
Kevin mematut penampilannya di depan cermin. Memakai setelan tuxedo berwarna gray yang rapi. Dengan tatanan rambut yang sedemikian rupa, menambah ketampanan laki-laki itu. Berkali-kali terdengar hembusan nafas berat dari mulut dan hidungnya.
"Kamu harus bisa. Kamu harus bisa bahagia untuknya. Hari ini kamu akan menyaksikan dia tersenyum bahagia. Tersenyumlah." Ucap Kevin pada pantulannya di cermin.
Hari ini, hari dimana Hasna dan Rama melangsungkan resepsi pernikahan mereka. Kevin akan datang bersama dengan kedua orang tuanya. Karena kebetulan Andi Suryanata, yang tak lain ayah dari Rama adalah salah satu kolega bisnis dari Agung Wirayudha, ayah Kevin.
Tok, tok, tok.
"Masuk."
"Maaf, Mas, sudah ditunggu Bapak sama ibu di bawah." Ucap ART nya.
"Terima kasih."
Kevin segera turun setelah selesai bersiap. Ia tidak mau datang terlambat nantinya. Setidaknya ia bisa memandang wajah teduh itu dalam waktu yang lama.
"Sudah siap?" Tanya Pak Agung.
"Sudah, Pa." Kevin menarik sudut bibirnya dengan paksa.
"Kamu yakin, mau ikut sama kamu?" Tanya Bu Rosita. Wanita paruh baya itu yakin jika putranya dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.
'Yakin, Ma."
"Kamu melepaskan Hasna untuk hidup bahagia bersama laki-laki yang telah menjadi suaminya. Mama selalu berdoa agar kamu dipertemukan dengan perempuan yang jauh lebih baik lagi." Bu Rosita mengusap lembut lengan putranya. Lagi-lagi senyuman Kevin berikan dengan terpaksa.
"Andaikan Mama tau, jika Kevin tidak pernah berharap bertemu dengan perempuan yang lebih baik dari Hasna. Pasti Mama akan sangat kecewa. Karena Kevin tidak pernah mengharapkan memiliki perempuan selain Hasna. Biarlah dosa ini menjadi dosa terindah buat Kevin, Ma. Mencintai perempuan yang tak sepantasnya Kevin cintai, karena dia telah menjadi istri orang lain."
"Ayo, sebelum macet." Ajak Pak Agung.
Ketiganya segera menuju mobil yang telah disiapkan oleh sopir. Jika biasanya mereka pergi bertiga dengan Kevin yang mengendarai, tapi kini mereka lebih memilih diantarkan oleh sopir.
***
Sebuah ballroom di salah satu hotel terkenal dan terbesar di kota disulap menjadi tempat resepsi pernikahan. Konsep dan tema garden party membuat ballroom dipenuhi oleh bunga-bunga cantik. Kursi untuk para tamu undangan ditata sedemikian rupa. Area jamuan pun ada di tempat yang begitu strategis hingga tidak akan membuat para tamu berdesakan saat mengambil hidangan nantinya.
Para pegawai di tempat katering dan restoran tempat usaha Hasna, turun langsung dan di tempatkan di pos-pos sesuai dengan bidang mereka. Bahkan selama tiga hari terhitung dari kemarin, seluruh gerai usaha Hasna tutup total. Mereka semua ambil bagian di hari besar Bos mereka.
Berkali-kali Hasna mengurai kegugupannya dengan menghirup nafas panjang berulang dan menghembuskannya perlahan. Bahkan telapak tangannya yang telah dihias dengan hiasan cantikpun berkeringat dingin karenanya.
"Sudah siap, Sayang?" Tanya Mama yang berada tepat dibelakangnya.
"Ya ampun...sumpah Mbak Hasna cantik banget." Pekik Nayla.
"Foto dulu yuk, Mbak. Mumpung make up aku masih utuh." Gadis itu tersenyum memperlihatkan deretan gigi putihnya.
__ADS_1
Mama hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah putri satu-satunya itu. Tanpa persetujuan Nayla sudah mengambil foto Hasna, kemudian dirinya ikut berfoto bersama kakak iparnya itu.
"Ikutan yuk, Ma." Nayla menarik pelan tangan Mama.
"Mbak, tolong fotoin kita bertiga, ya." Nayla menyerahkan ponselnya pada salah satu kru MUA.
Beberapa gambar berhasil diambil. Hasilnya sangat bagus.
"Yuk kita turun, Papa sama Rama sudah nungguin di bawah." Ucap Mama.
Wanita yang telah melahirkan suami untuk Hasna itu terlihat menggandeng tangan kanan sang menantu.
"Nay, ayo." Ucap Mama.
"Mama duluan, Nay mau rapiin rambut bentar. Bentar lagi Nay nyusul." Ucap Nayla yang seolah sibuk dengan tatanan rambutnya.
Rupanya gadis tengil itu berencana mengirimkan foto Hasna pada kakak laki-lakinya. Nayla tau, bukan hanya Hasna yang gugup disini, tapi Rama juga. Tadi sebelum menemui Hasna, Nayla menyempatkan diri untuk mengunjungi Kakak laki-lakinya terlebih dahulu. Nayla bisa melihat betapa tegangnya Rama. Berkali-kali laki-laki itu mengusap wajah tampannya yang dihiasi keringat dingin.
~Maaf, orang cantik mau lewat.~ Nayla.
Hanya kalimat receh yang Nayla tuliskan, namun foto yang ia berikan pasti membuat Rama menahan nafasnya.
~Ciwi-ciwi mau ke kondangan dulu. Do'akan ketemu jodoh buat kita, ya.~ Nayla.
Gadis itu mengirimkan foto dirinya bersama Hasna yang disertai dengan emotikon tersenyum lebar. Setelah itu, Nayla terkikik geli.
"Ada apa, Mbak?" Tanya salah satu kru MuA.
"Ah...nggak papa kok, Mbak. Cuma balesin chat temen aja." Kilah Nayla.
"Ya udah, Mbak. Aku duluan, ya." Nayla langsung keluar dari kamar yang dipakai untuk merias Hasna.
Untung saja Hasna juga Mama masih berada di depan lift, jika tidak bisa kena ceramah panjang nantinya.
"Lama sekali?" Tuh kan omelan pembuka sudah terdengar.
"Ini tadi sambil rapiin make up, Mama. Yuk liftnya udah terbuka." Nayla langsung sigap membantu memegang juntaian gaun yang Hasna kenakan.
Ketiganya segera menuju lantai dasar, dimana para tamu undangan sudah memenuhi ballroom. Nayla keluar terlebih dahulu untuk mempersiapkan tempat yang akan Hasna tempati sebelum acara dimulai.
Baru akan melangkah di ruangan yang dikhususkan untuk mempelai, tiba-tiba saja lengannya di tarik paksa oleh seseorang. Nayla mendengus kesal saat mengetahui sang pelaku tak lain adalah Rama. Wajah laki-laki itu terlihat datar dengan tatapan yang tajam.
"Kak Rama?" Sungut Nayla. Hampir saja gadis itu terjatuh karena memakai sepatu hak tinggi.
"Kemarikan hape kamu?" Rama menengadahkan tangan tepat di hadapan adik perempuannya.
__ADS_1
"Hape?" Ucap Nayla seolah tidak faham dengan permintaan sang kakak.
Tak berniat menjawab, Rama menggerak-gerakkan tangannya yang menengadah di hadapan sang adik.
"Nggak ada, aku tinggal di kamar tadi." Kilahnya.
"Nay?" Kini tatapan mata laki-laki itu semakin menajam. Rupanya Rama tidak sedang bercanda kali ini.
"Apaan sih, Kak? Nay nggak bawa, ih." Nayla masih mempertahankan barang pribadinya. Jangan sampai jatuh ke tangan sang Kakak, bisa hilang semua foldernya nanti.
"Sekarang kamu pulang, kamu nggak perlu ikut di acara kakak malam ini." Ucap Rama datar.
"Ckk...ini, tapi jangan dihapus semua file foto aku. Kan foto Nay bukan hanya sama Mbak Hasna aja." Dengan sangat terpaksa gadis itu menyerahkan ponsel kesayangannya kepada sang Kakak.
Rama segera memasukkan ponsel sang adik ke dalam saku jasnya. Dan tanpa sepatah kata pun Rama meninggalkan Nayla yang berdecak kesal.
***
Siska tengah berada di kontrakan Marissa sedari sore. Perempuan itu hanya ingin memastikan, jika Marissa tidak akan pergi kemana-mana. Mengingat hari ini adalah hari dimana Rama melangsungkan resepsi pernikahannya.
Siska tidak ingin sampai kecolongan seperti tempo hari. Ia juga Tomi akan tetap berusaha menggagalkan niatan Marissa untuk kembali mengusik kehidupan Rama. Bagaimanapun apa yang dilakukan Marissa beberapa waktu lalu tidaklah bisa dibenarkan.
~Tetap awasi pergerakan Marissa. Jangan sampai ia kembali nekat seperti waktu itu.~ Tomi.
Sebuah pesan singkat diterima oleh Siska.
~Sedari sore gue ada di kontrakan Marissa. Gue harap usaha gue nggak akan sia-sia kali ini.~ Siska.
Siska mengeluarkan barang bawaannya dan memberikan sekotak salad buah segar kepada Marissa. Tanpa perempuan itu sadari, Siska telah mencampurkan sesuatu pada makanan yang akan diberikannya kepada sahabatnya itu.
Bukan sesuatu yang berbahaya, hanya saja itu salah satu upaya agar Marissa tidak pergi kemanapun untuk beberapa jam kedepan. Karena sebelum Siska melakukannya, perempuan itu terlebih dahulu berkonsultasi dengan dokter kandungan yang selama ini menangani Marissa. Karena kebetulan sebelumnya Siska pernah sekali menemani sahabatnya itu untuk kontrol kandungannya.
"Sa, ini gue bawain salad buah kesukaan lo. Cepetan di makan, ya." Siska menyodorkan sekotak salad buah di hadapan Marissa.
Dengan senyuman mengembang sempurna, perempuan hamil itu menerima makanan favoritnya selama ia hamil.
"Makasih banyak ya, Sis. Tau aja lo kalau gue lagi pengen. Tapi gue mager banget mau keluar." Ucap Marissa.
Siska tersenyum lebar mendengar ucapan Marissa. Lantas perempuan itu membuka kotak salad dan memakannya dengan lahap.
"Maafin gue, Sa. Gue nggak pernah ada niatan jahat sama lo. Gue cuma nggak mau lo salah jalan gara-gara ambisi lo itu. Selama gue kenal sama lo, lo adalah perempuan yang baik. Dan gue nggak mau lo jadi jahat hanya karena keegoisan lo saat ini."
"Sumpah, salad ini bener-bener seger banget. Makanya gue selalu nagih kalau lo bawain buat gue." Ucap Marissa di tengah kunyahannya.
"Oh, ya? kalau gitu habiskan, biar ponakan gue makin sehat." Ucap Siska.
__ADS_1
Dan dengan lahapnya Marissa menghabiskan salad yang Siska bawakan untuknya.
***