
"Apa dia sudah berada di dalam sini?" Ulangnya. Kini ia memberi kecupan lembut tepat di perut sang istri.
"Kau tau, aku baru saja bermimpi menimang bayi di pangkuan. Apa itu pertanda jika dia sudah ada di dalam sini?" Ucap Rama penuh harap.
Apakah memang benar Rama sudah menginginkan keturunan darinya. Jika benar, semoga saja Allah segera memberikan rezeki berupa keturunan sebagai pelengkap kebahagiaan rumah tangganya bersama Rama.
"Aku sudah tidak sabar ingin menimangnya dengan kedua tangan ini." Rama menengadahkan kedua tangannya. Bahkan manik pekat itu memancarkan binar bahagia.
"Semoga Allah memberikan kepercayaan kepada kita ya, Mas." Ucap Hasna.
"Aamiin." Rama mengeratkan kembali pelukannya.
"Apa kamu tau, jika do'a harus diiringi dengan usaha?" Hasna mengangguk pelan.
"Setiap selesai sholat, aku selalu menyelipkan do'a agar kita memperoleh keturunan. Dan sekarang...tinggal bagaimana usaha kita." Hasna menautkan kedua alisnya, mencoba mencerna ucapan suaminya.
Pandangan Rama seolah memberikan kode pada Hasna. Tapi sepertinya perempuan itu kurang peka dengan hal-hal semacam ini.
"Bagaimana?" Tanya rama penuh harap.
"Apanya?" Hasna malah balik bertanya.
"Usaha kita?" Sekarang malah Hasna terdiam.
"Mendekatlah." Rama mengisyaratkan agar Hasna semakin mencondongkan tubuhnya.
"Bagaimana usaha kita agar kita mendapatkan keturunan? Itu yang aku tanyakan." Lirih Rama, membuat Hasna tersipu.
"Kita baru mencobanya dua kali, menurutku itu kurang maksimal." Hasna tak kuasa menahan senyumnya, hingga kedua pipinya bersemu merah.
"Lihatlah, bagaimana rona merah jambu ini menghiasi wajahmu. Membuatmu semakin cantik di mataku. Tapi, jangan tunjukkan di depan laki-laki lain. Karena aku yakin mereka tidak akan sanggup menolak pesona istri dari Rama Suryanata." Ucapan Rama membuatnya tertawa.
"Jangan pernah tinggalkan aku, Hasna." Ibu jarinya mengusap lembut pipi Hasna.
"Sudah berapa kali aku katakan, aku tidak akan pergi meninggalkan Mas Rama, kecuali Mas Rama yang memintaku pergi."
"Tetaplah berdiri di sampingku. Jangan pernah lepaskan genggaman tangan ini. Walau tak selalu hangat kau rasa. Namun tetaplah berjalan disisiku. Aku sangat mencintaimu, Hasna." Rama menggenggam erat tangan istrinya itu.
Ucapan Rama membuat Hasna teringat akan ucapan seseorang, namun ia tidak bisa mengingat siapa. Tapi yang jelas, kata-kata Rama barusan, tidak asing di telinganya. Seseorang pernah mengucapkan itu pada dirinya sebelumnya. Tapi siapa?
***
Siska beberapa kali mengunjungi Marissa dengan membawakan banyak sekali buah tangan. Seperti permintaan Tomi, Siska membelanjakan uang pemberian Tomi untuk keperluan sahabatnya.
"Jujur, gue ngerasa terlalu ngerepotin deh. Tiap kali lo kesini, pasti lo bawa banyak oleh-oleh kayak gini." Ucap Marissa.
Marissa merasa tak enak hati pada Siska. Walaupun mereka bersahabat cukup lama, tapi Marisa merasa sikap Siska sedikit berlebihan. Entah apa yang dibawakan Siska kali ini. Dua hari yang lalu, Siska membawakan dua boks susu hamil, lengkap dengan camilan sehat untuk wanita hamil.
"Paan sih, lo kayak sama siapa aja?" Siska mengeluarkan barang bawaannya.
Roti, salad buah, buah-buahan segar, yogurt, juga beberapa camilan, berjajar rapi di atas meja makan kecil di dapur Marissa. Siska menata buah-buahan juga yogurt ke dalam kulkas.
"Sis, besok-besok kalau lo ke sini, lo nggak usah bawa kayak ginian lagi ya." Ucap Marissa tak enak hati.
"Gue emang udah nggak kerja, tapi gue masih punya tabungan kok." Sambungnya.
"Biasa aja kali, Sa. Gue bukannya perhatian sama lo, tapi sama calon ponakan gue." Siska mengusap lembut perut Marissa yang mulai terlihat sedikit membuncit.
"Oh, jadi gitu. Cuma ponakan aja yang diperhatiin." Canda Marissa dengan nada sinis.
"Iya lah, emaknya cukup ngerepotin gue soalnya." Jawab Siska.
Keduanya pun tertawa. Dua perempuan itu berbincang sambil menikmati salad buah yang Siska bawa. Banyak hal yang Marissa ceritakan, termasuk soal Rama. Dan ini membuat Siska harus waspada.
***
Di kediaman Suryanata, Mama yang di bantu Nayla, memeriksa kembali list undangan yang akan mereka sebar. Pernikahan kurang sepuluh hari lagi, jadi mereka harus segera menyelesaikan masalah undangan, jangan sampai ada yang terlewat.
"Ini untuk semua relasi bisnis Papa, yang ini milik Kak Rama." Rupanya Nayla sudah memilah undangan dan memasukkannya ke dalam boks-boks kecil.
"Kamu sisihin punya Papa, biar nggak ketuker sama punya Rama." Pinta Mama.
__ADS_1
"Mama tenang saja, udah Nay kasih nama di tiap boksnya. Jadi aman." Ucap Nayla.
Gadis itu terlihat antusias menyiapkan pernikahan Sang kakak. Setelah kemarin menyiapkan souvernir untuk para tamu undangan.
"Ma, ini yang diundang cuma keluarga, kerabat, relasi bisnis kak Rama, Papa, sama temen-temen Mama doang? Mbak Hasna nggak ngundang siapa-siapa?" Tanya Nayla disela pekerjaannya.
"Hasna itu nggak punya siapa-siapa lagi, Sayang. Jadi Mama rasa tidak ada yang diundang." Jawab Mama.
"Masa Mbak Hasna nggak punya teman?"
"Teman sih ada, tapi biar Hasna yang nentuin siapa saja yang diundang." Ucap Mama ragu.
"Kalau gitu, Nay pisahin satu boks buat temen-teman Mbak Hasna, ya." Mama mengangguk. Lantas Nayla menyisihkan satu boks undangan yang belum ada nama penerimanya.
"Ma, kira-kira kalau aku ngundang Bian, boleh nggak, Ma?" Tanya Nayla ragu.
Mama menghentikan pekerjaannya, lalu menatap pada Nayla.
"Nay cuma pengen, supaya Bian tau kalau Mbak Hasna bener-bener istrinya Kak Rama." Ucap Nayla tanpa perlu Mama menanyakan alasannya.
"Memangnya Bian masih sering kirimin sesuatu buat Hasna?" Tanya Mama penuh selidik, karena selama ini beliau menganggap jika teman putrinya itu sudah tidak mengganggu menantunya lagi.
"Udah enggak sih, Ma. Semenjak kejadian di mall waktu itu, Bian sempet cerita kalau dia nggak punya harapan lagi. Patah hati dia." Ucap Nayla, dan tertawa di akhir kalimatnya. Mama hanya menanggapinya dengan senyuman.
"Lagian, Kak Rama emang nggak tau tempat banget. Udah tempat umum, main sosor aja, depan orang lain pula." Cibir Nayla.
"Ya, kamu tau sendirikan, kalau Kakak kamu tipe-tipe orang yang nggak suka basa-basi, apalagi situasinya tidak menguntungkan bagi dia." Ucap Mama yang kembali meneruskan pekerjaannya.
Benar juga kata Mama, tapi tidak main sosor secara live juga kali. Kalau itu sih bukan karena situasi yang tidak menguntungkan, tapi lebih mengambil kesempatan dalam kegentingan.
***
Hasna tengah membantu Rama bersiap ke kantor. Perempuan itu merapikan kembali dasi yang melingkari leher sang suami.
"Aku tadi sudah mengabarkan pada Mama, jika nanti kita akan ke rumah saat jam makan siang untuk mengambil undangan." Ucap Rama. Tangan lelaki itu melingkari pinggang istrinya.
"Selesai." Ucap Hasna.
"Terima kasih, Sayang." Rama mendaratkan kecupan singkat di pipi kiri Hasna.
"Udah, nggak banyak kok. Sepertinya, nanti biar aku aja yang ke rumah Mama ambil undangan. Sekalian mau antar yang deket-deket, yang satu arah sama kantor Mas Rama. Biar praktis aja." Ucap Hasna.
"Oke, aku terserah sama kamu saja, Sayang."
Pipi Hasna terasa menghangat setiap Rama memanggilnya dengan sebutan Sayang.
"Ayo kita sarapan dulu." Ajak Hasna. Keduanya pun turun untuk sarapan.
***
Sebelum ke kantor, Rama mengantarkan Hasna terlebih dahulu ke rumah Mama. Sesuai rencana, Hasna akan mengantarkan undangan yang jaraknya dekat.
"Loh, kata Rama kalian kesini pas makan siang nanti?" Tanya Mama pada Hasna yang mencium punggung tangannya.
"Rencananya gitu, Ma. Tapi untuk menghemat waktu, Hasna akan kirimkan undangan yang deket-deket sini. Sekalian jalan ke kantor mas Rama nanti." Ucap Hasna.
"Nanti biar diantar Pak Yanto aja, ya?" Hasna mengangguk setuju.
Mama meminta dua orang ART untuk mengangkat boks berisi undangan milik Rama dan memasukkannya ke dalam mobil.
"Ini ada satu boks buat teman-teman kamu, karena tidak ada list yang kamu kasih sama Mama atau Nayla. Jadinya, Mama pisahin sama yang udah ada alamatnya." Mama mengambil satu boks yang sudah Nayla persiapkan kemarin.
"Iya makasih, Ma. Nanti sekalian jalan, Hasna antar." Ucap Hasna.
Setelah berbincang sejenak, Hasna pamit pada Mama mertua.
"Kamu jangan terlalu capek, Sayang." Mama mengusap lembut lengan Hasna.
"Iya, Ma." Hasna mencium tangan Mama untuk berpamitan.
"Hati-hati, Sayang."
__ADS_1
"Iya, Ma. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Hasna masuk ke dalam mobil yang di kemudikan Pak Yanto. Hasna meminta untuk diantarkan ke rumah almarhum Kakek terlebih dahulu untuk mengantarkan undangan pernikahannya.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam." Terdengar sahutan dari dalam rumah.
Hasna memperhatikan sekeliling rumah yang nampak asri itu. Tidak ada perubahan sama sekali. Masih sama seperti terakhir kali ia berkunjung.
"Ya Allah, Mbak Hasna." Ucap Mbak Marni heboh.
"Ya Allah, apa kabar, Mbak Hasna? Lama nggak ke sini." Sambungnya.
"Alhamdulillah, sehat. Mbak Marni apa kabar?" Wanita itu menghambur memeluk Hasna.
"Sehat, Mbak. Ya Allah." Wanita itu nampak tersenyum sumringah.
Mbak Marni sudah menganggap Hasna seperti adiknya sendiri. Apalagi Hasna sangat sayang pada anaknya.
"Kalau ada waktu, datang ya, Mbak." Hasna menyerahkan undangan pernikahannya pada Mbak Marni.
"Ini undangan siapa, Mbak?" Mbak Marni nampak membolak-balikkan undangan di tangannya.
"Undangan Hasna sama Mas Rama. Kami baru sempat adain resepsi." Jawab Hasna.
"Ya Allah, Mbak." Seketika kedua mata Mbak Marni terasa mengembun.
"Saya jadi keinget sama almarhum Bapak, Mbak." Lirihnya sambil mengusap sudut matanya. Hasna tersenyum simpul mendengarnya.
"Do'akan kakek, semoga mendapatkan tempat terindah di sisi Allah. Do'akan Hasna juga, semoga pernikahan kami dilimpahi keberkahan dan keridhoan Allah."
"Aamiin...pasti, Mbak, pasti." Ucap Mbak Marni di sela isakannya.
Setelah dari rumah Mbak Marni, rencananya Hasna ke rumah Pak Hamid sekalian. Rumah beliau hanya berjarak tiga rumah dari rumah Mbak Marni.
"Pak Yanto nunggu di sini saja ya. Saya cuma sebentar." Ucap pak Yanto yang tengah menikmati secangkir teh hangat di teras rumah Mbak Marni.
"Tidak mau diantar saja, Non?" Tanya Pak Yanto.
"Tidak perlu, Pak. Bapak istirahat dulu saja di sini. Rumahnya deket kok. Cuma jarak tiga rumah dari sini." Tolah Hasna halus.
"Ya sudah, Mbak. Hati-hati."
Hasna segera menuju ke rumah Pak Hamid, tak lupa juga oleh-oleh untuk keluarga itu. Hasna merasa ponsel di tasnya bergetar. Perempuan itu memeriksa siapa yang sedang melakukan panggilan padanya. Ternyata, Rama.
"Halo, assalamu'alaikum, Mas."
"Wa'alaikumussalam, Sayang." Sepertinya Rama mulai terbiasa dengan panggilan itu.
"Ada di mana?" Tanya Rama.
"Barusan dari rumah Mbak Marni. Ini mau ke rumah Pak Hamid." Hasna sudah sampai di depan rumah Pak Hamid.
"Mas, aku matiin dulu, ya. Ini udah ada di depan rumah Pak Hamid. Nanti aku telepon lagi."
"Oke, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam." Hasna kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas.
Tok, tok, tok.
"Assalamu'alaikum." Salam Hasna, namun belum ada jawaban dari dalam sana.
Tok, tok, tok.
"Assalamu'alaikum." Hasna kembali mengetuk pintu.
"Wa'alaikumussalam." Akhirnya terdengar juga sahutan dari dalam.
__ADS_1
Seseorang yang baru saja membukakan pintu, menatap lekat penampilan Hasna dari ujung kepala hingga ujung kaki.
***