Bidadari Penghapus Luka

Bidadari Penghapus Luka
Bab 145


__ADS_3

"Mas, kapan aku di bolehin pulang?" Tanya Hasna.


Hampir satu bulan menjalani perawatan di rumah sakit, membuat perempuan itu benar-benar bosan.


"Kalau Dokter mengizinkan, pasti kamu pulang, Sayang. Kenapa?" Rama menangkap ekspresi di wajah istrinya. Perempuan itu nampak murung.


"Aku bosan, Mas." Hasna mengerucutkan bibirnya. Dengan gemas, Rama meraup bibir bak ceri itu dengan jemarinya.


"Andaikan tidak sering khilaf, pasti aku gigit." Rama mengusap lembut bibir istrinya.


"Ckk...Maaasss...aku serius." Rengek Hasna.


"Aku juga serius, Sayang. Aku udah seperti sedang menjalankan puasa romadhon loh. Hampir sebulan ini."


"Mas Rama ini kebiasaan deh." Rupanya Hasna mulai merajuk. Ia benar-benar ingin segera keluar dari rumah sakit. Tidak ada kegiatan menarik yang bisa ia lakukan di sini. Tidur, makan, minum obat, dan tempat yang selalu ia kunjungi hanyalah kamar mandi. Hasna ingin segera hidup normal seperti sediakala.


"Baiklah, kalau masalah kepulangan kamu, biarlah dokter yang menentukan. Tapi, kalau untuk membuat istriku ini agar tidak merasa bosan di kamar, aku bisa ajak kamu jalan-jalan di taman. Gimana?" Tawar Rama.


Hasna menoleh ke arah Rama yang berdiri di samping ranjangnya. Sepertinya tawaran Rama tidaklah buruk. Ia butuh menghirup udara segar dari luar.


"Kalau tidak mau pun tidak apa-apa, aku hanya memberikan solusi." Rama melirik perempuan berkerudung biru itu.


"Aku mau." Jawab Hasna dengan manjanya.


"Baiklah, aku ambil kursi roda dulu."


"Kursi roda? Buat apa?" Hasna merasa bisa berjalan, lalu kenapa ia harus duduk di kursi roda, jika hanya ke taman rumah sakit? Rama bisa membantunya seperti saat ia membantunya ke kamar mandi, bukan?


"Aku tidak mau kalau sampai kamu kenapa-napa. Capek misalnya." Ucap Rama.


"Tapi, Mas, a_"


"Oke, kita batal ke taman." Ucap Rama yang tidak menerima penolakan yang akan Hasna katakan.


"Jangan." Rama memperhatikan ekspresi Hasna yang terlihat lucu jika merajuk seperti ini.


Selama pernikahan mereka, Hasna tidak pernah menunjukkan sikap demikian kepadanya. Perempuan itu selalu bersikap dewasa. Sekalinya merajuk, kenapa terlihat begitu menggemaskan di mata Rama?


"Good girl." Rama mencubit gemas hidung Hasna.


Laki-laki itu mengambil kursi roda yang berada di dekat lemari. Dengan sangat hati-hati, Rama mengangkat tubuh Hasna dan mendudukkannya di atas kursi roda.


"Tidak perlu berlebihan seperti ini, Mas. Mas Rama kan bisa membantuku turun seperti biasanya." Hasna masih belum lega melayangkan protesnya.

__ADS_1


Cup


Satu kecupan dengan sedikit ******* lembut, Rama rasa cukup untuk membungkam bibir ceri itu.


"Cukup diam, dan nikmatilah tour kita hari ini, tuan putri." Ucap Rama perlahan mendorong kursi roda keluar dari kamar. Untung saja Hasna sudah terbebas dari selang infus, jadi tidak perlu repot-repot membawa cairan itu kemana-mana.


***


Hasna menikmati keindahan taman rumah sakit yang banyak ditanami bunga-bunga yang cantik. Bunga aneka warna itu nampak bermekaran. Hembusan angin membuat aroma khas tanaman aneka warna itu menyapa indera penciuman.


"Tamannya bagus ya, Mas." Ucap Hasna tanpa menoleh ke arah Rama yang duduk di bangku taman di samping Hasna.


"Kamu suka?" Hasna mengangguk.


"Bunga-bunganya cantik."


"Mereka masih kalah cantik dengan istriku." Hasna tersenyum mendengar pujian Rama. Laki-laki itu melingkarkan lengannya di pundak sang istri.


"Kenapa? Tidak percaya?" Hasna tak menjawab, hanya senyuman yang ia berikan.


"Mereka cantik, tapi di biarkan begitu saja jika ada yang ingin memilikinya. Di petik, di jadikan hiasan, bahkan di buang setelah layu. Tapi kamu? kamu akan tetap cantik dengan kelemah lembutan, juga sifat yang kamu miliki. Karena pesona kamu bukan terletak hanya di fisik, tapi juga dari dalam sini." Rama menunjuk dada Hasna dengan telunjuknya.


"Keindahan yang nampak oleh mata, akan pudar termakan usia. Tapi jika keindahan itu ada di dalam sini, meskipun usia telah membuat kita menutup mata, tapi keindahannya akan selalu nampak di mata siapapun yang mengenal kita."


Hasna kembali mengulas senyumannya. Kata-kata Rama terdengar manis sekali di telinga. Hasna mengusap lembut wajah Rama.


Rama yang memejamkan mata merasai usapan lembut di wajahnya, seketika membuka lebar netranya saat mendengar ucapan Hasna.


"Maksudnya bagaimana?" Rama menyipitkan matanya, melirik Hasna yang berada di sampingnya.


"Tidak. Tidak ada maksud apa-apa. Aku hanya mengatakannya saja."


"Terlihat dewasa sesuai usianya?" Gumam Rama menirukan ucapan Hasna.


"Kenapa kedengarannya seolah aku selalu bertingkah seperti bocah ingusan?" Laki-laki itu kembali bergumam sendiri.


Hasna menahan tawanya saat wajah tampan suaminya kembali merajuk. Ekspresi yang selama satu bulan belakangan ini tidak pernah Rama tunjukkan kepadanya.


"Kenapa? Tidak pernah melihat bocah lagi ngambek?" Sinis Rama.


Tawa Hasna pun pecah. Nampak perempuan itu menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Menggelikan sekali saat Rama menyamakan dirinya dengan seorang bocah.


"Puas sekali nampaknya." Sindir Rama, saat tawa Hasna tak kunjung mereda.

__ADS_1


"Kenapa calon ayah suka ngambek begini?" Hasna mencolek hidung mancung Rama.


"Hasna aku mohon." Hasna menghentikan tawanya saat manik pekat itu menatapnya serius.


"Aku mohon, jangan terlalu sering menyentuhku seperti ini. Sungguh ini sangat menyiksa." Ucap Rama dengan raut yang sulit diartikan.


Hasna menurunkan tangannya dari wajah Rama, lalu mengulas senyuman.


"Maafkan aku, Mas." Lirih Hasna. Perempuan itu menunduk, merasa bersalah dengan keadaan yang tengah mereka jalani saat ini.


"Tidak ada yang perlu di maafkan, Sayang. Asalkan..." Rama menggantung ucapannya.


"Asalkan?" Hasna merasa akan ada kata-kata aneh yang akan Rama ucapkan setelah ini.


"Asalkan, aku bebas menyentuh kamu." Bisik Rama.


Hasna menoleh ke arah Rama yang menampakkan senyuman anehnya. Kenapa hanya membayangkannya saja membuat bulu-bulu halus Hasna meremang seketika.


"Kenapa melihatku seperti itu? Aku hanya mengatakan, me-nyen-tuh. Bukan yang lain."


"Tapi biasanya menyentuhnya Mas Rama itu bukan sentuhan biasa." Lirih Hasna. Itu menurut pengalamannya selama ini.


***


"Mas, bangun, Mas. Udah siang." Tepukan lembut di pundak membuat laki-laki yang memejamkan matanya itu terpaksa membukanya lebar-lebar.


"Maaf, Mas, mushollahnya mau saya bersihkan." Ucap seorang pria sepuh yang memakai kaos oblong itu.


Tomi sedikit memicingkan matanya, berusaha menyesuaikan cahaya. Perlahan laki-laki itu duduk, dan mengusap wajahnya, berusaha mengusir rasa kantuk yang kembali bergelayut di kedua matanya.


"Maaf, Pak."


Pria sepuh yang sepertinya seorang marbot itu mengamati wajah Tomi yang masih terlihat mengantuk.


"Mas nya, bukan orang sini, ya?" Tomi menoleh pada pria sepuh itu.


"Bukan, Pak. Maaf, semalam saya ketiduran setelah numpang sholat isya' di sini." Jawab Tomi. Lantas pria sepuh itu tersenyum.


"Tidak apa-apa, Mas. Kalau Mas masih mau beristirahat, Mas boleh beristirahat di rumah saya, ada di belakang mushollah ini." Ucap pria sepuh itu.


"Tidak, Pak. Terima kasih banyak." Tolak Tomi.


Semalam, Tomi sengaja tak kembali ke rumah sakit untuk menemani Marissa seperti biasanya. Rasanya ia masih enggan menemui perempuan yang masih sah menjadi istrinya itu. Perkataan Marissa sungguh mengoyak harga dirinya sebagai seorang laki-laki. Dengan terang-terangan Marissa mengatakan jika ia berharap, Rama lah yang pantas menjadi ayah dari bayi yang di kandungnya. Jujur, walaupun ia menikahi Marissa bukan karena rasa cintanya pada perempuan itu, dan hanya sebatas tanggung jawab atas perbuatannya. Terlebih Marissa pun tidak mengharapkannya. Tapi saat perempuan itu mengatakan hal demikian, benar-benar membuat Tomi tidak memiliki harga diri sama sekali sebagai lelaki. Seolah ia menjadi laki-laki yang tidak tahu diri. Tidak di harapkan, masih saja bertahan.

__ADS_1


Gegas ia mengambil jaket yang semalam ia pakai sebagai bantal, dan memakainya kembali. Lebih baik ia pulang, setelahnya akan kembali lagi ke rumah sakit untuk melihat kondisi Marissa. Bagaimanapun, perempuan itu tetaplah ibu dari anaknya. Dan masih berstatus sebagai istrinya.


***


__ADS_2