian dengan nada yang di buat-buat di ujung kalimatnya.
"Namanya juga cinta pada pandangan pertama." Gerutunya.
"Kalau itu mah namanya karma atuh kang." Kedua perempuan itu kompak menertawakan Bian.
Nasib, nasib, baru saja berjuang sudah dipaksa mengibarkan bendera kekalahan. Jika tak sanggup segera lambaikan tangan ke kamera.
***
Rama dan Hasna tengah dalam perjalanan menuju kota yang nantinya akan dibangun restoran baru milik hasna. Kurang lebih mereka menempuh tiga jam perjalanan dengan diantarkan Pak Yanto, sopir keluarga Suryanata.
Sesampainya di sana Rama melihat jika lokasi yang akan di ambil alih istrinya itu sangatlah strategis. Berada di pusat kota dan ada ruko yang berjajar. Jadi kemungkinan restoran milik Hasna nantinya akan menjadi restoran satu-satunya di sana.
Tak lama kemudian notaris dan pemilik lahan datang. Setelah terjadi kesepakatan dan pelunasan pembayaran, Hasna dan Rama segera meninggalkan lokasi. Hanya tinggal menunggu sertifikat balik nama selesai.
"Mau kemana, Den? Langsung pulang atau mampir dulu?" Tanya Pak Yanto saat keduanya masuk ke dalam mobil.
"Kita cari restoran terdekat, sudah waktunya makan siang." Jawab Rama.
Pak Yanto segera melajukan kembali mobilnya, dan mencari restoran terdekat sesuai permintaan Rama.
"Pak, di depan ada masjid. Kita berhenti dulu." Ucap Hasna.
"Baik, Neng."
Pak Yanto membelokkan mobil di sebuah masjid. Ketiganya segera turun dan melaksanakan kewajibannya terlebih dahulu.
Rama dan Pak Yanto duduk di pelataran masjid menunggu Hasna yang masih membereskan peralatan sholatnya. Setelahnya mereka menuju restoran terdekat untuk makan siang.
***
Seperti biasa, Hasna masih tetap menyuapkan makanan untuk Rama. Padahal Rama kini sudah menanggalkan arm slingnya, hanya akan ia pakai saat ke kantor. Rupanya Rama sudah terbiasa dengan perlakuan Hana.
Pak Yanto memperhatikan tingkah sepasang suami istri dihadapannya itu, karena kebetulan mereka makan di meja yang sama.
Senyuman tercetak di wajah tua laki-laki itu. Semua tau jika tuan muda Suryanata itu menikah dengan Hasna karena perjodohan. Bagaimana masa lalu Rama dan penolakannya terhadap Hasna, sedikit banyak laki-laki paruh baya itu tau.
Tapi kini semuanya berubah. Rama kembali menjadi sosok yang hangat dan terkesan manja pada istrinya. Sepertinya tuan mudanya itu telah menemukan kembali kebahagiannya. Dan semoga akan selamanya. Terlebih Hasna adalah perempuan yang baik.
"Mas, aku ke toilet dulu ya, mau cuci tangan." Rama mengangguk, karena kebetulan Hasna menyuapi langsung menggunakan tangan, tanpa sendok.
Rama meminta tagihan dan membayarkannya. Rama dan Pak Yanto berbincang ringan sambil menunggu Hasna kembali. Terdengar sesekali mereka tertawa kecil, sepertinya seru sekali.
Tawa mereka terhenti saat seseorang menghampiri meja mereka.
"Rama?"
***
jangan lupa terus support Rama dan Hasna ya. dengan cara like, comment, gift juga vote nya.
beri penilaian juga ya.... (Mon maap, author nya ngarep, hehehe)
__ADS_1