
"Rama." Rama menoleh pada sumber suara yang memanggil namanya.
"Mama." Rama lantas memeluk erat sang ibu.
Dapat mereka lihat dengan jelas betapa kacaunya Rama saat ini. Penampilan yang semerawut juga wajah yang nampak putus asa. Putra mereka benar-benar terlihat rapuh.
"Gimana keadaan Hasna?" Tanya Papa.
Rama mengurai pelukannya dengan sang ibu, dan menatap sendu ke arah ayahnya.
"Hasna masih ada di dalam, masih ditangani oleh tim dokter." Ucap Rama dengan suara yang terdengar parau.
"Hasna...hamil." Lanjut Rama dengan tatapan mata sendu. Mengatakan jika Hasna hamil dalam kondisi saat ini sangatlah menyakitkan.
"Hamil?" Ucap Mama dan Papa hampir bersamaan. Rama menganganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Entah mereka harus gembira atau sedih saat mendengar kabar bahwa menantu mereka tengah hamil, tapi dalam kondisi kritis seperti sekarang.
"Lalu transfusinya?" Tanya Papa.
"Rama sudah meminta bantuan Ivan untuk mencarikan pendonor untuk Hasna. Tapi mereka belum sampai juga." Jawab Rama.
"Golongan darah Papa, O. Papa bisa mendonorkan darah untuk Hasna." Ucap Papa.
Rama menoleh cepat pada sang ayah. Kenapa ia bisa melupakan jika golongan darah ayahnya sama dengan Hasna?
"Kalau begitu ayo, kita segera ke ruangan itu." Rama mengajak Pak Andi ke sebuah ruangan yang dipergunakan untuk melakukan transfusi darah.
Pak Andi melakukan skrining terlebih dahulu, sebelum pada akhirnya melakukan transfusi darah. Beliau hanya diperkenankan untuk mendonorkan sekantung darah untuk Hasna.
"Kalau bisa, tolong ada seorang pendonor lagi. Kita masih butuh banyak darah lagi." Ucap perawat.
Rama hanya mengangguk lesu saat mendengar perkataan perawat itu. Semoga saja Ivan bisa diandalkan seperti biasa.
"Gimana, Pa? Udah?" Tanya Mama.
"Papa hanya diperbolehkan mendonorkan satu kantong darah saja." Jawab Papa.
"Kenapa?"
"Kondisi Papa kurang fit, jadi hanya diperbolehkan mendonorkan satu kantong darah saja. Itupun Papa maksa tadi." Ucap Papa menjelaskan.
"Maaf, golongan darah saya, O. Apakah saya bisa mendonorkan darah saya?"
Semuanya menoleh pada seseorang yang berdiri tepat di belakang Rama.
"Nak Kevin?" Ucap Mama.
Wanita paruh baya itu terkejut saat mendapati Kevin yang mengikuti mereka sampai di depan ruang operasi Hasna.
"Kamu...?" Rama menunjuk ke arah Kevin, berusaha mengingat wajah laki-laki yang berada hadapannya kini.
"Saya teman Hasna. Apakah saya bisa mendonorkan darah saya?" Kevin mengulang pertanyaannya. Berharap Rama beserta keluarganya memberikannya izin.
Kevin tak sengaja mendengar percakapan antara Rama dengan kedua orang tuanya terkait kondisi Hasna yang membutuhkan transfusi darah secepatnya.
__ADS_1
"Nak Kevin?" Bu Diana menatap ke arah Kevin dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Bukankah kita tidak memiliki banyak waktu? Sebaiknya kita cepat bertindak. Nyawa Hasna taruhannya." Kevin berusaha mendesak mereka.
"Baiklah, mari ikut saya." Ucap Rama. Benar apa yang Kevin katakan, mereka tak punya banyak waktu untuk berdebat.
Kevin segera mengekori Rama menuju ruangan untuk transfusi darah. Kevin mulai melakukan skrining sebelum akhirnya ia diperbolehkan mendonorkan darahnya. Laki-laki itu bisa bernafas lega manakala bisa mendonorkan dua kantong darahnya untuk Hasna. Setidaknya ia bisa ikut berusaha menyelamatkan Hasna melalui donor darah yang baru saja ia lakukan.
"Hasna, walaupun aku tidak akan pernah bisa memilikimu. Tapi aku bahagia, karena mulai hari ini, darahku akan ikut mengalir di tubuhmu. Itu artinya, aku akan selalu membersamaimu di setiap aliran darahmu. Aku harap, kamu akan baik-baik saja setelah ini. Kamu perempuan tangguh yang pernah aku kenal. Berbahagialah Hasna, kamu berhak bahagia bersama suami, juga calon anak kalian."
Kevin menatap kantong darah kedua yang hampir penuh. Tanpa berpikir dua kali, Kevin mengajukan dirinya sebagai pendonor darah untuk Hasna, setelah mendengarkan kabar jika Hasna tengah kritis, terlebih perempuan itu tengah mengandung buah cintanya dengan sang suami. Walaupun bukan dirinya yang menjadi sumber kebahagiaan perempuan bermata teduh itu, setidaknya ia bisa menjadi salah satu sebab untuk Hasna tetap bisa melanjutkan hidupnya. Kevin hanya berharap agar Hasna selalu merasakan kebahagiaan setelah banyaknya hal yang membuat perempuan itu merasakan masa sulit seperti saat ini. Bahkan kini, perempuan itu tengah berjuang tak hanya untuk hidupnya, tapi untuk kehidupan calon buah hati dalam kandungannya.
"Sudah selesai, ini ada vitamin, nanti bisa anda minum saat malam hari." Perawat itu menutup bekas transfusi di tangan Kevin dengan plester, lantas memberikan vitamin pada laki-laki itu.
"Terima kasih."
Kevin pun segera keluar dan mendapati seluruh keluarga Suryanata nampak duduk dengan cemas di luar ruang operasi.
Rama segera berdiri dan menghampiri laki-laki yang telah bersedia mendonorkan darahnya untuk sang istri. Laki-laki itu menatap Kevin dengan tatapan yang sulit di artikan. Wajahnya yang diliputi rasa khawatir dapat Kevin lihat dengan jelas.
"Terima kasih. Terima kasih karena anda bersedia mendonorkan darah anda untuk istri saya. Saya rasa, saya tidak akan bisa membalas kebaikan anda." Ucap Rama.
Kevin tersenyum kecil mendengar ucapan Rama. Laki-laki itu bisa melihat betapa suami dari Hasna itu mencintai istrinya.
"Anda tidak perlu berbicara demikian. Apa yang saya lakukan adalah bentuk kepedulian terhadap sesama. Terlebih saya mengenal istri anda dengan baik." Kevin mengulas senyumannya pada Rama. Rama mengangguk kecil.
"Apa kalian berteman lama?" Tanya Rama.
Kevin menatap sekilas pada Bu Diana, lalu beralih pada Rama dan tersenyum.
"Anda sangat beruntung mendapatkan perempuan sebaik Hasna." Ucap Kevin. Rama mengangguk setuju atas ucapan laki-laki di hadapannya itu.
"Anda benar, saya sangat beruntung mendapatkan perempuan sebaik istri saya." Setetes bulir bening menerobos sudut mata Rama saat laki-laki itu mengingat hal tentang istrinya.
Cklek
Perhatian semua orang tertuju pada pintu yang di buka. Seorang dokter terlihat keluar dari dalam sana.
"Bagaimana, Dokter? Bagaimana keadaan istri saya?" Sergah Rama.
Dokter tersenyum menatap Rama dan satu persatu dari mereka yang menunggu proses operasi Hasna.
"Alhamdulillah, operasi berhasil. Dan pasien telah melewati masa kritisnya." Ucap Dokter.
"Alhamdulillah." Rama langsung sujud syukur saat mendengar kabar sang istri telah melewati masa kritisnya.
Kelegaan tergambar jelas pada raut wajah mereka semua. Tak henti-hentinya mereka mengucapkan rasa syukur mereka, karena Hasna berhasil berjuang melewati masa kritis.
"Lalu kandungannya?" Tanya Rama.
"Alhamdulillah, kandungannya juga baik-baik saja. Di dalam, Dokter kandungan masih melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Semoga hasilnya, semuanya baik." Ucap Dokter.
Tak lama seorang Dokter berjilbab keluar dari ruang operasi.
"Nah, ini, Dokter kandungan yang menangani pasien." Ucap Dokter, memperkenalkan rekannya kepada keluarga pasien mereka.
__ADS_1
"Bagaimana kandungan istri saya Dokter?" Tanya Rama tidak sabar.
"Alhamdulillah, kandungannya baik-baik saja. Sepertinya calon anak kalian ingin berjuang bersama sang ibu melewati masa kritis ibunya." Ucap dokter perempuan itu dengan seulas senyuman.
"Alhamdulillah." Lirih mereka hampir bersamaan.
"Terima kasih Dokter, terima kasih." Rama mengusap sudut matanya yang basah.
"Pasien masih berada di ruang observasi, sebentar lagi akan segera di pindahkan ke ruang rawat." Ucap dokter.
"Kalau begitu, kami permisi." Kedua dokter itu pun meninggalkan mereka dan melanjutkan tugas mereka.
Kevin menepuk pelan bahu Rama, berusaha menguatkan laki-laki itu. Kelegaan terpancar jelas di wajah tampan laki-laki berusia dua puluh tujuh tahun itu. Perempuan yang pernah menjadi pemilik hatinya itu sudah melewati masa kritisnya.
Tanpa sadar Rama memeluk Kevin.
"Istri saya selamat, terima kasih banyak. Anda juga telah menolong istri saya." Ucap Rama.
"Sama-sama, Pak Rama."
Pelukan keduanya terurai, kedua lelaki itu tersenyum satu sama lain. Lega, itu yang mereka rasakan sekarang.
"Jangan panggil saya Bapak. Karena saya tidak setua itu. Saya rasa usia kita tidak selisih jauh." Ucap Rama.
"Lalu? Saya harus memanggil apa? Kakak? Atau Abang?" Tanya Kevin dengan nada bercanda.
"Panggil saja Rama, atau senyamannya...?"
"Kevin."
"Ah, iya, Kevin."
"Baiklah...Rama." Ucap Kevin sedikit canggung.
Bu Diana memperhatikan interaksi dua lelaki yang menjadikan Hasna sebagai perempuan istimewa mereka. Keduanya nampak akrab sekarang. Jika seandainya putranya tau kalau Kevin adalah laki-laki yang sempat melamar istrinya, apakah sang putra akan seakrab itu dengan Kevin seperti saat ini?
"Ma, ini pesanan Mama." Ucapan Nayla berhasil membuat Bu Diana kembali tersadar dari lamunan.
Nayla menyerahkan kantong plastik berlogokan sebuah nama minimarket kepada sang Mama, yang berisikan makanan dan minuman. Tadi saat Rama mengatakan jika Kevin diperbolehkan mendonorkan darah sebanyak dua kantong, Bu Diana meminta Nayla untuk mencarikan makanan dan minuman di minimarket di seberang rumah sakit.
"Tolong berikan pada Kak Rama." Pinta Mama.
Nayla segera melangkah ke arah sang kakak yang tengah berbincang akrab dengan laki-laki yang membelakanginya.
"Kak Rama, ini pesanan Kakak." Nayla menyerahkan bawaannya kepada kakak laki-lakinya.
"Kevin, ini untuk kamu. Anggap saja untuk menggantikan energi setelah transfusi." Rama menyerahkan kantong itu kepada Nayla.
"Sepertinya ini terlalu berlebihan, aku tidak akan sampai pingsan walau tanpa roti dan susu." Kekeh Kevin. Kedua laki-laki itu nampak lebih akrab sekarang.
"Terima kasih." Ucap Kevin pada seseorang yang membawakan makanan untuk diberikan kepadanya.
"Kamu?" Ucap Kevin dan Nayla hampir bersamaan dan saling menunjuk satu sama lain.
"Kamu yang ada di parkiran tadi, kan?" Kevin memastikan jika gadis di hadapannya itu memanglah gadis yang tak sengaja menabraknya di parkiran tadi.
__ADS_1
***