Bidadari Penghapus Luka

Bidadari Penghapus Luka
Bab 90


__ADS_3

~Kita udah terlambat, Marissa udah kesana kemarin.~ Siska.


Send, pesan pun terkirim dan langsung terbaca oleh Tomi. Tomi meraup kasar wajahnya. Jika Marissa sudah datang menemui Rama untuk menjalankan rencananya, lalu jawaban apa yang Rama berikan pada ibu calon anaknya itu.


Ponsel Tomi kembali berdering, pesan dari Siska.


~Marissa sudah mengatakan semuanya sama Rama.~ Siska.


~Ternyata kita terlewat satu hal penting tentang seorang Rama Suryanata.~ Siska.


~Ternyata Rama sudah menikah, itu menurut penuturan Marissa.~ Siska.


~Tapi di undangan itu tertera jika pernikahan Rama akan di gelar seminggu lagi.~ Tomi.


~Gue juga kurang tau. Tapi dari pengakuan Marissa, Rama udah menikah.~ Siska.


~Dan lo harus tau kondisi Marissa saat ini.~ Siska.


Siska mengirimkan foto terbaru Marissa pada Tomi, juga foto kondisi rumah yang sangat berantakan.


Marissa terlihat buruk di foto yang ia terima. Perempuan itu terlihat tak secantik biasanya. Wajah perempuan itu kusut dengan mata yang sembab. Rambutnya pun terlihat berantakan.


Tomi lebih terkejut lagi saat membuka file foto yang Siska kirimkan mengenai kondisi rumah Marissa. Banyak sekali barang-barang yang berserakan juga seperti pecahan vas yang berserakan.


"Marissa, jangan sampai lo nekat mencelakai anak kita. Jika itu sampai terjadi, gue tidak akan pernah bisa maafin lo seumur hidup gue." Lirih Tomi.


***


Acara resepsi tinggal beberapa hari lagi. Meskipun acara akan digelar di sebuah hotel mewah, tapi di kediaman keluarga Suryanata terlihat sibuk.


Seperti permintaan Hasna, perempuan itu menginginkan ada acara doa bersama, bersama anak-anak yatim. Hasna melakukannya sebagai bentuk dirinya meminta restu kepada almarhum kedua orang tua juga kakeknya.


Rencana semula, acara doa bersama akan di adakan di rumah mereka sendiri. Tapi Mama menolaknya. Mama tidak mau jika nantinya Hasna terlalu capek saat menyiapkan acara itu sendirian.


"Sudah sampai mana?" Tanya Hasna lewat sambungan telepon.


"Sudah masuk gerbang perumahan, Mbak." Jawab seseorang dari seberang sana.


Rupanya Hasna menelepon pegawai yang bertugas mengantarkan katering juga kue untuk acara nanti malam.


"Nanti langsung bawa masuk saja, ya."


"Siap, Mbak."


Seperti biasa, Hasna akan turun tangan untuk memastikan acara akan berjalan lancar, padahal kemarin Mama sudah mewanti-wanti dirinya agar tidak perlu terlibat. Sudah banyak ART yang akan membantu, tapi Hasna tidak akan pernah bisa merasa puas jika bukan dirinya sendiri yang memastikan semuanya beres.


"Kenapa kamu masih saja mengurus ini itu sendiri?" Rama memeluk Hasna yang tengah berdiri di ambang pintu dari belakang.

__ADS_1


Perempuan itu tersenyum dan menoleh pada Rama.


"Aku hanya ingin memastikan, jika persiapannya sudah beres."


"Mbak di sini tuh banyak banget, kamu cukup duduk manis dan memantau semuanya. Beres." Ucap Rama.


"Ehemm...bisa nggak sih, kalau beradegan tuh lihat tempat? Ini tempat umum loh." Suara Nayla mengagetkan keduanya, tapi tak membuat Rama melepaskan pelukannya.


"Kamu, ini bukan area anak kecil. Sudah sana." Rama tak menghiraukan ucapan Nayla. Justru laki-laki itu semakin erat memeluk perut sang istri dan mengusapnya lembut.


"Apa dia sudah berada di sini?" Bisik Rama.


Hasna tak menjawab, tapi tangan kanannya ikut mengusap lembut perutnya. Perempuan itu tersenyum. Hasna pun berharap demikian, semoga ia segera diberi kepercayaan untuk mengandung keturunan dari suaminya.


"Ini pada ngapain disini?" Kini suara Mama yang membuyarkan lamunan keduanya. Keduanya serentak menoleh pada Mama.


"Rama kamu jangan deket-deket dulu sama Hasna." Ucap Mama.


"Lah, emang kenapa, Ma?"


"Sebentar lagi kalian akan menikah. Jadi jangan deketan dulu."


"Ma, Rama nikah sama Hasna sudah beberapa bulan yang lalu, kenapa larangannya baru muncul sekarang?" Protes Rama.


"Ya karena dulu kalian nikahnya tanpa proses pingitan, jadi_"


"Nggak perlu dipingit, Ma. Jangankan deket-deket, lebih dari deket pun kita udah biasa. Iya kan, Sayang?" Rama merangkul pundak Hasna agar perempuan itu mendekat ke arahnya.


Hasna hanya memaksakan senyuman di hadapan Mama mertua. Sepertinya sebentar lagi Rama mulai kehilangan filter jika meneruskan topik pembicaraan ini. Bisa gawat jika laki-laki itu mengumbar kegiatan malam mereka pada Mama.


"Kita sudah_"


"Mas, nanti tolong kamu arahkan teman-teman katering untuk meletakkan semuanya di meja sebelah sana, ya. Dan untuk kotak makannya sebelah sana." Hasna memotong ucapan suaminya dan mengalihkan topik bahasan mereka.


"Bisa ya, Mas. Tolong." Ucap Hasna penuh harap.


"Baiklah tuan putri." Rama mengecup bibir istrinya sekilas, dan tindakan itu sukses membuat Hasna membolakan kedua matanya.


"Aku butuh energi." Lirihnya setelah ciuman terlepas.


"Rama...dasar tidak pernah tau tempat." Satu pukulan mendarat di pundak kirinya.


"Udah, nggak usah ngeladenin suami kamu. Mending kamu ikut Mama ke dalam." Dan tanpa permisi, Mama menggandeng lengan Hasna dan membawa menantunya ke dalam.


***


Hasna terlihat cantik mengenakan gamis berbahan satin berwarna pastel, dengan pashmina panjang warna senada yang menutup kepalanya. Malam ini perasaannya bercampur aduk. Bahagia dan sedih yang bercampur jadi satu. Bahagia, karena pernikahannya akan segera diumumkan kepada mereka di luar sana. Tapi di sudut hatinya, ia merasakan kesedihan. Di saat hari penting dalam hidupnya, tidak satupun keluarga yang mendampinginya.

__ADS_1


"Ayah, ibu, Hasna mohon restu kalian untuk pernikahan Hasna. Hasna bukan lagi gadis kecil milik kalian. Tapi, kini Hasna telah menjadi seorang istri dari laki-laki yang telah mengambil tanggung jawab dari kalian. Kakek yang memilihkannya untuk Hasna. Ridhoi pernikahan kami, agar rumah tangga kami selalu dilimpahkan keberkahan. Hasna akan selalu mencintai ayah, ibu, juga Kakek. Kalian akan selalu menempati tempat yang paling istimewa di hati Hasna."


Hasna merasakan kedua matanya mengembun.


"Mbak Hasna cantik banget." Entah kapan datangnya, tau-tau Nayla sudah berdiri di belakangnya.


Hasna tersenyum melihat pantulan Nayla yang berdiri di belakangnya. Gadis itu terlihat begitu cantik dengan pakaian tertutup seperti sekarang ini.


"Kamu juga cantik, Nay. Kamu cantik jika berkerudung seperti sekarang." Puji Hasna pada adik iparnya itu.


"Mbak Hasna bisa aja." Nayla tersipu mendengar pujian istrinya kakak laki-lakinya itu.


"Tapi beneran deh, Mbak Hasna cantik banget. Gimana nggak klepek-klepek Kakaknya Nay. Orang istrinya secantik ini." Nayla melihat Hasna dari pantulan kaca rias di hadapan Hasna.


"Eh, kok mata Mbak Hasna berkaca-kaca?" Tanya Nayla.


Hasna mengusap lembut sudut matanya dengan menggunakan tisu.


"Nggak papa. Kita turun, yuk"


Hasna segera bangkit dari duduknya, dan menggandeng tangan Nayla. Keduanya pun segera turun, karena acara akan segera di mulai.


Ruang tengah sudah penuh dengan tamu yang mereka undang. Para anak-anak dari panti asuhan sudah memenuhi ruangan itu. Hasna menyalami beberapa orang-orang dewasa yang datang diantara tamu-tamu kecilnya.


"Masya Allah, ini calon mantennya?" Tanya salah seorang dari mereka. Hasna tersenyum mendengarnya.


"Iya, Bu. Ini Hasna, menantu saya." Ucap Mama yang duduk bersama mereka.


"Cantik sekali, Bu Diana." Puji orang itu.


Setelah itu, acara segera di mulai. Acara doa bersama yang dipimpin oleh seorang ustadzah. Semua yang berada di sana mendengarkan dengan seksama apa yang beliau sampaikan. Hingga acara usai dan di akhiri dengan memberikan santunan kepada mereka yang hadir.


***


Kevin menatap selembar undangan di tangannya dengan tatapan nanar. Akhirnya undangan pernikahan Hasna sampai juga di tangannya.


Sesuai dengan janjinya pada dirinya sendiri, ia harus bisa bahagia melepaskan Hasna untuk laki yang telah menikahinya.


Sekelebat bayangan pertemuan mereka beberapa waktu yang lalu membuat Kevin merasa ragu jika Hasna bahagia hidup dengan laki-laki itu. Masih sangat ia ingat dengan jelas, mata teduh itu terlihat sembab dengan sisa-sisa air mata. Tak perlu dijabarkan alasannya, sudah bisa dipastikan jika perempuan itu tengah menangis. Dan pasti penyebabnya tak jauh dari laki-laki itu.


"Hasna, apa kamu bahagia bersama laki-laki itu? Aku selalu berharap jika senyuman di wajahmu tidak pernah surut. Aku selalu berharap jika laki-laki itu akan selalu membahagiakanmu. Aku selalu berharap kamu akan selalu mendapatkan kebahagiaan, walau bukan aku sumber kebahagiaanmu." Lirihnya.


Kevin kembali menatap deretan huruf yang berjajar rapi membentuk sebuah nama. Nama yang berhasil mengubah dunianya dengan sekejap. Hasna Ayudia. Nama itu dengan sekejap mengubah hidupnya penuh dengan warna-warni cinta. Namun dengan sekejap pula, nama yang sama membuat hidupnya kehilangan cahaya.


"Hasna, aku akan tetap mencintaimu dengan caraku. Jangan pernah bertanya mengapa, karena aku pun tak tahu jawabannya. Cukup biarkan aku menikmati rasa ini seorang diri, tanpa perlu kamu merasakan hal yang sama."


***

__ADS_1


__ADS_2