Bidadari Penghapus Luka

Bidadari Penghapus Luka
Bab 176


__ADS_3

Dengan kening yang berkerut, Rama membacanya dengan sangat teliti surat-surat kelengkapan dalam map yang baru ia terima. Benar, tidak ada kesalahan. Bahkan pembayarannya pun telah di lunasi. Tapi bagaimana bisa barang di kirimkan, sedangkan ia tidak membelinya.


"Maaf, bisa katakan pada saya, siapa pemesan mobil ini? Jujur saja, saya tidak bisa menerimanya." Tanya Rama.


"Pemesan atas nama saudara Kevin Wirayudha."


"Kevin Wirayudha?" Gumam Rama. Ia seperti tidak asing dengan nama itu, kemudian menoleh pada Ivan.


"Sepertinya Pak Kevin, karena setahu saya, nama ayahnya Agung Wirayudha." Ucap Ivan tanpa menunggu Rama menanyakannya.


"Kevin?"


"Iya, Pak."


"Maaf, bisa minta waktunya sebentar. Saya akan menghubungi pihak yang bersangkutan terlebih dahulu." Ucap Rama.


"Silahkan, Pak."


Rama meminta Pak Hadi untuk menjamu dua laki-laki yang menjadi tamunya menjelang siang ini. Sedangkan dirinya segera menghubungi Kevin. Untung saja, di deringan ketiga, panggilannya segera dijawab.


"Halo, Kevin."


"Assalamu'alaikum, Rama." Saking tidak sabarannya, ia sampai lupa mengucapkan salam.


"Wa'alaikumussalam. Maaf ada yang ingin aku tanyakan sama kamu."


"Silahkan."


"Tolong kamu jawab dengan jujur. Apa kamu mengirimkan satu unit mobil sport berwarna merah ke rumah orang tuaku?" Tanya Rama tanpa basa-basi.


"Tidak."


"Lalu, kenapa bukti pembayaran atas nama Kevin Wirayudha? Itu kamu, kan?"


"Sejujurnya, aku tidak mengirimkannya untuk kamu, tapi untuk pangeran kecil. Karena aku tidak bisa menuliskan nama yang masih kamu rahasiakan waktu itu sebagai penerimanya. Jadi maaf, aku memakai namamu." Jawab Kevin dengan entengnya.


"Kamu jangan bercanda."


"Aku tidak bercanda, Rama. Apa kamu belum membuka kado yang aku bawa waktu acara aqiqah kemarin?" Rama terdiam, bahkan dirinya dan Hasna belum sempat membuka hadiah-hadiah yang mereka terima untuk putranya sama sekali. Semua masih tersimpan rapi di kamar tamu.


"Pasti belum. Sudah kuduga." Terka Kevin.


"Tapi kenapa harus mobil semahal itu? Itu terlalu berlebihan untuk kado seorang bayi, yang bahkan ia belum bisa tengkurap, apalagi menyetir." Rama tidak habis pikir, kenapa Kevin sampai memiliki ide memberikan mobil dengan harga yang fantastis untuk hadiah kelahiran putranya.


"Aku rasa tidak berlebihan. Karena aku memberikannya agar ia bisa mengendarainya kelak saat Reyn dewasa. Tapi jujur saja, aku berharap suatu saat nanti kamu bisa menggantinya dengan seri keluaran terbaru. Yang ini, bisa kamu pakai dulu." Kekeh Kevin.


"Kevin, ini sungguh tidak lucu. Aku tidak bisa menerimanya. Bahkan jika Hasna tau, dia pun akan melakukan hal yang sama." Rama masih bersikeras untuk menolak pemberian Kevin yang menurutnya tidaklah wajar.


"Jika kalian menolak, sungguh aku akan tersinggung, Rama. Aku memberikannya ikhlas pada Reyn. Aku hanya ingin memberikan sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang tidak hanya bisa dipakainya ketika ia masih bayi, tapi saat ia dewasa nanti. Kalau aku memberikan boneka, pakaian, sepatu, atau hadiah khas bayi lainnya, pasti tidak akan dipakai lagi setelah beberapa bulan kedepan. Dan hadiah itu akan dilupakan begitu saja." Kevin mencoba memberikan alasan.


"Aku rasa ini bukan kado, tapi investasi. Jangan-jangan, jika nanti kamu memiliki anak, kamu meminta hadiah rumah dariku."

__ADS_1


"Hahaha... Anggap saja seperti itu."


"Aku mohon, terimalah. Aku sangat senang jika kamu melakukannya. Dan aku sangat sedih jika kamu menolaknya. Hargailah aku, yang sudah berpikir keras untuk memberikan sesuatu untuk Reyn." Rama dapat mendengar ketulusan dari ucapan Kevin. Apakah ia harus menerimanya, seperti permintaan laki-laki itu?


Rama menghirup nafas panjang dan menghembuskannya dengan cepat.


"Baiklah, aku akan menerimanya. Terima kasih banyak, Kevin. Kado darimu benar-benar membuat otakku berpikir lebih keras. Hufft... Dan setelah ini aku akan rajin-rajin menabung untuk membelikan calon anakmu kado rumah saat ia lahir nanti." Terdengar tawa dari seberang sana.


"Jangan terlalu berlebihan. Bahkan tanpa menabung saja kamu mampu memberi lima unit rumah mewah lengkap beresta perabotnya secara cash."


"Sudahlah, aku harap kamu menerima pemberianku untuk Reyn." Setelah itu sambungan telepon pun berakhir.


Tak berselang lama, Hasna keluar dari dalam rumah. Perempuan itu langsung menghampiri sang suami.


"Mas Rama?"


"Iya, Sayang?"


"Mas Rama beli mobil baru? Kok nggak bilang-bilang?" Tanya Hasna yang lebih terdengar seperti sebuah protes. Karena saat mobil baru datang tadi, Hasna masih mengurus putranya, kebetulan mertuanya sedang ke luar kota, dan Nayla menghadiri acara teman kuliahnya dulu.


"Tidak, ini...dari Kevin untuk Reyn."


"Apa?" Hasna harap ia salah dengar.


"Iya, Sayang."


"Tapi untuk apa?" Perempuan itu tidak sanggup lagi menyembunyikan keterkejutannya.


"Tapi, Mas. Aku rasa ini terlalu berlebihan hanya untuk sebuah kado. Apalagi Reyn masih bayi." Hasna sampai bingung harus berkata apa lagi.


"Aku juga merasa demikian. Entah apa yang Kevin pikirkan, sehingga memiliki ide untuk memberikan kado untuk bayi yang bahkan belum bisa tengkurap sebuah mobil semahal ini. Sungguh pemikiran di luar nalar." Rama pun sama, sampai tidak mampu lagi mengungkapkan rasa terkejutnya atas apa yang Kevin lakukan.


"Sebaiknya kita kembalikan saja." Ucap Hasna.


"Mas sudah menolaknya, Sayang. Tapi Kevin memaksa. Dia akan merasa tersinggung jika kita menolaknya. Karena kado ini untuk Reyn, bukan kita." Hasna memijit keningnya yang terasa berdenyut secara tiba-tiba.


Kenapa Kevin sampai melakikan hal demikian? Jangan sampai ini masih ada sangkut pautnya dengan masalah mereka di masa lalu.


"Sebenarnya aku juga heran, ini kado apa lebih pada sebuah investasi masa depan untuk calon anaknya sih?" Rama menggeleng pelan.


"Nanti coba aku chat Mas Kevin." Ucap Hasna. Sebenarnya ia bisa saja langsung menelepon laki-laki itu, tapi ia juga harus menjaga perasaan dan wibawa Rama sebagai suaminya.


Rama mengangguk dan mengajak Hasna untuk duduk bersama petugas dealer dan Ivan.


"Baiklah, saya terima barang yang anda kirimkan." Ucap Rama pada akhirnya.


"Tidak test drive dulu, Pak?" Tawar petugas itu.


"Ivan, sebaiknya kamu saja." Ivan mengangguk dan segera masuk ke dalam mobil setelah mendapatkan kuncinya.


Tak berselang lama, Ivan kembali dan memarkir mobil mewah itu di tempatnya semula.

__ADS_1


"Bagaimana, Pak? Apa ada yang tidak sesuai?" Tanya petugas.


"Saya rasa, tidak. Eksterior, interior juga fitur lainnya sudah sesuai dengan spesifikasi yang tertera. Lampu, rem juga berfungsi dengan baik." Ucap Ivan. Rema hanya menanggapinya dengan anggukan, karena ia percaya pada tangan kanannya itu.


"Kalu begitu, silahkan tanda tangani bukti penerimaannya, Pak." Petugas itu menyerahkan tanda bukti pengiriman yang harus Rama tandatangani.


"Ini surat kelengkapan lainnya, juga STNK nya ya, Pak. Jika ada yang kurang, silahkan hubungi kami." Rama menerimanya setelah menandatangani bukti penerimaan.


"Terima kasih."


"Sama-sama, Pak. Kami juga berterima kasih karena Bapak telah memberikan kepercayaan kepada kami." Mereka saling berjabat tangan dan segera undur diri.


***


Tring


Notifikasi perpesanan di ponsel Kevin berbunyi, membuat laki-laki itu melirik ke arah benda pipih yang ia geletakkan begitu saja. Hanya sekedar mengecek. Ternyata dari nomor Hasna, nomor yang lebih satu tahun lamanya tidak pernah menghubunginya.


"Hasna?" Lirihnya. Kevin segera menyambar benda itu dan membuka pesan yang baru saja ia terima. Pasti masalah yang sama.


~Assalamu'alaikum, Mas Kevin. Mohon maaf jika nantinya akan membuat Mas Kevin tersinggung.~ Hasna.


~Apakah benar, jika Mas Kevin sengaja mengirimkan mobil sebagai kado untuk kelahiran putra kami? Jika memang demikian, maaf, kami tidak bisa menerimanya. Kami rasa ini terlalu berlebihan hanya sebagai kado kelahiran.~ Hasna.


Benar dugaannya, masalah yang sama Hasna tanyakan setelah ia menjawab telepon dari Rama tadi siang.


"Wa'alaikumussalam, Hasna. Iya aku mengirimkannya khusus untuk putra kalian. Jangan berprasangka buruk dulu terhadapku. Aku sungguh tidak memikirkan apapun saat memilih memberikannya untuk putra kalian. Aku sungguh tidak memiliki maksud apapun selain hanya untuk pemberian. Aku sangat berharap, kalian bisa menerimanya. Hadiah itu khusus aku peruntukkan untuk Reyn.~ Kevin.


Hasna membaca pesan yang baru saja ia terima. Belum sepenuhnya, pesan kedua sudah masuk.


~Anggap saja sebagai kenang-kenangan dariku untuk putra kalian. Karena mungkin aku tidak bisa lagi mengunjungi Reyn. Aku akan kembali menetap di Singapura.~ Kevin.


~Tapi, ini sungguh berlebihan.~ Hasna.


~Aku rasa tidak, anggap saja ini sebuah bentuk tabungan masa depan untuk Reyn. Aku mohon, Hasna, aku mohon terimalah. Rama sudah bersedia menerimanya.~ Kevin.


Hampir lima menit tidak ada balasan. Kevin meletakkan ponselnya dan kembali menyelesaikan pekerjaannya.


Tring


~Baiklah, kami akan menerimanya. Atas nama Reyn, kami ucapkan terima kasih banyak. Semoga hadiah yang Mas Kevin berikan, akan menjadikan sebuah manfaat untuk Reyn saat dewasa kelak.~ Hasna.


Kevin menarik sudut bibirnya.


~Aamiin... Sehat selalu Reyn.~ Kevin.


Minggu depan, Kevin akan bertolak ke Singapura dan akan menetap di sana. Ia mengembangkan bisnis orang tuanya yang baru dirintisnya hampir tujuh bulan lamanya. Juga sekaligus untuk membuka lembaran baru di negeri singa itu. Masa lalunya biarlah berlalu seiring kebahagiaan yang dirasakan Hasna bersama keluarga kecilnya. Kevin perlahan mulai bisa mengikis rasa yang pernah ada untuk perempuan bermata teduh itu. Walaupun ia belum bisa membuka hatinya untuk perempuan lain. Semoga saja keputusannya tepat. Meninggalkan Indonesia demi menata kembali kehidupannya. Hasna sudah bahagia, sekarang giliran dirinya yang akan mencari kebahagiaannya sendiri.


***


Aku nambah up satu bab lagi ya...Biar nggak suudzon sama Mas Kevin. Kan kasihan, niat baiknya dikiranya karena apa-apa. 😁😁

__ADS_1


Masalah kadonya Reyn, gapapa kan ya author nya haluπŸ€­πŸ™πŸ»


__ADS_2