
Weekend selalu ditunggu-tunggu oleh setiap pekerja, tak terkecuali Rama. Laki-laki itu selalu tidak sabar menunggu waktu libur dari rutinitasnya di kantor. Ia ingin seharian menemani istri dan putranya di rumah.
Seperti saat ini, ia sedang membawa Reyn untuk berjemur di bawah hangat mentari pagi di balkon kamar miliknya di lantai atas. Memposisikan sang putra tengkurap di atas tubuhnya yang bertelanjang dada. Membangun bonding antara dirinya dengan putra kecilnya.
"Mas, dari tadi hapenya bunyi. Sepertinya penting." Ucap Hasna.
"Tidak ada yang lebih penting daripada kalian. Urusan pekerjaan bisa di selesaikan di kantor." Ucap Rama tanpa merubah posisinya sama sekali.
"Tapi ini dari Pak Ivan. Ada tiga panggilan. Siapa tahu memang penting. Angkat dulu lah." Hasna meletakkan ponsel Rama di atas meja kecil di sebelah laki-laki yang tengah berbaring di atas matras itu.
"Aku tinggal mandi sebentar, ya."
"Oke, Bunda." Jawab Rama dengan menirukan suara anak kecil.
Hasna berlalu meninggalkan dua lelaki kesayangannya. Mumpung ada yang menjaga putranya, ia akan segera membersihkan diri terlebih dahulu. Baru setelahnya ia akan memandikan Reyn.
Tak berselang lama, ponsel milik Rama kembali berbunyi, sebuah panggilan masuk. Laki-laki itu hanya meliriknya sekilas. ID Ivan yang tertera di sana. Rama sengaja mengabaikannya, hingga ponselnya berhenti berdering dengan sendirinya.
Tapi baru saja nada panggilan itu berhenti, panggilan lainnya masuk. Rama tetap mengabaikannya tanpa melihat ID pemanggil. Jika di rasa penting, ia akan menghubunginya kembali.
"Oke, jagoan. Waktu berjemur sudah selesai. Sekarang waktunya mandi." Rama membawa sang putra masuk dan menidurkannya di atas ranjang miliknya.
Drrrtt... drrrtt... drrrtt...
Belum juga lima menit, ponselnya sudah berdering lagi. Rama membuang nafasnya dengan perlahan. Harusnya ia me-non aktifkan ponselnya terlebih dahulu. Sungguh menganggu saja.
"Sebentar, ya. Ayah mau lihat, siapa pengganggu pagi kita?" Rama memberikan sebuah kecupan pada Reyn, dan kembali ke tempat ia berjemur barusan.
"Ckk... benar-benar cari masalah." Gumamnya saat melihat siapa yang melakukan panggilan dengannya.
"Apa kamu tidak mengerti jika sebuah panggilan yang tidak kunjung di jawab, itu artinya orang yang sedang kamu hubungi tengah melakukan kesibukan? Jadi tidak perlu mengulangnya hingga ribuan panggilan." Baru saja panggilan tersambung, Rama sudah memberikan tausiyah paginya.
"Maaf, Pak. Tapi saya hanya menjalankan amanah yang_"
"Urusan kantor bisa kita selesaikan di kantor, Ivan. Hari ini hari libur, hari keluarga." Potong Rama.
"Bukan masalah kan_"
"Apalagi bukan masalah kantor. Dan kamu mengganggu waktu saya?" Lagi-lagi Rama memotong ucapan Ivan.
"Marissa." Ucap Ivan cepat. Bahkan suara lelaki itu terdengar seperti memekik.
"Marissa?" Ulang Rama.
"Iya, Pak. Saya dan Pak Darmawan kemarin menemui Marissa di lapas. Kami sudah membebaskannya, dan memintanya untuk menandatangani surat perjanjian seperti yang Pak Rama minta." Akhirnya, Ivan bisa menjelaskannya dengan baik.
__ADS_1
"Lalu, apakah dia bersedia?" Rama tahu betul watak perempuan itu. Marissa tidak akan mudah menuruti jika tidak menguntungkan dirinya.
"Marissa bersedia, bahkan tidak mengucapkan sepatah kata pun. Setelah membaca surat perjanjiannya, ia langsung menanda tanganinya. Marissa hanya mengatakan pesan jika dia berterima kasih kepada Pak Rama juga Bu Hasna." Ivan benar-benar menyampaikan pesan mantan rekan kerjanya kepada Rama.
"Hasna? Kenapa istri saya?" Rama sedikit terkejut mendengar jika Marissa berterima kasih pada Hasna.
"Saya juga kurang tahu, Pak. Mungkin saja Marissa beranggapan, jika kebebasannya secara tiba-tiba ini adalah campur tangan dari Bu Hasna." Ucap Ivan memberikan alasan.
Tidak, bukan hanya Hasna penyebab utama Rama mengambil keputusan untuk membebaskan Marissa. Tapi juga Reyn. Peranan putranya juga salah satu faktor Rama melakukan hal ini. Dan merubah pendiriannya.
"Bagus, terima kasih. Semoga saja Marissa tidak membuat ulah kembali setelah kebebasannya." Ucap Rama, kemudian memutuskan sambungan telepon.
Satu usapan di punggungnya, berhasil membuat laki-laki itu menoleh. Hasna, istrinya itu telah berdiri tepat di belakangnya. Dan kini, keduanya telah berdiri berhadapan. Hasna menatapnya dengan tatapan penuh tanya.
"Mbak Marissa bebas, Mas?" Tanya Hasna. Rama hanya diam tak memberikan jawaban.
Hasna tak sengaja mendengarkan percakapan sepihak antara suaminya dengan Ivan, sesaat setelah dirinya selesai mandi.
"Mas?"
Rama membuang nafasnya dengan kasar kemudian mengangguk pelan. Sebuah senyuman tercetak jelas di wajah perempuan bermata teduh itu. Hasna yakin sekali jika Rama telah mencabut tuntutannya. Karena saat sidang putusan, ia mendampingi suaminya di pengadialan. Hukuman masissa masih beberapa tahun lagi, tapi selum genap satu tahun, mantan sekretaris suaminya itu sudah bebas.
"Makasih, ya, Mas." Ucap Hasna dengan mata yang berkaca.
"Makasih buat apa?" Rama mengerutkan keningnya.
"Kenapa kamu yang berterima kasih?"
"Karena Mas Rama, seorang ibu bisa bertemu dengan bayinya. Dan karena Mas Rama juga, seorang anak akan mendapatkan pelukan hangat ibunya."
Rama menatap lurus manik pekat istrinya. Tak pernah ia temukan sedikitpun kebencian di sana. Hati Hasna terlalu lembut, hingga begitu mudahnya memaafkan, bahkan melupakan kesalahan seseorang yang pernah menyakitinya.
"Hanya untuk kali ini. Untuk kali ini aku mengampuni Marissa. Tapi tidak untuk setelahnya. Jika dia melakukan hal yang sama, maka aku akan pastikan perempuan itu menyesali kebodohannya seumur hidupnya." Ucap Rama dengan penuh ketegasan.
***
Rama menuruni anak tangga dengan menggendong putranya yang telah di mandikan oleh Hasna. Aroma khas bayi seketika menguar memenuhi ruangan. Membuat atensi seluruh keluarga Suryanata teralihkan. Bu Diana gegas menghampiri sang cucu dan memintanya dari gendongan Rama.
"Cucu gantengnya Oma udah wangi, mau kemana?" Ucap Bu Diana pada cucu kesayangannya.
"Ma, hari ini rencananya Rama sama Hasna mau lihat rumah. Nitip Reyn sebentar, ya." Ucap Rama.
"Lihat rumah? Beli rumah baru?" Tanya Bu Diana.
"Rencananya, tapi masih lihat-lihat dulu. Kalau cocok langsung ambil." Ucap Rama.
__ADS_1
"Kalau cari jangan yang jauh dari sini. Nanti kalau kangen cucu biar cepet sampainya." Sahut Pak Andi.
"Deket kok, Pa. Paling nggak sampai sejam dari sini."
"Eh, Kak. Seriusan Nay mau nanya. Itu mobil di garasi, punya siapa ya, yang warnah merah? Nggak pernah lihat, Nay. Mobil baru, ya?" Tanya Nayla dengan wajah penasarannya.
Selama ini, sebelum ia pergi, mobil selalu di siapkan oleh Pak Yanto. Jadi ia tidak menyadari jika ada penghuni baru di garasi rumahnya.
"Ini, mobil ponakan ganteng." Sahut Bu Diana sambil menimang Reyn.
"Hah, serius?" Nayla sungguh tidak percaya dengan jawaban ibunya.
"Seriuslah, itu kadonya Reyn dari_"
"Astaga, Kak Rama. Seumur-umur, nggak pernah loh aku di kasih kado mobil kayak punya Reyn. Ini bayi yang belum bisa ganti diapers sendiri aja mobilnya kinclong bener. Kak Rama pilih kasih sama adik sendiri." Gadis itu terlihat mengerucutkan bibirnya.
"Siapa juga yang pilih kasih. Makanya kalau ada orang ngomong, simak dengan baik. Lagian buat apa kamu di beliin kado mobil mahal-mahal, beli bensin saja duit masih minta. Ntar bensin habis, gaada uang, bisa-bisa digadein tuh mobil buat beli bensin." Ucap Rama.
"Paan sih? Nggak lucu tau."
"Itu kado kelahiran Reyn dari Kevin." Ucap Bu Diana.
"Kado kelahiran dari Mas Kevin?" Nayla memastikan jika pendengarannya masih berfungsi dengan baik.
"Mama serius, Ma?" Bu Diana mengangguk sebagai jawaban. Tapi sepertinya Nayla tidak bisa mempercayai begitu saja.
Anti mainstream sekali, memberikan kado kelahiran bayi sebuah mobil mahal. Nayla mengerjapkan matanya beberapa kali, berusaha mengembalikan kesadarannya.
"Ini kado apa mahar?" Ucap Nayla yang menoleh pada Rama dan Bu Diana.
"Jangan-jangan, ntar Reyn di jodohin lagi sama anaknya Mas Kevin di masa depan?" Mulai berandai-andai si gadis tengil.
Pletak
"Mikirmu kejauhan." Rama menghadiahkan sebuah sentilan di kening adik perempuannya.
"Ckk...biasa aja kali." Nayla mengusap keningnya yang terasa nyut-nyutan.
"Calon istri belum nemu, malah mikir calon mantu. Ada-ada saja." Ucap Rama.
"Udah, Rama mau bersiap dulu."
"Yang anteng sama Oma dan Opa ya di rumah." Rama mengusap pipi gembul Reyn dengan penuh sayang, lalu memberikan kecupan di sana. Lantas, laki-laki itu kembali ke kamarnya di lantai atas.
Bi Diana menatap punggung kekar putranya. Calon mantu? Bu Diana tidak bisa membayangkan jika seandainya itu benar. Itu artinya Hasna dan Kevin akan berbesanan. Bu Diana lantas menggelengkan kepalanya. Menepis jauh-jauh pikiran anehnya yang telah terkontaminasi oleh ucapan Nayla.
__ADS_1
***