Bidadari Penghapus Luka

Bidadari Penghapus Luka
Bab 108


__ADS_3

Hasna mengungkapkan rasa sukanya terhadap sekretaris baru Rama yang bernama Tania. Awal perjumpaan mereka memberikan kesan yang baik bagi Hasna. Tania perempuan yang begitu sopan. Baik dari cara berpakaiannya yang terkesan tertutup meskipun tidak berhijab, tutur bahasa juga attitude nya. Padahal perempuan itu tidak mengetahui jika Hasna adalah istri dari pemilik perusahaan tempatnya bekerja. Tapi perlakuannya begitu sopan.


Saat Rama mengatakan jika Tania sepupu dari Ivan, Hasna hampir tidak menyangkanya sama sekali. Tapi seketika ia percaya karena mengingat jika keduanya memiliki kepribadian yang hampir sama.


"Ya pantas saja, karena mereka memiliki kepribadian yang hampir sama. Humble dan menyenangkan." Puji Hasna. Perempuan itu bahkan mengulaskan senyuman.


"Kalau Tania memang pribadi yang menyenangkan. Tapi kalau Ivan? Dia sangat menyebalkan." Sarkas Rama, Hasna mengernyit heran.


"Menyebalkan?" Ia tak salah dengar, kan?


"Ya, Ivan itu asisten yang sangat menyebalkan. Karena secara terang-terangan dia pernah mengatakan jika dia mengagumi kamu kepada saya." Hasna membolakan kedua netranya dan reflek menoleh pada Rama yang sudah berubah mode. Lihatlah, wajahnya bahkan sudah berubah masam sekarang.


"Mengagumi? Maksudnya gimana ya, Mas?" Hasna mencoba memastikan maksud ucapan suaminya.


Rama terdiam, tak berniat menjawab pertanyaan istrinya. Karena dia sendiri kelepasan saat mengatakannya tadi. Laki-laki itu memilih kembali fokus pada jalanan.


Rama masih mengingat dengan jelas bagaimana saat Ivan mengatakan tentang rasa kagumnya pada hasna waktu itu. Untung saja, ia masih memperkenalkan Hasna sebagai kerabat jauh Papanya. Jika tidak bisa-bisa ada baku hantam antara bos juga asistennya.


"Sialan, kamu Ivan. Gara-gara Hasna memuji kamu, aku jadi kelepasan mengatakan jika kamu pengagum Hasna."


"Mas, kok malah diem sih?" Ucap Hasna, membuat Rama menoleh sekilas pada istrinya.


"Ada apa?" Rama berlagak seolah tidak sedang membahas apa-apa sebelumnya.


"Maksudnya apa Mas Rama ngomong kayak tadi? Pak ivan_"


"Itu dulu, jaman aku ngenalin kamu sebagai kerabat jauh Papa. Udah ah nggak usah di bahas." Potong Rama cepat. Laki-laki itu terlihat kesal sendiri.


Oh, jadi itu alasannya, kenapa Hasna tidak diizinkan untuk membuatkan sesuatu untuk menjamu Ivan jika asisten itu bertandang ke rumah? Karena asisten pribadi suaminya mengagumi dirinya dan mengatakan langsung pada Rama secara langsung. Rumit sekali.


Hening. Keduanya sama-sama terdiam. Sepertinya Rama sudah tidak mood lagi melanjutkan obrolan. Keduanya terdiam hingga sampai di rumah.


***


Tomi memarkirkan mobilnya di halaman. Beruntung sekali kontrakan Tomi memiliki halaman yang luas, sehingga bisa menampung dua mobil sekaligus. Jika kontrakannya hanya satu lantai dengan dua kamar.


Pintu masih tertutup rapat, sepertinya Marissa masih berada di kamar. Tomi membuka pintu dan masuk ke dalam. Marissa benar-benar ceroboh, membiarkan rumah dalam keadaan pintu yang hanya tertutup tanpa di kunci terlebih dahulu.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum." Ucap Tomi.


Hening, tidak ada sahutan. Tomi langsung ke dapur untuk meletakkan barang belanjaannya. Menyusunnya di rak dapur.


Cklek


Atensinya teralihkan saat pintu kamar yang Marissa tempati terbuka. Terlihat jika perempuan itu baru saja mandi, terlihat dari rambutnya yang masih basah.


"Gue laper." Ucap Marissa. Tomi menghentikan gerakannya menata barang belanjaannya.


"Ada makanan di meja makan, lo makan aja dulu." Ucap Tomi.


Marissa memeriksa meja makan, ada bungkusan di atas sana. Perempuan itu mengeluarkan satu bungkus makanan dari kantong plastik, dan membuka bungkusannya. Masakan Padang komplit dengan rendang daging juga gulai daun singkong.


"Nggak ada menu lain?" Tanya Marissa. Perempuan itu kembali meletakkan bungkusan nasi di tangannya.


"Lo mau makan apa?" Tanya Tomi.


"Gue pengen Risotto yang ada di jalan Flamboyan." Jawab Marissa, membuat Tomi menghentikan gerakannya.


Ucapan Marissa serasa menghentikan pasokan oksigen yang masuk ke dalam paru-parunya secara paksa. Bagaimana tidak, tempat yang Marissa sebutkan adalah sebuah restoran Italia yang terkenal dengan harganya yang wah. Bukan tak mau menuruti apa yang Marissa mau. Tapi ia harus berpikir realistis jika harus mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk menikmati menu khas Italia yang Marissa sebutkan. Sedangkan gajinya telah ia bagi-bagi untuk keperluannya bersama Marissa, untuk ibunya, untuk saku kuliah adiknya, juga menyisihkan untuk biaya persalinan Marissa kelak.


"Gimana?" Tanya Marissa tak sabar.


Tomi menghirup nafasnya dalam dan mengeluarkannya perlahan. Baiklah, sepertinya ia harus mengalah.


"Aku akan mandi sebentar." Marissa hanya mengangguk mengiyakan.


Hampir tiga puluh menit Marissa menunggu, akhirnya Tomi keluar kamar juga. Laki-laki itu nampak lebih segar. Mengenakan kaos polo berwarna navi dengan celana denim berwarna gelap, Tomi terlihat seperti mahasiswa tingkat akhir jika begini.


"Ayo." Ajak Tomi.


Marissa memperhatikan penampilan laki-laki yang telah menjadi suaminya itu. Kenapa seolah ia merasakan Dejavu dengan penampilan Tomi seperti ini. Perempuan itu merasa tengah melihat Tomi di masa lalu. Saat laki-laki itu menjadi laki-laki yang paling spesial di hatinya.


"Ayo, kenapa bengong? Nggak jadi?" Ucap Tomi membuyarkan lamunan Marissa.


Tanpa mengatakan sepatah kata pun, perempuan itu sudah berdiri terlebih dahulu. Marissa melangkah keluar rumah tanpa mempedulikan Tomi. Tomi hanya menggelangkan kepala melihat tingkah Marissa.

__ADS_1


Marissa berdiri tepat di depan mobil Tomi dengan kedua tangan yang bersedekap di dada. Tomi segera membuka pintu dan langsung tancap gas menuju restoran yang Marissa maksudkan.


Dan di sinilah mereka sekarang, keduanya masih berada di parkiran restoran itu. Marissa sudah melepaskan seatbelt nya, sedangkan Tomi bergeming di tempatnya. Terdengar jika laki-laki itu berkali-kali membuang nafasnya kasar. Seperti biasa, Marissa melenggang pergi tanpa menunggu Tomi.


"Kenapa hanya baca nama restonya doang, gue merasa insecure gini, sih?" Gumamnya seorang diri.


"Cukup sekali, ya Nak. Jangan minta ke sini lagi." Lanjutnya, seolah tengah berbicara dengan anaknya.


Tomi turun dari mobil dan berjalan mensejajarkan langkahnya dengan Marissa. Mereka mencari tempat kosong untuk duduk.


Marissa membaca buku menu dan memesan makanan yang diinginkannya. Untung saja perempuan itu hanya memesan parmesan Risotto dan segelas minuman.


"Pesan apa, Pak?" Tanya waiters yang mencatat pesanan di meja mereka.


"Tidak, cukup itu saja. Istri saya sedang mengidam." Jawab Tomi, lantas laki-laki itu tersenyum. Marissa menatap laki-laki di hadapannya itu dengan tatapan jengah.


"Kenapa? Lo nggak ada duit buat beli makan di sini?" Sarkas Marissa sepeninggal pelayan restoran itu.


Tomi diam tak menanggapi ucapan Marissa yang terdengar seolah tengah mengejeknya. Perkataan istrinya itu terdengar begitu menyakitkan.


Tak lama pesanan pun datang. Pelayan menghidangkan sepiring parmesan risotto dan segelas lemon tea di hadapan Marissa. Tanpa menunggu lama, perempuan itu menyantap hidangan di depannya dengan sangat lahap. Tanpa terasa Tomi menarik kedua sudut bibirnya membentuk lengkungan.


Wajah cantik perempuan yang telah menjadi istrinya itu terlihat begitu menikmati hidangan. Mungkin beginilah orang yang tengah merasakan ngidam. Menginginkan sesuatu, dan menikmatinya tanpa mempedulikan orang lain di sekitarnya.


"Mau nambah?" Tanya Tomi. Tak apa sesekali merogoh kantong begitu dalam, toh itu untuk istri dan anaknya.


"Nggak perlu, nggak usah sok baik pakek bilang nambah segala. Gue tau lo lagi berhemat kan? Makanya lo nggak mesen apa-apa." Ucap Marissa dengan mulut yang penuh makanan.


Tomi tersenyum mendengarnya. Apa yang Marissa katakan memanglah benar. Ia sedang menghemat semuanya, apalagi harus menyisihkan untuk biaya persalinan nantinya.


"Makanya, lo nggak usah sok-sokan nikahin gue. Baru aja gue ajakin kesini lo udah insecure. Gimana kalau gue ajak makan di restoran hotel berbintang lima lainnya. Bisa-bisa mati mengenaskan lo nantinya." Sinis Marissa.


Tomi hanya diam menyimak setiap kalimat yang terlontar dari bibir perempuan yang telah berstatus sebagai istrinya itu, tanpa ingin menjawabnya.


"Sekarang lo tau kan, kenapa gue nolak buat nikah sama lo waktu itu? Nggak perlu gue jabarin semuanya sih. Cukup lo tau salah satunya aja. Lo nggak akan bisa menuhin semua permintaan gue, karena gaji lo kecil. Bahkan gaji gue dulu lebih besar dari gaji lo. Lo nya aja yang ngeyel." Marissa tersenyum sinis.


Tomi menggeleng kecil membuang nafasnya kasar. Sungguh Marissa sudah menginjak harga dirinya sebagai seorang suami di sini. Ucapan perempuan itu kali ini benar-benar keterlaluan.

__ADS_1


"Itu dulu pas lo kerja. Sekarang lo nggak kerja, bagaimanapun uang gue lebih banyak dari lo sekarang. Dan lo tenang aja, gue hanya butuh waktu empat bulan menjalani pernikahan ini sama lo. Setelah itu gue bebasin lo, sebebas-bebasnya." Ucap Tomi penuh penekanan.


***


__ADS_2