Bidadari Penghapus Luka

Bidadari Penghapus Luka
Bab 38


__ADS_3

Sesuai dengan prediksi, hari ini Rama diperbolehkan untuk pulang dan hanya melakukan kontrol rutin setiap minggunya.


Ia akan pulang bersama dengan Hasna dirumah mereka. Baik Bu Diana maupun Pak Andi tidak menyarankan keduanya untuk tinggal dirumah keluarga Suryanata sampai Rama sembuh. Mereka justru ingin agar keduanya semakin dekat, karena Rama pasti akan membutuhkan istrinya untuk saat ini.


Bu Diana sudah menceritakan semua kepada suaminya, perihal hubungan anak dan menantunya. Jadi Pak Andi yang semula akan mengajak Rama dan Hasna untuk tinggal sementara, mengurungkan niatnya.


Hasna sudah merapikan barang-barang Rama ke dalam tas, hanya tinggal menunggu Nayla yang akan menjemput. Tapi hingga tiga puluh menit berlalu, gadis itu tak menampakkan batang hidungnya.


Dua kali Hasna mencoba menelepon, tapi tak kunjung diangkat. Atensi keduanya teralihkan saat pintu dibuka dari luar, ternyata Bu Diana.


"Mama?"


"Kalian sudah siap?" Tanya Bu Diana setelah masuk kedalam.


"Loh, kok jadi Mama yang jemput?" Tak menjawab, justru Rama ikut bertanya.


"Nayla lagi ada urusan katanya, Mama juga nggak tau apa. Ya sudah kalau sudah selesai, ayo kita segera pulang." Ajak beliau.


Hasna mengambil tas bawaan suaminya, tapi langsung diambil alih oleh ibu mertuanya.


"Biar Mama aja yang bawa, kamu bantuin suami kamu." Bu Diana pun melenggang meninggalkan keduanya.


"Ayo, Mas."


Hasna mengulurkan tangannya, membantu Rama bangkit dari duduknya. Lelaki itu menyambut uluran tangan istrinya. Genggaman itu terasa hangat, membuat Rama menoleh ke arah perempuan yang kini berada disampingnya.


Hasna melangkahkan kakinya, namun langkah yang baru terayun itu terhenti karena Rama tetap bergeming ditempatnya. Tapi genggaman tangan itu tak ia lepaskan.


"Mas Rama?" Panggil Hasna.


Rama tersentak mendengar ucapan istrinya. Laki-laki itu menatap ke arah genggaman tangannya dengan Hasna.


"Ada apa? Ada yang sakit?" Tanya Hasna khawatir.


"Tidak." Rama menggeleng.


Laki-laki itu mulai melangkahkan kaki dan diikuti oleh Hasna. Bahkan tangan kirinya masih menggenggam tangan kanan istrinya.


Hasna tersenyum melihat genggaman tangan suaminya itu. Tak pernah selama keduanya menikah, mereka melakukan kontak fisik seperti ini.


"Semoga setelah ini, hubungan kami akan selalu baik-baik saja."


***


Satu jam perjalanan, mereka sudah sampai di rumah pribadi Rama. Bu Diana membiarkan keduanya, dan lebih menunggu di kursi teras.


Wanita itu mengamati rumah pribadi putranya. Baru kali ini beliau menginjakkan kaki di rumah ini. Mengingat saat mereka pindah, tak ada keluarga yang mengantarkan.


Hasna membukakan pintu dan mengucapkan salam saat memasukinya. Itu adalah kebiasaanya sedari dulu.


Hasna membantu Rama duduk di sofa ruang tengah yang diikuti oleh mertuanya. Lalu mengambil tas bawaan berisi pakaian kotor suaminya dan menyimpannya ke belakang.


"Mama mau minum apa?" Tawar Hasna.


"Nanti Mama bisa ambil sendiri."

__ADS_1


Wanita paruh baya itu mengamati seluruh isi rumah putranya, tak ada pajangan apapun di dinding. Hanya ada jam dinding juga lukisan.


"Kapan kamu beli rumah ini?"


"Seminggu setelah menikah."


Hasna ikut bergabung dan duduk disebelah ibu mertuanya.


"Apa rumah ini tidak terlalu kecil? Kamu bisa membeli rumah lebih besar dari ini, Rama." Terdengar protes dari ibunya.


Laki-laki itu tak menjawab pertanyaan ibunya.


"Menurut Hasna, rumah ini sudah nyaman kami tempati, Ma. Mengingat kami hanya tinggal berdua." Perempuan itu mencoba memberikan pendapat tentang hunian yang mereka tempati saat ini. Apalagi ibu mertuanya terkesan memojokkan suaminya.


"Ya, lagi pula disini tanpa ART, semua Hasna yang mengerjakan." Imbuh Rama.


"Rama, kamu jangan keterlaluan. Hasna itu istri kamu, bukan pembantu. Bahkan gaji kamu bisa mempekerjakan sepuluh pembantu sekaligus." Suara Mama mertua mulai terdengar naik satu oktaf.


"Mama jangan salah paham sama Mas Rama. Ini semua kemauan Hasna, Ma. Kami hanya tinggal berdua, kebutuhan Mas Rama juga bisa Hasna siapkan sendiri, pun dengan mengurus rumah. Hasna masih sanggup mengerjakannya seorang diri, biar ada kesibukan, Ma." Bela Hasna. Tak lupa senyuman manis ia berikan diakhir ucapannya.


Rama hanya menjadi pendengar saat istrinya itu membela dirinya dihadapan sang ibu.


"Haah...ya sudahlah, terserah kalian saja." Sepertinya Bu Diana mulai lelah mendebat mereka.


"Mama capek, pengen istirahat. Mama bisa pakai kamar tamu, kan?" Tanya Bu Diana.


Rama dan Hasna saling pandang, bisa gawat jika Mamanya tau kalau kamar tamu selama ini menjadi kamar Hasna. Dan Rama menempati kamar utama di lantai atas.


"Maaf, Ma, kamar tamunya Hasna pakai." Rama memejamkan mata mendengar ucapan polos istrinya, pun Bu Diana yang menampakkan keterkejutannya.


"Karena untuk sementara, Mas Rama tidak diperbolehkan terlalu capek, jadi sementara kamar tamu kami pakai sampai Mas Rama pulih." Lanjutnya. Tentu hanya sebuah kebohongan.


"Tapi kalau Mama mau, Hasna akan siapkan kamar tamu yang satu lagi." Tawarnya.


"Tidak perlu kalau begitu, kamu pasti capek dua malam menjaga suami kamu di rumah sakit. Lebih baik kalian istirahatlah, Mama akan pulang."


Bu Diana menyambar tas yang tergeletak diatas meja dan bersiap untuk pulang.


Hasna mengantarkan Bu Diana hingga ke teras depan rumah.


"Hubungi kami jika ada apa-apa. Mama harap hubungan kalian ada kemajuan." Bu dia mengusap lembut puncak kepala Hasna.


"Mama pulang ya. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Hasna masuk setelah mobil yang ditumpangi mertuanya menghilang dibalik gerbang. Perempuan itu berjalan menghampiri suaminya yang menyandarkan kepalanya dan memejamkan mata.


"Sebaiknya Mas Rama istirahat di kamar, Hasna bantu, ya." Hasna mengulurkan tangannya untuk membantu Rama berdiri.


Hasna membantu suaminya berjalan menaiki anak tangga, kemudian berhenti tepat di depan pintu kamar suaminya. Rama melihat ke arah lengan kirinya, tangan Hasna mulai melepaskan pegangannya.


"Masuklah, Mas. Nanti Hasna bangunkan untuk makan siang." Ucap perempuan itu, setelah membukakan pintu untuk Rama.


Rama mengerutkan keningnya. Jika Hasna mencoba untuk membantunya, tapi kenapa hanya diantarkan sampai di depan pintu? Tidakkah perempuan itu memiliki ide untuk menyiapkan tempat tidurnya? Menyusunkan bantalnya untuk menopang punggung agar bahunya merasa nyaman?

__ADS_1


Hasna paham akan arti tatapan suaminya itu. Namun perempuan itu masih mengingat jelas bagaimana perlakuan Rama saat dirinya berusaha masuk ke dalam kamarnya waktu awal-awal menempati rumah ini.


"Aku tidak ada hak untuk masuk ke dalam, aku hanya bisa mengantar sampai sini. Semoga Mas Rama beristirahat dengan nyaman."


Perempuan itu langsung pergi meninggalkan Rama seorang diri diambang pintu kamar. Masih basah diingatannya, bagaimana saat awal mereka Pindah ke rumah ini. Lelaki yang berstatus sebagai suaminya, menolak kehadirannya di lantai dua rumah yang mereka tempati, karena itu adalah area pribadi Rama.


Rama diam terpaku mendengar ucapan istrinya. Laki-laki itu menatap punggung perempuan yang dua malam menjagakannya di rumah sakit. Ternyata ucapannya begitu melukai perasaan perempuan yang tak pernah mengeluarkan kata protes atas ucapan kasarnya.


Rama memasuki kamar yang selama tiga hari ini tidak ia tempati. Masih sama, tidak ada yang berbeda. Bahkan meja disudut kamar terlihat tetap berantakan. Pun dengan selimut yang belum sempat ia rapikan.


Rama membuang nafasnya kasar. Berjalan menuju ranjang yang biasa ia tempati. Merebahkan diri, berusaha untuk beristirahat. Namun ia tak menemukan posisi yang nyaman. Karena selama di rumah sakit, Hasna lah yang menyiapkan tempatnya untuk tidur. Mengatur bantal sedemikian rupa agar ia nyaman saat tidur. Tapi kini, ia sendiri kesulitan melakukannya seorang diri.


Apa ia sudah mulai bergantung dengan istrinya? Atau hanya karena cidera, ia tak bisa leluasa melakukan aktivitas fisik seperti biasanya?


Akhirnya Rama memutuskan untuk tidur bersandar di sofa dekat jendela. Karena posisi itu lumayan nyaman untuk dirinya menyangga bahu dan lengannya yang cidera.


***


Hasna mengetuk pintu kamar Rama berkali-kali, namun tetap tak ada jawaban. Sekali lagi ia ketuk, tetap hening.


Dan ini sudah ke empat kalinya Hasna naik turun tangga, berusaha membangunkan Rama. Tapi usahanya sia-sia. Suaminya tak kunjung membuka pintu.


Jam sudah menunjukkan pukul satu siang lewat sepuluh menit. Rama sudah melewatkan makan siangnya. Jangan sampai ia telat minum obat karena makan siang yang tertunda.


Sekali lagi, Hasna mencoba mengetuk pintu dengan ketukan yang luamayan nyaring, hingga beberapa saat kemudian Rama membukakan pintu. Terlihat jika laki-laki itu baru saja terbangun dari tidurnya.


"Maaf, kalau aku mengganggu istirahat Mas Rama. Tapi ini sudah lewat jam makan siang, dan Mas Rama juga belum minum obat." Ucap Hasna.


Seketika pandangan Rama teralihkan pada jam dinding di depan kamarnya. Benar saja, jam sudah menunjukkan pukul satu lewat lima belas menit.


"Maaf, aku sudah berusaha membangunkan Mas Rama sejak jam dua belas, tepat saat adzan dhuhur. Tapi Mas Rama belum juga membukakan pintu." Hasna melihat ekspresi yang ditunjukkan suaminya, ekspresi yang tak bersahabat.


"Kalau begitu kenapa tidak langsung masuk?" Tanya lelaki itu sedikit ketus.


"Karena, karena_" kata-kata yang ada dipikirannya, sungguh sulit untuk lidahnya ucapkan.


"Kamu tidak punya hak untuk masuk ke dalam kamar saya?" Sahut Rama.


Hasna menatap lurus manik hitam yang tengah melihat ke arahnya. Tatapan itu sungguh tajam, membuat nyali perempuan itu seketika menciut.


"Kalau seperti itu, bagaimana kamu akan menjaga dan merawat saya hingga sembuh? Bahkan tadi saya tidur di sofa karena sulit menemukan posisi nyaman untuk cidera saya." Seketika Hasna menundukkan pandangannya.


"Maaf." Lirihnya.


Terdengar hembusan nafas kasar dari suaminya. Membuatnya semakin merasa bersalah.


Rama pun melangkah meninggalkan Hasna yang tetap bergeming di depan pintu kamarnya.


"Sampai kapan kamu berdiri di situ?" Ucap Rama sedikit keras, karena ia sudah berjalan menuruni separuh anak tangga.


Hasna segera mengekori suaminya menuju ruang makan. Menyiapkan tempat duduk dan makanan untuk Rama. Juga menyuapkan makanan untuk suaminya itu. Setelahnya membantu Rama untuk minum obat. Hasna benar-benar melayani suaminya dengan sangat baik.


Baru setelah itu, ia makan untuk dirinya sendiri. Dan itu ia lakukan tiga hari belakangan semenjak Rama sakit.


Setelah semua tugasnya selesai, kini ia membereskan meja makan dan mencuci semua piring kotor. Setelahnya membuang sampah yang ada di dapur, ke depan rumah.

__ADS_1


Rama memperhatikan kegiatan istrinya itu. Apakah memang benar ucapan ibunya Jika ia memperlakukan Hasna seperti asisten rumah tangga? Menyiapkan segala keperluannya, membersihkan rumah, dan kini merawat dirinya. Bahkan perempuan itu selalu memprioritaskan dirinya. Tapi ini adalah pilihan istrinya juga, kan?


***


__ADS_2