
"kak, Nay balik dulu ya. Mama WhatsApp katanya langsung balik." Pamit Nayla, Rama mengangguk kecil
"Hati-hati."
Rama mengiringi langkah adiknya hingga ke teras.
"Jangan lupa apa yang Kakak katakan, jangan pernah menerima apapun dari teman kamu itu, untuk Hasna." Peringat Rama penuh penekanan.
"Siap, laksanakan!" Nayla memberikan hormat ala seorang prajurit. Kemudian tersenyum lebar.
Nayla melajukan mobilnya meninggalkan kediaman Rama. Laki-laki itu kemudian masuk kembali sambil menunggu kepulangan istrinya.
Sepertinya ia harus membuat keputusan cepat. Jangan sampai ada lagi laki-laki yang mengharapkan istrinya.
***
Mobil Hasna berhenti tepat di depan teras pintu utama kediaman Suryanata, untuk mengantarkan ibu mertuanya pulang.
"Tidak mampir dulu, Sayang?" Tawar beliau saat membuka seatbelt.
"Lain kali saja, Ma. Kasihan Mas Rama sendirian di rumah."
"Sekali lagi Mama sangat berterima kasih pada Hasna, karena sudah menjadi istri yang baik buat anak Mama." Tangan Bu Diana terulur mengusap lembut puncak kepala menantunya.
"Hasna masih belajar, Ma. Do'akan Hasna, supaya Hasna bisa menjadi istri yang baik untuk Mas Rama." Pintanya tulus.
"Pasti, Sayang. Kalau begitu Mama ke dalam dulu. Terima kasih sudah menemani Mama hari ini. Kamu hati-hati, ya."
Hasna mencium tangan mertuanya. Bu Diana pun turun.
"Iya, Ma. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
***
Mobil Nayla sudah tak nampak di halaman, pasti adik iparnya itu sudah pulang. Hasna membuka pintu dan mengucap salam seperti biasa, namun tak ada sahutan. Sepertinya suaminya berada di kamar atas.
Benar saja, tak lama Rama terlihat menuruni anak tangga. Seulas senyuman Hasna berikan pada suaminya.
Rama terpaku sejenak, menatap ke arah istrinya yang tersenyum. Perempuan itu memang cantik dengan segala kesederhanaannya. Pantas saja jika teman Nayla terpikat oleh pesona perempuan yang menjadi istrinya itu. Jangan lupakan juga asistennya, Ivan.
Rama melanjutkan langkahnya dan berhenti tepat di hadapan sang istri.
"Mas Rama sudah makan? Maaf Hasna pulang lebih dari jam makan siang." Akunya merasa tak enak pada Rama.
Kenapa perempuan ini selalu menempatkan posisinya seolah menjadi suami yang mengekang kebebasan seorang istri. Hasna selalu merasa bersalah jika berhadapan dengannya.
"Sudah, tadi delivery sama Nayla." Jawab Rama datar.
"Sudah minum obat?"
"Baru saja."
"Sudah sholat?"
"Belum."
Hasna membantu suaminya mengganti pakaian juga memakaikan kain sarung. Jantung Hasna selalu berdetak tak karuan saat berada di dekat Rama. Ada perasaan senang yang muncul. Mungkinkah ia sudah jatuh cinta pada suaminya itu?
***
Setelah makan malam dan minum obat, Rama tak kembali lagi ke kamar. Laki-laki itu terlihat bersantai di ruang tengah.
Hasna baru saja selesai membersihkan dapur dan bersiap ke kamar. Perempuan itu melihat kondisi suaminya sebelum bersiap untuk beristirahat.
"Mas Rama ada butuh sesuatu?"
Rama mengalihkan pandangannya dari televisi pada istrinya.
"Tidak."
"Jika Mas Rama butuh sesuatu, Hasna ada di kamar. Ada sedikit pekerjaan." Rama mengangguk dan kembali fokus pada layar kaca dihadapannya.
Hasna tengah fokus memeriksa laporan dari beberapa gerai miliknya. Semenjak Rama dirawat, dia tak pernah datang ke tempat katering, toko kue, atau restoran miliknya. Waktunya lebih banyak untuk merawat kesembuhan Rama.
Tok, tok, tok.
__ADS_1
Fokus Hasna teralihkan pada ketukan di pintu. Perempuan itu beranjak, dan mendapati suaminya yang tengah berdiri di luar kamarnya.
"Iya?"
Rama tak mengatakan apapun, tapi ia tetap berdiri diambang pintu, membuat Hasna mengernyit heran.
"Mas Rama? Mas butuh sesuatu?" Hasna mencoba bertanya, karena suaminya tak kunjung mengatakan apapun.
"Emmmm_." Tiba-tiba saja kata-katanya tercekat di tenggorokan.
"Mas Rama butuh sesuatu?" Ulang Hasna.
"Tidak." Jawabnya singkat.
Lalu apa tujuannya mengetuk pintu kamar barusan?
Hasna tetap menunggu, barangkali ada yang ingin suaminya katakan. Karena lelaki itu tak kunjung beranjak.
"Boleh, saya... tidur... di kamar ini?" Ucap Rama terbata.
Pertanyaan Rama membuat Hasna terkejut. Ada apa dengan suaminya. Kemarin sepulang dari rumah sakit, dia memilih tidur di kamarnya sendiri. Tapi malam ini, dia meminta untuk tidur di kamar Hasna.
"Kamu keberatan?" Rama menangkap ekspresi enggan di wajah istrinya.
Hasna menggeleng cepat. Perempuan itu tidak kebaratan sama sekali. Bukankah ini yang seharusnya mereka lakukan semenjak awal pernikahan mereka? Bukan malah tidur di tempat yang terpisah.
Hasna tetap berdiri diambang pintu, dengan Rama berada di luarnya.
"Boleh, saya masuk?" Tanya Rama, karena perempuan itu tak kunjung memepersilahkan dirinya untuk masuk.
"Ah, iya, silahkan." Hasna sedikit menggeser posisinya, agar suaminya bisa masuk ke dalam.
Rama mengamati seluruh isi kamar istrinya. Sangat berbeda jauh dengan kamarnya di lantai atas. Hanya ada ranjang berukuran yang tak begitu besar, satu lemari berukuran sedang, meja belajar di sudut ruangan, serta satu sofa panjang di dekat jendela. Bahkan ia baru mengetahui isi kamar Hasna detik ini juga.
Sebelumnya ia hanya meminta Ivan untuk merenovasi lantai dua sesuai keinginannya dan membeli beberapa perabot untuk mengisinya. Hanya area pribadi miliknya, yang ia ketahui. Ia masa bodoh dengan ruangan lainnya.
"Mas Rama duduk dulu, Hasna siapkan tempat tidurnya."
Rama berjalan menuju kursi meja belajar, tempat Hasna bekerja. Laptopnya masih menyala. Sekilas Rama melirik pekerjaan istrinya. Sepertinya mengerjakan laporan keuangan, tapi bukan untuk perusahaan.
Rupanya istrinya seorang menejer keuangan di tempat kerjanya. Entah bekerja dimana, bahkan ia tak pernah mengetahuinya.
Rama mengalihkan pandangannya pada Hasna yang tengah merapikan tempat tidur dan menggantikan sprei juga selimut baru. Laki-laki itu tak bertanya, hanya memperhatikannya.
"Mas Rama, silahkan istirahat. Hasna selesaikan pekerjaan dulu." Ucap Hasna pada suaminya.
Rama beranjak menuju ke peraduan. Duduk di salah satu sisi yang sudah Hasna siapkan. Rupanya perempuan itu berusaha membuat tidurnya nyaman malam ini. Terlihat bantal-bantal yang tersusun sedemikian rupa.
Hasna menyelesaikan pekerjaannya tepat pukul sembilan malam. Perempuan itu beranjak ke kamar mandi untuk bersih-bersih dan mengganti pakaian.
Tak lama, Hasna keluar dari kamar mandi. Perempuan itu mengenakan baju tidur panjang dan kerudung instan di kepalanya.
"Dia memakai kerudung saat tidur? Tapi waktu itu dia melepaskannya?"
Rama ingat betul saat ia pulang dari luar kota, waktu itu Hasna m nginap di rumah orang tuanya. Dia mendapati istrinya tidur di ranjang miliknya, tanpa mengenakan penutup di kepalanya. Bahkan Hasna memakai gaun tidur yang... Ahhh... Sulit Rama lupakan.
Hasna berjalan ke sisi ranjang di sebelah Rama yang kosong. Rama mengira jika Hasna akan menempatinya, tapi tidak. Hasna justru mengambil bantal. Baru beberapa langkah, suara Rama menghentikan langkah perempuan itu.
"Mau kemana?" Hasna sedikit berjingkat, ia pikir suaminya telah tidur sedari tadi.
"Aku akan tidur di sofa. Mas Rama tidurlah, sudah malam." Rama bangkit dan terduduk.
"Kenapa? Apa karena saya numpang tidur di kamar kamu, kamu merasa terganggu?" Tuduh Rama. Hasna menggeleng cepat.
"Tidak, bukan begitu. Aku hanya mau kalau mas Rama bisa beristirahat dengan nyaman." Jawab Hasna.
"Ranjang di sini tidak sebesar ranjang di kamar Mas Rama. Aku hanya tidak mau jika nantinya Mas Rama kurang nyaman."
Rama membuang nafas kasar. Jadi itu alasannya. Hasna mengira jika Rama tidak akan nyaman jika berbagi tempat tidur dengannya.
"Saya tidur tidak akan berguling-guling ke kanan dan ke kiri, jadi tidak akan memakan banyak tempat." Rama mengatakannya dengan sedikit kesal.
Hasna tetap bergeming di tempatnya dengan memeluk bantal yang ia bawa. Perempuan itu terpaku menatap sisi kosang ranjang di sebelah suaminya.
"Kemarilah." Nada bicara Rama terdengar sedikit melunak.
Ragu-ragu Hasna melangkahkan kakinya kembali menuju ranjang. Mata Rama mengikuti gerakan istrinya, hingga tepat disisi kosong di sebelahnya.
__ADS_1
Hasna terlihat ragu, tapi tatapan suaminya membuat ia menurut untuk segera naik ke atas ranjang.
Hasna meletakkan kembali bantal yang sempat ia ambil, dan duduk di tepi ranjang, membelakangi Rama. Tiba-tiba saja dadanya berdebar lebih cepat.
"Istirahatlah, ini sudah malam." Hasna menoleh pada suaminya. Rupanya Rama sudah membaringkan tubuhnya kembali.
Hasna segera memposisikan diri untuk berbaring disisi Rama. Rupanya perempuan itu menjaga jarak dengan suaminya.
"Ranjang ini masih luas, kenapa kamu tidur sampai di ujung? Mendekatlah!" Hasna jadi salah tingkah sendiri mendengar permintaan Rama.
"Tangan saya yang cidera di sebelah kanan, kamu di sebelah kiri saya."
Sebelum ada penolakan, Rama sudah mengatakannya terlebih dahulu. Ia paham jika istrinya itu akan menjadikan cidera di tangannya sebagai alasan.
Mau tidak mau, Hasna pun bergeser sedikit mendekat ke arah suaminya.
"Apa perlu saya ganti ranjang di kamar ini?"
"Tidak perlu, ini sudah cukup. Apalagi hanya untuk satu orang." Rama tersenyum tipis mendengarnya.
"Mulai malam ini saya akan tidur di kamar kamu, jadi jika kamu merasa tidak nyaman karena berbagi tempat tidur, katakanlah. Tapi saya harap, tidak."
Hasna reflek menoleh pada suaminya. Rama pun melakukan hal yang sama. Manik keduanya bersitatap.
"Kamu keberatan?" Hasna hanya menggeleng.
"Jadi kamu suka, saya tidur di kamar kamu?" Reflek Hasna menganggukkan kepalanya.
Hasna seolah tenggelam dalam manik pekat milik suaminya. Mata itu, begitu tajam. Menghujam, hingga membuat detak jantung tak karuan.
Rama tersenyum melihat tingkah perempuan yang berbaring di sisinya. Setiap pertanyaannya tidak dijawab dengan kata-kata, namun hanya dengan isyarat.
"Tidurlah." Ucap Rama lembut.
Rama meraih tombol off pada lampu utama di sebelah ranjang. Cahaya kamar menjadi temaram, namun kedua mata mereka enggan terpejam.
Keduanya terdiam beberapa saat, larut ke dalam pikiran mereka masing-masing.
"Hasna? Apa kamu sudah tidur?" Suara Rama membuat Hasna yang berusaha memejamkan mata, mengurungkan niatnya.
"Iya?"
Hasna menyahut, kemudian bergerak perlahan untuk kembali terlentang.
"Saya sudah memikirkan semua. Saya ingin mencoba menerima pernikahan ini." Ucapan Rama reflek membuat Hasna menoleh ke arah suaminya.
"Saya rasa tidak ada salahnya, kita mencoba hubungan ini." Lamat-lamat Hasna memperhatikan siluet wajah suaminya dibawah cahaya temaram.
Seolah mimpi, ia mendengar apa yang diucapkan suaminya. Rama yang menolaknya dengan tegas, kini berusaha menerima pernikahan mereka. Dalam tahap, mencoba. Tapi ini adalah suatu kemajuan yang baik. Semoga saja hati suaminya benar-benar tergerak untuk benar-benar menerima pernikahan ini, dan menjadikannya sebuah ibadah.
"Mas Rama serius?" Bahkan Hasna memberikan respon yang membuatnya tak percaya akan ucapan suaminya.
"Ya. Saya rasa, saya akan belajar menerima pernikahan kita, dan berusaha menjalaninya." Jawab Rama dan menoleh ke arah istrinya.
Setitik bulir bening menerobos dari sudut mata hasna. Hal ini yang selalu ia tunggu-tunggu. Hati suaminya tergugah untuk menerima hubungan mereka.
"Allah, terima kasih, Engkau telah menjawab do'a di setiap sujud hamba."
Rama tak begitu jelas melihat wajah istrinya, namun bisa ia rasakan jika perempuan itu menitikkan air mata. Isakan kecil terdengar di telinganya.
"Kenapa?"
Apakah ia salah ucap, hingga membuat istrinya menangis. Ia kira Hasna akan bahagia dengan keputusannya, tapi kenapa malah...
"Tidak, aku hanya merasa ini seperti sebuah mimpi, dan aku tak ingin lagi terbangun karenanya." Isakan kembali keluar dari bibir istrinya.
Rama tersenyum mendengar ungkapan dari istrinya. Ia tau, hanya Hasna yang mencoba menerima pernikahan mereka dari awal. Sedangkan dirinya tetap berkubang dengan luka masa lalu. Hingga membuatnya membangun benteng kokoh diantara dirinya dan Hasna.
"Tapi saya mengajukan sebuah syarat sama kamu?"
"Syarat?" Ulang Hasna.
"Ya."
"Kenapa harus dengan syarat?" Sebuah pertanyaan yang terdengar seperti sebuah protes ketidak setujuan.
"Karena saya tidak mau merasakan sakit untuk kedua kalinya."
__ADS_1
***