Bidadari Penghapus Luka

Bidadari Penghapus Luka
Bab 180


__ADS_3

"Sebenernya kita mau kemana sih, Mas?" Tanya Hasna penasaran, karena saat berangkat tadi, Rama tak mengatakan apapun. Hanya ingin mengajaknya jalan-jalan.


"Sebentar lagi kita sampai." Rama melirik sekilas pada istri di sampingnya.


Hingga sepuluh menit kemudian, mereka memasuki sebuah gerbang besar. Hasna hanya diam memperhatikan bangunan dua lantai di hadapannya.


"Rumah siapa, Mas?"


Tanpa menjawab Rama melepaskan seatbelt nya, lalu turun dan membukakan pintu untuk istrinya.


"Turun dulu, yuk." Rama menggenggam jemari istrinya.


"Pak Rama Suryanata?" Tanya seseorang yang menghampiri mereka.


"Iya, saya sendiri." Lantas Rama menjabat tangan laki-laki itu.


"Saya David." Laki-laki itu memperkenalkan diri.


"Oh iya, Ini istri saya." Hasna hanya mengangguk kecil pada laki-laki itu.


"Silahkan, Pak."


Keduanya berjalan mengikuti langkah laki-laki yang baru saja menyambut mereka di halaman rumah megah itu.


Pak David mengajak keduanya untuk melihat-lihat rumah yang akan Rama beli nantinya. Rumah bergaya neoclassical berlantai dua, dengan empat pilar kokoh sebagai penyangga di bagian depan rumah. Jendela yang lebar juga teras yang luas, menambah kesan yang begitu mewah. Belum lagi halaman yang begitu luas mengelilingi bangunan utama.


"Silahkan, Pak, Bu." Pak David membuka pintu utama. Dan mempersilahkan keduanya masuk ke dalam.


Baru saja melewati pintu utama, kedua netra mereka sudah disuguhkan ruangan yang luas, dengan furniture mahal di dalamnya. Ruang tamu utama, yang bahkan luasnya melebihi rumah keluarga Suryanata. Lalu beralih ke ruang tengah yang luar biasa lega. Bisa buat lari tanpa khawatir menyenggol perabotan.


"Mas?" Raut wajah Hasna tidak bisa menyembunyikan kebingungannya.


"Kamu suka?" Rama tersenyum ke arah istrinya yang masih di penuhi tanya.


"Ini kamar utamanya." Ucap Pak David.


Hasna memindai sekeliling, kamar utama yang sangat luas. Dengan ranjang berukuran besar juga sofa minimalis yang menambah kesan manis. Lalu beralih pada walk-in closet yang dipenuhi furniture yang terlihat mewah. Belum lagi kamar mandi yang sangat elegan.


Mereka melihat-lihat hanya sampai area dapur. Karena tidak mungkin untuk menjelajah rumah sebesar ini. Bangunan dua lantai dengan delapan kamar, juga empat ruang kosong lainnya. Selain kamar pekerja yang berada di paviliun.


"Terima kasih, karena Pak David sudah bersedia menemani kami melihat-lihat rumah. Dan saya akan segera memberikan kabar setelah saya dan istri berdiskusi." Ucap Rama yang sekilas melirik ke arah Hasna.


"Sama-sama, Pak Rama. Saya senang bisa membantu Pak Rama. Apalagi jika nantinya ada hunian yang benar-benar cocok untuk Pak Rama." Ucap Pak David.


Setelahnya mereka berbincang ringan hingga sampai di depan mobil milik Rama. Tak berselang lama, keduanya pun pamit.


***


Hasna sudah tidak tahan untuk tidak menanyakannya pada Rama perihal rumah mewah yang baru saja ia dan Rama kunjungi. Ingin langsung menanyakan di hadapan Pak David juga, ia rasa tidak pantas. Dan sekarang ia telah menemukan kesempatan yang bagus saat hanya berdua dengan Rama.


"Mas."


"Hmm." Rama hanya bergumam dan melirik sekilas pada Hasna.

__ADS_1


"Sebenarnya, rumah tadi rumah siapa?"


"Kamu suka?" Rama tidak menjawab, justru memberikan Hasna pertanyaan.


"Emm...suka sih." Lirih Hasna.


"Tapi, itu rumah siapa?" Hasna masih ingin mendapatkan jawaban pasti atas pertanyaan yang ia ajukan pada suaminya.


"Rencananya, aku mau beli rumah baru."


"Rumah baru?"


"Iya."


"Rumah yang tadi?"


"Iya, kamu suka, kan?"


"Suka sih, tapi kan, Mas, kita juga ada rumah. Kenapa mesti beli baru?" Pertanyaan Hasna kali ini lebih terdengar seperti sebuah protes.


"Aku mau rumah yang lebih besar. Lebih luas."


"Rumah kita sebelumnya juga kan lumayan besar, Mas."


"Iya, tapi aku pengennya nanti rumah kita bisa buat kumpul keluarga. Kan tidak selamanya kita nantinya bertiga. Nanti kan bakalan berempat, berlima, berenam, atau bahkan bertujuh. Jadi perlu rumah yang besar, Sayang. Jadinya kalau Mama, Papa, Nayla nginep, biar masih dapat kamar. Apalagi nanti kalau Nayla udah keluarga dan punya anak."


Hasna sedikit menggaruk pelipisnya, alasan Rama sungguh mengada-ada menurutnya. Jika hanya anggota keluarga Suryanata saja, Hasna rasa rumah mereka bisa menampung semuanya. Karena dirinya pun tidak memiliki keluarga selain keluarga Suryanata.


"Nanti rencananya, rumah lama kita akan aku jual. Dan secepatnya kita akan pindah ke sana."


"Ya serius lah, sayang. Masa iya sudah lihat rumah dan ketemu sama agen properti nya nggak jadi, sih?"


"Tapi rumah kita penuh dengan kenangan." Lirih Hasna.


"Dan di dalamnya juga ada kenangan yang menyakitkan saat awal pernikahan kita. Aku mau kita melupakan itu, dan kembali membangun memori indah bersama kamu dan anak-anak kita." Rama kembali menatap arah jalanan.


"Rumah itu nantinya akan menjadi milik kamu." Hasna langsung menoleh pada Rama.


"Kenapa gitu?"


"Karena, alasan utama aku membeli rumah itu, sebagai hadiah untuk istriku yang telah berjuang melahirkan penerus keluarga Suryanata." Rama mengusap lembut pipi Hasna.


"Masa iya, Reyn dapat banyak kado, bundanya tidak?"


"Tapi kalau rumah sebesar itu sebagai kado, aku rasa terlalu berlebihan."


"Tidak ada yang berlebihan menurutku. Karena jika aku menukar seluruh harta yang aku miliki, belum tentu aku akan mendapatkan perempuan sebaik dan secantik kamu. Kamu wanita istimewaku." Rama memberikan kecupan sekilas di pipi Hasna saat lampu lalu lintas berubah menjadi warna merah.


"Rumahku istanaku. Dan aku akan menempatkan ratuku di dalam sana."


***


Rama menggandeng tangan Hasna saat memasuki kediaman Suryanata. Tak terlihat siapapun di sana.

__ADS_1


"Mbak, Reyn mana?" Tanya Hasna pada salah satu ART.


"Ada sama Non nayla di kamarnya, Non."


"Kalau Mama sama Papa?"


"Ibu ada di kamar, kalau Bapak ada di ruang kerjanya." Hasna hanya mengangguk, setelahnya ART itu berlalu.


Gegas mereka ke kamar Rama di lantai dua untuk mengganti pakaian. Setelahnya ke kamar Nayla yang berseberangan dengan kamar Rama.


Tok, tok, tok


"Nay? Mbak boleh masuk nggak?" Ucap Hasna dari balik pintu.


"Masuk aja, Mbak. Nggak dikunci." Sahut Nayla dari dalam.


Hasna membuka handle pintu dan masuk ke dalam. Betapa terkejutnya perempuan itu saat mengetahui apa yang Nayla lakukan pada putranya.


"Astaghfirullah, Nayla." Pekik Hasna. Nayla hanya nyengir menampakkan deretan gigi putih putihnya.


"Hanya properti, Mbak." Ucap Nayla.


Hasna mendekati keduanya, dan membuka simpul kain yang Nayla lilitkan di kepala putranya.


"Reyn ini laki-laki, Nay." Omel Hasna, bisa-bisanya putranya di pakaikan bando di kepala oleh gadis itu.


"Hehehe... Tapi imut banget." Ucap Nayla tanpa rasa bersalah sama sekali.


Hasna hanya menggelengkan kepalanya pelan. Apa yang dipikirkan gadis ini, hingga mendandani putranya seperti itu? Dikiranya lagi cosplay jadi member girl band apa gimana?


"Kata Mama, Mbak Hasna sama Kak Rama habis lihat rumah ya?" Sepertinya jiwa kepo Nayla mulai meronta.


"He'em." Hasna hanya bergumam, karena ia sedang memberikan ASI pada Reyn.


"Emang mau beli rumah baru?"


"Mas Rama maunya gitu."


"Emang Mbak Hasna nggak mau?"


"Bukannya nggak mau. Tapi_"


"Nayla!!!!."


Terdengar teriakan dari ambang pintu kamar Nayla, membuat semua yang berada di dalamnya berjingkat saking kagetnya. Bahkan Reyn yang sempat terlelap pun ikut terbangun dan menangis kencang karena kaget.


"Astaghfirullahal'adzim."


"Astaga."


"Uwaa...uwaaa...uwaa..." Tangisan Reyn pun pecah memenuhi seluruh ruangan.


***

__ADS_1


Maaf, kemarin aku ketiduran saat edit naskah😂🙏🏻


sebagai gantinya aku kasih double up buat kalian. semoga terhibur ya 🥰


__ADS_2