Bidadari Penghapus Luka

Bidadari Penghapus Luka
Bab 147


__ADS_3

Setelah hampir empat puluh hari di rawat di rumah sakit, akhirnya Hasna di perbolehkan untuk pulang. Raut bahagia terpancar jelas di wajah perempuan bermata teduh itu, manakala mobil yang dikendarai Ivan memasuki pekarangan rumah pribadi mereka.


Rama membantu Hasna untuk turun. Wajah-wajah penuh kegembiraan terlihat dari mereka yang menyambut perempuan itu pulang. Kedua mertuanya, Nayla, Pak Mamat, juga Mbak Marni.


"Assalamu'alaikum." Ucap Rama dan Hasna bersamaan.


"Wa'alaikumussalam."


Bu Diana menghampiri Hasna, dan langsung membawa menantunya ke dalam pelukan. Melihat Hasna dalam kondisi seperti sekarang sungguh membuat wanita paruh baya itu tak henti-hentinya mengucapkan syukur. Perempuan seusia putrinya itu berhasil berjuang melewati masa-masa sulit bersama calon cucu keluarga Suryanata yang masih berusia dua bulan dalam kandungan saat kejadian naas itu.


"Selamat datang, Sayang. Mama senang sekali kamu sudah di izinkan pulang." Hasna tersenyum mendengar ucapan Mama mertua.


"Apakah tidak ada pelukan untuk Papa?" Hasna menoleh pada Pak Andi yang berdiri di samping Bu Diana.


"Papa." Hasna memeluk Papa mertuanya itu.


"Putri Papa." Ucap Pak Andi.


Ucapan Pak Andi sukses membuat Pak Mamat dan Mbak Marni menitikkan air mata. Gadis kecil yang menyandang gelar yatim piatu sejak kecil itu, kini telah menemukan keluarga yang menyayanginya. Kedua mertua yang memperlakukn selayaknya putri kandung sendiri, juga adik ipar yang menganggap Hasna seperti saudari kandungnya.


Pak Andi memberikan kecupan di kening Hasna, dan menatapnya penuh sayang.


"Berbahagialah, Nak. Papa selalu berdo'a agar kamu selalu diberikan kesehatan juga kebahagiaan." Ucap Pak Andi.


"Terima kasih, Pa." Ucap Hasna.


"Ehemm... Papa tidak mau memeluk menantu Papa yang tampan ini?" Ucap Rama.


Pak Andi hanya menepuk pundak Rama beberapa kali sambil tersenyum.


"Lihatlah, Sayang, sebentar lagi aku akan di coret dari daftar ahli waris. Semoga saja kamu bersedia menerima jika aku menjadi gembel setelah ini." Gurau Rama, membuat semuanya menahan tawa.


"Tenanglah, Nak. Aku akan mengangkatmu sebagai anak setelah kamu resmi di coret dari ahli waris keluarga Suryanata." Sahut Pak Danu, ayah Ivan.


"Ahhh...paman baik sekali." Rama memeluk asisten pribadi sang ayah, karena Rama pun sudah menganggap laki-laki seusia ayahnya itu seperti ayah kandungnya sendiri.


"Apakah saya boleh menggantikan Pak Rama, Pak Andi?" Celetuk Ivan.


"Oh, sangat boleh Ivan. Kamu mau menggantikan juga posisinya sebagai calon ayah?" Sahut Bu Diana.


"Jika tidak ada yang keberatan." Jawab asisten tampan itu penuh semangat.


"Ivan." Suara Rama terdengar dingin, sama seperti saat di kantor.


"Maaf, Pak. Saya hanya meminta posisi sebagai putra Suryanata, tapi ibu anda menawarkan posisi yang lebih menggiurkan. Lalu, apakah saya bakalan sanggup menolaknya?" Jawab Ivan tak kalah tegas.


"Ahh...senengnya dapat kakak baru." Nayla bergelayut manja di lengan Ivan.


Semua yang ada di sana menahan tawanya. Bagaimana tidak, ekspresi Rama sungguh menampakkan kekesalan luar biasa.


"Kalau aku, apa kata Papa." Ucapan Hasna sukses membuat netra Rama membola sempurna.


"Apa maksudnya?" Rama menyipitkan matanya menatap sang istri.

__ADS_1


Hasna tidak menjawab, hanya menampakkan senyumannya yang tertahan.


"Mbak Hasna?" Ucap Mbak Marni.


"Mbak Marni?"


"Mbak Hasna sehat?" Tanya perempuan yang mengabdikan dirinya di keluarga Hasna itu dengan mata berkaca-kaca. Mengusap lembut kedua lengan Hasna.


"Alhamdulillah, Mbak."


Mbak Marni tak lagi sanggup menyembunyikan air matanya. Bagaimanapun, dirinya sudah menjadi bagian dari hidup Hasna sebelum menjadi istri Rama.


"Mbak Marni sehat?"


"Sehat...sehat, Mbak." Isak Mbak Marni.


"Mulai hari ini, Mbak Marni akan bekerja di rumah kita, Sayang." Ucap Rama. Hasna tersenyum mendengarnya.


"Maaf ya, Mbak, Hasna pasti bakalan ngerepotin Mbak Marni lagi." Ucap Hasna.


"Jangan ngomong gitu, Mbak. Saya malah seneng kita bisa kumpul lagi seperti dulu." Ucap Mbak Marni.


"Saya juga alhamdulilah, ada teman jadinya." Sahut Pak Mamat.


***


Setelah maghrib semua tamu meninggalkan kediaman Rama, menyisakan keluarga inti Suryanata. Tasyakuran atas kesembuhan Hasna juga keselamatan kandungannya telah selesai.


"Malam ini, boleh Mama menginap di sini?" Tanya Bu Diana.


"Jangan, Mbak, biar saya saja. Mbak Hasna istirahat saja di kamar." Sahut Mbak Marni yang kebetulan membereskan sisa makanan untuk tamu-tamu.


"Tau nih, Mbak Hasna. Iya kalau kita tamu jauh, pakek di siapin kamar segala." Celetuk Nayla.


"Eh tapi, Nay mau kamar yang itu aja ya." Nayla menunjuk salah satu kamar tamu.


"Kamar yang itu, kamar kami." Sahut Rama cepat.


"Kamar kakak kan ada di atas."


"Selama pemulihan, kami akan menempati kamar di bawah." Lanjut Rama.


"Nanti saya bantu beresin, Mas." Ucap Mbak Marni.


"Tidak perlu, Mbak. Kamar ini sering kami pakai kalau lagi malas ke atas." Ucap Rama.


"Sebaiknya kamu ajak Hasna istirahat." Ucap Papa.


Rama membawa Hasna masuk ke dalam kamar tamu yang biasa Hasna tempati. Perlahan laki-laki itu membantu Hasna untuk duduk di tepian ranjang.


"Apa mau aku bantu ganti pakaian?" Tawar Rama. Hasna masih mengenakan pakaian yang sama sedari rumah sakit tadi. Ragu-ragu Hasna mengangguk mengiyakan.


Rama segera beranjak menuju lemari pakaian, mengambilkan baju ganti untuk istrinya. Dengan sangat telaten Rama membantu Hasna berganti pakaian. Hal yang selalu Hasna lakukan untuknya, kini ia lakukan.

__ADS_1


Rama mengusap lembut wajah Hasna. Masih tetap cantik walau sedikit lebih chubby. Hingga bulan keempat kehamilannya, Hasna tidak merasakan adanya drama morning sickness, dan semua makanan bisa Hasna makan dengan nikmatnya.


Hasna melihat pantulan dirinya di cermin. Sedikit memaksakan senyuman saat mengetahui penampilannya sekarang. Surai hitam yang biasa tergerai indah, kini tidak ada lagi. Semua terpangkas. Sejenak, Hasna menundukkan pandangannya.


"Maafkan aku, Mas." Lirih Hasna.


"Maaf? Untuk apa?" Rama mengernyit heran dengan ucapan istrinya.


"Maaf, jika aku tidak lagi menyejukkan pandangan saat Mas Rama menatapku." Hasna merasa dirinya tidak bisa menyenangkan suaminya dengan penampilannya saat ini.


"Kenapa bicaranya begitu?"


"Apa karena rambut ini?" Rama mengusap lembut surai hitam Hasna yang terpangkas pendek karena operasi kemarin.


Hasna tidak menjawab, hanya mengalihkan pandangannya. Jujur saja, ia merasa jika dirinya tidaklah menarik sekarang. Perempuan itu merasa insecure dengan penampilannya. Jika seandainya ia perempuan single, pasti tidak akan merasa seperti ini. Ia seorang istri yang harus menyenangkan pandangan suaminya.


"Bahkan tanpa rambut ini pun, kamu masih tetap Hasna ku yang cantik." Puji Rama.


Rama menangkup wajah Hasna dengan kedua tangannya. Menatap manik indah yang memancarkan kesedihan itu.


"Cukup aku yang melihat segala kelebihan yang istriku miliki. Begitu pula kekurangannya. Karena kamu adalah pakaian untukku, begitu pula sebaliknya."


Rama beralih meraih kedua tangan Hasna yang berada di pangkuan, dan meremasnya lembut.


"Jangan pernah mengatakan jika kamu tidak cantik dengan penampilan kamu sekarang. Justru ini adalah bukti jika kamu mampu bertahan untuk tetap di sisiku. Berjuang demi tetap menemani di sisa hidupku." Rama tersenyum hangat, menatap penuh cinta perempuan yang telah membuatnya jatuh cinta berkali-kali saat menatapnya.


Rama mencium kening Hasna dengan penuh perasaan cinta. Membawa perempuan itu ke dalam hangat pelukannya.


"Tunggu sebentar, aku punya sesuatu untuk kamu."


Gegas Rama keluar dari kamar, menyisakan tanya di benak Hasna. Tak lama, laki-laki itu muncul dari balik pintu.


"Tutuplah mata indahmu, Sayang." Hasna mengernyit heran mendengar permintaan Rama. Menutup mata? Baru pertama kali suaminya meminta hal demikian.


"Ayolah, sebentar saja." Hasna pun memejamkan matanya.


Perempuan itu merasakan sesuatu melingkari lehernya.


"Sekarang, bukalah mata mu." Bisik Rama.


Hasna perlahan membuka matanya. Menatap pantulan dirinya di cermin. Sebuah kalung dengan bandul batu safir yang indah.


"Sudah sejak lama aku ingin memberikannya untuk kamu. Tapi aku terlalu lemah untuk melakukannya." Ucap Rama.


"Kalung ini, sengaja aku beli saat di Jepang. Tapi aku ragu saat akan memberikannya pada kamu. Aku butuh waktu untuk meyakinkan, jika aku bisa menerima kamu menjadi bagian hidupku. Aku sengaja menyimpannya. Dan sekarang, kalung ini telah menemukan pemiliknya." Hasna melihat kalung di lehernya, sangat cantik. Perlahan Hasna menarik kedua sudut bibirnya.


"Maaf jika aku dulu sempat meragukan pernikahan kita. Tapi aku yakin jika keputusan yang aku ambil tidaklah salah. Kamu adalah tujuan terakhir hati ini berlabuh." Ucap Rama, laki-laki itu mengecup lembut pipi sang istri.


"Apa kamu suka?" Hasna mengangguk.


Rama membawa Hasna ke dalam pelukan. Mendekap erat tubuh perempuan pemilik hatinya.


"Jangan pernah mengatakan hal yang membuat kamu terlihat buruk, Sayang. Bagiku kamu perempuan yang sempurna dengan segala yang kamu miliki." Lirih Rama. Rama merasakan anggukan di dadanya.

__ADS_1


***


Hayooo yang kemarin suudzon sama Mas Rama gara-gara oleh-oleh, sini kumpul kita adain buka bersama, 🤣🤣🤣


__ADS_2