
"Jadi lo tau kalau istri Rama tengah hamil?" Marissa mengangguk pelan.
Tomi membuang nafasnya dengan kasar mendengar pengakuan Marissa.
Ternyata Tomi salah menduga. Ia berpikir jika Marissa tidak mengetahui jika istri Rama sedang mengandung. Ternyata Marissa mengetahuinya. Tindakan ini yang sangat Tomi sayangkan. Marissa dengan sengaja berniat mencelakakan perempuan hamil. Tapi justru perempuan itu memberikan kesempatan kepada Marissa untuk selamat, dan Hasna mengalami koma. Pantas saja jika Rama kemarin bersikukuh untuk tetap memperkarakan kejadian ini pada pihak berwajib.
"Lalu?"
Marissa menundukkan pandangannya, menghirup nafas panjang sepenuh dada.
"Gue kecewa." Lirih perempuan itu..
"Kecewa?"
"Ya, gue kecewa. Gue kecewa, kenapa bukan gue yang hamil anak Rama, kenapa malah perempuan itu?" Ucap Marissa dengan netra yang mulai mengembun.
"Astaghfirullah." Lirih Tomi.
"Jadi permasalahannya tetap berputar pada masalah yang sama?" Tomi mengusap kasar wajahnya.
"Harusnya lo bisa menyadari kalau lo dan Rama tidak berjodoh." Ucap tomi penuh penekanan. Laki-laki itu hanya ingin Marissa bisa menyadari kesalahannya.
"Ya, gue sadar kalau Rama bukan jodoh gue. Tapi rasa sakit hati gue yang membuat gue ngelakuin itu semua." Ucap Marissa dengan memukul dadanya berulang kali, berharap jika rasa sakit dan kecewa dalam hatinya akan hilang.
"Gue yang lebih lama mengenal Rama. Gue yang selalu ada mendampingi Rama hingga ia sukses seperti sekarang, perusahaannya semakin besar. Tapi kenapa justru perempuan itu yang menikah dengannya? Gue kecewa. Terlebih dengan kehadiran anak ini." Tomi menatap tajam pada Marissa, saat perempuan itu mengatakan hal yang menyangkut tentang calon anaknya. Tapi ia tidak membuka suara sama sekali.
"Gue berharap sekali jika Rama akan mengakui anak ini sebagai anaknya, dan akan menikahi gue. Gue menyusun rencana untuk menjebak Rama. Tapi...." Isakan kembali terdengar.
"Tapi ternyata, Rama sudah menikah. Dan bodohnya, gue nggak pernah menyadari jika istri Rama adalah perempuan yang selalu menemani Rama. Perempuan yang sama, yang selalu berada di sekitar kami. Perempuan yang dikenalkan sebagai kerabat jauh Pak Andi." Ungkap Marissa.
"Apa gue salah, jika menaruh harapan besar pada Rama untuk menerima gue dan bayi ini, saat kami semua menganggap jika Rama laki-laki single?"
Tomi mengusap kasar wajahnya, dan membuang pandangan ke sembarang arah. Kenapa rumit sekali?
"Gue hanya ingin anak ini mendapatkan masa depan yang lebih baik. Gue_"
__ADS_1
"Lo tau? Lo perempuan teregois yang pernah gue kenal, Sa." Sinis Tomi dengan senyuman yang di paksakan.
"Ya, gue memang egois. Gue egois karena rasa kecewa gue begitu besar dengan nasib yang gue jalani. Gue hamil tanpa ikatan pernikahan. Terlebih gue hamil dengan laki-laki yang nggak gue cintai." Ucap Marissa dengan isakan yang semakin keras.
Sejenak Tomi memejamkan matanya. Ia mengakui jika ini adalah kesalahannya juga. Tapi, apakah memang dirinya tidaklah layak jika menjadi ayah dari bayi yang di kandung Marissa? Semua terjadi di luar kendali. Andaikan waktu bisa di putar kembali, ia tidak akan bersedia mengantarkan Marissa pulang malam itu. Dan membuat permasalahan berbuntut panjang seperti sekarang.
"Lo tenang aja, gue akan tepatin janji gue, setelah anak ini lahir." Ucap Tomi pada akhirnya, lalu keluar meninggalkan Marissa seorang diri.
"Semoga lo bisa menyadari kesalahan lo, Sa. Kesempatan tidak akan datang untuk yang kedua kalinya. Semoga lo bisa memanfaatkan kemurahan hati Rama dengan sangat baik."
***
Pak Andi, Bu Diana, juga Nayla, mereka hampir seharian menemani Hasna. Mengajak perempuan keluarga Suryanata itu berbincang jika sedang terjaga. Bahkan tugas Rama menyuapi dan membantu Hasna meminum obat, diambil alih oleh Bu Diana juga Nayla.
"Sayang, Mama, Papa sama Nay, pamit dulu, ya. Insya Allah besok Mama kesini lagi." Ucap Bu Diana.
"Cepet sembuh ya, Mbak. Dua bulan lagi, Nay wisuda loh. Nay berharap sekali jika kakak-kakak Nay, ikut menjadi bagian hari spesial Nay nantinya." Ucap Nayla penuh harap.
"Insya Allah, semoga Allah mempermudah kesembuhan untuk Mbak." Ucap Hasna.
"Aamiin." Nayla menghambur untuk memeluk Hasna.
"Iya, Pa." Hasna tersenyum sangat manis pada ayah mertuanya.
Pak Andi memberikan kecupan di kening Hasna, hal yang pertama kali dilakukan laki-laki paruh baya itu kepada menantu perempuannya. Tanpa terasa air mata Hasna keluar tanpa permisi menyusuri pipinya.
"Boleh Hasna peluk Papa?" Lirih Hasna.
"Boleh, Nak." Pak Andi mengangguk dan tersenyum pada istri putranya itu.
Pak Andi mendekat lalu memeluk Hasna penuh sayang. Hasna membalas pelukan ayah mertuanya dengan erat. Isakan kecil mulai terdengar.
"Hei, kenapa menangis? Sudah mau jadi ibu kok cengeng?" Goda Pak Andi. Beliau melonggarkan pelukannya dan menatap wajah teduh Hasna.
"Lebih dari tiga belas tahun, akhirnya Hasna merasakan kembali pelukan seorang ayah." Lirihnya di sela isakan.
__ADS_1
Bu Diana, Nayla, juga Rama saling berpandangan. Ucapan Hasna membuat mereka semua terenyuh. Semua tahu jika Hasna menjadi yatim piatu sejak berusia sepuluh tahun. Dan selama itu, ia di besarkan oleh satu-satunya keluarga yang ia miliki, Kakek Rusdi. Dan pria sepuh itu pun telah wafat.
Bu Diana dan Nayla mengusap sudut matanya yang basah. Rama mendekat dan mengusap lembut puncak kepala istrinya.
"Kenapa ngomongnya seperti itu? Kamu juga putri Papa, Nak. Posisi kalian di hati Papa sama. Jadi jangan pernah bicara seperti itu lagi." Pak Andi mengusap lembut wajah Hasna. Perempuan itu mengangguk mengiyakan ucapan ayah mertuanya.
"Ehemmm...kenapa rasanya posisi Rama bakalan tergeser dengan Papa, ya?" Canda Rama.
"Sekali ini saja." Rengek Hasna.
"Kenapa hanya sekali? Setiap kali pun tidak apa-apa, Sayang." Rama kembali mengusap lembut puncak kepala istrinya.
"Ya sudah kami pulang dulu ya, Nak." Ucap Papa.
"Iya, Pa."
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Rama mengantarkan kedua orang tua beserta adiknya hingga di depan lift. Setelahnya kembali lagi ke kamar.
"Pak Rama."
Rama menghentikan langkah yang hanya tinggal beberapa lagi sampai di depan pintu kamar Hasna. Laki-laki itu menoleh, dan mendapati Tomi berdiri tak jauh di belakangnya.
"Pak Rama, terima kasih banyak atas kemurahan hati Pak Rama. Saya_"
"Saya melakukan itu bukan karena kondisi Marissa, tapi karena bayi yang ada dalam kandungannya. Tidak sepantasnya ia menanggung hukuman yang ibunya lakukan." Potong Rama cepat.
"Iya, Pak. Saya mengerti itu."
"Bagus jika kamu mengerti. Saya harap kamu memahami tugas kamu sebagai seorang suami untuk memastikan agar Marissa tidak lagi mendekati keluarga saya. Terlebih istri saya." Ucap Rama penuh penekanan.
"Pasti, Pak. Saya akan memastikan itu." Ucap Tomi penuh keyakinan.
__ADS_1
"Bagus." Rama segera berbalik dan masuk ke dalam kamar rawat istrinya. Semoga saja Tomi benar-benar bisa diandalkan kali ini.
***