Bidadari Penghapus Luka

Bidadari Penghapus Luka
Bab 109


__ADS_3

Tomi hanya diam menyimak setiap kalimat yang terlontar dari bibir perempuan yang telah berstatus sebagai istrinya itu, tanpa berniat ingin menjawabnya.


"Sekarang lo tau kan, kenapa gue nolak buat nikah sama lo waktu itu? Nggak perlu gue jabarin semuanya sih. Cukup lo tau salah satunya aja. Lo nggak akan bisa menuhin semua permintaan gue, karena gaji lo kecil. Bahkan gaji gue dulu lebih besar dari gaji lo. Lo nya aja yang ngeyel." Marissa tersenyum sinis.


Tomi menggeleng kecil membuang nafasnya kasar. Sungguh Marissa sudah menginjak harga dirinya sebagai seorang suami di sini. Ucapan perempuan itu kali ini benar-benar keterlaluan.


"Itu dulu pas lo kerja. Sekarang lo nggak kerja, bagaimanapun uang gue lebih banyak dari lo sekarang. Dan lo tenang aja, gue hanya butuh waktu empat bulan menjalani pernikahan ini sama lo. Setelah itu gue bebasin lo, sebebas-bebasnya." Ucap Tomi penuh penekanan.


Makanan yang hampir ia telan serasa nyangkut di tenggorokan saat mendengar ucapan Tomi. Marissa meraih gelas minumannya, menghabiskan isinya hingga tersisa setengah, lalu meletakkannya dengan kasar. Untung saja gelasnya berbahan kaca tebal, sehingga tidak pecah saat berbenturan cukup keras dengan meja.


Ia yang memulai dengan melontarkan kalimat yang terdengar sumbang di pendengaran. Namun siapa sangka, saat Tomi membalas ucapannya, ia tidak bisa berkata-kata lagi. Marissa tiba-tiba merasa kesal sendiri saat menerima balasan dari Tomi yang tak kalah menohok.


Marissa membuang pandangannya dengan wajah masam. Perempuan itu sudah tidak berselera lagi untuk menghabiskan makanan yang tinggal sepertiganya lagi.


Keduanya terdiam beberapa saat. Hingga pada akhirnya Tomi kembali membuka suara.


"Kenapa tidak di habiskan? Ingatlah, suamimu ini belum tentu mampu membelikannya lagi, karena memiliki gaji yang kecil. Jadi jangan menyia-nyiakan makanan." Ucap Tomi dengan nada menyindir, membalikkan ucapan Marissa yang ditujukan padanya tadi.


Marissa menoleh sejenak pada laki-laki yang menjadi suaminya itu, melihat wajahnya sangatlah menyebalkan. Tanpa berkata-kata, Marissa pergi meninggalkan Tomi seorang diri.


"Maafkan Papa, Nak. Bukan bermaksud untuk membuatmu ikut kesal karena ucapan Papa. Tapi Mamamu sungguh keterlaluan. Semoga setelah ini Mamamu tidak akan meminta lagi untuk makan di tempat seperti ini."


Tomi membuang nafasnya kasar. Laki-laki itu melambaikan tangannya pada salah satu waiters untuk meminta tagihan.


Kedua netra Tomi hampir saja membulat sempurna saat melihat tagihan yang akan dibayarkannya untuk seporsi makanan dan segelas minuman yang baru saja Marissa nikmati. Segera ia mengambil dompet dan menyerahkan beberapa lembar uang sesuai deretan angka yang tertera di kertas tagihan.


"Terima kasih atas kunjungan anda." Ucap waiters


***


Tak ada percakapan diantara keduanya semenjak keluar dari restoran. Marissa masih terlihat menekuk wajah cantiknya, sedangkan Tomi tak menghiraukan perempuan itu.


Tomi menikmati makan malamnya yang tertunda karena menuruti keinginan Marissa. Entah itu keinginan karena memang sedang ngidam atau memang ingin makan di luar. Tomi fokus dengan laptop menyelesaikan laporan bulanan perusahaan tempatnya bekerja, sesekali menyuapkan nasi padang bungkus ke dalam mulutnya.


Fokusnya teralihkan saat melihat sepasang kaki yang berdiri persis di samping kanannya. Tomi menoleh pada Marissa yang tengah memperhatikannya. Entah perempuan itu memperhatikan dirinya yang tengah bekerja, atau justru...


"Ada apa?" Tomi mengurungkan suapannya.

__ADS_1


Marissa tak menjawab, namun pandangan perempuan itu fokus pada nasi bungkus yang berada di piring Tomi.


"Lo mau?" Marissa mengangguk ragu.


Tomi menghembuskan nafasnya dengan kasar, dan meletakkan kembali sendoknya. Lalu berjalan ke arah dapur. Tak lama kemudian laki-laki itu kembali dengan sepiring nasi bungkus di tangannya.


Tomi menyodorkan nasi yang masih terbungkus rapi itu pada Marissa. Ragu-ragu perempuan itu menerimanya. Tomi kembali duduk ditempatnya semula, yang disusul Marissa yang duduk berseberangan dengannya. Tomi kembali fokus pada pekerjaannya tanpa mempedulikan istrinya..


Marissa membuka bungkusan nasi dan mulai menyendoknya. Baru saja satu suap, ia sudah tidak berselera. Tomi kembali menyendok makanan dan memasukkan ke dalam mulutnya perlahan, kemudian kembali fokus dengan benda lipat di hadapannya. Jemarinya tetap lincah mengetik di atas keyboard sedang mulutnya terus mengunyah makanannya. Marissa yang memperhatikan itu hanya bisa menelan ludahnya.


Tomi kembali akan menyuapkan sesendok makanan, tapi laki-laki itu merasa jika ada yang tengah memperhatikannya. Dan benar saja, Marissa masih setia memandang laki-laki itu.


"Ada apa lagi?" Tanya Tomi dengan nada malas.


"Gue mau yang itu." Marissa ragu-ragu saat mengatakannya.


Tomi mendengus kecil mendengarnya. Masalahnya makanan miliknya sudah tidak lagi utuh. Nasinya sudah tinggal setengah, pun dengan rendang dagingnya.


"Makan punya lo sendiri, milik gue udah hampir habis." Tolak Tomi. Namun lagi-lagi ia gagal menyuapkan makanan gara-gara Marissa yang masih setia memandang ke arahnya.


"Ckkk..." Sekali lagi terdengar hembusan nafas kasar dari laki-laki itu.


Tanpa menunggu lama, Marissa mulai menyendokkan makanan ke dalam mulutnya, bahkan belum selesai ia menelan dengan sempurna sudah disuap lagi. Mulutnya pun penuh dengan makanan, sampai susah untuk menelan.


Tomi mengusap wajah dan tengkuknya secara bergantian, melihat istrinya makan dengan begitu lahapnya. Tak ada kesan jaim di sini.


"Pelan-pelan, nggak bakal gue minta juga." Ucap Tomi yang tak dihiraukan oleh Marissa. Perempuan itu masih sibuk dengan nasi Padang yang hampir habis.


"Habisin, masih ada sebungkus lagi." Marissa hanya menggeleng tanpa mengalihkan pandangannya.


"Nak, kamu itu lagi lapar apa lagi pengen sih? Coba lihat Mama kamu, sampai kayak gitu makannya. Padahal tadi nolak-nolak, malah minta makanan yang...hmmm... Tapi nggak papa, yang penting kamu sehat, Mama kamu seneng. Papa ikhlas ikhlas saja, nahan perut yang masih lapar. Asalkan kebutuhan dan keinginannya kamu dan Mama tercukupi."


"Ehemm...enak banget kayaknya." Sindir Tomi, tanpa Marissa sadari, ia mengangguk.


"Enak banget." Ucapnya dengan mulut yang penuh makanan, bahkan suaranya tidak terdengar dengan jelas.


Nasi bungkus milik Tomi pun akhirnya tandas oleh Marissa. Bahkan gelas minum Tomi pun kosong olehnya. Perempuan itu duduk bersandar di kursi, mungkin perutnya sudah merasa kenyang. Tomi menggeleng pelan melihatnya.

__ADS_1


Tomi meraih nasi bungkus milik Marissa yang belum dibuka, sepertinya perempuan itu sudah merasa kenyang sekarang. Seporsi Risotto dan setengah porsi dari nasi Padang miliknya, Tomi rasa itu sudah cukup.


Tomi membuka bungkus dan mulai mencampurkan nasi beserta pelengkapnya. Satu suap sudah mulai ia nikmati, tidak ada tanda-tanda jika Marissa akan menambah porsi. Rupanya ia bisa makan dengan tenang sekarang. Hingga pada suapan ketiga, Marissa mulai menegakkan kembali punggungnya, mengamati suaminya yang tengah menikmati sebungkus nasi Padang.


Sebenarnya Tomi menyadari jika ia sedang di perhatikan, tapi laki-laki itu tetap melanjutkan acara makannya.


"Ehemm..."


Tomi melirik sekilas pada Marissa. Lucu sekali wajah perempuan itu. Tomi kembali menyuapkan sesendok makanan ke dalam mulutnya.


"Ehem..." Tomi meletakkan kembali sendoknya.


"Sekarang apa lagi? Mau?" Perempuan itu langsung menganggukkan kepalanya tanpa ragu.


"Ckk...baru makan, udah rusuh." Gerutu Tomi. Sengaja ia mengatakan itu pada Marissa.


Perempuan itu mendengus mendengar ucapan suaminya.


"Lo nggak rela berbagi sama gue?" Sewot Marissa.


"Ckkk...barusan nasi gue lo embat. Nasi lo, lo anggurin. Giliran gue makan lo mulai rusuh."


"Emang lo nggak kenyang makan Risotto sama setengah nasi bungkus milik gue?" Tanya Tomi.


"Tadi aja, sok-sokan nggak mau nasi murah kek gini. Giliran dimakan orang, lo nya mupeng." Sindir Tomi.


"Nggak usah nyindir. Ini juga maunya bayi ini." Ucap Marissa sewot.


"Nggak usah bawa-bawa anak gue buat nutupin kelakuan lo. Kalau pengen bilang aja, gue pengen. Nggak usah bawa-bawa anak segala." Protes Tomi.


"Kenyataanya gitu kok." Ucap Marissa semakin sewot. Tomi menahan senyumannya.


"Besok gue beliin, dua bungkus. Gue laper sekarang." Tomi masih menunjukkan aksi penolakan.


"Gue nggak mau. Gue maunya yang itu." Sahut Marissa cepat, sembari menunjuk piring di hadapan Tomi.


"Oh, gitu. Bilang aja lo maunya kalau bekas gue. Nggak usah sok nolak, bilang nggak mau, milih restoran mahal segala. Ujung-ujungnya bekas gue lo embat juga." Ucapan kali ini sepertinya Tomi sedang menyampaikan uneg-unegnya pada Marissa.

__ADS_1


"Kalau lo nggak mau berbagi ya udah. Nggak usah sok ceramah. Dasar nyebelin." Ucap Marissa kesal, lantas kembali ke dalam kamarnya. Bahkan ia menutup pintunya cukup keras.


Tomi tersenyum menyaksikan kekesalan Marissa kerena dirinya memberikan penolakan untuk berbagi makanan dengan istrinya itu.


__ADS_2