Bidadari Penghapus Luka

Bidadari Penghapus Luka
Bab 140


__ADS_3

Rama dan Ivan hendak kembali ke kamar Hasna di paviliun teratai. Mereka mengurungkan niat untuk menemui psikiater yang menemani Marissa selama penyidikan. Keterangan dari Dokter, Rama rasa sudah mewakili bagi dirinya untuk mengambil sebuah keputusan besar.


"Ivan, kita ke ruang perawatan Marissa." Ucap Rama saat berada di depan lift.


"Baik, Pak. Kalau begitu, kita langsung ke lantai tiga." Ucap Ivan. Asisten itu langsung menekan tombol lift bertuliskan angka tiga.


Tak lama, pintu lift pun terbuka.


Ivan memperhatikan kamar-kamar dengan deretan angka yang ada di samping pintu. Hingga langkah keduanya berhenti tepat di depan kamar bertuliskan angka 175.


"Tulip 175." Lirih Ivan.


"Ini kamarnya, Pak. Tulip 175." Ucap Ivan. Laki-laki itu menoleh ke arah Rama.


Rama juga Ivan semakin mendekat dengan pintu kamar yang terbuka sebagian. Nampak seorang perempuan yang duduk di atas ranjang pasien, dan merapatkan selimutnya hingga sebatas dada. Raut wajahnya nampak gelisah.


"Bu Marissa, sekarang Bu Marissa istirahat dulu, ya." Ucap perempuan bersnelli di hadapan Marissa.


"Tolong jangan tinggalkan saya, Dok. Saya takut." Ucap Marissa dengan nada yang terdengar gelisah.


"Bu Marissa, tidak perlu takut. Ada saya, suster, juga Pak Tomi yang akan menemani ibu." Ucap dokter dengan nada lembut.


"Tapi, Dok, nanti polisi itu pasti akan datang lagi kemari." Ucap Marissa dengan mata yang mulai berkaca.


"Saya tidak mau di penjara, saya tidak mau, Dok." Marissa terlihat menggelengkan kepalanya.


"Tolong saya, Dok. Tolong bilang sama polisi kalau saya tidak bersalah." Wajah yang biasa terlihat angkuh itu, kini nampak memelas. Bahkan kedua pipinya pun nampak basah.


Rama dan Ivan masih menyimak dengan baik obrolan orang-orang yang berada di dalam ruangan itu. Hingga sebuah suara mengagetkan keduanya.


"Maaf, bapak berdua ada kepentingan apa, ya?" Rama dan Ivan pun menoleh, dan mendapati seorang perawat yang berdiri tepat di belakang mereka, dengan tatapan penuh selidik.


"Ee... Sus, maaf sebelumnya. Kami sedang menjenguk kerabat kami. Alamat yang kami peroleh sesuai dengan kamar ini, tulip 175. Tapi nampaknya tidak ada kerabat yang kami maksud. Apa sudah dipindahkan ke ruangan lain, ya?" Tanya Rama، yang berusaha mengalihkan perhatian perawat itu.

__ADS_1


"Di kamar ini memang hanya ada satu pasien. Tidak ada pasien lain." Ucap perawat.


Kedua lelaki itu nampak saling berpandangan. Mereka harus cepat memutar otak untuk mendapatkan informasi dari perawat itu.


"Oh, begitu ya, Sus. Memangnya sakit apa, kok hanya sendiri di kamar ini? Bukannya ada tiga ranjang, ya?" Tanya Ivan.


"Kebetulan pasien dalam penanganan khusus."


"Penanganan khusus? Sakit parah?" Tanya Ivan lagi.


"Tidak, pasien sedikit mengalami depresi. Kasihan sekali, apalagi tengah hamil tua." Rama dan Ivan hanya mengangguk mendengar penuturan perawat.


"Lalu, kalian_"


"Ivan, saya baru saja mendapatkan pesan jika kerabat kita ada di paviliun." Sahut Rama sebelum perawat itu menanyakan hal yang membuat mereka di curigai. Bahkan Rama terlihat membuka aplikasi chat dan menunjukkan sekilas pada Ivan di hadapan perawat. Seolah memang ia baru mendapatkan chat dari seseorang.


"Oh, baiklah." Ivan paham dengan kode yang Rama berikan.


***


Sudah lebih dari tiga puluh menit Ivan beserta atasannya itu duduk saling berhadapan di kafe yang berada di seberang rumah sakit, tanpa ada yang membuka suara. Bahkan minuman yang Ivan pesan hampir tandas, sedangkan minuman Rama sudah dingin sepenuhnya.


"Kita sama-sama calon ayah. Kita juga sama-sama seorang suami. Hanya kondisi yang membuat kita berbeda."


"Seandainya kita bertukar posisi, saya pun tidak akan sanggup melihat istri saya meregang nyawa. Mengalami kondisi yang tidak pasti antara hidup dan mati, seperti istri anda."


"Pak Rama pun, saya yakin tidak akan sanggup jika berada di posisi saya. Kehilangan anak yang sebentar lagi akan terlahir ke dunia."


Rama terlihat memijit pelipisnya yang terasa berdenyut. Ucapan Tomi beberapa jam yang lalu kembali terngiang di telinganya. Bahkan masih dapat Rama ingat dengan jelas bagaimana raut wajah laki-laki yang menjadi suami Marissa itu.


Dengan setia Ivan memperhatikan perubahan raut wajah Rama. Atasannya itu nampak menghirup nafas panjang beberapa kali. Bahkan matanya nampak terpejam sesaat, seperti tengah memikirkan hal yang begitu berat.


"Ivan, bagaimana menurut kamu? Apakah saya harus menangguhkan penahanan Marissa? Tapi saya khawatir jika dia nekat dan kembali mencelakai istri saya." Ucap Rama tanpa melihat ke arah Ivan. Pandangannya menerawang jauh.

__ADS_1


"Maaf, Pak, jika saran saya nantinya tidak berkenan untuk Bapak. Tapi, setelah mendengarkan penjelasan Dokter Andrean, juga melihat langsung, walaupun hanya sekilas, bagaimana kondisi Marissa. Saya rasa, sebaiknya Bapak menunda proses hukum Marissa." Rama menyimak dan fokus pada asisten pribadinya itu.


"Bagaimanapun bukan hanya Marissa yang akan menjalaninya. Anak dalam kandungannya pun akan ikut merasakan juga. Saya sangat khawatir jika seandainya kondisi psikis Marissa akan mempengaruhi bayi dalam kandungannya. Mungkin saya memang awan masalah itu. Tapi dari penjelasan Dokter Andrean, saya bisa menyimpulkan jika itu sangat tidak baik untuk perkembangan bayinya." Rama menghembuskan nafasnya perlahan.


"Saya tidak akan meminta Bapak membayangkan untuk bertukar posisi seperti yang suami Marissa katakan pada Bapak. Saya yakin, bapak sangatlah bijak menyikapi masalah ini."


Ucapan Ivan memang benar. Bagaimanapun jika Marissa berada di balik jeruji besi, maka bayi dalam kandungannya akan turut merasakan dinginnya lantai penjara. Yang bersalah ibunya, bukan anak dalam kandungannya. Karena keegoisan ibunya, anaknya ikut menanggung akibatnya. Itu tidaklah adil. Yang bersalah Marissa, sudah sepatutnya hanya perempuan itu yang menjalani hukumannya. Bayinya tidak.


Drrrtt, drrrtt, drrrtt


Ponsel Rama yang tergeletak di atas meja bergetar. Sebuah panggilan masuk dari Pak Darmawan, pengacara pribadinya.


"Iya, Pak Darma."


"Selamat malam, Pak Rama. Maaf jika saya menganggu waktu Bapak. Tapi saya harus segera menyampaikan hal ini kepada Pak Rama, sebagai bahan pertimbangan." Ucap Pak Darmawan dari seberang sana.


"Katakan, Pak Darma."


"Pihak kepolisian sudah melakukan penyidikan sesuai prosedur. Tapi, ada kendala yang cukup serius, Pak. Tersangka mengalami depresi dan dalam pantauan psikiater. Jika seandainya kasus ini di teruskan, bukan hanya kejiwaan tersangka yang mengkhawatirkan. Tapi juga keselamatan bayi dalam kandungannya. Apalagi tersangka sempat mengalami pendarahan lagi."


Rama menghembuskan nafasnya dengan berat mendengar penuturan pengacaranya.


"Sekarang, pihak kepolisian pun tidak bisa melakukan penahanan, dengan alasan kesehatan tersangka. Karena pihak rumah sakit pun menyatakan keberatan jika pasien mereka meninggalkan rumah sakit dalam kondisi yang demikian." Lanjut Pak Darmawan.


"Tapi kembali lagi, keputusan ada di tangan Pak Rama, selaku pelapor."


Rama menatap lurus Ivan yang berada di hadapannya. Asisten pribadinya itu masih menyimak apa yang Rama ucapkan.


"Kita tangguhkan sementara kasus ini, sampai Marissa melahirkan. Setidaknya psikisnya juga lebih siap saat hukumannya telah di tetapkan nantinya." Ucap Rama tanpa mengalihkan pandangannya pada sang asisten.


"Baik, Pak. Akan segera saya urus semuanya." Ucap Pak Darmawan.


***

__ADS_1


__ADS_2