Bidadari Penghapus Luka

Bidadari Penghapus Luka
Bab 138


__ADS_3

"Maaf, Pak. Kedatangan saya memang ingin menyampaikan hal yang sama pada Bapak. Tapi saya mohon dengan sangat_"


"Pergilah, tidak ada gunanya kamu membuang waktu untuk hal yang tidak penting seperti ini." Potong Rama dengan cepat.


Tomi membuang nafasnya dengan kasar. Tapi ia sudah bertekad akan memperjuangkan hal yang sulit untuk di kabulkan oleh Rama.


"Pak Rama, saya mohon. Ini demi anak yang ada dalam kandungan Marissa. Saya sungguh tidak keberatan jika nanti pada akhirnya Marissa akan menjalani hukumannya di penjara. Tapi saya mohon, tolong berikan keringanan, agar Marissa bisa menjalankannya setelah ia melahirkan." Ucap Tomi, bahkan laki-laki itu sampai menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


"Melepaskan Marissa, sama saja memberikan kesempatan bagi perempuan itu untuk melakukan hal yang serupa." Ucap Rama dengan sinis.


Tomi menghembuskan nafasnya dengan berat. Sepertinya pembicaraan ini akan berjalan alot.


"Kita sama-sama calon ayah. Kita juga sama-sama seorang suami. Hanya kondisi yang membuat kita berbeda." Ucap Tomi.


"Seandainya kita bertukar posisi, saya pun tidak akan sanggup melihat istri saya meregang nyawa. Mngalami kondisi yang tidak pasti antara hidup dan mati, seperti istri anda."


"Pak Rama pun, saya yakin tidak akan sanggup jika berada di posisi saya. Kehilangan anak yang sebentar lagi akan terlahir ke dunia." Ucap Tomi dengan mata yang mulai mengembun.


"Saya hanya minta kemurahan hati Pak Rama. Saya tidak akan pernah menghalangi proses hukum yang menjerat Marissa nantinya." Sekali lagi, Tomi menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


Drrrtt, drrrtt, drrrtt


Sebuah panggilan masuk di ponsel Tomi.


"Ya?"


"......."


"Apa?" Raut wajah Tomi terlihat gelisah.


"......."


"Baik, saya akan segera ke sana."


Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Tomi gegas meninggalkan Rama seorang diri. Sepertinya laki-laki itu tengah terburu-buru, bahkan terlihat sekali sampai ia setengah berlari karenanya.


Rama menghembuskan nafasnya dengan kasar. Gegas ia mengambil ponsel yang berada di saku celananya, dan mencari nomer Ivan. Belum sempat ia mendial, panggilan dari asistennya masuk terlebih dulu.


"Ya Ivan?"


"Maaf, Pak. Ada beberapa berkas penting yang harus Bapak tanda tangani. Akan segera saya antarkan ke rumah sakit setelah ini."


Rama melihat jam yang melingkari pergelangan tangannya. Hampir jam pulang kantor.


"Baiklah, saya juga ada hal penting yang ingin saya sampaikan sama kamu. Saya tunggu." Ucap Rama.


"Baik, Pak."


Rama memasukkan ponselnya ke dalam saku dan segera kembali ke kamar istrinya.


***


"Kakak dari mana?" Tanya Nayla, saat Rama masuk ke dalam kamar.


"Dari luar."


"Yang tadi itu siapa?"

__ADS_1


Rama hanya mendengus tanpa berniat untuk menjawab pertanyaan adiknya. Laki-laki itu terus berjalan melewati Nayla mendekati Hasna yang sedang berbincang dengan Bu Diana.


"Mas." Seulas senyuman Hasna sematkan di kedua sudut bibirnya.


"Sudah lebih enakan?" Tanya Rama.


"Alhamdulillah, sudah."


Rama menatap wajah cantik yang semakin terlihat segar itu. Setelah hampir satu minggu wajah itu terlihat pucat, kini wajah itu nampak berseri setelah Hasna sadar dari komanya semalam. Bahkan Bu Diana dan Nayla datang kembali pagi-pagi.


Tok, tok, tok


"Assalamualaikum." Sosok pak Andi muncul dari balik pintu yang terbuka.


"Papa." Nayla menghampiri sang ayah yang masih lengkap memakai setelan kerjanya.


"Papa sudah pulang? Bukannya besok?" Tanya Bu Diana yang berjalan mendekat ke arah Pak Andi dan mencium tangan kanannya.


Pak Andi sedang berada di luar kota dua hari belakangan, setelah semalam mendapatkan kabar jika Hasna telah siuman, laki-laki paruh baya itu meminta asistennya untuk me-reschedule pertemuan dengan klien agar bisa segera pulang.


"Kerjaan sudah selesai semua. Gimana Hasna?" Tanya Pak Andi.


"Alhamdulillah, semakin membaik." Ucap Bu Diana seraya menoleh pada Hasna yang tengah ditemani oleh Rama.


Pak Andi melangkah mendekat pada putra juga menantunya.


"Papa." Ucap Hasna, membuat Rama menoleh pada ayahnya itu.


"Pa." Rama meraih tangan kanan Pak Andi untuk di ciumnya.


"Alhamdulillah, sudah lebih baik." Jawab Hasna dengan tersenyum hangat.


"Papa sehat?"


"Papa, sehat, tapi Papa tidak baik-baik saja, Nak." Jawab Pak Andi.


"Papa sakit?" Sahut Nayla yang berada di belakang laki-laki paruh baya itu.


"Tidak, hanya saja Papa merasakan jika Papa sedang tidak baik-baik saja satu minggu ke belakang." Ucap Pak Andi.


Pak Andi meraih tangan kanan Hasna, dan menggenggamnya dengan hangat.


"Bagaimana seorang ayah akan merasakan baik-baik saja, jika putrinya dalam kondisi berjuang untuk tetap bertahan hidup." Ucap Pak Andi dengan mata yang berkaca-kaca.


Bu Diana mengusap lembut pundak suaminya.


"Seorang ayah, akan merasakan sakit yang serupa dengan apa yang putrinya rasakan, tapi maafkan Papa jika beberapa hari ke belakang tidak bisa menemani kamu." Setitik bulir bening menetes dari sudut mata tua itu.


Suasana tiba-tiba menjadi haru karena kedatangan Andi Suryanata di kamar rawat menantunya.


"Hasna sehat, Pa. Hasna ingin selalu di berikan kesehatan agar kita selalu bisa berkumpul bersama. Hasna tidak mau jika sendirian seperti kemarin." Ucap Hasna dengan bibir yang bergetar.


Walau selama ia mengalami koma, Rama selalu berada di sisinya, tapi dengan keadaan yang membuatnya terbatas, Hasna merasa sendiri.


"Bagaimana cucu Papa?" Tanya Pak Andi seraya mengusap perut Hasna yang tertutup selimut.


"Dia sehat, Pa." Ucap Hasna dengan senyuman di sela tangisnya.

__ADS_1


"Dia cucu Papa yang hebat. Dia mampu melewati masa yang begitu sulit, karena dia berjuang bersama ibu yang hebat seperti kamu." Pak Andi mengusap puncak kepala Hasna dengan penuh sayang.


"Papa...kenapa aku makin mewek gini?" Ucap Nayla.


"Kalau kamu emang dasarnya cengeng." Sahut Rama, yang merangkul pundak saudarinya. Semua ikut tersenyum karena ucapan putra Suryanata itu.


"Tapi setidaknya kita senasib. Kita sama-sama jadi anak tirinya Mama sama Papa." Ucap Nayla.


"Ya, kamu benar." Ucap Rama seraya tersenyum.


Tok, tok, tok.


"Bentar, Nay bukain pintu dulu."


Nayla mengusap pipinya yang nampak basah, dan berjalan ke arah pintu.


"Kak Ivan? Masuk, Kak." Nayla mempersilahkan Ivan untuk masuk ke dalam.


Nampak seluruh keluarga Suryanata berkumpul mengelilingi ranjang Hasna.


"Assalamualaikum." Ucap Ivan.


"Wa'alaikumussalam."


"Bu Hasna? Bu Hasna sudah sadar, Bu? Alhamdulillah." Ucap Ivan saat sudah berada di dekat ranjang hasna. Ivan nampak ikut senang dengan keadaan istri atasannya itu.


"Alhamdulillah, Pak Ivan." Hasna tersenyum ke arah laki-laki itu.


"Ehemmmm..."


Semua perhatian teralihkan pada suara Rama. Wajah laki-laki itu nampak tak bersahabat.


"Pak Rama." Sapa Ivan dengan sedikit menganggukkan kepalanya.


"Bisa ikut saya keluar sebentar?" Ucap Rama. Ivan mengangguk sebagai jawabannya.


Ivan pun mengekori Rama hingga keluar dari pintu kamar Hasna.


"Mau kemana mereka?" Tanya Nayla.


"Udah biarin aja, lagian nggak akan jauh dari masalah kerjaan." Ucap Pak Andi.


***


"Ada apa, Pak?" Tanya Ivan saat mereka sampai di balkon depan kamar Hasna.


"Saya butuh bantuan kamu. Saya ingin memastikan keadaan Marissa."


Rama menceritakan pertemuannya dengan Tomi beberapa saat yang lalu.


"Lalu, apa yang akan kita lakukan, Pak?"


"Temani saya untuk menemui Dokter yang menangani Marissa." Ucap Rama serius


"Baik, Pak."


***

__ADS_1


__ADS_2