Bidadari Penghapus Luka

Bidadari Penghapus Luka
Bab 103


__ADS_3

Jarum jam sudah menunjukkan angka sebelas, namun tak ada tanda-tanda pintu kamar itu terbuka. Bahkan pemilik kamar melewatkan sarapannya. Beberapa kali ART mengetuk pintu dan menanyakan kapan sang majikan sarapan, namun jawaban yang diberikan tetaplah sama.


Kembali seorang ART tengah berdiri dan mengetuk pintu kamar yang masih tertutup rapat itu.


"Mas?"


Tok, tok, tok


"Mas Kevin?" Seru ART itu.


"Mas Kevin mau diantarkan sekarang sarapannya?" Tanya ART saat tidak mendapatkan sahutan dari dalam.


Tok, tok, tok.


"Mas?" Lagi-lagi tak ada sahutan.


Tok, tok, tok.


Cklek


Akhirnya pintu terbuka juga. Terlihat Kevin yang sudah berpakaian rumahan rapi.


"Mas Kevin mau sarapan sekarang?" ART menanyakan kembali pada Kevin. Bukan sarapan, lebih tepatnya makan siang.


"Tidak, nanti kalau saya lapar, saya akan turun." Jawab Kevin, lantas kembali menutup pintu kamarnya.


ART itu hanya menggeleng pelan. Sebulan terakhir ini, tingkah majikan mudanya sungguh aneh, tak seperti biasanya. Kevin lebih sering meninggalkan sarapannya, dan lebih memilih berangkat ke kantor lebih pagi dari biasanya. Begitu juga saat malam, laki-laki itu sering kali melewatkan jam makan malamnya. Bahkan sering juga pulang hingga larut.


"Gimana, Bi?" Tanya Bu Rosita saat ART nya sudah berada di ruang tengah kembali.


"Maaf, Bu. Mas Kevin bilang, kalau lapar, nanti turun, gitu katanya." Ucap ART menirukan ucapan Kevin.


Bu Rosita menghembuskan nafas kasar. Sepulang dari acara resepsi Hasna kemarin malam, putranya mengurung diri di kamarnya. Dan sampai menjelang siang, Kevin tak kunjung keluar, bahkan melewatkan sarapannya.


"Ya sudah, makasih ya, Bi." Ucap Bu Rosita dengan senyuman yang dipaksakan.


"Sama-sama, Bu. Kalau begitu saya pamit ke belakang." Bu Rosita mengangguk.


Bu Rosita pun beranjak, berniat ke kamar putranya. Namun belum juga wanita itu melangkah, Kevin lebih dahulu menuruni anak tangga. Ada kelegaan di wajah wanita itu.


"Ma." Sapa Kevin.


Bu Rosita menghampiri putra kesayangannya. Diusapnya pelan lengan kekar yang berbalut kaos warna merah itu.


"Sarapan dulu, ya. Mama temenin." Ucap Bu Rosita lembut.


Kevin hanya mengangguk. Ia paham sekali jika sang ibu tengah mencemaskan dirinya, makanya ia memilih untuk turun. Semenjak semalam, ia tidak keluar dari kamar sama sekali. Dan pagi ini, ia tidak ikut sarapan bersama dengan kedua orang tuanya.


Bu Rosita mengambilkan makanan untuk sang putra, dan meletakkannya di hadapan laki-laki itu. Kevin tersenyum lebar saat melihat piring dihadapannya. Sepiring nasi penuh dengan lauk juga sayuran.


"Ma, Kevin hanya melewatkan sarapan tadi pagi. Kenapa makanan yang Mama siapkan sudah seperti Kevin melewatkan makan selama beberapa hari?" Kekeh Kevin.


Bu Rosita ikut tersenyum saat kedua sudut bibir putranya tertarik membentuk lengkungan ke atas. Hampir sebulan lamanya, senyuman itu tidak pernah Bu Rosita lihat. Kalaupun Kevin tersenyum, lebih tepatnya kerena dipaksakan.


"Ya...Mama hanya ingin memastikan jika putra kesayangan Mama tidak akan merasa lapar nantinya." Ucap Bu Rosita. Kevin kembali tersenyum lebar dan menggelengkan kecil kepalanya.


Kevin mulai menyuapkan makanan, tapi gerakannya terhenti. Seketika ia mengingat kebiasaan Hasna saat akan makan. Lagi-lagi Kevin menyunggingkan senyumannya.

__ADS_1


"Kenapa?" Tanya Bu Rosita, saat Kevin kembali meletakkan sendok dan garpunya.


Kevin menggeleng pelan tanpa menjawab pertanyaan ibunya.


"Bismillahirrahmanirrahim." Lirihnya. Seketika Bu Rosita menyadari jika putranya tersenyum saat mengingat perempuan yang begitu istimewa di hati putra kesayangannya.


"Habiskanlah, Nak." Ucap Bu Rosita lembut.


Bu Rosita memperhatikan Kevin dengan seksama. Putranya tak pernah mencintai perempuan seperti saat mencintai Hasna. Tanpa menyatakan perasaan, justru Kevin langsung melamar gadis pujaannya. Namun, takdir tak mengizinkan mereka bersatu. Hasna telah dinikahi laki-laki lain. Bahkan kemarin Kevin sempat menghadiri acara akad nikah antara hasna dan suaminya.


Wanita paruh baya itu tau jika senyuman putranya sepanjang acara resepsi pernikahan Hasna kemarin merupakan senyuman yang dipaksakan. Mungkin Kevin telah mengatakan ikhlas melihat Hasna bahagia, tapi tak semudah itu melupakan rasa yang telah mengakar di hati laki-laki itu.


"Ma, Kevin menyerah. Kevin akan mengibarkan bendera kekalahan." Kekeh Kevin.


Bu Rosita kembali tersadar dari lamunannya. Wanita itu menatap ke arah Kevin yang tertawa kecil. Laki-laki itu mengangkat kedua tangannya di sisi kanan dan kiri kepalanya.


"Kevin sudah tidak sanggup menghabiskan makanan ini lagi. Kevin menyerah." Kini laki-laki itu mengusap perutnya yang terasa penuh.


"Semoga akan ada perempuan baik yang telah menantikan pertemuan kalian, hingga pada akhirnya kalian di persatukan dalam ikatan pernikahan."


***


Di kediaman Suryanata, Bu Diana tengah sibuk menata makan malam di atas meja makan. Malam ini putra juga menantunya akan makan malam bersama dengan mereka di rumah.


"Ma, Kak Rama sama Mbak Hasna jadi nginep, kan?" Tanya Nayla.


"Jadi. Kenapa?" Tanya Bu Diana.


"Ya...cuma nanya sih, soalnya menurut penerawangan Nayla sih ya, Kak rama nggak bakalan mau nginep di sini untuk saat ini." Ucap Nayla dengan gaya sok tengilnya.


"Sok tau kamu." Ucap Mama.


"Bu, Den Rama sama Neng Hasna sudah datang." Ucap salah satu ART.


"Biar saya lanjutkan, Bu." Ucap Mbok Sumi.


"Makasih ya, Mbok." Bu Diana pun berlalu menuju ruang tengah.


Nampak Rama juga Hasna yang tengah duduk berbincang bersama dengan Papa.


"Hasna." Panggil Mama.


"Assalamu'alaikum, Ma." Hasna menghampiri Mama, mencium punggung tangan wanita itu.


"Wa'alaikumussalam, Sayang." Mama membawa menantunya ke dalam pelukan.


"Ehemmm...berasa anak tiri." Sindir Rama. Lantas mencium punggung tangan sang ibu.


"Emang Kak Rama nggak tau kalau udah dicoret dari Kartu Keluarga sama Mama?" Sahut Nayla.


"Nggak masalah, jadi nggak perlu lagi transfer uang bulanan." Ucap Rama enteng.


"Ih...orang cuma bercanda juga. Kak Rama kan kakak terbaik di dunia." Rayu Nayla. Gadis itu tertawa memaksa sembari bergelayut manja pada sang Kakak.


Semua yang ada di sana tertawa melihat tingkah Nayla. Hanya Rama yang menahan senyumnya, seolah tidak mempan dengan rayuan adik perempuannya.


Nayla masih bergelayut di lengan Rama. Gadis itu berusaha merayu kakak laki-lakinya , guna menyelamatkan uang bulanan agar jangan sampai melayang begitu saja.

__ADS_1


"Lepas, berasa kayak lagi di gelendotin simpanse jadinya." Ucap Rama.


"Kak Rama, ih...nyebelin. masa Nay di bilang simpanse?" Rajuk gadis itu melepaskan tangan sang Kakak.


"Udah, udah, kita makan sekarang." Ucap Mama.


Mereka semua menuju meja makan. Hasna juga Rama melihat meja makan yang begitu penuh dengan makanan. Ada banyak menu disana. Pantas saja jika Mama memaksa mereka pulang.


"Mau ngundang siapa lagi, Ma? Banyak bener masaknya?" Tanya Rama.


"Nggak ada, Mama masak buat menyambut kalian." Ucap Mama. Rama dan Hasna saling beradu pandang.


Mereka semua makan dengan tenang. Dan seperti biasa, Rama berbagi makanan di piring yang sama dengan Hasna. Rama yang memintanya. Laki-laki itu mengatakan akan selalu berbagi makanan di piring yang sama dengan sang istri. Selain menjaga keromantisan dengan pasangan, juga merupakan Sunnah Rasul.


"Kalian jadi nginep, kan?" Tanya Mama. Rama dan Hasna saling beradu pandang.


"Eemmm..." Sulit sekali bagi Hasna mengatakan jika mereka tidak jadi menginap. Perempuan itu kembali melirik sang suami.


"Kami... tidak jadi menginap, Ma." Ucap Rama pada akhirnya.


"Loh, kenapa? Kan Mama udah bilang sama kamu kemarin." Terdengar nada kecewa dalam ucapan Mama.


Rama meraih tangan Hasna dan menggenggamnya hangat. Laki-laki itu tersenyum pada sang istri.


"Kami ingin menghabiskan waktu berdua dulu, Ma. Sebelum nantinya Rama kembali sibuk bekerja." Ucap Rama.


Bu Diana mengangguk lesu. Sepertinya alasan Rama diterima, walaupun wanita paruh baya itu terlihat kecewa.


"Sebagai gantinya, nanti tiap weekend kami akan menginap di sini." Pungkas Rama.


"Janji, ya." Mama memastikan.


"Iya, Ma." Jawab Rama dengan seulas senyuman.


"Katanya Mama pengen cepat punya cucu, biar bisa di panggil Oma. Sekarang giliran anak mantunya pengen berduaan, di gangguin." Goda Papa.


"Siapa yang gangguin sih, Pa. Kan nanti mereka tidurnya di kamar mereka. Mama nggak ikutan. Cuma, Mama biar ada temen ngobrol, itu saja." Ucap Mama.


"Ehemmm...berasa jadi anak tiri nih. Padahal tiap hari di temenin ghibah juga." Sahut Nayla.


"Kak, kita senasib. Sama-sama jadi anak tiri di sini." Ucap Nayla pada Rama.


"Nyari temen ceritanya, Neng?" Goda Rama.


"Ih...nyebelin." Rajuk Nayla.


Makan malam pun kembali berlanjut dengan tenang. Setelahnya mereka berbincang seperti biasa di ruang tengah. Cukup lama akhirnya Rama dan Hasna pamit untuk kembali ke hotel.


***


Dear para pembaca setia


Maafkan daku yang belum bisa konsisten up bab di jam yang sama seperti di awal-awal bab dulu. Tapi percayalah jika aku berusaha untuk memberikan yang terbaik buat kalian semuanya.


Semoga selalu suka dan terhibur ya.


salam sayang dari Mas Kevin buat kalian

__ADS_1


❤️❤️❤️


__ADS_2