Bidadari Penghapus Luka

Bidadari Penghapus Luka
Bab 120


__ADS_3

"Saya sedang hamil, dan saya masih ingin membesarkan anak dalam kandungan saya."


Ckiiiitt...


Suara decit ban mobil yang bergesekan dengan aspal jalanan terdengar begitu nyaring. Tubuh kedua perempuan itu sedikit terpental ke depan saat Marissa menginjak rem dengan begitu dalam.


Mobil berhenti di atas jembatan yang ada di perbatasan kota. Kendaraan cukup ramai mengingat sekarang jam pulang kantor.


"Astaghfirullahal'adzim." Lirih Hasna. Perempuan itu memegang keningnya yang terantuk dashboard mobil. Untung saja seatbelt terpasang sempurna. Sejenak Hasna mengatur debaran jantung dan nafas yang memburu.


Marissa menoleh cepat dan menatap tajam ke arah Hasna.


"Hamil?" Ucap Marissa memastikan.


Hasna menoleh ke arah Marissa yang duduk di sebelah kanannya. Perempuan itu terlihat menghirup nafas dalam-dalam sambil memegang dadanya yang masih berdegup kencang.


"Lo hamil?" Ulang Marissa dengan nada yang sedikit meninggi. Tak menjawab, Hasna hanya menganggukkan kepalanya.


"Nggak, nggak mungkin lo hamil." Marissa menggelengkan kepalanya, seolah menolak kenyataan yang baru ia ketahui. Bahkan perempuan itu memaksakan senyumannya.


"Kenapa tidak mungkin? Saya perempuan bersuami. Jadi wajar jika saya hamil." Ucap Hasna.


"Tapi gue yakin, kalau anak itu bukanlah anak Rama." Ucap Marissa seraya menunjuk perut Hasna yang masih datar itu.


"Astaghfirullahal'adzim." Lirih Hasna.


"Rama tidak mencintai lo. Gue tahu itu. Jadi nggak mungkin kalau anak itu anak kandung Rama." Lanjut Marissa.


"Mas Rama suami saya, jadi anak ini adalah anak Mas Rama." Ucap Hasna.


"Bohong, pasti lo udah tidur dengan laki-laki lain, kan? Dan lo mengatakan pada Rama jika anak itu adalah anaknya. Dasar perempuan licik." Marissa tersenyum mengejek ke arah Hasna.


"Astaghfirullahal'adzim, Mbak. Saya perempuan bersuami. Dan saya perempuan beragama. Jadi tidak sepantasnya Mbak Marissa menuduhkan hal serendah itu kepada saya. Apalagi kita sama-sama seorang perempuan." Hasna sebisa mungkin meredam amarahnya.


"Nggak usah munafik jadi perempuan. Udah ngaku aja. Nggak usah sok suci." Ejek Marissa.


Lama-lama mendiamkan perempuan seperti Marissa akan membuat jengkel dan sakit hati.


"Mbak, kata-kata yang baru saja Mbak Marissa ucapkan, itu lebih pantas Mbak sematkan pada diri Mbak sendiri. Coba Mbak Marissa ingat-ingat dengan baik, bagaimana awal mula sampai Mbak hamil? Dengan siapa Mbak Marissa melakukan hubungan terlarang itu, hingga membuat Mbak hamil seperti sekarang? Atau jangan-jangan Mbak Marissa tidak mengenal siapa laki-laki itu? Hingga Mbak Marissa membuat pengakuan, jika anak dalam kandungan Mbak Marissa adalah anak dari Mas Rama?"


"Mbak Marissa meminta pertanggung jawaban kepada laki-laki beristri, yang bahkan kesehariannya tidak pernah melirik ke arah Mbak Marissa sedikitpun. Hanya demi menutupi kehamilan Mbak, hanya demi mendapatkan kejelasan status, Mbak Marissa sampai merendahkan harga diri Mbak dengan mengatakan jika anak itu anak Mas Rama."


Hasna begitu berapi-api saat mengatakan semua itu pada Marissa, seolah tengah mengeluarkan uneg-uneg dalam hatinya. Terlihat dari nafasnya yang memburu.


"Perempuan baik-baik, akan menyerahkan kehormatannya hanya kepada laki-laki, yang telah menikahinya secara sah. Laki-laki yang jika hanya memandang, akan mendapatkan pahala. Bukan kepada laki-laki, yang bahkan hanya melihat sehelai rambut saja, akan menjadikannya dosa. Dan Mbak Marissa bisa menilai sendiri, siapa diantara kita berdua yang sama dengan apa yang Mbak Marissa tuduhkan. Saya? Atau Mbak.?" Ucap Hasna penuh penekanan. Dan menunjuk dirinya serta Marissa secara bergantian.


Marissa mencengkeram erat jok yang ia duduki. Rentetan ucapan Hasna benar-benar menamparnya kuat-kuat. Perempuan anggun itu bahkan membalikkan ucapannya.


Marissa melepaskan seatbelt yang melilit tubuhnya, lalu membuka pintu mobil. Hasna melihat pergerakan dari Marissa. Perempuan itu terlihat memutar ke arah Hasna sekarang. Hasna segera melepaskan seatbelt yang ia gunakan. Belum ia membuka pintu, Marissa terlebih dahulu sudah membukanya.

__ADS_1


"Sini, lo. Keluar." Marissa kembali menarik tangan Hasna.


Hasna mengikuti Marissa yang menariknya keluar. Perempuan itu nampak marah sekali, hingga cekalan di tangan Hasna terasa begitu kuat.


"Mbak, tolong lepaskan. Ini sakit sekali." Ucap Hasna yang berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman Marissa.


Marissa sama sekali tidak menghiraukan ucapan Hasna. Perempuan itu masih saja menyeret Hasna menjauh dari mobil yang mereka tumpangi. Dan sepertinya hanya mereka berdua yang keluar dari kendaraan.


"Mbak, lepas. Istighfar, Mbak." Hasna sedikit kesulitan mengimbangi langkah Marissa dengan mengenakan gamis panjangnya. Jangan sampai ia terjatuh saat tidak sengaja menginjak ujung gamis yang dikenakannya nanti.


"Sebenarnya apa sih salah saya sama, Mbak?" Ucap Hasna.


Marissa seketika menghentikan langkahnya. Perempuan itu berbalik dan menghempaskan kasar tangan Hasna. Matanya terlihat nyalang menatap perempuan berjilbab panjang itu.


"Lo nanya, apa kesalahan, lo?" Tunjuk Marissa tepat di depan wajah Hasna.


"Lo pengen tahu?" Hasna hanya terdiam mengatur nafasnya. Rasanya lelah sekali mengikuti kegilaan Marissa.


"Kesalahan lo, karena lo muncul di kehidupan Rama. Lo menghancurkan impian gue untuk menjadi satu-satunya perempuan yang akan Rama nikahi. Lo udah merenggut kebahagiaan gue." Ucap Marissa dengan suara yang cukup lantang.


Hasna bisa melihat betapa tertekannya perempuan dihadapannya kini. Bahkan Hasna mengatupkan kedua bibirnya rapat-rapat. Jangan sampai ucapannya akan membuat suasana semakin keruh dan kembali memancing amarah Marissa.


***


"Itu, Pak, mobil yang tadi." Ucap tukang ojek yang mengantarkan Rama Dan menunjuk sebuah mobil yang terparkir di tepi jalan.


"Istri Bapak yang hamil itu, bukan?" Ucapan tukang ojek membuat perhatian Rama teralihkan. Pandangannya mengikuti arah yang tukang ojek itu tunjuk.


"Bukan, istri saya yang mengenakan jilbab." Rama segera melepaskan helm dan memberikan beberapa lembar uang berwarna merah.


"Kebanyakan, Pak." Kata tukang ojek.


"Nggak papa, buat Bapak. Makasih ya, Pak."


Rama segera berlari menghampiri dua perempuan yang tengah bersitegang itu.


"Kalau aku tidak bisa mendapatkan Rama, lebih baik aku mengakhiri hidup sampai di sini." Ucapan Marissa sedikit melunak. Air mata luruh dari kedua sudut mata Marissa.


"Astaghfirullahal'adzim, istighfar, mbak."


"Jangan mengajariku. Kamu perempuan yang telah membuat hidupku hancur, Hasna." Ucap Marissa dengan isakan yang keluar dari bibirnya.


Marissa sudah melangkah mundur keluar dari trotoar. perempuan itu sungguh nekat. Dari kejauhan Tomi berlari menyusul dua perempuan cantik itu.


"Sa, Sa...lo tenang dulu. Kita bisa bicarakan semuanya baik-baik. Tapi gue mohon, jangan sakiti anak kita." Ucap Tomi memohon.


Seketika Hasna menoleh, menatap laki-laki berkemeja biru yang baru saja datang menghampiri mereka. Laki-laki yang telah mengakui jika anak dalam kandungan Marissa adalah darah dagingnya. Hasna menatap Marissa dan Tomi bergantian.


"Dia bukan anak lo, dia anak Rama." teriak Marissa histeris.

__ADS_1


Hasna bisa melihat betapa tertekannya perempuan dihadapannya itu. Hamil di luar nikah, tanpa status pernikahan yang sah, sungguh membuat beban yang sangat berat untuk mentalnya.


Tomi mengusap kasar wajahnya. Tak lama kemudian, Siska sudah berada tepat disampingnya.


"Sa, sadar, Sa. Apa yang lo lakuin ini salah. Sudah cukup lo bodoh selama ini. Jangan menambah daftar kebodohan lo lagi. Lo udah cukup bodoh mencintai laki-laki beristri. Lo udah bodoh sampai bisa hamil di luar nikah. Jangan sampai lo bodoh dengan membuat hidup lo berakhir sia-sia." Ucap Siska.


"Diem lo. Lo nggak ngerasain ada di posisi gue, makanya lo gampang banget ngucapin itu. Sahabat macam apa lo, lo nggak pernah ngedukung gue, dan malah berpihak pada mereka." Tunjuknya pada Hasna dan Tomi bergantian.


"Lo lebih berpihak pada mereka dibanding gue. Gue udah hancur dan gue nggak bisa mendapatkan apa yang seharusnya jadi milik gue." kembali, air mata beruraian dari kedua mata Marissa.


Hasna merasakan tangannya digenggam erat. Perempuan itu menoleh dan mendapati suaminya tengah menatap tajam ke arah Marissa.


"Rama, seharusnya kamu tau kalau aku sangat mencintai kamu. bahkan cinta yang aku miliki jauh lebih besar dari perempuan itu." Tunjuknya pada Hasna.


"Seharusnya kamu sadar jika rasa yang kamu miliki untuk saya bukanlah rasa cinta, tapi obsesi." Ucap Rama.


"Iya benar, aku terobsesi dengan kamu, dan menginginkan kamu menjadi satu-satunya laki-laki dalam hidup aku." Ucap Marissa lantang.


"Tapi saya laki-laki beristri, dan saya sangat mencintai istri saya." Tegas Rama.


"Kamu sungguh tega, Rama. Kamu tega mengatakan hal menyakitkan itu sama aku." Isakan Marissa kembali terdengar.


Tomi perlahan mendekat pada Marissa, jangan sampai perempuan yang tengah mengandung darah dagingnya itu semakin nekat dan membahayakan nyawanya juga bayi dalam kandungannya.


"Berhenti, jangan mendekat. Atau gue bakalan nekat dan menabrakkan diri." Teriak Marissa.


Tomi menghentikan langkahnya. Ia tidak boleh gegabah. Jalanan cukup ramai, tidak mungkin dirinya bisa memaksa. Siska hanya menatap sahabatnya itu dengan tatapan nanar. Ia pun tidak bisa melakukan apa-apa saat ini.


Rama menarik Hasna kedalam pelukan untuk mengurai ketegangan pada istrinya. Mencium puncak kepala perempuan berbalut jilbab itu berkali-kali. Namun hal itu justru kembali memantik amarah Marissa. Perempuan itu semakin mundur perlahan. Air matanya sudah tak terbendung. Rasa marah, kecewa juga putus asa berbaur menjadi satu Marissa rasakan.


Hasna dan Rama adalah orang yang paling dekat dengan posisi Marissa saat ini. Dapat mereka lihat dengan jelas bagaimana raut tertekan dan putus asa yang Marissa tunjukkan.


"Mbak, berhenti Mbak. Jangan nekat." Cegah Hasna.


Marissa semakin sakit saat melihat Rama semakin erat memeluk perempuan itu dihadapannya.


"Nggak usah sok baik, lo akan jadi orang yang paling bahagia kan kalau gue mati?" Ucap Marissa dengan tatapan nyalang.


Hasna membeliakkan mata saat ada mobil boks yang melaju kencang dari arah kanan. dan marissa semakin bergerak ke belakang.


Hasna melepas paksa pelukan Rama dan berusaha menarik Marissa kembali ke bahu jalan. Tapi...


brakkk


Benturan cukup keras terdengar di telinga mereka, saat tubuh dari salah satu perempuan itu terpelanting membentur kendaraan yang melaju.


"Aaakkhhh..." Marissa mengerang manakala tubuhnya terjatuh karena ditarik cukup kuat oleh Hasna. Nyeri ia rasakan di perutnya. Bahkan dapat ia rasakan cairan yang mulai merembes mengaliri di antara kedua kakinya.


***

__ADS_1


__ADS_2