Bidadari Penghapus Luka

Bidadari Penghapus Luka
Bab 56


__ADS_3

Hasna masih bertahan di posisinya, duduk di pangkuan Rama. Beberapa kali ia merengek untuk turun, tapi Rama tetap bergeming. Mungkin memang itu yang Rama inginkan. Hasna berada di dekatnya.


Rama telah menyelesaikan pekerjaannya dan mulai mematikan laptopnya. Hasna bisa bernafas lega, karena sebentar lagi ia bisa terlepas dari posisi yang membuatnya berdebar tak karuan.


Namun dia salah, justru Rama memeluk pinggangnya erat. Rama sudah diperbolehkan menanggalkan arm slingnya tapi tidak dalam jangka waktu yang lama. Agar ia bisa sedikit melatih anggota geraknya, tapi dengan catatan tidak memforsirnya. Jadi selama di kantor, Rama masih mengenakan arm sling untuk mengistirahatkan tulang bahunya yang cidera.


"Mas, hati-hati bahu kamu." Peringat Hasna.


"Tidak akan kenapa-napa jika hanya memeluk. Kata dokter yang tidak boleh itu jika kita melakukan olah raga malam. Apalagi kalau aku nya sampai push up. Makin bahaya nanti." Jawab Rama dengan kekehan lirih.


Laki-laki itu menyandarkan kepalanya di ceruk leher istrinya. Menghirup aroma parfum favorit yang perempuan itu pakai. Sungguh menenangkan. Tapi justru hal itu semakin membuat Hasna gelisah.


Tak perlu dijabarkan lagi apa maksud dari ucapan suaminya. Karena dia sendiri tau apa yang dokter katakan waktu itu.


"Hasna."


"Iya?"


"Apa kamu suka dengan pekerjaan kamu saat ini?" Tanya Rama tanpa berpindah posisi. Dan itu membuat Hasna bergerak gelisah.


Bagaimana tidak, saat Rama berbicara hembus nafas laki-laki itu menyapu lembut lehernya yang terbuka. Membuat bulu-bulu halusnya meremang.


"Suka." Jawabnya pendek.


"Kenapa? Alasannya? Apa karena itu adalah usaha yang pernah dijalankan almarhum mertua juga?"


Bahkan Rama kini memanggil kedua orang tua Hasna dengan sebutan mertua, bukan lagi orang tua kamu. Kemajuan lagi rupanya.


"Itu salah satunya. Tapi ada yang lebih penting daripada itu."


"Apa?" Rama mulai tertarik, alasan apa yang akan istrinya berikan.


"Aku ingin membantu mereka yang butuh pekerjaan. Jadi sebagian besar mereka yang bekerja di tempat usaha aku, rata-rata mereka kerja part time. Berbagi waktu dengan pendidikan, juga keluarga. Makanya aku tidak memerlukan batasan pendidikan untuk menjadikan mereka pegawai. Cukup bekerja dengan jujur dan bertanggung jawab, dan mau belajar, pasti bisa diterima." Jelas Hasna.


Senyuman terbit di sudut bibir Rama. Perempuan ini benar-benar membuatnya terpesona. Bukan hanya karena parasnya namun hati dan kepribadiannya juga. Usia boleh saja sebaya dengan adiknya, tapi pemikirannya, jauh berbeda.


Mungkin ia juga mulai membandingkan dirinya dengan Hasna. Di saat dia memasang standar tinggi untuk menjadi karyawan di perusahaannya, justru Hasna hanya melihat dari kejujuran dan tanggung jawabnya saat bekerja. Saat dirinya memikirkan kemajuan perusahaan, justru Hasna hanya berniat untuk membantu mereka yang membutuhkan pekerjaan, juga memikirkan nasib dan kesejahteraan orang-orang yang telah bekerja dengannya. Entah terbuat dari apa hati istrinya itu.


***


Pagi ini Rama bersiap untuk pergi ke luar kota bersama Ivan. Dan seperti biasa Hasna mengantarkan Rama hingga di depan lobi perusahaan.


"Selama saya tinggal, saya tidak mengizinkan kamu untuk pergi kecuali ke tempat kerja kamu, juga rumah Mama. Tidak juga untuk pergi bersama Nayla." Pesan Rama sebelum turun dari mobil. Mulai mode serius dengan mengatakan "saya" pada Hasna.


Semalam banyak sekali ultimatum yang Rama berikan kepadanya. Laki-laki itu mengatakan agar tidak ada lagi alasan pertengkaran diantara mereka. Ya, Hasna paham akan hal itu. Tapi kembali lagi, keyakinan. Satu hal yang harus dimiliki oleh setiap pasangan.


"Iya, aku ingat semua pesan Mas Rama." Jawab Hasna diiringi senyuman manis di bibirnya.


"Dan satu lagi, tetap aktifkan ponsel kamu."


Hasna mendengus pelan. Sejak kapan ia mematikan ponselnya. Ia selalu mengaktifkan telepon genggamnya, karena pekerjaan mengharuskannya melakukan itu. Hanya pernah sekali ia mematikan daya, saat Rama pergi ke Jepang dan mereka berpura-pura berlibur bersama.


Kemarin malam, Rama baru meminta nomer ponsel istrinya. Rupanya ia baru menyadari jika hal itu sangat penting sekarang. Dulu ia tidak pernah peduli dengan apapun yang bersangkutan dengan Hasna, namun semua sudah berbeda sekarang.


"Iya...."


"Ya sudah kalau begitu, aku berangkat dulu."


Beberapa detik berlalu, tapi Rama tak kunjung keluar mobil. Hasna menoleh dengan tatapan bertanya.


"Ada yang terlupa?" Tanya Hasna.


"Kamu melupakan sesuatu?" Rama balik bertanya. Hasna menautkan kedua alisnya, mencoba mengingat apa yang ia lupakan. Tapi sepertinya tidak, ia tidak melupakan apapun.


Hasna menggeleng, membuat Rama mendengus sebal.


"Kemarilah." Pinta Rama. Hasna mengernyit heran. Tapi tetap mendekat pada Rama.

__ADS_1


"Ada apa?"


"Lebih dekat lagi." Lagi-lagi Hasna mendekat.


Cup


Rama mencium bibir Hasna sekilas, membuat perempuan itu terkejut dan membolakan matanya.


"Ini di tempat tertutup, tidak ada yang melihat kegiatan kita." Ucap Rama sebelum terdengar protes dari istrinya.


"Aku pergi, assalamu'alaikum." Rama kembali mencium kening Hasna, kemudian turun dari mobil.


"Wa... wa'alaikumussalam." Jawab Hasna terbata.


"Pak, tolong bawakan tas saya. Ada dalam mobil." Pinta Rama pada salah satu sekuriti di depan lobi.


"Baik, Pak."


Sekuriti itu berjalan mendekat ke mobil Hasna dan mengetuk kaca di samping kemudi. Hasna berusaha mengembalikan kesadarannya. Rama benar-benar senang sekali membuatnya senam jantung.


"Iya, Pak?" Hasna sedikit menurunkan kaca di sebelahnya.


"Maaf, Mbak. Mau ambil tas milik Pak Rama." Ucap sekuriti itu.


"Ah, iya, sebentar." Hasna menekan tombol buka kunci otomatis di mobilnya.


"Silahkan, Pak, ada di jok belakang."


"Makasih, Mbak."


Sekuriti mengambilkan tas atasannya dan segera mengantarkan ke ruangan Rama di lantai tujuh.


***


Marissa merasakan tubuhnya kurang fit hari ini. Semalam sempat muntah dan merasakan pusing. Tapi ada pekerjaan yang dikejar deadline yang mengharuskannya tetap bekerja. Jangan sampai mengecewakan Rama. Untung saja pagi ini sudah lebih baik. Hanya lemas saja. Ia berencana akan ke rumah sakit sore nanti untuk berobat.


Wajahnya tiba-tiba sumringah saat mendapati Rama sudah hampir sampai di ruangannya. Wajah laki-laki itu terlihat lebih bercahaya, membuat pesonanya semakin bertambah.


"Pagi."


Banyak perubahan yang kini Rama tunjukkan. Laki-laki itu sering tersenyum saat datang dan selalu menjawab sapaan karyawan. Hal yang hampir tidak pernah Rama lakukan dari dulu.


Rama, laki-laki itu berhasil memikat hati Marissa semenjak perempuan itu bekerja di perusahaan yang dipimpinnya. Laki-laki dengan tatapan mata setajam elang, rahang yang kokoh dan hidung yang mancung. Jangan lupakan bulu-bulu halus yang menghias di sekitar rahangnya. Membuat kesan seksi di mata Marissa.


Hari ini, Rama akan keluar kota sebelum jam makan siang. Itu artinya Marissa akan sebentar saja berinteraksi dengan atasannya itu. Tapi tidak masalah, ia bisa mengambil simpati Rama melalui dedikasinya untuk perusahaan.


Kemarin malam, Ivan, asisten pribadi Rama telah mengirimkan email padanya. Rama meminta dirinya merevisi beberapa laporan penting. Dan Marissa suka akan hal itu. Itu artinya Rama bergantung padanya. Dia menjadi salah satu karyawan yang sangat bisa diandalkan.


Marissa perempuan yang cerdas juga pintar. Ia selalu cekatan dalam pekerjaannya. Itu yang membuat Rama menyukai Marissa, kinerjanya. Perempuan itu selalu profesional dalam bekerja.


"Jangan lupa, laporannya tolong kamu selesaikan dan segera kamu kirimkan ke saya. Akan saya periksa dan pelajari terlebih dahulu." Ucap Rama.


"Baik, Pak."


Setelah mengatakan itu, Rama langsung masuk ke dalam ruangannya.


Ini selalu menjadi kesempatan emas yang bisa Marissa gunakan untuk selalu dekat dengan Rama. Pekerjaan. Dan ia sangat berharap hubungannya akan lebih dari sekedar menjadi rekanan kerja.


***


Hasna baru saja sampai di ruangannya. Perempuan itu duduk di kursi yang biasanya ia pakai untuk bekerja.


Hasna mengingat kembali kejadian beberapa hari kebelakang. Sikap Rama yang berubah-ubah. Terkadang dia menjadi sosok lelaki yang manis, penuh kejutan juga terkadang sangat menyebalkan.


Hasna selalu merasa jantungnya berdebar-debar saat bersama dengan Rama. Ada perasaan aneh yang menggelitik di dadanya. Perasaan bahagia juga sedikit was-was dengan tingkah Rama yang tiba-tiba.


Mungkin ia sudah mulai jatuh cinta pada Rama, laki-laki yang menikahinya tanpa dasar cinta.

__ADS_1


Hasna masih mengingat kebersamaannya dengan Rama semalam. Mulai dari permintaan maaf keduanya, menemani lelaki itu bekerja, hingga berujung ceramah panjang karena akan ditinggal ke luar kota.


Hasna merasa jika sikap Rama terkesan kekanakan jika bersama dengan dirinya. Berbeda saat di depan karyawan di perusahaannya. Ia terkesan dingin dan berwibawa. Itu yang Hasna lihat saat mengantarkan makan siang dan saat bersikap pada Ivan, asisten pribadinya.


Suara notifikasi di ponselnya membuyarkan lamunan Hasna. Ternyata orang yang baru saja jadi objek pemikiraannya kini mengirimkan sebuah pesan chat. Hasna membuka dan membaca isinya.


~Aku akan segera berangkat sekarang. Ingat baik-baik pesanku semalam.~ Rama.


Hasna menggeleng pelan saat membacanya. Bahkan pesan yang sama sudah Rama sampaikan tadi sebelum turun dari mobil.


Belum juga Hasna membalas, satu pesan sudah kembali masuk lagi.


~Kemungkinan aku tidak jadi bermalam dan akan segera pulang.~ Rama.


Segera ia balas pesan Rama, jangan sampai laki-laki itu menjadi kesal.


~Iya, Mas Rama hati-hati ya. Semoga pekerjaannya lancar. Mendatangkan rezeki yang berkah. Aku tunggu di rumah.~ Hasna.


Hasna rasa laporan sesi pertama suaminya selesai. Ponselnya akan tenang untuk beberapa saat.


Ini adalah kali pertama mereka berkomunikasi lewat benda pipih itu. Selama mereka menikah, interaksi keduanya sangat terbatas. Komunikasi pun hanya sekedarnya.


"Jadi seperti ini rasanya berkirim pesan dengan seseorang yang kita suka?" Gumamnya.


Tiba-tiba saja pipinya menghangat. Baru kali ini ia merasakan hal itu. Ada rasa senang juga deg-degan yang ia rasakan secara bersamaan.


Tak jauh berbeda dengan Rama. Laki-laki itu tersenyum membaca chat balasan dari istrinya. Selalu ada doa yang terselip saat ia akan berangkat bekerja.


Rama selalu mengingat raut wajah istrinya saat mengucapkan kata itu. Kata yang selalu mendoakan agar rezekinya berkah. Hanya Hasna yang mengatakan hal itu kepadanya. Bahkan sang ibu tidak pernah mengatakan hal itu. Semoga sukses, itu yang sering beliau katakan.


Hasna, perempuan istimewa di hatinya.


***


Marissa menunggu antrian di depan ruang praktek dokter umum. Ia tidak bisa menunda lagi. Saat makan siang perutnya serasa diaduk-aduk. Mungkin saja asam lambungnya naik. Apalagi ia sering begadang mengerjakan laporan.


Marissa masuk saat namanya di panggil. Seorang suster mempersilahkan ia masuk. Nampak seorang dokter muda, mungkin selisih dua atau tiga tahun lebih tua darinya.


"Silahkan." Dokter itu tersenyum dan mempersilahkan Marissa duduk.


"Ada yang bisa kami bantu?" Tanya dokter laki-laki itu ramah.


"Iya, Dok. Akhir-akhir ini saya sering merasa pusing dan mual, bahkan sempat muntah beberapa kali. Terlebih saya sedang banyak kerjaan. Saya juga punya riwayat asam lambung. Apalagi akhir-akhir ini saya sering telat makan." Marissa menjelaskan keadaannya pada Dokter di hadapannya. Membuat Dokter mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Bisa jadi, apa yang anda katakan benar. Asam lambung bisa naik karena faktor stress juga pola makan yang tidak teratur. Untuk lebih lanjutnya mari kita lakukan pemeriksaan."


Marissa mengikuti arahan dokter, menuju ranjang yang biasa di gunakan untuk memeriksa pasien.


Dokter sedikit mengernyit dengan hasil pemeriksaannya. Karena apa yang ia peroleh tidak sama dengan pemaparan yang pasiennya sampaikan.


"Maaf, dengan siapa?" Tanya dokter ketika keduanya telah duduk berhadapan.


"Marissa, Dok."


Terlihat dokter itu menuliskan sesuatu di kertas. Seperti data pasien, mungkin.


"Ibu Marissa, dari hasil pemeriksaan yang saya lakukan, saya tidak menemukan adanya gejala asam lambung yang seperti ibu katakan." Jelas Dokter itu.


Marissa sedikit heran saat dokter memanggilnya dengan sebutan ibu. Apa dia terlihat setua itu di usianya yang baru akan menginjak angka dua puluh enam tahun.


"Jadi saya sakit apa, Dok?" Marissa menanyakan inti dari pembicaraan mereka.


"Ini hanya praduga awal, tapi untuk lebih pastinya Bu Marissa bisa langsung cek dan konsultasi dengan dokter obgyn." Ucap Dokter.


Mata Marissa aa membola saat mendengar kata Dokter obgyn, Dokter spesialis kewanitaan dan kandungan. Apa maksudnya? Apa ia memiliki penyakit kewanitaan yang serius?


"Maksud Dokter? Apa penyakit saya penyakit yang serius? Maksud saya penyakit khusus wanita? Kenapa harus dengan dokter obgyn?" Marissa ingin memperjelas apa yang disampaikan dokter dihadapannya itu.

__ADS_1


"Dari pemeriksaan yang tadi saya lakukan, ibu Marissa ini sepertinya tengah hamil muda." Papar Dokter."


Kepala Marissa bagai dihantam benda berat. Hamil muda? Kata-kata itu berhasil memporak porandakan dunianya.


__ADS_2