
Membangun sebuah rumah tangga, bukan hanya sebatas menyatukan dua insan dalam ikatan pernikahan. Tapi juga menyatukan dua insan yang siap menjalankan peranannya sebagai pasangan.
Bukan berbicara seberapa mampu seorang laki-laki akan memberikan nafkah kepada istrinya. Karena tugas suami bukan hanya sebatas mencukupi nafkah. Tapi seberapa mampu seorang suami mendidik istrinya menjadi jauh lebih baik lagi. Baik di matanya, juga di hadapan Tuhannya.
Saling membimbing dan mengingatkan dalam hal kebaikan. Saling memberi dan menerima. Itulah pasangan. Bukan hanya sekedar mencintai dan menjalani hubungan.
Membangun sebuah rumah, butuh pondasi yang kuat. Begitu pula saat membangun sebuah hubungan. Kepercayaan, pondasi terkuat dalam sebuah hubungan. Bukan hanya tentang percaya pada pasangan. Tapi juga percaya pada Sang Pemilik semesta yang telah memilihkan pasangan terbaik versin Nya, meskipun tidak pernah kita inginkan kehadirannya.
Manusia hanya bisa berencana akan menjalin hubungan dengan siapapun yang membuatnya memiliki ketertarikan. Tapi hanya Tuhan yang bisa mempersatukan dengan siapa ia nantinya.
Seperti hubungan antara Rama dengan Hasna. Pernikahan yang tidak pernah Rama inginkan dalam hidupnya, namun harus ia jalani karena garis takdir yang mempertemukannya dengan Hasna sebagai istrinya.
Hasna, seorang perempuan yang berusaha menerima pernikahan dengan lelaki asing, yang tidak pernah ia kenal sebelumnya. Tapi keyakinannya pada takdir yang Tuhannya gariskan, membuat ia tetap bertahan. Hingga pada akhirnya cinta ia dapatkan.
Perlahan Rama belajar menjadi seorang suami yang lebih baik. Bukan berubah lantaran siapa perempuan yang berada di sampingnya. Tapi karena ia sadar, menjadi seorang pemimpin akan menjadikannya sebagai panutan untuk istri dan anak-anaknya.
***
"Selamat pagi, Pak Rama. Maaf mengganggu waktu Pak Rama dengan keluarga." Sapa Pak Darmawan melalui Sambungan telepon.
"Tidak, Pak Darma. Apa ada yang ingin di bicarakan?" Laki-laki itu memang sedang melakukan panggilan dengan pengacaranya, tapi ia tidak mengabaikan bayi mungil yang sedang tersenyum ke arahnya.
"Surat-surat rumah yang baru Pak Rama beli, sudah selesai saya urus semuanya, dan sudah beres. Nanti berkas kelengkapannya akan saya kirimkan pada Pak Rama segara." Ucap Pak Darmawan.
"Terima kasih banyak atas bantuannya, Pak Darma."
"Sama-sama, Pak Rama." Sambungan telepon pun berakhir.
"Oke, jagoan. Kita akan segera pindah ke rumah baru kita." Baru saja ia akan mengangkat tubuh gembul Reyn, ponselnya kembali berdering.
"Ivan?" Gumamnya.
"Ya, Ivan?"
"Maaf, Pak jika saya menganggu." Ucap Ivan hati-hati. Jangan sampai ia kena semprot lagi karena menghubungi Rama di hari libur kerja seperti tempo hari.
"Katakan."
"Sekuriti dan bodyguard yang Pak Rama minta, saya sudah menemukan yang cocok sesuai kriteria. Apa Pak Rama ingin bertemu langsung dengan mereka?" Ucap Ivan panjang lebar.
"Saya rasa tidak perlu. Saya percaya sama kamu."
"Oh iya. Pak Darma sudah membereskan berkas rumah yang akan saya tinggali. Tolong kamu atur kepindahan saya nantinya."
"Baik, Pak."
"Maaf, rencananya Pak Rama pindah, kapan ya?"
"Mungkin sekitar satu minggu lagi."
"Baik, Pak."
"Terima kasih, Ivan."
Rama kembali meletakkan ponsel miliknya, dan bersiap kembali untuk mengangkat tubuh jagoan kecilnya.
"Oke, boy, kita cari bunda sekarang."
__ADS_1
***
Seperti biasa, Hasna membantu Rama untuk bersiap ke kantor. Tapi sepertinya laki-laki itu akan memulai drama paginya.
"Mas, ayo cepetan udah jam enam lewat loh." Ucap Hasna pada Rama yang masih asik bercengkerama dengan putra kecil mereka.
"Apa? Anak ayah mau di temani main seharian?" Reyn hanya tertawa dengan kaki dan tangan yang aktif bergerak.
"Oke, akan ayah temani." Rama menggesekkan ujung hidungnya di perut bayi gembul itu, hingga tawa Reyn kembali terdengar dengan begitu riangnya.
Hasna mendengus kesal mendengarnya. Pasalnya sedari tadi ia tidak turun membantu menyiapkan sarapan hanya untuk memastikan jika Rama benar-benar sudah siap berangkat ke kantor. Tapi malah suaminya itu sedang bermalas-malasan dan masih asik menggoda putranya.
"Mas, aku tinggal, ya. Kalau mau ke kantor, bersiap sendiri." Ucap Hasna sedikit ketus.
Hasna segera melangkahkan kaki keluar dari kamar mereka. Tapi belum sampai ia meraih handle pintu, sepasang lengan kokoh melingkari perutnya.
"Bundanya Reyn ngambek?" Rama menyandarkan kepalanya di pundak Hasna.
Tak menjawab, hanya dengusan kasar yang terdengar dari mulut perempuan itu.
Rama menggiring tubuh Hasna yang berada di depannya menuju kamar mandi, dengan lengan yang masih setia melingkari perut istrinya.
"Temani aku mandi, ya?" Bisik Rama tepat di telinga Hasna.
Perempuan itu membulatkan matanya. Menemani mandi yang bagaimana maksud Rama? Tiba-tiba saja jantungnya berdegup semakin kencang hanya karena memikirkan jawaban dari pertanyaannya sendiri.
"Kenapa suaranya kencang sekali?" Hasna sedikit memiringkan kepalanya agar bisa melihat Rama yang masih betah bersandar di pundaknya.
"Dug, dug, dug. Kencang sekali." Hasna baru menyadari jika yang Rama maksudkan adalah detak jantungnya.
"Tapi, aku rasa kamu tidak perlu menjawabnya. Karena pasti jawabannya iya." Lirih Rama.
"Sok tau, ih." Hasna berusaha melepaskan tautan lengan Rama di perutnya.
"Nggak percaya? Coba lihat." Rama menghadapkan wajah Hasna tepat di depan kaca yang ada di kamar mandi.
Hasna baru sadar jika mereka sudah masuk ke dalam kamar mandi. Tapi sejak kapan? Hasna memperhatikan pantulan dirinya di cermin. Semburat merah muda menghiasi kedua pipinya. Pantas jika Rama meledeknya.
"Inilah salah satu alasan yang membuat aku selalu jatuh cinta berkali-kali sama kamu. Kamu selalu nampak malu-malu. Aku jadi merasa seperti pengantin baru lagi." Hasna menatap cermin yang menampakkan wajah tampan suaminya.
"Kamu ingat, dulu saat aku cidera dan meminta kamu untuk membantuku mandi? Wajah ini yang kamu tampakkan saat itu. Wajah merona yang nampak malu-malu. Tapi waktu itu kamu meninggalkan aku sendiri dengan pakaianmu yang basah."
Hasna ingat itu. Tidak mungkin ia melupakannya. Pertama kali ia terjebak di kamar mandi bersama Rama, di bawah guyuran air shower yang membuatnya basah kuyup. Lalu ia segara meninggalkan Rama setelah ia mendapatkan kesadarannya kembali. Entah mengapa, sepasang netra tajam itu seolah menghipnotisnya.
"Sekarang, aku mau kamu menemaniku mandi. Tapi jangan tinggalkan seperti waktu itu."
Rama membalikkan tubuh perempuan pemilik hatinya. Sedikit mencondongkan tubuhnya. Mengikis jarak di antara mereka. Hanya tinggal beberapa senti bibir ceri itu dapat di raihnya. Sepasang mata teduh itu terpejam saat wajah tampan itu kian mendekat.
"Uwaaa...uwaaa...uwaaa..."
"Reyn."
Hasna reflek mendorong dada Rama saat mendengar tangis putranya. Perempuan itu gegas keluar dari kamar mandi dan meninggalkan Rama seorang diri. Ia hampir lupa jika meninggalkan Reyn sendirian di atas ranjang. Untung saja bayi itu belum bisa tengkurap dan berguling-guling.
"Reyn, kamu mengacaukan acara pagi ayah." Gumam Rama disertai dengusan kecil.
***
__ADS_1
Hari ini, keluarga kecil Rama resmi menempati rumah baru mereka. Tangan kokoh itu menggenggam erat tangan sang istri dengan begitu hangat. Dan sebelah tangannya menggendong Reyn.
"Huwaaaa...gede banget, astaga. Ini rumah apa istana sih?" Nayla berdecak kagum menatap bangunan di hadapannya.
"Mbak, aku hari ini nginep ya. Seminggu aja." Rengek Nayla.
"Kamu mau nginep apa ngekost? Lama bener." Sahut Pak Andi.
"Nay pengen nyobain tidur dalam istana, Pa."
Pintu utama terbuka, nampak Mbak Marni yang menyambut kedatangan mereka. Sebelum kepindahan Rama, semua pakaian dan barang yang sekiranya penting sudah dipindahkan kemari. Semua sudah di atur oleh Ivan. Rama beserta istri dan anaknya tinggal menempati dengan keadaan yang sudah beres semuanya.
"Assalamu'alaikum, Mas Rama, Mbak Hasna, Bapak, Ibu,bak Nayla." Sapa Mbak Marni.
"Wa'alaikumussalam." Jawab semuanya bersamaan.
"Kamar sudah saya siapkan, Mas Rama dan Mbak Hasna bisa langsung istirahat. Biar anak ganteng sama saya." Mbak Marni mengambil Reyn dari gendongan Rama.
"Kamar Bapak, ibu, juga Non Nayla, juga sudah di siapkan." Lanjut Mbak Marni.
"Yes, Nay, nginep." Gadis itu pun segera berlalu masuk ke dalam, diikuti Pak Andi, Bu Diana, jugabak Marni yang menggendong bayi berusia hampir tiga bulan itu.
Rama menatap perempuan di sampingnya dengan tatapan penuh cinta. Genggaman tangannya pun semakin erat.
"Selamat datang di istana kita, Ratuku. Bantu aku menjadikan istana ini menjadi surga untuk keluarga kecil kita." Hasna menoleh pada Rama dan tersenyum hangat.
"Karena aku sudah membawa bidadari dan malaikat kecilku kemari." Rama mengusap lembut pipi yang selalu bersemu merah itu.
"Terima kasih telah menjadi bidadari dalam hidupku. Yang menghapus setiap luka. Yang memberikanku cinta dan kekuatan. Membuatku merasa menjadi laki-laki yang sempurna." Hasna tersenyum mendengarnya.
Laki-laki itu, laki-laki yang sama yang pernah membuatnya merasa tidak berharga sebagai seorang istri di awal pernikahan mereka. Tapi laki-laki itu pula yang membuatnya menjadi seorang istri yang sempurna. Laki-laki yang selalu menghujaninya dengan cinta.
Rama mengecup kening Hasna dengan begitu lama. Merasakan kembali getaran cinta pada istrinya. Rama menatap lekat manik indah itu, dan membawa pemilik mata teduh itu ke dalam pelukan.
Tamat.
***
Huwaaaa... Rasanya berat nyelesain kisah Mas Rama dan Hasna 😭😭. Tapi emang udah di setting begini.
Sebenarnya udah mau aku up kemarin, tapi rasanya kok nggak tega gini😢. Tapi...ya sudah. Semoga kalian terhibur ya 🥰
Jangan tanya,
Kabarnya Tomi sama anaknya gimana Thor?
Marissa kok nggak dikasih ketemu dulu sama anaknya?
Atau kisah Kevin sama Nayla gimana ceritanya? Kok belum muncul hilal buat hubungan mereka?
Ini memang ceritanya Mas Rama dan Hasna saja, ya. Dan mereka semua, Kevin, Nayla, Tomi, Marissa juga mas Ivan ganteng cuma sebagai pemeran pendukung, biar cerita ini memiliki alur dan konflik yang menarik. Jika pun tidak, terima kasih sudah mampir dan mengikuti kisah mereka sampai di bab akhir. Tapi aku tunggu loh yang kemarin bilang alurnya nggak bagus, atau kasih ulasan buruk, aku tunggu karya kalian. Jadi pengen tau, gimana alur yang bagus menurut para deterzen terzheyeng. Aku tunggu novel kalian dengan penuh rindu. Canda...nggak usah serius gitu, tegang bener🤣🤣
Sekali lagi, terima kasih buat teman-teman semuanya. Tanpa kalian, aku juga tidak akan mampu menulis cerita sepanjang ini. Aku masih amatiran, perlu banyak belajar. Dan terima kasih juga buat surat cinta yang kalian tinggalkan di setiap babnya, yang selalu buat aku semangat nulis😘😘
Lope lope sekebon buat kalian. See you di next cerita.
Aku mau bertapa dulu biar dapat wangsit, 😁😂
__ADS_1