
Hasna terbangun karena merasakan sesuatu yang basah tepat di bawah tubuhnya. Baru juga ia tidur. Hasna menyingkapkan selimut yang menutupi tubuhnya. Betapa terkejutnya saat ia mendapati keadaannya sekarang.
"Basah?" Gumamnya.
"Mas...Mas bangun." Hasna menggoyangkan lengan Rama.
"Emmm..." Hanya terdengar gumaman di telinga Hasna.
"Mas." Sekali lagi ia membangunkan Rama, dan berhasil. Laki-laki itu pun terjaga.
"Ada apa, Sayang?" Tanya Rama. Terlihat sekali jika ia masih ngantuk berat.
"Mas, aku ngompol." Lirih Hasna.
Sebaris kalimat yang Hasna ucapkan, mampu membuat Rama membuka matanya lebar-lebar.
"Ngompol?" Hasna mengangguk pelan.
Rama memeriksa tempat tidur Hasna, dan benar saja terlihat basah. Tapi tidak ada bau seperti air seni yang tercium. Rama segera bangkit dan menyalakan lampu kamar. Ia lebih terkejut lagi saat melihat ada bercak darah juga di atas sprei.
"Sayang?"
"Mas?"
Keduanya terlihat panik, namun Hasna mencoba untuk tenang. Ia pernah membaca banyak artikel tentang kehamilan dan persalinan. Dan apa yang ia alami sekarang merupakan salah satu tanda bahwa dirinya akan segera melahirkan.
"Darah?" Lirih Rama.
"Air ketuban?" Lirih Hasna.
"Air apa?"
"Mas cepat hubungi Dokter Yunita. Sepertinya anak kita akan segera lahir." Rama hanya terpaku mendengar ucapan Hasna.
"Mas cepetan." Ucap Hasna sedikit tidak sabar saat Rama tak kunjung beranjak.
"I...iya."
Rama segera mengambil ponsel dan menghubungi dokter kandungan Hasna. Lalu keluar meninggalkan Hasna seorang diri di dalam kamar.
Tak berselang lama, Rama kembali bersama Bu Diana. Ternyata ia membangunkan ibunya untuk membantunya mengantarkan Hasna ke klinik.
"Dokter Yunita meminta kita ke kliniknya, Sayang." Ucap Rama.
Dokter kandungan yang biasa menangani Hasna meminta Rama untuk membawa istrinya ke klinik. Karena jarak klinik Dokter Yunita lebih dekat dari rumah sakit.
"Barang sudah kamu siapin?" Tanya Bu Diana.
"Sudah, Ma. Ada di dalam lemari. Tolong Mama ambilkan, Rama akan membantu Hasna mengganti pakaian."
Dengan begitu cekatan, Rama menggantikan pakaian tidur Hasna dengan pakaian yang lebih layak, karena mereka akan keluar dari ruang pribadi mereka.
"Mama tunggu di depan." Bu Diana keluar terlebih dahulu dengan membawa tas berukuran sedang berisikan perlengkapan Hasna untuk persalinannya.
"Bismillahirrahmanirrahim." Rama mengangkat tubuh Hasna dan membawanya keluar.
Mobil telah siap, Bu Diana membantu untuk menutup pintu mobil setelah keduanya masuk. Pak Andi sendiri yang akan mengantarkan mereka ke klinik Dokter Yunita.
__ADS_1
***
"Sshhh... Ahhh..." Berkali-kali terdengar rintihan Rama menahan rasa sakit.
"Mas Rama kenapa?" Tanya Hasna. Sepertinya Rama tengah menahan sesuatu yang membuatnya merasa tidak nyaman.
"Perutku sakit sekali. Rasanya menjalar sampai ke punggung." Ucap Rama. Keringat dingin mulai membanjiri kening laki-laki itu.
"Ckk...kamu itu ada-ada saja. Istri kamu yang mau melahirkan, kok kamu yang mules." Ucap Pak Andi dari balik kemudi.
"Kalau gitu alhamdulillah. Rasa sakitnya dibagi dua. Kalau Hasna semua, kasihan." Sahut Bu Diana.
"Bisa lebih cepet nggak, Pa? Rasanya seperti ada yang mengganjal." Ucap Hasna.
"Lebih cepet, Pa. Jangan sampai cucu kita lahir dalam mobil." Ucap Bu Diana.
Pak Andi menambah kecepatan. Untung saja jalanan sepi dan jarak klinik dengan rumah mereka tidak begitu jauh. Sepuluh menit kemudian, mereka akhirnya sampai di depan klinik.
"Langsung bawa masuk." Ucap dokter Yunita. Rupanya dokter itu sudah siaga menunggu kedatangan Hasna dan menyambutnya di depan pintu masuk klinik.
"Baringkan di sini." Pinta dokter Yunita.
"Keluarga mohon tunggu di luar ya? Saya akan memeriksa sudah sampai bukaan berapa." Pinta dokter yunia.
Bu Diana meletakkan perlengkapan milik Hasna, lantas keluar bersama Pak Andi.
"Sus tolong pasang infusannya." Pinta dokter Yunita pada perawat yang berjaga di kliniknya.
"Dok, boleh saya menemani istri saya di sini?" Tanya Rama penuh harap.
"Maaf, permisi ya, Bu." Dokter Yunita menyingkapkan pakaian yang Hasna kenakan, lalu memeriksa Hasna dengan seksama.
"Bagus sudah bukaan lengkap. Bu Hasna ikuti arahan dari saya, ya. Jangan mengejan jika saya tidak meminta. Jangan memejamkan mata terlalu rapat. Bu Hasna boleh berteriak jika itu bisa membuat Bu Hasna merasa nyaman." Hasna mengangguk mengerti.
"Pak Rama, bantu saya. Tolong buat Bu Hasna merasa senyaman mungkin." Rama hanya mengangguk mendengar ucapan Dokter Yunita.
"Bismillah, ambil nafas panjang, Bu Hasna. Tahan sebentar. Sekarang dorong dengan kuat." Dokter Yunita memberikan instruksi pada Hasna.
Hasna mengikuti arahan yang dokter Yunita berikan. Menghirup nafas sepenuh dada, dan menahannya, kemudian mendorong kuat menggunakan otot-otot perutnya. Tiga kali Dokter Yunita menginstruksikan, dan Hasna melakukannya dengan baik.
"Istirahat sebentar, Bu Hasna. Atur nafas. Jangan tegang, dan tetap rileks." Hasna merasa seolah baru saja lari maraton, hingga nafasnya tersengal.
Rama terlihat menegang saat Hasna mengikuti arahan dokter. Bahkan rasa sakit yang sebelumnya mendera, tak ia rasakan lagi. Fokusnya hanya kepada Hasna, bukan lagi rasa sakitnya.
"Allah permudahkanlah persalinan istri hamba. Berikanlah kekuatan pada istri hamba. Berikan keselamatan dan kesehatan pada istri dan calon anak kami. Hamba pasrahkan semua urusan pada Mu, Ya Rabb."
"Oke, Bu Hasna. Sekarang ambil nafas, tahan...dorong dengan kuat." Dokter mulai memberikan instruksi kembali.
Hasna merasakan jika ia tidak sanggup lagi untuk mengejan. Rasanya tenaga sudah terkuras habis, tubuhnya semakin lemas. Namun sang buah hati tak kunjung lahir.
"Mas..." Lirihnya.
"Kamu pasti bisa, Sayang. Kamu wanita yang kuat." Ucap Rama memberikan motivasi. Mengusap kening Hasna yang telah banjir oleh keringat.
"Kita coba lagi, Bu Hasna. Ambil nafas panjang. Tahan...dorong sekuat tenaga."
Rama menggenggam erat tangan Hasna, berusaha memberikan kekuatan melalui sentuhan. Wajah cantik itu nampak memerah, dengan otot-otot di sekitar wajah yang nampak jelas. Bahkan genggaman tangan Hasna semakin erat.
__ADS_1
"Kepala sudah terlihat, lebih kuat lagi, Bu Hasna." Ucap dokter.
"Ayo, Sayang, anak kita hampir keluar." Ucap Rama. Laki-laki itu memberikan kecupan singkat di bibir Hasna.
"Laa Haula walaa quwwata illaa billaah." Lirih Hasna.
Dorongan yang begitu kuat, dan semangat yang Hasna miliki, membuat bayi mungil itu berhasil terlahir ke dunia.
Tangisan Hasna dan juga Rama pecah, bersamaan dengan tangisan pertama bayi mereka.
"Anak kita lahir, aku menjadi ayah. Terima kasih, Sayang." Ucap Rama di sela isakannya.
"Alhamdulillah." Lirih Hasna. Air mata tak henti mengalir, namun senyumannya terukir dengan sempurna.
"Alhamdulillah... Bayinya laki-laki. Selamat Bu Hasna, Pak Rama." Dokter mengangkat bayi yang baru saja Hasna lahirkan. Dan menyerahkannya pada perawat yang membantu persalinan Hasna.
"Tolong dibersihkan, Sus." Pinta dokter Yunita setelah memotong tali pusatnya.
Sebelum dibersihkan, terlebih dulu perawat meletakkan bayi mungil yang masih berlumuran darah itu tepat di atas dada Hasna.
"Masya Allah."
Keduanya tidak bisa berkata-kata. Hanya rasa syukur yang mampu mereka ucapkan.
"Pak Rama bisa mengadzankan bayinya setelah dibersihkan suster, ya." Ucap dokter Yunita.
"Terima kasih banyak, dokter." Ucap Rama penuh haru.
"Semua berkat semangat Bu Hasna, dan juga dukungan dari Pak Rama."
"Terima kasih, Sayang. Terima kasih." Lirih Rama.
Rama menghujani wajah Hasna dengan kecupan bertubi-tubi. Rasanya mengucapkan terima kasih saja tidaklah cukup pada istrinya. Bahkan Hasna sudah mengorbankan dirinya untuk menjaga kandungannya selama sembilan bulan. Lalu mempertaruhkan nyawa demi kelahiran sang buah hati.
Perawat membawa bayi mungil itu untuk di bersihkan. Sedangkan Dokter Yunita melakukan perawatan pasca persalinan pada Hasna.
"Ada apa, Dokter? Kenapa istri saya harus di injeksi?" Tanya Rama saat dokter Yunita menyiapkan peralatannya.
"Saya perlu melakukannya, Pak Rama. Agar Bu Hasna kembali seperti gadis lagi." Ucap dokter Yunita dengan senyuman di wajahnya.
"Maaf ya, Bu." Ucap dokter Yunita.
Hasna mendesis, mengerutkan keningnya, saat merasakan bagian tubuhnya bersentuhan dengan jarum suntik. Rama memperhatikan wajah sang istri yang sepertinya sedang menahan rasa sakit. Ragu-ragu ia mendekat ke arah dokter Yunita yang tengah menjalankan tugasnya.
"Astaghfirullahal'adzim." Lirihnya. Rasanya seluruh persendian Rama tidak berada di tempat semestinya, saat tak sengaja ia melihat apa yang tengah dokter Yunita lakukan.
Brukkk...
"Ya Allah, Pak Rama."
"Mas."
"Bapak."
Pekik dokter Yunita, Hasna dan perawat secara bersamaan.
***
__ADS_1