Bidadari Penghapus Luka

Bidadari Penghapus Luka
Bab 166


__ADS_3

Hari ini, hari terakhir Rama full di kantor, karena mulai hari Senin, Rama hanya akan bekerja hingga jam makan siang. Karena seminggu lagi, Hasna akan melahirkan sesuai prediksi Dokter.


"Aku berangkat dulu, ya. Jaga diri baik-baik." Rama mengecup kening Hasna dengan lembut.


"Anak ayah. Ayah berangkat kerja dulu, ya. Semoga rezeki kita semakin berkah. Kamu yang pintar, ya. Jangan repotin bunda." Rama mengusap lembut perut buncit Hasna dan mengecupnya beberapa kali.


"Kalau tidak ingat, hari ini hari terakhir full di kantor, pasti aku lebih memilih menghabiskan waktu seharian menemani kalian." Selalu saja drama calon ayah satu ini jika ia malas berangkat ke kantor.


"Udah, berangkat sana. Kasihan Pak Ivan." Hasna mendorong pelan pundak Rama yang masih betah menciumi perutnya.


"Iya, iya." Ucap Rama malas.


"Dek, Ayah diusir. Suruh berangkat katanya. Padahal kan ayah masih pengen ngobrol sama anak ayah ini." Rama masih mengusap-usap perut Hasna, dan merasakan tendangan di telapak tangannya.


"Udaaah... cepetan berangkat. Udah siang juga." Peringat Hasna.


"Baiklah, aku berangkat. Jangan merindukan ku." Rama mencuri kecupan, merasai manisnya bibir ceri itu.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam, hati-hati."


Hasna masih bertahan di posisinya, duduk selonjoran di atas gazebo taman rumah milik mertuanya. Rutinitas setiap paginya sebelum sarapan. Karena selama kehamilannya, Hasna tidak pernah sarapan di jam seperti yang lainnya. Ia lebih memilih sarapan sekitar jam delapan setelah Rama berangkat ke kantor.


"Raja drama udah berangkat?" Suara Bu Diana mengagetkan Hasna yang sedang bersantai seorang diri di gazebo.


"Mama?"


"Makin akut kelakuan suami kamu itu." Hasna tersenyum mendengar ucapan Mama mertua.


"Dulu aja, sok-sokan nggak mau di jodohin. Eh...sekarang ogah-ogahan kalau jauhan sama kamu. Banyak drama emang." Cibir Mama.


Hasna hanya tersenyum dengan apa yang Bu Diana katakan. Sudah bukan rahasia lagi jika Rama pasti akan membuat drama sebelum meninggalkan Hasna. Dan tingkahnya semakin parah semenjak Hasna sembuh pasca kecelakaan, dan dinyatakan hamil.


"Eh, cepetan sarapan gih." Ucap Bu Diana saat ART membawakan sarapan untuk Hasna.


"Kenapa harus repot-repot sih, Ma? Hasna kan bisa makan di dalam." Hasna merasa tidak enak dengan perlakuan mertuanya. Ia terkesan seperti menantu yang merepotkan.


"Makasih, Mbak." Ucap Hasna pada ART itu.


"Mama sengaja loh buatin kamu iga bakar. Rama baru bilang kalau kamu suka banget sama iga bakar. Dasar, makanan favorit istrinya sendiri dia baru tahu. Padahal kalian menikah juga, udah lebih satu tahun. Trus apa yang kalian suka juga hampir sama. Bedanya hanya cara pengolahan dan penyajiannya saja."


"Jangan-jangan nanti anak kalian penggemar iga juga." Bu Diana menebak-nebak.


"Bisa jadi. Hasna suka iga bakar seperti almarhumah ibu. Dan makanan favorit almarhum ayah, sup iga. Dan kebetulan, Hasna punya suami penggemar sup iga juga." Ucap Hasna.

__ADS_1


"Oh ya? Kami sempat beberapa kali makan bareng sama almarhum kedua orang tua kamu. Dan memang ada sup iga juga iga bakar yang di hidangkan di atas meja makan. Mama pikir hanya kebetulan, karena saat pertama Mama cicipi, Mama bilang kalau rasanya juara. Emang beneran enak. Dan selalu dihidangkan pas kami berkunjung kesana. Tapi ternyata memang pecinta iga."


"Alhamdulillah, jadi Hasna tidak perlu belajar masak buat menyajikan menu favorit Mas Rama, karena Hasna sering masakinnya buat almarhum ayah. Sedikit mengobati rasa rindu juga sama ayah dan ibu." Wajah Hasna berubah sendu saat menyinggung kedua orang tuanya yang telah tiada.


"Kan sekarang ada Mama sama Papa." Sahut Bu Diana dengan lembut.


"Hasna beruntung banget tau, Ma. Punya mertua sebaik Mama sama Papa yang sayang sama Hasna seperti anak sendiri. Jujur saja, di awal pernikahan kami, Hasna merasa akan menjadi orang yang asing. Tapi ternyata, Hasna salah. Mama dan Papa sangat baik memperlakukan Hasna."


"Kami menyayangi kamu semenjak kamu kecil, Sayang. Bahkan saat kedua orang tua kamu meninggal, kami sempat meminta kamu pada almarhum Kakek kamu untuk kami adopsi. Tapi Pak Rusdi keberatan, kerena hanya kamu satu-satunya keluarga yang beliau miliki. Dan ternyata, takdir membawa kamu menjadi bagian keluarga kami melalui pernikahan." Bu Diana mengusap lembut puncak kepala Hasna dengan penuh sayang.


Bu Diana meraih tangan Hasna, dan menatap hangat menantunya itu.


"Makasih ya, Sayang. Kamu tetap bertahan di sisi Rama sampai sekarang. Mama khawatir sekali jika kamu lelah dengan sikap keras kepala Rama, dan akhirnya menyerah. Tapi kamu tetap bertahan untuk anak Mama. Terima kasih ya." Hasna tersenyum lantas mengangguk.


"Hasna juga sangat berterima kasih pada Mama, Papa, dan semuanya yang telah menerima Hasna. Memperlakukan Hasna selayaknya anak kandung, juga mendampingi Hasna di masa-masa sulit. Karena hanya kalian yang Hasna miliki saat ini." Mata itu terlihat mengembun.


"Kalau Rama bertingkah nyebelin, buat kamu kesel, jewer aja telinganya." Ceplos Bu Diana.


"Hasna nggak punya nyali sebesar itu, Ma. Hasna takut kualat." Hasna mengusap sudut matanya yang basah lalu tersenyum pada Mama mertua.


"Beruntung banget anak Mama. Punya istri cantik, baik, sabar, penyayang, sholihah lagi. Andaikan kamu sama nyebelinnya seperti Nayla, pasti makin tua si Rama kebanyakan marah-marah." Kekeh Bu Diana.


"Kok jadi Nayla sih, Ma?"


Mungkin saja apa yang Bu Diana katakan terjadi jika ia bertingkah menyebalkan seperti Nayla. Hasna tau sendiri jika suami dan iparnya itu layaknya Tom dan Jerry jika bertemu. Tapi dibalik semua tingkah menyebalkan keduanya, mereka saling menyayangi satu sama lain.


"Udah cepetan makan, keburu dingin. Mau Mama suapin?" Ucap Bu Diana.


"Kalau Mama tidak keberatan."


***


Ivan sedari tadi memperhatikan Rama yang terlihat tidak bersemangat. Pastilah apa yang Bos nya itu pikirkan, tidak jauh soal istrinya.


"Ivan, bisa minta tolong ambilkan saya air hangat?" Pinta Rama.


"Pak Rama mau teh apa kopi?" Tawar Ivan.


"Air hangat saja. Perut saya rasanya sakit sekali."


"Sebentar, Pak."


Ivan segera berlalu dari hadapan Rama dan kembali dengan membawa cangkir yang telah diisinya dengan air panas dari dispenser.


"Ini, Pak."

__ADS_1


"Ini air dispenser, Ivan. Bisa tambah sakit perut saya nanti. Saya maunya air hangat matang. Yang direbus dulu." Tolak Rama.


Ivan membuang nafasnya dengan kasar. Bukankah sama saja? Sama-sama air panas bukan? Hanya saja prosesnya yang berbeda.


"Apa Bapak mau makan siang sekarang?" Tawar Ivan sebelum keluar dari ruangan Rama. Kebetulan jam makan siang tiga puluh menit lagi.


"Tidak."


Ivan segera keluar untuk membawakan Rama air hangat dari pantry. Tak lama, ia pun kembali ke ruangan Rama.


"Ini airnya, Pak." Ivan meletakkan segelas air hangat suam-suam kuku di atas meja Rama. Bisa ia lihat dengan jelas wajah Rama yang nampak pucat.


"Bapak baik-baik saja?" Rama hanya mengangguk lemah.


"Apa perlu saya antarkan ke rumah sakit?" Kini Rama menggeleng sebagai jawabannya.


Rama meraih gelas di atas meja kerjanya dengan tangan sedikit gemetar. Dengan cekatan, Ivan membantu atasannya itu.


"Pelan-pelan, Pak."


Rama meneguk air hangat dengan di bantu Ivan. Keringat dingin membanjiri kening Rama. Sepertinya rasa sakit yang tidak tertahan.


"Pak, Bapak semakin pucat. Sebaiknya Bapak beristirahat. Saya akan antarkan Bapak pulang." Ucap Ivan memberikan saran. Rama hanya mengangguk pasrah.


Rama merasakan rasa sakit di perutnya. Bukan sakit lantaran salah makan atau apa. Apalagi karena ingin buang air besar. Tapi rasa sakitnya benar-benar membuatnya tersiksa.


"Mari saya bantu, Pak." Ivan membantu Rama untuk berdiri. Rasanya berat sekali, seolah Rama tidak bisa menopang berat tubuhnya sendiri.


"Tania, bantu aku." Ucap Ivan saat sudah berada di luar ruangan Rama.


"Pak Rama kenapa?" Tanya Tania pada Ivan. Perempuan itu dengan sigap membantu Ivan untuk menopang tubuh Rama.


"Pak Rama bilang sakit perut. Tapi sampai sepucat ini." Bahkan Ivan merasakan jika kemeja yang Rama kenakan telah basah oleh keringat.


"Sebaiknya antar ke rumah sakit dulu. Jangan sampai Bu Hasna khawatir saat lihat Pak Rama pulang dalam keadaan lemas begini." Tania memberikan saran.


"Oke. Kamu yang nyetir, ya." Ucap Ivan.


Rama tak berkomentar dengan ucapan kedua orang kepercayaannya. Pasrah, itu yang bisa ia lakukan sekarang. Jangankan mendebat keduanya, bergerak saja rasanya susah.


***


Happy reading manteman 🥰


makasih doanya, makin semangat aku nulisnya 😘😘

__ADS_1


__ADS_2