
Setelah dinyatakan baik-baik saja oleh dokter, Rama akhirnya diantarkan pulang oleh asisten pribadi juga sekretarisnya.
Nayla mengerutkan keningnya, saat sebuah mobil asing memasuki pekarangan rumahnya. Nampaknya ada tamu.
Mobil berhenti tepat di depan pintu utama. Nampak seorang perempuan berpakaian rapi keluar dari balik pintu kemudi, lalu diikuti seorang laki-laki yang sangat ia kenal.
"Kak Ivan?" Lirihnya.
Tak lama, Rama pun keluar dibantu oleh Ivan dan Tania.
"Loh, loh, loh. Kak Rama kenapa? Kok lemes gitu?" Tanya Nayla pada mereka.
"Pak Rama sakit perut." Jawab Ivan singkat.
"Sakit perut? Emang udah berapa kali ke toilet? Kok sampai lemes gitu?" Nayla ikut terlihat panik saat Ivan dan Tania membantu Rama untuk masuk ke dalam rumah.
"Mama..." Teriak Nayla.
Sungguh kebiasaan, gadis itu selalu saja berteriak jika sedang panik.
"Nay, pelankan suaramu. Ini bukan hutan." Ucap Ivan mengingatkan.
"Ada apa sih, Nay? Kebiasaan kamu, teriak-teriak dalam rumah. Kamu itu anak perempuan." Tegur Bu Diana yang baru saja keluar dari dalam.
"Kak Rama." Nayla menunjuk Rama yang dibantu Tania dan Ivan untuk berjalan.
"Rama?" Tanya Bu Diana.
"Astaghfirullahal'adzim. Rama? Kamu kenapa?" Bu Diana terlihat panik.
"Dudukin sini." Pinta Bu Diana pada Tania dan Ivan.
Ivan dan Tania membantu Rama untuk duduk di sofa ruang tengah. Wajah Rama terlihat pucat dengan tubuh yang terasa dingin.
"Ada apa sih, Ma?" Tanya Hasna yang baru saja keluar dari kamar karena mendengar teriakan Nayla.
"Mas Rama?" Hasna menghampiri Rama yang terduduk lemas dengan kepala bersandar di sandaran sofa.
"Mas Rama kenapa?" Terlihat sekali raut kekhawatiran di wajah Hasna. Perempuan itu duduk tepat di samping Rama yang memejamkan matanya.
"Pak Rama mengeluhkan sakit perut, Bu." Jawab Ivan.
"Sudah diantar periksa?"
"Sudah, baru saja kami pulang dari rumah sakit."
"Trus apa kata dokter?" Tanya Hasna dengan tidak sabaran.
__ADS_1
"Kata dokter, Pak Rama baik-baik saja. Tidak ada sakit, atau penyakit yang serius."
"Tapi kok sampai sepucat ini?" Hasna menyeka keringat di kening Rama.
"Kami juga tidak tahu, Bu. Dokter hanya memberikan vitamin, dan obat pereda rasa sakit." Ivan memberikan obat yang ia tebus di apotik dekat rumah keluarga Suryanata.
Hasna membuka dua kancing kemeja bagian atas yang Rama kenakan. Serta membantu melepaskan sepatu dan kaos kakinya. Apa yang Hasna lakukan tidak luput dari perhatian Ivan dan Tania. Keduanya saling berpandangan sejenak. Dengan perut sebesar itu, Hasna tetap melayani Rama?
"Mas Rama?" Hasna kembali mengusap lembut kening Rama yang dipenuhi keringat dingin.
"Apa yang sakit?" Rama hanya menggerakkan tangannya, dan mengarahkan di bagian perutnya. Bahkan matanya enggan terbuka.
"Nay, minta tolong ambilin minyak kayu putih di kamar dong. Sekalian baju ganti." Nayla hanya mengangguk dan bergegas masuk ke dalam kamar Hasna.
"Sini, ya?" Hasna mengusap lembut bagian yang Rama tunjukkan.
"Minum dulu." Bu Diana menyodorkan secangkir minuman hangat pada Hasna.
"Pelan-pelan." Hasna membantu Rama untuk meminum minuman yang ibu mertuanya berikan.
"Ini minyaknya, Mbak." Naylaemberikan minyak juga baju yang Hasna minta.
Hasna membalurkan minyak di perut Rama, berharap akan sedikit mengurangi rasa sakit yang suaminya rasakan. Rama terlihat begitu pasrah, karena ia pun merasa begitu lemas.
Tak lama, Rama merasakan sakit di perutnya berangsur-angsur berkurang. Ia lebih nyaman dengan usapan lembut sang istri di atas perutnya.
"Udah enggak." Bahkan ia bisa duduk dengan tegak sekarang. Sungguh membuat semua yang berada di sana merasa terkejut.
Beberapa menit yang lalu ia datang dalam keadaan bahkan untuk menopang bobot tubuhnya saja ia tidak sanggup, hingga di bantu oleh Ivan dan Tania. Dan sekarang, Rama terlihat sehat serta segar bugar. Bisa secepat itu sembuhnya? Bahkan saat di rumah sakit, Rama tidak bisa menyembunyikan rasa sakitnya.
"Beneran udah nggak sakit?" Bahkan Hasna masih tidak percaya, karena beberapa menit sebelumnya Rama lemah tak berdaya.
"Iya, Sayang. Kamu nggak percaya?" Rama semakin mendekatkan wajahnya pada sang istri.
Hasna sedikit mundur dan menahan dada Rama agar tidak semakin mendekat ke arahnya.
"Mas, masih ada yang lain." Lirih Hasna. Rama baru ingat, jika ia datang bersama Ivan dan Tania.
"Rama, kamu kebiasaan. Nggak tau tempat." Ucap Bu Diana.
"Tau nih, masih rame juga." Sahut Nayla.
"Hmmmm...Nay tau, pasti sakit perut cuma akal-akalan Kak Rama doang. Biar bisa cepetan pulang dan ketemu Mbak Hasna, kan? Dasar." Celetuk Nayla.
Pletak
Rama menghadiahkan sebuah sentilan manis di kening adik kesayangannya. Dan kebetulan sekali, posisi Nayla duduk di dekatnya.
__ADS_1
"Aduuuhhh...sakit tau nggak. Kebiasaan, punya tangan minta digeprek pakek ulekan." Nayla mengusap-usap keningnya yang terasa berdenyut.
"Tau gitu nggak Nay ambilin minyak tadi. Nyesel jadinya." Gerutu Nayla.
"Mau nambah? Mumpung masih promo. Coba satu gratis tiga." Ucap Rama.
"Maass..." Suara lembut Hasna berhasil menghentikan aksi kakak beradik itu.
Ivan dan Tania hanya bisa menyaksikan drama keluarga secara live siang ini. Lagian Rama, ada-ada saja pakai acara sakit perut segala. Mana bikin panik, eh taunya sekarang tiba-tiba saja kembali sehat.
***
Sejak tadi siang, Rama menghabiskan waktunya hanya di dalam kamar. Ia benar-benar ingin beristirahat. Kerena rasa sakit di perutnya kerap muncul dan menghilang.
"Mas Rama nggak ikut makan malam?" Tanya Hasna yang telah bersiap untuk keluar kamar.
"Tidak, aku hanya ingin beristirahat di kamar." Ucap Rama.
"Apa perutnya masih terasa sakit?" Tanya Hasna. Karena saat mereka deladai melaksanakan sholat maghrib berjamaah tadi, Rama mengeluhkan perutnya sakit lagi.
Rama mengangguk. Dan ia merasakan jika rasa sakitnya lebih sering muncul sebelum akhirnya menghilang.
"Kamu makanlah. Aku akan beristirahat di kamar saja." Ucap Rama.
"Baiklah. Setelah ini aku akan membawakan makan malam untuk Mas Rama." Rama kembali mengangguk lemah.
***
Hasna membantu Rama untuk membalurkan minyak kayu putih di sekitaran perutnya. Hasna mengusapnya perlahan hingga laki-laki itu terlelap. Perempuan itu menatap sang suami dengan tatapan penuh iba. Karena Rama baru saja bisa tidur di jam selarut ini.
Hasna merebahkan tubuhnya di sisi Rama. Ia pun merasa jika matanya terasa begitu berat. Tak perlu menunggu lama, ia pun terlelap.
Entah berapa lama ia tertidur, Hasna merasakan jika dirinya seperti tengah buang air kecil. Perlahan ia menyingkapkan selimut. Dan betapa terkejutnya saat ia melihat keadaannya sekarang.
"Mas...Mas bangun." Hasna menggoyangkan lengan Rama.
"Emmm..." Hanya terdengar gumaman di telinga Hasna.
"Mas." Sekali lagi ia membangunkan rama, dan berhasil. Laki-laki itu terjaga.
"Ada apa, Sayang?" Tanya Rama. Terlihat sekali jika ia masih ngantuk berat.
"Mas, aku ngompol." Lirih Hasna.
Sebaris kalimat yang Hasna ucapkan, mampu membuat Rama membuka matanya lebar-lebar.
"Ngompol?" Hasna mengangguk pelan.
__ADS_1
***