Bidadari Penghapus Luka

Bidadari Penghapus Luka
Bab 105


__ADS_3

Rama dan Hasna sepakat untuk menunda bulan madu mereka, karena Hasna disibukkan dengan pembukaan cabang tempat katering juga toko kue yang akan dilakukannya dalam waktu yang berdekatan. Dan untuk pembukaan cabang restoran baru sudah diagendakan bulan depan. Jadi untuk dua minggu terakhir dibulan ini, jadwal Hasna begitu padat. Sebenarnya Rama mengeluhkan kesibukan sang istri yang begitu menyita waktu, yang membuatnya mau tidak mau harus iku kembali ke kantor. Padahal ia sudah merencanakan untuk cuti selam dua minggu ke depan.


"Nanti sampai jam berapa?" Tanya Rama pada Hasna yang tengah memasangkan dasi di lehernya.


"Agenda kita hari ini meeting untuk prepare opening tempat katering. Semoga saja meetingnya lancar, biar aku bisa pulang tepat waktu." Jawab Hasna.


"Hmmm...aku akan sangat merindukanmu, sayang." Rama memeluk pinggang Hasna dengan begitu posesif.


"Aku juga akan merindukan Mas Rama." Balas Hasna.


"Hanya rindu?"


"Maksudnya?" Hasna mengerutkan keningnya.


"Aku sangat merindukanmu, tapi kamu hanya merindukan aku. Kenapa rasanya rindu ini berat sebelah?" Hasna tergelak mendengarnya.


"Mas Rama apaan sih? Mana ada rindu berat sebelah? Yang ada tali sepatu panjang sebelah." Kekeh Hasna.


Rama merenggangkan pelukannya dan mulai mencondongkan tubuhnya ke arah Hasna. Tanpa aba-aba, laki-laki itu mulai ******* bibir ceri milik istrinya dengan sangat lembut. Cecapan itu membuat Hasna ikut terbuai. Hingga kedua tangannya meremas kemeja Rama di bagian dada.


"Izinkan aku absen sehari lagi. Aku ingin menghabiskan waktu lebih lama dengan istriku yang sangat cantik ini." Bisik Rama dengan suara yang mulai terdengar berat itu. Tatapan laki-laki itu mulai sayu dengan nafas yang sudah tidak beraturan.


"Mas, hanya hari ini aku meetingnya. Setelah itu aku serahkan semuanya sama team. Nanti setelah itu aku tinggal menerima laporan dan memantau persiapan saja." Ucap Hasna lembut.


"Baiklah kalau cuma hari ini. Semoga saja kepalaku tidak pecah tengah hari nanti." Cicit Rama sekenanya.


Bagaimana tidak pecah, jika tengah menahan hasrat seperti ini. Tapi bagaimanpun Hasna juga memiliki tanggung jawab atas nasib ratusan pegawainya. Lagi pula hanya sehari, anggap saja ia tengah berpuasa hari ini.


"Baiklah, bagaimana kalau aku bawain makan siang buat Mas Rama?" Tawar Hasna.


Rama terdiam tak langsung menjawab pertanyaan Hasna.


"Tidak perlu, Sayang. Aku sudah memutuskan untuk berpuasa hari ini. Dan aku berharap hidangan ku saat berbuka nanti akan sangat membuatku bersemangat saat menyantapnya." Rama menyelipkan anak rambut yang menutupi wajah cantik sang istri, dan memberikan kecupan sekilas.


"Sepertinya aku harus kuliah lagi setelah ini?" Ucap Hasna.


"Kuliah?" Hasna mengangguk pasti.


"Jangan bilang kalau kamu..." Rama menarik gemas pipi sang istri.


"Ih...sakit tau, Mas." Hasna mengusap pipinya.


"Aku perlu kuliah lagi karena aku masih begitu amatir jika harus selalu menterjemahkan kode yang Mas Rama berikan."


"Oh...baiklah, aku akan memberikan kuliah gratis buat kamu nanti." Rama mencium bekas cubitannya di pipi Hasna.


"Udah hampir jam tujuh, nanti Mas Rama telat."


"Baiklah, temani aku sarapan."


Rama menggamit pinggang Hasna menuju meja makan. Dan seperti biasa, mereka berbagi makanan di piring yang sama.

__ADS_1


***


"Selamat pagi, Pak." Sapa Vita, resepsionis yang berada di lobi kantor.


"Pagi."


Rama melangkahkan kakinya lebar-lebar menuju lift, dan berpapasan dengan Ivan, asistennya di sana.


"Pak Rama?" Sapa Ivan yang terkejut dengan kehadiran Rama di kantor pagi ini.


"Ivan."


"Bapak tidak jadi cuti?" Tanya Ivan heran. Pasalnya Rama sudah melimpahkan pekerjaan untuk dua minggu ke depan kepadanya untuk berbulan madu.


"Tidak." Jawabnya singkat.


"Honeymoon nya batal, Pak?" Tanya Ivan yang terdengar seperti sebuah ledekan di telinga Rama.


"Tidak, hanya di tunda. Tanpa bulan madu pun ritual tidak akan tertunda." Ivan sedikit membeliakkan matanya mendengarkan jawaban Rama.


Ting


Pintu lift terbuka, keduanya pun masuk ke dalam untuk menuju kelantai tujuh.


"Selamat pagi, Pak." Sapa Tania dengan membungkukkan sedikit badannya.


"Pagi."


Tania saling lirik dengan Ivan, seolah saling memberikan kode lewat lirikan mata. Tania terlihat melirik Rama sekilas dan mengangkat sedikit dagunya ke arah Ivan, seolah menanyakan tentang kehadiran Rama hari ini di kantor. Sedangkan Ivan mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban.


"Cabang usaha? Mbak Hasna, maksud saya Bu Hasna punya usaha apa?" Tanya Ivan, karena setahunya Hasna hanya seorang perempuan yang bekerja.


"Katering, toko kue, juga restoran." Jawab Rama dengan penuh bangganya.


Sekali lagi, Ivan dan Tania beradu pandang. Mereka berdua bahkan tidak pernah menyangka sama sekali jika perempuan yang menjadi istri Bos nya itu seorang pebisnis handal. Bahkan usaha yang digelutinya sudah memiliki beberapa cabang, meskipun jenis usaha yang dikembangkannya sama, kuliner.


"Bapak serius?" Ivan mencoba memastikan.


"Apa saya terlihat mengada-ada?" Rama balik bertanya.


"Maksud saya, setahu saya Bu Hasna memang perempuan bekerja tapi saya sungguh tidak menyangka jika Bu Hasna memiliki banyak usaha." Ivan mencoba menjelaskan.


"Iya, Pak, saya juga tidak menyangka jika Bu Hasna seorang wanita yang memiliki banyak usaha di usianya yang masih terlihat belia." Timpal Tania. Rama hanya tersenyum tanpa ingin menjawab, sebab sekretarisnya itu membicarakan hal yang menyangkut usia Hasna. Hal yang bisa membuat Rama menjadi sensi nantinya.


"Baiklah, Pak, saya akan gantikan pertemuan Pak Rama dengan pak Irfan nantinya." Ucap Ivan.


"Emm...Pak, apa kira-kira kita tidak mendapatkan undangan eksklusif di acara Bu Hasna?" Canda Tania.


"Datanglah ke restoran jika kalian ada waktu, istri saya menyiapkan banyak menu spesial untuk undangan juga diskon lima puluh persen untuk lima puluh pengunjung pertama." Ucap Rama.


"Baiklah, Pak. Dengan senang hati kami akan datang ke sana. Bapak shareloc saja, nanti kami akan segera ke sana sepulang kantor." Sahut Ivan.

__ADS_1


"Jangan lupa sekalian membawa baju ganti jika kesana?" Ucap Rama.


"Baju ganti? Apa ada dress code khusus, Pak?" Tanya Tania.


"Tidak, hanya saja kebetulan tempatnya di luar kota. Kalau tempat katering dan toko kue masih ada di kota ini, hanya saja tempatnya ada di perbatasan kota. Sedangkan restoran ada di kota T, dan acaranya masih bulan depan." Jawab Rama.


"Oke, saya permisi dulu." Rama berlalu masuk ke dalam ruangannya.


"Silahkan, Pak." Ucap keduanya secara bersamaan.


"Aku benar-benar nggak nyangka, perempuan sekalem Mbak Hasna, eh, maksud aku Bu Hasna ternyata seorang pebisnis yang handal. Pertama kali ketemu aku ngiranya dia perempuan rumahan, yang kalem-kalem gitu. Eh ternyata..." Ucap Tania.


"Sama, dulu pertama kenal juga aku kira masih kuliah loh, karena Mbak Hasna masih seumuran dengan adiknya Pak Rama. Makanya dulu pas dibilang Mbak Hasna kerabatnya pak Andi, aku percaya-percaya saja." Ucap Ivan.


"Serius?" Ivan mengangguk cepat.


"Makanya dulu kamu sempet ada rasa kan sama Bu Hasna?" Goda Tania.


Drrrt... Drrrtt... Drrrtt...


Interkom di meja Tania berbunyi.


" Iya, Pak?"


"Katakan pada Ivan, suruh dia kembali ke ruangannya. Dia di sini untuk bekerja, bukan bergosip." Ucap Rama dari seberang sana.


Tania melirik sepupunya itu dengan mata yang membulat sempurna, lalu sedikit mendongakkan kepalanya melihat ke arah CCTV, lantas perempuan itu tersenyum dengan senyuman yang memaksa.


"Ada apa?" Tanya Ivan dengan gerakan bibir tanpa suara.


"Ba, baik, Pak." Tania meletakkan kembali telepon setelah Rama menutup panggilan terlebih dahulu.


"Ada apa?" Ulang Ivan dengan wajah yang terlihat penasaran.


"Sebaiknya kamu segera kembali ke ruangan kamu." Ucap Tania dengan gerakan bibir kecil.


"Kamu kenapa sih?"


Belum juga mendapatkan jawaban dari Tania, ponsel Ivan sudah berdering terlebih dahulu.


"Pak Rama?" Ivan menatap Tania. Perempuan itu tiba-tiba duduk di kursi kerjanya dan serius menatap laptop di hadapannya.


"Iya, Pak?"


"Ivan, apa hari ini kamu mengajukan cuti?" Ivan mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Rama.


"Cuti, Pak? Tidak, Pak." Jawab Ivan, kenapa tiba-tiba Rama menanyakan cuti kepadanya. Memangnya ada kepentingan apa sehingga dirinya harus mengajukan cuti?


"Lalu kenapa kamu masih tetap berdiri di depan ruangan saya? Apa kamu tidak ingin bekerja lagi?" Seketika Ivan mendongakkan kepalanya melihat CCTV dan melakukan hal yang sama seperti yang sepupunya lakukan tadi. Memaksakan senyumannya. Pantas saja Tania memintanya untuk segera kembali ke ruangannya. Ternyata...


"Baik, Pak. Saya akan segera kembali. Selamat pagi." Ivan memutuskan sambungan teleponnya terlebih dahulu.

__ADS_1


"Aku balik dulu. Bos makin galak setelah nikah. Bisa-bisa bulan ini aku batal gajian." Setelah mengatakan itu Ivan langsung mengambil langkah seribu sebelum mendapatkan telepon lagi dari Rama.


***


__ADS_2