
Selepas sholat maghrib, Hasna memutuskan untuk pergi ke toko kue. Toko kue pertama Hasna yang bersebelahan dengan tempat katering Dapur Berkah. Kebetulan di lantai dua, ada sofa panjang di ruang kerjanya. Mungkin ia akan bermalam di sana malam ini. Karena tidak ada lagi tempat yang bisa ia tuju sekarang. Bisa saja ia pergi ke rumah Mbak Marni, tapi sungguh akan semakin membuka aib rumah tangganya jika ia nekat ke sana. Dan disini adalah pilihan yang paling tepat.
Jujur saja, Hasna tidak ingin lari dari masalah, hanya saja ia butuh waktu untuk sendiri. Dia butuh waktu untuk menjernihkan pikiran. Hasna yakin jika Rama tidak akan berbuat hal sehina itu dengan Marissa. Dan Hasna akan mempersiapkan diri terlebih dahulu sebelum mendengarkan penjelasan Rama nantinya.
Taksi online yang mengantarkan Hasna berhenti tepat di depan toko kuenya yang nampak ramai pengunjung. Ini situasi yang menguntungkan baginya. Dengan begitu, para pegawainya tidak akan banyak bertanya.
Perempuan itu gegas masuk ke dalam setelah membayar ongkos taksi. Tanpa disadari sebuah mobil mengikutinya sedari tadi. Dialah Kevin. Laki-laki itu hanya ingin memastikan jika Hasna baik-baik saja dan memiliki tujuan yang jelas, mengingat hari sudah mulai gelap.
Hasna masuk ke dalam toko dan langsung menuju lantai dua. Gegas ia menutup rapat-rapat pintu ruangannya. Ia tidak ingin diganggu, ia butuh privasi.
***
"Ada Den Rama, Bu di depan." Ucap salah satu ART pada Bu Diana yang tengah menikmati makan malam bersama keluarga.
"Rama?" Tanya Papa.
"Makasih ya, Bi." ART itu segera permisi untuk kembali ke dapur.
"Biar Mama lihat." Bu Diana beranjak dari duduknya dan berlalu ke depan.
Rupanya Rama tengah berada di ruang tamu. Bu Diana berjalan mendekat ke arah putranya yang tengah memejamkan mata, dengan posisi duduk.
"Rama?" Rama membuka matanya.
"Mama." Laki-laki itu menegakkan posisi duduknya.
Bu Diana memperhatikan penampilan putra sulungnya. Pakaian yang sama saat kesini pagi tadi, namun terlihat berantakan. Pasti putranya belum sempat membersihkan diri. Wajahnya pun nampak kusut.
"Kamu datang sendiri?" Tak menjawab, justru laki-laki itu menunduk tajam.
"Bersihkan dirimu terlebih dahulu, setelah itu kamu makan. Mama perlu bicara sama kamu." Mama mengusap lembut punggung putranya.
Rama hanya mengangguk lesu, namun menuruti permintaan ibunya. Rama langsung menuju ke kamarnya di lantai atas. Papa juga Nayla hanya melihat tanpa menegurnya. Mereka seolah tau jika Rama sedang tidak baik-baik saja.
"Ada apa, Ma?" Tanya Papa setelah Mama duduk kembali di kursinya semula.
Mama menghela nafas panjang melihat ke arah Papa.
"Mama juga kurang tau apa permasalahannya. Tapi mama rasa, masalahnya cukup pelik. Karena tidak mungkin tiba-tiba Hasna memutuskan pergi dari rumah." Ucap Mama. Pandangan wanita paruh baya itu menerawang.
"Hasna pergi?"
"Mbak Hasna pergi?"
Pekik Papa dan Nayla berbarengan.
"Hasna hanya mengatakan jika dia ada urusan penting, dan saat Rama menelepon Mama, Hasna langsung panik dan pergi begitu saja."
Mama menjeda perkataannya, dan kembali menoleh pada Papa.
"Kita akan bicarakan ini sama-sama. Jujur Mama juga takut jika permasalahan ini membuat hubungan mereka rusak nantinya. Mama sangat berharap besar pada pernikahan mereka. Semoga semuanya akan baik-baik saja." Terlihat sekali jika Mama ikut merasa tidak tenang. Kedua mata Mama mulai mengembun.
__ADS_1
***
Setelah memaksa Rama untuk makan, Mama mengajak Papa untuk ikut berbicara dan mencari jalan keluar untuk masalah putra dan menantunya. Rama mengikuti Mama masuk ke dalam ruang kerja Papa.
Ketiganya terdiam, tak ada yang membuka suara. Hingga Mama yang memulai obrolan.
"Mama tidak tau apa yang terjadi diantara kalian. Tapi saat mama melihat mata istri kamu, mama tau jika ia tengah menyimpan luka yang begitu dalam." Mama memperhatikan Rama, putranya itu terlihat menunduk dalam.
"Mungkin jika itu Nayla, dia pasti akan mengadukannya kepada Mama. Tapi Hasna? Hanya kita yang dimilikinya saat ini, Nak." Lanjut Mama.
"Ini hanya kesalah pahaman, Ma." Akhirnya Rama buka suara.
"Jujur, Papa dan Mama tidak pernah ingin ikut campur masalah rumah tangga kalian. Papa yakin, jika kamu dan Hasna mampu menyelesaikan permasalahan kalian. Tapi jika sampai Hasna memutuskan untuk pergi dari rumah, pasti hatinya tengah terluka."
Ucapan Papa dibenarkan Rama dalam hatinya. Bahkan dengan jelas ia bisa melihat sorot kecewa di mata teduh istrinya.
"Selesaikanlah segala permasalahan kalian dengan kepala dingin. Jangan pernah melibatkan emosi. Kalian sama-sama sudah dewasa. Kalian pasti tau apa yang terbaik untuk rumah tangga kalian." Lanjut Papa.
"Mama sangat berharap jika pernikahan kalian ini tetap bertahan. Mama sangat mengenal Hasna, Hasna menerima kamu sebagai suami yang harus dihormatinya. Tapi jika kamu belum bisa memperlakukan Hasna selayaknya seorang istri, maka lepaskanlah, Nak."
"Lepaskan Hasna, dia berhak bahagia. Mungkin bukan anak Mama yang bisa mendatangkan kebahagiaan dalam hidupnya. Mungkin di luar sana ada seorang laki-laki yang bisa membuatnya bahagia."
"Ma, ini hanya kesalah pahaman. Hanya masalah komunikasi. Rama akan segera membicarakan ini dengan Hasna. Kenapa justru Mama meminta Rama untuk melepaskan Hasna?" Sungut rama. Laki-laki itu tidak terima saat Mama mengatakan jika ia diminta untuk melepaskan Hasna.
"Apa kamu tau, Nak? Seorang laki-laki yang begitu baik pernah melamar Hasna kepada Mama. Dan itu sudah menunjukkan bahwa perempuan sebaik Hasna, adalah perempuan yang pantas untuk diperjuangkan."
Bukan hanya Rama, Papa pun ikut terkejut mendengarnya.
"Maksud Mama apa?" Tanya Rama menuntut penjelasan.
"Dia merasa berdosa sama kamu, Rama. Padahal dia sendiri sebenarnya baru mengetahui saat pemuda itu meminta bertemu. Hasna merasa bersalah kepada kamu, juga laki-laki itu." Ungkap Mama.
Jadi hari dimana ia menjemput Hasna di restoran waktu itu, Hasna bertemu dengan laki-laki yang melamarnya? Dan Hasna berniat untuk memperkenalkan dirinya kepada laki-laki itu sebagai suaminya?
Ternyata bukan hanya Bian juga Ivan yang mengagumi sang istri, tapi ada laki-laki lain yang bahkan mengharapkan Hasna menjadi pendampingnya.
"Hasna, di mana kamu?" Gumamnya pelan.
***
Malam semakin larut. Sebentar lagi toko akan segera tutup. Dan seperti dugaan Hasna, tidak seorang pun menyadari kedatangannya. Lampu sudah mulai padam semua, hanya menyisakan lampu di depan toko saja.
Hasna diam terduduk di atas sofa. Perempuan itu terlihat lebih tenang dari sebelumnya. Sebelum mengambil keputusan, banyak hal yang perlu di pertimbangkan. Salah satunya, perasaan kedua orang tua Rama. Bagaimanapun, Hasna sudah menganggap kedua mertuanya seperti orang tuanya sendiri. Betapa sayangnya Mama dan Papa mertua, serta Nayla padanya. Bagaimana perasaan mereka jika seandainya nanti penjelasan Rama mengharuskannya memilih untuk berpisah?
Sekarang, langkah pertama yang paling tepat adalah mendengar penjelasan Rama. Setelah itu, baru ia bisa mengambil keputusan, akan di bawa kemana pernikahan mereka setelah ini. Bagaimanapun Rama berhak mendapatkan kesempatan untuk menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya.
Masih basah di ingatan saat Rama memberikan syarat untuk menerima pernikahan mereka. Bagaimana Rama mengatakan jika seandainya Hasna menemukan laki-laki lain, Hasna harus mengatakan kepadanya. Dan Rama akan melepaskan Hasna. Karena Rama memiliki trauma terhadap penghianatan. Jadi tidaklah mungkin jika Rama mengkhianatinya.
"Allah, semoga saja firasat hamba benar. Semoga Mas Rama tidak mengecewakan hamba."
***
__ADS_1
Malam ini, Rama kembali tidur di kamarnya sebelum menikah dengan Hasna. Lagi-lagi, bayangan perempuan cantik itu menari-nari di pelupuk matanya. Senyumannya, suara merdunya, perhatiannya, sikap manjanya, semua tentang Hasna, Rama rindukan. Rama merindukan medekap hangat tubuh perempuan itu sepanjang malam, juga saat rona merah jambu menghiasi kedua pipinya saat Rama menggodanya.
"Hasna...ada di mana kamu?" Lirihnya.
Rama mengusap lembut sisi kosong di sebelah kanannya. Dimana Hasna selalu berbaring di sebelah kanannya. Rama kembali mengingat betapa cantiknya Hasna saat ia terlelap.
"Hasna...cepatlah pulang. Kamu sudah berjanji tidak akan meninggalkan aku, bukan? Pulanglah, aku menunggumu. Aku merindukanmu."
***
Hasna kembali terjaga sebelum adzan shubuh, bahkan ia melewatkan sholat malamnya. Semalaman ia mencoba memejamkan mata, namun baru pukul satu dini hari ia baru bisa memejamkan kedua matanya.
Gegas ia membersihkan diri untuk sholat. Setelahnya langsung bersiap untuk meninggalkan toko sebelum para pegawainya tau jika ia berada di sini semalam.
Selepas sholat shubuh, Hasna segera memesan taksi online. Semoga saja ia segera menemukan drivernya.
"Alhamdulillah, drivernya ada di daerah sekitar sini." Gumamnya.
Hasna segera merapikan tasnya dan segera pergi dari toko. Untung saja, kunci cadangan ada di dalam tasnya.
Hasna mencocokkan nomor polisi kendaraan yang terparkir di depan toko kue miliknya. Sama dengan yang tertera di aplikasi. Lantar perempuan itu masukbke dalam mobil.
"Assalamu'alaikum, Mbak." Sapa driver.
"Wa'alaikumussalam." Lirih Hasna.
Seingatnya ia mendapatkan driver seorang laki-laki, tapi kenapa justru kini seorang perempuan? Kembali Hasna memeriksa aplikasi untuk memesan taksi online. Dan benar, ia tidak salah. Harusnya drivernya laki-laki.
"Maaf, sepertinya saya salah masuk mobil." Hasna sudah bersiap membuka pintu, namun tertahan oleh ucapan perempuan di balik kemudi itu.
"Mbak tidak salah masuk mobil kok. Memang benar mobil ini drivernya atas nama Adi Sofyan. Saya istrinya. Untuk sementara, saya yang menggantikan suami saya, karena minggu lalu suami saya menjadi korban tabrak lari." Jelas perempuan itu.
"Innalilahi...semoga suami Mbak segera pulih. Maaf." Hasna membuka pintu dan berpindah ke depan, di sebelah sopir.
"Kenapa Mbak pindah ke depan?" Driver perempuan itu merasa tidak enak.
"Nggak papa, Mbak. Lagian kita sama-sama perempuannya."
Di sepanjang perjalanan, mereka banyak ngobrol. Pembawaan Hasna yang ramah, membuatnya mudah bergaul. Termasuk dengan driver yang baru ia kenal.
Perempuan di balik kemudi itu, sedikit banyak bercerita tentang kehidupannya. Dan dapat Hasna lihat betapa perempuan di sampingnya itu mencintai suaminya. Tidak hanya mencintai tapi juga sangat percaya saat suaminya di fitnah di tempatnya bekerja dulu hingga berujung di keluarkan tanpa pesangon, dan menjadi sopir taksi online seperti saat ini.
"Saya yakin, jika Allah telah merencanakan sesuatu yang indah untuk keluarga kecil kami. Lagi pula, sangatlah tidak mungkin jika suami saya memakan uang yang bukan haknya. Suami saya tidak akan memberikan nafkah dengan uang haram seperti yang dituduhkan oleh mereka. Juga tidaklah mungkin jika bersekongkol dengan rekannya dengan alasan ada affair dengannya. Karena saya sangat mengenal siap suami saya, dan saya percaya dia tidak akan melakukan hal yang tidak sepentasnya dilakukan." Lantas perempuan berambut kuncir kuda itu tersenyum simpul.
Perkataan driver perempuan itu begitu kuat menampar Hasna. Seharusnya ia tidak langsung pergi, karena saat itu ia mendengar langsung percakapan antara Marissa dengan suaminya. Harusnya ia meminta penjelasan saat itu juga, bukan main kabur seperti saat ini. Sudah dipastikan betapa cemasnya kedua mertuanya mencari dirinya, juga Rama. Pasti laki-laki itu mencarinya sekarang.
"Astaghfirullahal'adzim, Mas Rama maafkan aku."
***
maaf, kendala sinyal jadi telat up.
__ADS_1
makasih sudah mengikuti sampai di episode ini. semoga terhibur.
berikan dukungan kalian ya manteman 🥰