
Malam semakin larut, tapi para undangan tak kunjung surut. Rama merasa kasihan pada sang istri, pasti memakai pakaian pengantin seperti yang Hasna kenakan itu berat. Tak seperti dirinya yang hanya mengenakan pakaian yang seperti biasa ia kenakan seperti di kantor. Hanya saja desainnya lebih elegant ala pengantin. Kemeja, tuxedo yang dibalut dengan jas. Juga celana panjang. Sedangkan Hasna, gaun yang menjuntai panjang, belum lagi pernak-perniknya.
"Apa kamu mau istirahat dulu?" Bisik Rama pada sang istri.
"Tidak." Jawab perempuan itu dengan tetap menyunggingkan senyuman manisnya.
Banyak para tamu yang memberikan ucapan selamat pada mereka. Mana mungkin jika dia harus meninggalkan pelaminan karena alasan capek. Tidak dapat di pungkiri, capek memang. Tapi momentum seperti ini hanya dirasakan sekali seumur hidup, bukan?
Setelah hampir dua jam mereka berdiri bersalaman dan menerima ucapan dari para tamu, akhirnya ada kesempatan untuk duduk juga.
"Mau aku ambilkan minum?" Tawar Rama.
"Boleh."
Rama melambaikan tangannya ke arah salah satu pegawai Hasna yang memang standby di dekat pelaminan.
"Tolong bawakan minuman untuk istri saya." Pinta Rama.
"Baik, Pak. Apa ada lagi?" Tanya laki-laki berseragam itu.
"Tidak, itu saja cukup." Ucap Rama.
Setelahnya Rama kembali ke pelaminan dan duduk di sebelah sang istri. Terlihat Hasna menggerak-gerakkan kedua kakinya, seperti sedang mencari kenyamanan.
"Kenapa?" Tanya Rama.
"Nggak papa, cuma lepas sepatu aja. Aku nggak nyaman terlalu lama berdiri memakai sepatu hak tinggi." Ucap Hasna.
"Mau diambilkan sepatu lain?" Tawar Rama.
"Tidak perlu." Hasna menggeleng pelan.
"Kamu tidak pakai alas kaki loh."
"Nggak papa, Mas. Nggak akan kelihatan juga kalau aku nya nyeker." Cengir Hasna.
"Gaun aku kan panjang banget." Kekeh Hasna sembari menutup mulutnya dengan tangan kanan.
Tak lama kemudian salah satu pegawai Hasna membawakan minuman yang Rama minta.
"Terima kasih." Ucap Rama, laki-laki itu pun kembali ke tempatnya semula.
"Minumlah." Rama membantu Hasna untuk minum. Setelahnya membantu perempuan itu membersihkan sudut bibirnya yang basah dengan ibu jarinya.
"Kenapa bibir ini terlihat begitu menggoda?" Ucap Rama menatap lurus manik teduh itu.
"Mas Rama jangan mulai, ya. Ini tempat umum." Peringat Hasna.
Kalau Rama sudah berubah mode seperti ini, bisa bahaya nanti. Kalau tidak berubah status menjadi siaga satu, ditakutkan akan ada kejadian yang mengejutkan.
"Rama?" Panggil Papa yang duduk di sebelah Hasna.
Rama mengalihkan pandangannya pada sang ayah, seolah ingin bertanya sebab Papa memanggilnya.
__ADS_1
"Ada tamu yang mau memberikan ucapan." Ucap Papa.
Rama menoleh ke belakang, dan benar saja sudah ada tamu yang mengantri untuk mengucapkan selamat untuknya juga Hasna. Rama membantu Hasna untuk berdiri.
"Kamu oke, tanpa sepatu?" Lirih Rama yang dijawab anggukan oleh Hasna.
Satu persatu tamu memberikan ucapan untuknya. Dan perhatian Rama sedikit tercuri, manakala sang ibu terlihat akrab dengan salah satu undangan yang tidak ia kenal. Mungkin salah satu dari kolega bisnis Papa.
Laki-laki itu terlihat mencium punggung tangan Mama. Yang dibalas usapan lembut di punggungnya oleh Mama. Sepertinya mereka sangat akrab sekali.
"Terima kasih atas kehadirannya, mohon maaf Tante tidak bisa menemani ngobrol lama." Ucap Mama pada laki-laki yang sepertinya lebih muda darinya.
"Tidak apa-apa, Tante. Senang sekali bertemu dengan Tante lagi." Laki-laki itu nampak tersenyum.
Untung saja hanya tinggal tiga orang yang tersisa. Pemuda itu juga sepasang suami istri yang berada di belakangnya. Kalau tidak, bisa kena protes nantinya karena terlalu lama mengobrol saat di atas pelamunan.
Mama kembali tersenyum dan menepuk pelan pundak pemuda itu. Semua perlakuan kecil itu tak luput dari perhatian Rama. Siapa sebenarnya pemuda itu? Kenapa sang ibu begitu terlihat akrab dengannya?
"Pak Rama, selamat atas pernikahannya. Semoga pernikahan kalian langgeng, selalu dilimpahkan keberkahan juga kasih sayang." Do'a Kevin tulus. Laki-laki itu menjabat tangan Rama dengan hangat.
"Terima kasih." Ucap Rama singkat dengan seulas senyuman. Namun kedua mata tajamnya menelisik pemuda dihadapannya itu.
"Hasna, selamat atas pernikahan kalian. Semoga pernikahan kalian penuh keberkahan juga kasih sayang. Segera berikan aku keponakan yang lucu." Ucap Kevin. Pemuda itu tersenyum begitu tulus saat mengucapkannya. Rama sedikit mengernyit. Bahkan pemuda itu kenal dengan istrinya juga. Sebenarnya siapa dia?
Hasna memaksa menarik sudut bibirnya membentuk lengkungan. Perempuan itu tau jika Kevin mengatakannya dengan tulus. Tapi sorot matanya tidak bisa berbohong. Mata itu menyimpan luka.
"Terima kasih, Mas Kevin. Terima kasih atas do'anya. Do'a terbaik juga untuk Mas Kevin." Ucap Hasna. Perempuan itu kembali menunduk berusaha menghindari tatapan Kevin.
"Selamat atas pernikahannya ya, Nak Rama." Ucap Bu Rosita.
"Terima kasih."
"Selamat ya, Hasna atas pernikahan kalian." Rama melirik interaksi istrinya dengan wanita yang ia yakini sebagai ibunya dari laki-laki bernama Kevin tadi. Begitu akrab.
"Terima kasih banyak, Tante." Bahkan tatapan wanita itu sangat hangat.
Rupanya mereka salah satu kolega bisnis sang Papa. Tapi kenapa keluarga mereka justru lebih mengenal Hasna dari pada dirinya, yang notabenenya putra kandung Suryanata?
***
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan lewat sepuluh menit malam. Lebih dari dua jam Marissa menunggu di depan hotel. Entah apa yang perempuan itu pikirkan. Bahkan tadi dirinya mendapatkan teguran keras dari petugas, namun tak membuatnya pergi meninggalkan hotel. Dan memilih tetap bertahan.
Tomi baru saja membelokkan mobil dan akan memasuki parkiran hotel. Namun Tomi mengurungkan niatnya, karena secara tidak sengaja laki-laki itu melihat mobil Marissa terparkir di depan hotel.
"Marissa?" Gumamnya. Tomi kembali menajamkan penglihatannya, memastikan jika itu benar mobil milik Marissa.
"Benar, itu mobil Marissa." Yakin Tomi, karena sangat hafal dengan nomer plat mobilnya.
Tomi kembali melajukan mobilnya memasuki halaman hotel dan memarkirkan mobilnya. Laki-laki itu segera keluar menuju mobil Marissa yang terparkir di tepi jalan.
Tok, tok, tok
Tomi mengetuk kaca mobil tepat di bagian kursi kemudi. Marissa yang tengah fokus mengamati keadaan sekitar terlonjak karenanya. Perempuan itu mengerutkan keningnya manakala mengetahui siapa yang mengetuk kaca mobilnya.
__ADS_1
"Tomi? Mau ngapain lagi dia?" Kesalnya.
Dengan sangat terpaksa, Marissa menurunkan kaca mobilnya. Marissa menatap ke arah laki-laki yang menjadi ayah biologis dari bayi yang dikandungnya itu dengan tatapan tidak suka.
"Mau apa lo kemari?" Ketus Marissa.
"Gue kesini mau menghadiri acara resepsi pernikahan relasi bisnis atasan gue. Ini lagi nunggu yang lain." Jawab Tomi dengan begitu santainya. Laki-laki itu melirik jam di pergelangan tangannya, seolah memang sedang menunggu seseorang datang. Bahkan mengedarkan pandangannya menyapu sekeliling.
Marissa menatap tomi tidak percaya. Rama mengundang Tomi ke acara resepsi pernikahannya? Apa mereka saling kenal? Tapi, jika atasan Tomi, Marissa masih percaya. Karena waktu itu saat dirinya masih menjadi sekretaris pribadi Rama, Marissa pernah mendampingi Ivan ke acara yang diadakan oleh Perusahaan tempat Tomi bekerja sebagai pengganti Rama yang berhalangan hadir.
Marissa memperhatikan penampilan Tomi dari ujung kepala hingga ujung kaki. Pakaiannya semi formal. Celana denim yang dipadukan dengan kemeja juga blazer berwarna abu tua. Sepertinya Tomi tidak berbohong.
"Lo sendiri? Ngapain?" Tanya Tomi.
Selama ini Tomi tidak pernah tahu jika Marissa bekerja di Blue Diamond, yang ia tahu hanya Marissa bekerja di perusahaan besar di bidang industri. Tapi untuk lebih tepatnya industri apa dan nama perusahaannnya Tomi tidak mengetahuinya. Dan Tomi baru mengetahui tempat kerja Marissa saat dirinya mencari tahu tentang siapa Rama Suryanata.
"Gue..." Marissa terlihat bingung hendak memberikan jawaban apa pada Tomi.
"Lo undangan juga?" Sergah Tomi.
"Eee..." Wajah Marissa terlihat bingung.
"Mending barengan sama gue. Kita masuk sama-sama." Ajak Tomi.
Tomi membukakan pintu untuk Marissa, namun perempuan itu sepertinya enggan untuk turun.
"Kenapa?" Tomi mengernyit heran.
"Ee...eng...enggak, nggak papa." Jawab Marissa tergugup.
Kenapa tiba-tiba perempuan itu merasa gugup berhadapan dengan Tomi. Padahal tadinya ia bersikap sangat ketus.
"Gue tunggu di lobi, ya?" Tomi kembali menutup pintu dan berbalik.
"Tunggu." Cegah Marissa. Tomi terlihat menyunggingkan senyuman tipis di bibirnya.
"Ya?" Tomi kembali berbalik dan menghadap ke arah Marissa.
"Gue bareng sama, lo." Ucap Marissa pada akhirnya. Tomi hanya mengangguk kecil.
Marissa tetap pada posisinya, tak beranjak sama sekali. Bahkan tak berniat untuk membuka pintu mobilnya.
"Ada apa?" Tanya Tomi heran.
"Lo, bisa bawa mobil gue? Tadi gue nggak dibolehin masuk, gara-gara nggak bawa undangan." Ucap Marissa.
"Oh...nggak masalah." Jawab Tomi.
Marissa segera keluar dan berputar ke arah kursi di sebelah kemudi. Tomi langsung masuk ke dalam mobil menggantikan posisi Marissa sebelumnya. Namun tiba-tiba laki-laki itu langsung mengaktifkan tombol kunci otomatis agar Marissa tak dapat lagi membuka pintu.
"Tom, lo mau ngapain?" Tanya Marissa sedikit panik setelah mobil kembali melaju dengan dikemudikan Tomi.
***
__ADS_1