
"Rama Suryanata?" Tomi menajamkan penglihatannya. Memastikan jika laki-laki yang ada di hadapannya memanglah Rama yang sama, yang menjadi target Marissa.
"Iya, bener. Gue nggak salah. Itu Rama Suryanata. Jadi perempuan yang tadi itu istrinya?" Kini Tomi beralih pada Hasna.
Tomi memperhatikan gerak-gerik keduanya. Hingga sepasang suami istri itu keluar dari minimarket. Kenapa tiba-tiba saja perasaannya menjadi tidak enak setelah bertemu dengan Rama beserta istrinya secara tidak sengaja?
Tomi segera pulang setelah menyelesaikan pembayaran untuk belanjaannya.
***
"Gimana meeting nya tadi? Lancar?" Tanya Rama sambil menyetir mobil milik Hasna.
"Alhamdulillah. Semua tim udah aku bagi tugas sesuai posnya. Aku tinggal pantau dan tunggu laporan aja. Mungkin H-1 aku akan cek lokasi, buat memastikan persiapan." Jawab Hasna.
Memang ini yang Rama inginkan, Hasna tidak perlu turun tangan sendiri, toh istrinya memiliki banyak karyawan. Apalagi mereka baru saja meresmikan pernikahan mereka. Rama ingin memiliki banyak waktu bersama Hasna.
Sebenarnya ia agak keberatan saat Hasna mengatakan akan meresmikan cabang baru usahanya di waktu yang berdekatan. Tapi setelah ia pikirkan kembali, tidak ada salahnya, lebih cepat akan lebih baik. Apalagi setelah ini mereka merencanakan untuk berbulan madu. Rama tidak mau sampai acaranya terganggu jika progres istrinya belum terealisasikan.
"Perlu aku temani?" Tawar Rama.
"Tidak perlu, Mas Rama kerja aja, aku bisa sendiri. Lagian bulan depan, kantor mau ditinggal Bos nya liburan. Masa iya sekarang curi start cuti duluan. Ntar ujung-ujungnya kerjaan numpuk, dan nyusahin Pak Ivan sama siapa, sekretaris baru Mas Rama itu?"
"Tania?" Jawab Rama singkat.
"Namanya Tania ya?" Rama mengangguk.
"Jujur, aku seneng sekretaris Mas Rama udah ganti, ya walaupun ada dramanya." Rama tersenyum kecil mendengarnya.
"Dulu pertama ke kantor, pas nganterin makan siang, aku udah feeling nggak enak sama Mbak Marissa. Emang sih suudzon itu nggak baik, tapi setelah melihat penampilannya pas ngantor, selalu membuat aku gelisah." Ungkap Hasna.
"Gelisah?" Rama menoleh sekilas pada sang istri.
"Iya, gimana nggak gelisah coba, kalau di tempat kerja suaminya ada godaan yang cukup besar, seperti Mbak Marissa itu." Rama tesenyum dan menggeleng pelan mendengar ucapan Hasna.
"Kamu ada-ada saja." Rama kembali tertawa kecil.
__ADS_1
"Aku nggak ngada-ngada. Musuh terbesar manusia itu hawa nafsu, bukan rival usaha atau sejenisnya." Hasna menatap Rama yang tengah fokus menyetir.
"Sebagai seorang istri, aku selalu was-was jika membayangkan kamu selalu berada satu ruangan dengan perempuan modelan Mbak Marissa. Pakaiannya yang terbuka, gayanya saat berjalan dan berbicara, pasti mengundang syahwat laki-laki." Ya Rama membenarkan itu, apalagi dirinya laki-laki dewasa yang normal.
"Tapi aku nggak pernah tertarik untuk melirik dia." Rama melakukan pembelaan.
"Ya justru itu, dari ketidak tertarikan Mas Rama, malah membuat Mbak marissa semakin penasaran untuk mendapatkan Mas Rama. Terbukti kan sampai adanya fitnah yang mengatakan jika dia hamil anak kamu?" Rama menatap wajah cantik di sampingnya itu. Untung saja lampu lalulintas masih menyala merah.
"Seseorang jika memiliki rasa penasaran yang tinggi, akan berusaha menuntaskan rasa penasarannya dengan berbagai cara. Termasuk cara pintas yang diambil Mbak Marissa waktu itu." Rama terdiam, menyimak kata demi kata yang istrinya ucapkan.
"Aku tidak bisa menghakimi jika kesalahan sepenuhnya ada pada Mbak Marissa. Dia hanya berusaha menuntaskan rasa penasarannya untuk mendapatkan perhatian Mas Rama. Dan dia juga memiliki kesempatan. Tapi, cara yang dilakukannya tidak bisa dibenarkan. Makanya waktu itu, aku sempat lepas kendali sampai menampar Mbak Marissa di hadapan kamu. Ya, aku akui kalau aku memang salah sudah melakukannya."
"Aku merasa kesal atas tindakan amoral yang Mbak Marissa lakukan. Kenapa harus dengan mengorbankan kehormatannya untuk menjerat laki-laki? Padahal aku yakin seratus persen, jika di luaran sana banyak laki-laki yang mau menerima Mbak Marissa apa adanya. Dia mengorbankan masa depannya hanya untuk mencapai ambisinya. Sebagai perempuan, aku merasa harga diriku ikut ternodai atas apa yang Mbak Marissa lakukan." Hasna mencoba menyampaikan uneg-unegnya atas tindakan Marissa waktu itu.
"Dia tidak pernah menyadari betapa berharganya perempuan di mata agama kita. Bahkan perempuan di berikan kedudukan mulia tiga tingkat lebih tinggi dibandingkan laki-laki saat sudah bergelar sebagai seorang ibu. Dari rahim perempuan juga, kelak akan lahir generasi penerus perjuangan kita di dunia. Apa Mbak marissa juga tidak memikirkan bagaimana nasib anak dalam kandungannya? Karena bagaimanapun, anak itu berhak tau kepada siapa dia bernasab." Tutur Hasna.
Kedua bibir Rama terkatup rapat, bahkan tak mampu untuk sekedar mengatakan A agar bibirnya terbuka. Pemikiran istrinya jauh kedepan. Perempuan itu begitu piawai mengolah emosi juga pikirannya. Hasna menilai tindakan Marissa dari sudut pandang yang berbeda. Hasna tidak membenarkan, juga tidak menyalahkan Marissa sepenuhnya. Bahkan di sini ia seperti tengah mendapatkan nasehat atas masalahnya dengan Marissa waktu itu.
Seandainya ia yang berada di posisi Hasna waktu itu, bisa dipastikan ia akan meninggalkan perempuan itu tanpa berpikir lebih panjang. Karena bagi Rama tidak ada kata maaf untuk sebuah penghianatan.
Hasna mengusap lembut tangan Rama yang menggenggam tangan kanannya.
"Itu semua, karena aku yakin, Mas Rama tidak akan melakukan hal serupa yang pernah membuat Mas Rama merasa terpuruk selama hampir lima tahun lamanya." Ucap Hasna penuh keyakinan.
Rama tersenyum dan menggenggam erat tangan kanan Hasna, mengusap lembut pipi perempuan itu. Entah bagaimana ia bisa menggambarkan sosok istrinya. Usianya masih sangat belia, tapi kedewasaannya? Bahkan ia tidak ada apa-apanya dibandingkan Hasna.
"Eh, tapi, apa Mbak Marissa benar-benar hamil?" Tanya Hasna penasaran.
"Aku tidak tau, dan tidak ingin tahu." Jawab Rama cuek. Hasna menghembuskan nafasnya perlahan mendengar jawaban Rama. Pasti suaminya itu masih sakit hati atas fitnah yang di tuduhkan padanya.
"Aku masih ingat, waktu aku baru pertama ke kantor. Nampak sekali jika Mbak Marissa tidak suka jika aku ke sana. Seolah ada yang tengah mengancam posisinya. Apalagi waktu itu, aku masih belum mendapatkan kejelasan status." Hasna melirik Rama dengan ekor matanya.
"Maksudnya?" Rama menoleh dan menatap lekat istrinya.
"Kan dulu Pak Ivan tahunya jika aku kerabat jauh Papa. Jadi Pak Ivan mengenalkan aku pada Mbak Marissa sama seperti informasi yang dia dapat. Dan Mbak Marissa beranggapan kalau aku termasuk perempuan asing juga. Kan bisa menjadi salah satu ancaman untuk mendapatkan kamu, Mas." Jelas Hasna. Rama menarik sedikit sudut bibirnya.
__ADS_1
"Maaf, dulu aku memang bodoh sekali. Aku merasa jika hidupku akan semakin kacau saat menikahi kamu. Tapi justru aku merasa hancur saat kamu pergi dari sisiku." Rama meraih tangan Hasna dan mengecupnya lembut. Masih basah diingatan saat Hasna tidak pulang ke rumah pasca kedatangan Marissa ke kantor waktu itu.
"Tapi itu sudah berlalu, dan sekarang Mas Rama mendapatkan sekretaris yang lebih sopan. Baik pakaiannya maupun attitude nya. Aku suka. Jadi, aku nggak lagi was-was." Ucap Hasna.
Lampu hijau kembali menyala, Rama segera melajukan mobilnya kembali.
"Kamu tau nggak, kalau Tania itu sepupunya Ivan." Hasna menoleh pada Rama.
"Oh ya?" Rama mengangguk.
"Serius?" Rama kembali mengangguk.
"Kok bisa sih?" Hasna merasa penasaran jadinya.
"Semua tidak di sengaja. Tania memasukkan CV juga di perusahaan, sama seperti pelamar lainnya. Hanya saja saat wawancara dia langsung menyapa Ivan. Eh tidak taunya mereka sepupuan." Ungkap Rama.
"Tapi, Mas Rama menerima Mbak Tania bukan karena masih saudara dengan Pak Ivan, kan?"
"Enggak lah. Tania lolos melalui seleksi juga seperti yang lain. Nilai plusnya, dia berpengalaman di bidangnya, karena pernah bekerja di perusahaan besar di kota tempat tinggalnya dulu." Jelas Rama.
"Oh, pantas saja jika mereka saudaraan."
"Kenapa emang?"
"Ya pantas saja, karena mereka memiliki kepribadian yang hampir sama. Humble dan menyenangkan." Puji Hasna. Perempuan itu bahkan mengulaskan senyuman.
"Kalau Tania memang pribadi yang menyenangkan. Tapi kalau Ivan? Dia sangat menyebalkan." Sarkas Rama, Hasna mengernyit heran.
"Menyebalkan?" Ia tak salah dengar, kan?
"Ya, Ivan itu asisten yang sangat menyebalkan. Karena secara terang-terangan dia pernah mengatakan jika dia mengagumi kamu kepada saya. Padahal kamu istri dari Bos nya." Hasna membolakan kedua netranya dan reflek menoleh pada Rama yang sudah berubah mode.
"Mengagumi? Maksudnya gimana, ya?" Hasna mencoba memastikan maksud ucapan suaminya.
Rama terdiam, tak berniat menjawab pertanyaan istrinya. Karena dia sendiri kelepasan saat mengatakannya tadi. Laki-laki itu memilih kembali fokus pada jalanan.
__ADS_1
"Sialan, kamu Ivan. Gara-gara Hasna memuji kamu, aku jadi kelepasan mengatakan jika kamu pengagum Hasna."