
Hasna menyusun kata agar nanti apa yang diucapkannya bisa diterima oleh Rama. Dan sepertinya berhasil. Wajah yang semula masam itu perlahan berubah menjadi cerah.
"Jadi, aku sangat istimewa?" Tanya Rama memastikan ucapan Hasna. Perempuan itu mengangguk pelan, membuat wajah Rama semakin cerah saja.
"Ya... istimewa, ibarat martabak pake dua telur." Hasna tertawa saat mengucapkannya.
Baru saja serasa berada di atas awan, tapi seketika di ajak terjun bebas hingga ke dasar. Sepertinya jiwa jahil Nayla menular pada Hasna sekarang. Buktinya perempuan itu mulai senang menggoda Rama.
"Hasna." Panggil Rama dengan nada yang begitu datar.
Hasna menghentikan tawanya dan menatap ke arah Rama.
"Iya, Sayang?" Jawabnya dengan nada manja yang begitu lembut terdengar di telinga. Tak lupa Hasna menyelipkan senyuman termanisnya untuk Rama.
Rupanya Hasna masih bisa memegang kendali di sini. Rama terlihat menghirup nafasnya dalam-dalam. Tiba-tiba saja dada laki-laki itu dipenuhi desiran hangat saat Hasna memanggilnya dengan sebutan, sayang. Mengingat selama ini, hanya dia yang menggunakan sebutan itu untuk memanggil Hasna. Lidahnya terasa kaku sekarang, padahal tadi ia akan mengajukan protes pada istrinya.
"Ada apa? Tadi manggil, sekarang diem. Ada apa sih, sayang." Kini nada bicara istrinya berubah seolah tengah menggoda dirinya.
"Kalau tidak ingat ini toko..." Gumamnya, namun masih terdengar di telinga Hasna.
"Kenapa emangnya?" Tanya Hasna.
"Udah aku..." Rama tak melanjutkan ucapannya tapi tatapan mata tajamnya masih enggan berpindah dari wajah cantik sang istri.
Jari telunjuk Rama mengarah tepat pada Hasna, lalu mengisyaratkan agar perempuan itu mendekat. Hasna mendekat sesuai instruksi. Terlihat laki-laki itu tengah membisikkan sesuatu pada Hasna.
"Kalau tidak ingat kita masih berada di toko, udah aku kunciin kamu dalam kamar seharian." Bisik Rama.
Hasna kembali menarik tubuhnya, namun posisinya masih sangat dekat dengan Rama..
"Lama-lama kamu makin genit." Ucap Rama.
"Tapi Mas Rama suka, kan?" Kini perempuan itu malah mencolek dagu Rama. Sungguh, wajah cantik itu terlihat begitu menggoda di mata Rama.
"Tunggu pembalasanku." Ancam Rama, membuat Hasna tergelak mendengarnya.
***
Setelah makan siang, Rama dan Hasna segera menuju ke rumah keluarga Suryanata. Sedari tadi Mama menanyakan apakah mereka jadi ke rumah ata tidak. Karena wanita paruh baya itu teramat rindu dengan putra juga menantunya.
Mobil yang dikendarai Rama memasuki gerbang utama, dan berhenti tepat di depan rumah. Rama Manahan tangan Hasna yang akan membuka pintu mobil.
"Ingat, nanti jangan terlalu lama bergaul dengan Nayla. Setelah jam makan malam langsung ke kamar." Ultimatum sudah mulai keluar rupanya. Membuat kening Hasna saling bertaut.
"Mas, Nayla itu adik kamu loh. Kenapa aku nggak boleh bergaul sama dia?" Menurut Hasna aneh sekali permintaan Rama.
"Kamu udah mulai tertular tengilnya Nayla. Ntar kalau lama-lama deketan sama dia, bisa-bisa kamu ikutan nyebelin juga."
"Ckkk..." Hasna mengerucutkan bibirnya karena ucapan Rama.
Bukan maksud melarang yang bagaimana, hanya saja jika Hasna sudah bersama Nayla akan lupa waktu. Bisa-bisa nanti dirinya yang terabaikan.
Tok...tok...tok...
__ADS_1
Keduanya serempak menoleh ke arah jendela di samping Hasna yang diketuk.
"Nayla?"
"Panjang umur tuh anak." Rama segera melepas seatbelt dan keluar dari mobil.
"Mbak Hasna...!!!" Pekik gadis itu heboh, bahkan memeluk Hasna dengan melompat-lompat antusias.
"Nay kangen tau..." Ucapnya dengan nada yang begitu manja, sembari menyandarkan kepalanya di bahu Hasna dan memeluknya erat.
"Ayo, sayang, kita ke dalam." Rama langsung saja menggamit lengan sang istri yang membuat Hasna mengikuti langkah Rama.
"Dasar Kak Rama nyebelin." Gerutu Nayla yang mengikuti langkah Kakak dan kakak iparnya ke dalam rumah.
"Assalamu'alaikum." Ucap Hasna saat memasuki rumah.
"Wa'alaikumussalam." Ucap Mama.
"Anak Mama." Mama langsung memeluk Hasna saat perempuan itu mencium tangannya.
"Mama kangen banget tau nggak?" Ucap Mama saat pelukan mereka terurai.
Rama bisa melihat bagaimana perlakuan ibunya pada Hasna saat mereka bertemu. Ibunya begitu menyayangi Hasna layaknya putri kandungnya. Bahkan saat dulu Hasna pergi dari rumah, ibunya terlihat begitu khawatir dan terluka, seolah Hasna memanglah putri kandungnya. Sedangkan dirinya hanyalah seorang menantu di keluarganya sendiri.
"Ehemmm...anak tiri tidak di sapa ceritanya?" Ucap Rama seolah tengah merajuk pada Mama.
"Udah minggir, anak tiri langsung cuci piring sana." Ucap Nayla.
"Kakak capek nggak? Nay pijit ya?" Rayu Nayla dalam misi penyelamatan uang jajannya bulan depan.
"Ah...capek banget. Tapi sayangnya lagi pengen dipijitin sama istri. Biar uang jajan istri nambah bulan depan."
"Sama Nay aja, ya, ya. Pliiisss." Nayla menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
"Udah, udah, kalian istirahat dulu gih." Ucap Mama.
"Ayo, Sayang kita istirahat." Rama menarik pelan tangan Hasna dan mengajaknya ke kamarnya di lantai dua.
"Ntar pijitin, ya. Bulan depan jajan kamu aku tambah lima juta." Rama sengaja mengeraskan suaranya saat melewati Nayla.
"Kakak..." Rengek Nayla.
"Mas, kamu tuh ya?" Hasna mencubit pinggang Rama.
"Jangan suka cubit-cubit pinggang, kalau tidak mau aku ajak olah raga seharian." Bisik Rama, lalu mencium pipi Hasna sekilas.
***
Meja makan malam ini penuh dengan berbagai hidangan, karena malam ini anggota keluarga lengkap berkumpul di rumah keluarga Suryanata.
Hasna dengan cekatan melayani Rama. Mulai dari mengambilkan makanan hingga menyuapi laki-laki itu.
"Kamu manja sama istri kebangetan sekali. Bahkan makan saja minta disuapin. Nanti kalau udah punya anak, bisa-bisa nggak makan kamu gara-gara istri kamu nggak sempat nyuapin." Ledek Papa.
__ADS_1
"Ini salah satu Sunnah Rasul, Pa." Ucap Rama.
"Sunnah Rasul itu berbagi makanan dalam satu piring. Kalau kamu bukan berbagi, tapi jatuhnya minta di suapin." Ucap Papa.
Oh iya, Pa, Ma. Minggu depan rencananya kita mau berangkat umroh. Dan mungkin tiga hari lagi, kita mau adain doa bersama dengan anak yatim sebelum kita berangkat nanti." Ucap Rama.
"Umroh?" Tanya Mama yang dijawab anggukan oleh Rama.
"Loh, katanya mau honeymoon?"
"Iya, kita ke sana juga mau umroh sekalian bulan madu. Ya, ibadah dunia akhirat, Ma." Ucap Rama.
"Mama pengen banget bisa ikut umroh bareng kalian." Ucap Mama.
"Kalau Mama mau ikut, nanti visa dan paspor biar di urus sama Ivan sekalian." Ucap Rama.
"Tapi sayangnya, Papa ada kerjaan. Jadi tidak mungkin kalau Mama berangkat sendiri." Mama menoleh ke arah Papa yang ikut mengangguk mengiyakan ucapan Mama.
"Sama Nay saja, Ma. Mumpung Nay lagi libur panjang, kan tinggal nunggu jadwal wisuda aja." Sahut Nayla.
"Mending Mama di rumah saja, temenin Papa." Ucap Rama.
"Kan udah ada Nay yang nemenin, Kak." Ucap Nayla.
"Kalau kamu yang nemenin, mending Mama di rumah."
"Lah, kenapa? Lagian Nay kan belum pernah umroh, Kak. Ntar sekalian bisa jalan-jalan sama Mbak Hasna juga." Nayla masih berusaha merayu dan memberikan senyuman termanisnya pada sang Kakak. Berharap agar saudara laki-lakinya itu mengizinkan ia ikut umroh bersama kakak ipar kesayangannya.
"Kamu umrohnya kapan-kapan saja, bareng Mama sama Papa." Rama masih bersikeras menolak Nayla.
"Ckk...kan aku pengennya bareng sama Mbak Hasna." Nayla terlihat mengerutkan bibirnya.
"Lain kali kalau ada kesempatan, kita berangkat bareng." Ucap Hasna. Perempuan itu merasa kasihan juga pada Nayla.
"Kenapa nggak sekarang aja sih, Mbak?" Rengek Nayla.
"Karena ini bukan acara untuk bocil. Jadi lebih baik bocil minggir." Sahut Rama.
"Ih...Kak Rama apaan sih?" Makin maju beberapa senti bibir gadis itu.
"Udah, udah. Biarkan mereka berangkat berdua. Lagian kamu Nay, udah tau acaranya sambil honeymoon, malah maksa ngintilin mereka." Ucap Papa yang diacungi dua jempol oleh Rama, karena sang ayah pro padanya.
"Ah, Papa." Rengek gadis itu, karena Papa tidak berada di pihaknya.
"Bisa gawat kalau kamu ikut mereka. Bisa buyar acara." Sahut Mama.
Ucapan Mama sukses membuat Hasna juga Papa tertawa. Sekali lagi, Rama mengacungkan kedua jempolnya ke arah Mama, lalu memeluk wanita yang telah melahirkannya itu.
"Mama memang terbaik." Rama mengecup singkat pipi sang ibu.
Berangkat bulan madu dengan Nayla? Yang benar saja? Bisa kacau semua agenda oleh gadis itu. Sebelum semua terlambat dan masih bisa di selamatkan, lebih baik Rama menolak keikut sertaan sang adik bersamanya. Dan beruntungnya lagi, ia mendapatkan dukungan dari kedua orang tuanya.
***
__ADS_1