
Rama menutup kembali pintu ruangan dan menguncinya. Di dalam Hasna terlihat sibuk mengeluarkan bawaan dan menatanya di atas meja, yang biasanya digunakan untuk menerima tamu di ruangan Rama.
Rupanya perempuan itu membawakan semua makanan kesukaannya. Sup iga juga red velvet telah tersaji di sana. Ada juga beberapa pastry yang Hasna bawa.
"Banyak sekali?" Rama ikut bergabung dengan Hasna duduk di sofa panjang.
"Sengaja, biar Mas Rama kenyang sampai pulang nanti." Kekeh Hasna.
Rama menggelengkan kepalanya pelan dan berdecak. Yang benar saja, dia di suruh menghabiskan makanan sebanyak itu. Bisa buncit nanti perutnya. Apalagi pasca kecelakaan ia tidak pernah lagi berolah raga. Bukan tidak pernah tapi tidak memungkinkan lebih tepatnya.
"Bisa buncit perut saya nanti." Rama mendengus pelan.
Hasna tersenyum mendengarnya. Ternyata Rama tipikal laki-laki yang sangat memperhatikan penampilan. Ya, wajar saja, dia sering bertemu dengan banyak klien. Dan penampilan pastilah nomer satu.
"Ya, nggak apa-apa. Itu artinya Mas Rama cocok sama masakan Hasna."
"Iya, nanti kalau sudah buncit perut saya, saya jadi jelek. Nanti kamu nyari yang lain. Mana penggemar kamu banyak lagi." Gerutu Rama.
"Kan nanti bisa olah raga. Lagian banyak penggemar dari mana coba. Orang cuma teman Nayla doang. Ntar juga lama-lama capek sendiri." Tangan Hasna tetap sibuk mengambilkan makanan.
"Itu kan yang kamu tau." Rama mendengus kesal.
"Emang ada yang aku nggak tau?" Hasna menghentikan gerakan tangannya, menoleh pada Rama.
"Ada lah." Mulai keluar sumbu pendeknya.
"Siapa?"
"I_."
Hampir saja Rama kelepasan menyebut nama asistennya. Hasna menautkan kedua alisnya, tepat di saat Rama mengurungkan perkataannya.
"Udah nggak usah diteruskan. Pembicaraan yang tidak berfaedah." Potong Rama.
Hasna mendengus pelan. Dasar, siapa juga yang memulai pembicaraan tak berfaedah ini.
"Ya udah, sini aku suapin. Mau nasi dulu apa kue dulu?" Tawar Hasna.
Rama melihat piring di tangan istrinya. Banyak sekali porsinya, membuat laki-laki itu melebarkan matanya.
"Kenapa banyak sekali sih?" Mulai lagi ngegasnya, membuat Hasna menarik nafas dalam. Sabar.
"Mas Rama, aku juga belum makan siang. Sengaja langsung ke sini supaya bisa makan siang bareng sama kamu. Mas Rama keberatan?" Ucap Hasna dengan nada selembut mungkin. Jangan sampai lelaki itu salah paham lagi.
Seketika Rama menutup rapat mulutnya. Tiba-tiba saja dia merasa sensi dengan bahasan ini. Padahal dia sendiri yang memulai.
Hasna menunggu jawaban dari Rama. Benar-benar aneh suaminya hari ini.
"Ya udah, nggak apa-apa, biar nanti aku makan siang sepulang dari sini saja." Ucap Hasna.
Hasna memindahkan sebagian makanan dari piring ke tempat yang lain untuk mengurangi porsi di piring suaminya. Gegas Rama menghentikan gerakan tangan istrinya. Membuat Hasna menoleh heran pada Rama.
"Tidak perlu. Kita makan sekarang." Suaranya terdengar mulai melunak. Dasar aneh.
Hasna mulai menyuapkan makanan pada Rama, bergantian dengannya. Hingga makanan di piring tandas tak bersisa.
Setelahnya Hasna memberikan segelas air putih pada Rama, dan mengemas kembali makanan lainnya. Rama meletakkan kembali gelas yang telah ia habiskan setengah isinya.
"Kenapa dimasukkan lagi?"
Hasna menoleh sejenak dan melanjutkan memasukkan ke dalam paper bag.
"Mau saya bagikan di lobi." Jawab Hasna.
"Kenapa begitu? Bukankah kamu membawakannya untuk saya?" Hasna menoleh kembali pada Rama.
"Daripada bikin perut Mas Rama buncit, mending saya bagi-bagikan di bawah."
__ADS_1
Sebenarnya Hasna sedikit kesal juga. Hanya karena membawa berbagai macam makanan, malah membuat Rama rasa sensi. Kalau tidak mau ya tidak apa-apa, kan bisa buat yang lain.
Rama mendengus kesal mendengarnya. Bisa-bisanya Hasna berpikiran untuk membawa kembali makanan yang ia siapkan untuk dirinya.
"Kamu tinggal saja, tidak perlu dibawa kembali."
Hasna menghirup nafas dalam dan mengeluarkannya perlahan. Sabar Hasna. Mungkin Rama sedikit stress dengan pekerjaannya.
Hasna mengurungkan niatnya dan membiarkan kue-kue yang ia bawa tetap berada di atas meja. Lantas perempuan itu berdiri dan menyambar tasnya.
"Kalau begitu, aku pamit dulu."
Rama mengernyit heran. Tumben sekali Hasna tidak memberikan senyumannya. Ekspresi wajahnya pun terlihat datar.
Rama menghadang jalan Hasna yang hampir sampai pada pintu.
"Mas, aku mau kembali kerja." Ucap Hasna tanpa melihat pada suaminya.
Rama tak menghiraukan dan tetap pada posisinya. Membuat Hasna menjadi kesal.
"Mas, aku mau kembali kerja." Ulangnya. Rama tetap bergeming.
"Mas_."
Rama perlahan melangkah, diikuti Hasna yang berjalan mundur mengimbangi langkah Rama. Apalagi kini Rama semakin mendekat. Tinggal sedikit saja keduanya sudah tak berjarak.
"Mas." Lirih Hasna.
"Mas, aku_"
Tatapan itu semakin tajam. Ada apa sebenarnya. Kenapa acara makan siang berujung mengerikan seperti ini?
Kini tubuh Hasna sudah menyentuh meja kerja Rama. Sudah tidak bisa menghindar lagi. Tapi apa yang sebenarnya ingin Rama lakukan padanya. Sedangkan ia menuruti permintaan Rama agar meninggalkan makanan yang belum sempat Rama makan tetap berada di atas meja.
"Mas."
Kini tatapan itu mulai melembut. Aneh sekali, pikir Hasna. Secapat itu mood suaminya berubah. Bagaikan naik rollercoaster, yang jika berada diatas akan sedikit tenang. Dan jika meluncur akan membuat kita senam jantung.
Cup
Satu kecupan mendarat sempurna di pipi Hasna. Membuat perempuan itu menahan nafasnya seketika. Dua kali Rama membuat dirinya syok ulah perbuatannya.
"Maaf. Saya hanya tidak ingin kamu berpaling dari saya jika penampilan fisik saya berubah nantinya. Apalagi banyak lelaki yang menginginkan kamu." Lirihnya.
"Maaf jika kamu tersinggung, saat saya sedikit keras ketika berbicara." Rama mengusap lembut pipi bekas ciuman darinya.
Hasna tak menjawab, hanya menatap lurus manik pekat suaminya. Sungguh laki-laki yang sangat susah ditebak. Sebentar baik, sebentar marah. Sebentar lembut sebentar menyebalkan.
Rama meraih pinggang Hasna, membantu istrinya untuk berdiri tegak. Lagi-lagi perlakuan Rama membuat Hasna sulit untuk bernafas.
"Duduklah sebentar, saya akan selesaikan pekerjaan yang tinggal sedikit lagi." Rama mendudukkan Hasna di tempatnya semula.
Hasna mengernyit heran. Apa maksud dari ucapan suaminya barusan? Apakah dirinya diminta menunggu hingga Rama selesai bekerja?
Tapi lebih baik dituruti saja dulu, dari pada nanti malah berkepanjangan urusannya.
***
Hampir dua jam Hasna menemani Rama di ruangannya, membuat Hasna sedikit jenuh. Tapi sepertinya Rama masih lama.
Tok...tok...tok...
"Masuk." Seru Rama tanpa mengalihkan fokusnya dari laptop dan berkas di tangannya.
Hasna mendengar pintu yang berusaha untuk dibuka, tapi pintu masih tetap tertutup rapat. Hasna mendengus pelan, pasti pintunya terkunci.
"Mau kemana?" Tanya Rama pada Hasna yang beranjak dari duduknya.
__ADS_1
Rupanya Rama mulai memiliki radar jika istrinya itu melakukan pergerakan hendak menjauh darinya.
"Ada yang mengetuk pintu, tapi sepertinya pintu terkunci." Jawab Hasna.
Sepertinya Rama melupakan jika ia yang telah mengunci pintu ruangannya tadi. Benar saja, pintunya terkunci. Hasna memutar kunci dan mendapati perempuan yang ia temui di depan ruangan Rama saat mengantar makan siang tadi.
Marissa mengerutkan keningnya. Heran saja, mengapa perempuan yang tadi mengantar makan siang Rama masih belum pulang juga. Tapi, mereka masih ada hubungan kekerabatan, bukan?
"Permisi, Mbak."
"Silahkan." Hasna sedikit bergeser, mempersilahkan Marissa untuk masuk.
Tanpa sengaja Hasna memperhatikan cara berjalan perempuan berpakaian ketat itu. Bak model catwalk, meliuk ke kanan dan ke kiri. Membuat siapa saja yang melihatnya akan terasa.... Ahhh hanya memikirkan kata yang tepat untuk menggambarkannya saja membuat Hasna malu.
Tapi sepertinya Hasna tidak asing dengan perempuan itu. Seperti pernah bertemu sebelumnya. Tapi dimana, dia lupa. Di restoran, iya di restoran saat terjebak hujan waktu itu. Berarti ada kemungkinan jika laki-laki berpakaian jas rapi yang bersama Marissa saat itu adalah Rama. Atau Ivan.
Hasna kembali duduk di tempatnya semula. Memainkan ponsel di tangannya, untuk mengurangi rasa bosan yang menderanya.
"Maaf, Pak. Ini ada berkas yang perlu Bapak tanda tangani." Ucap Marissa.
Hasna sedikit menautkan alisnya saat mendengar ucapan Marissa. Bukan karena apa yang dikatakan tapi lebih kepada intonasi suaranya. Terdengar mendayu dan sedikit, sensual.
Apa setiap hari seperti ini interaksi Rama dengan sekretaris perempuannya itu.
"Astaghfirullahal'adzim." Gumam Hasna.
Berbahaya sekali pekerjaan suaminya, jika partner kerjanya seperti Marissa. Lagi Hasna beristighfar dalam hati. Semoga saja, suaminya kuat iman.
"Mbak Hasna kenapa masih di sini? Bukankah jam makan siang sudah berakhir dua jam yang lalu?" Tanya Marissa dengan nada tidak suka.
Hasna tidak menyadari jika pembicaraan diantara Marissa dan Rama telah selesai.
"Saya yang memintanya, karena saya akan pulang lebih cepat hari ini. Ada masalah?" Sahut Rama yang sudah berdiri tepat di belakang Marissa.
Seketika raut wajah Marissa berubah pucat. Jangan sampai image yang dibangun selama ini hancur hanya gara-gara ucapannya barusan.
"Maaf, Pak. Saya hanya bertanya. Lagi pula Mbak Hasna hanya kerabat jauh Bapak." Suaranya sudah terdengar lebih melunak.
"Ada masalah?" Sahut Rama.
"Ti...tidak, Pak."
"Kamu boleh keluar sekarang." Tukas Rama.
Mau tidak mau, Marissa segera keluar dari ruangan Rama. Jangan sampai laki-laki itu berpikir buruk tentangnya.
Rama melihat ke arah Hasna yang terdiam sedari tadi.
"Ayo kita pulang." Ajaknya.
Hasna mengangkat kepalanya, melihat ke arah Rama yang memandangnya. Hasna mengangguk setuju.
" Tolong ambilkan jas saya di kursi."
Hasna mengambilkan jas yang tersampir di kursi kerja Rama. Dan membantu memakaikannya di bahu Rama. Rama berjalan ke arah pintu dan diikuti Hasna di belakangnya.
Sekilas Hasna menoleh ke arah Marissa yang berdiri tepat disaat Rama keluar dari ruangannya. Wajah perempuan itu seperti tidak bersahabat. Hasna mengangguk dan tersenyum pada sekretaris cantik itu. Tapi sepertinya senyuman Marissa hanya untuk Rama.
"Sepertinya tidak baik jika aku terlalu lama di sini." Ucap Hasna saat berada di dalam lift bersama Rama.
"Maksudnya?"
"Mereka akan mencurigai hubungan kita." Rama menautkan alisnya.
Laki-laki itu membuang nafasnya kasar.
"Saya akan mengurus semuanya, kamu tidak perlu khawatirkan itu. Lagi pula mereka akan segera mengetahuinya. Kita akan adakan resepsi secepatnya."
__ADS_1
Memang sudah tidak ada pilihan lagi, ini memang yang terbaik bagi mereka.
***